nyasar ke zaman kuno

nyasar ke zaman kuno
bagian 69


__ADS_3

"ayo kak, kita kembali…” ujar melia kepada mira, mira dan melia pun pergi meninggalkan tempat itu dengan selir quira yang berteriak untuk di lepaskan.


Setelah mengurung selir Quira. Mira dan melia melihat keadaan keluarga yang pernah ia tompangi dulu. Sesampainya disana, ia melihat alio dan si putih sedang sibuk memberikan obat kepda para pengawal yang selamat, sedangkan yang tidak selamat. Mereka menguburkannya dengan layak. walau bagaimanapun, mereka adalah pejuang yang sudah mempertaruhkan jiwa dan raga Nya.


“alio. Dimana keluarga jendral..? apakah mereka baik-baik saja..?” Tanya melia. Alio pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah melia.


“mereka baik- baik saja, dan mereka ada di ruangan itu, masuklah. Mereka tidak apa-apa, hanya saja, luka yang mereka dapat cukup serius, dan juga mereka kehabisan tenaga akibat pertarungan mereka tiga hari berturut-turut.” Ujar alio menjelaskan kepada melia. setelah mengatakan hal itu Alio kembali melanjutkan tugasnya.


Tanpa menunggu terlalu lama, melia mengajak mira untuk melihat keluarga itu yang sebenarnya keluarga pemilik tubuh itu. tak berselang lama, mereka sampai dan masuk kedalam kediaman itu. jerico melihat kedatangan mereka dan tersenyum, semua yang ada di sana melihat siapa yang datang. Ketika mereka menyadari yang datang adalah melia, mereka semua melambai kan tangan mereka. Si kembar Rayyan dan reynal berusaha untuk bangkit dari tidur mereka.


“melia..” ucap mereka lirih. Melihat hal itu, melia tersentuh dan mendekati mereka. ia sudah duduk di tepi ranjang reynal. Kemudian reynal dengan susah payah duduk dan kemudian merangkul melia dengan penuh haru dan kasih  sayang, melia juga membalas pelukan reynal, Melia sangat bersyukur masih merasakan kasih sayang mereka. saat mereka berpelukan, tiba-tiba ia merasakan tangan lain merangkulnya, ya Rayyandi pun ikut berpelukan dengan mereka.


“kamu kemana saja, kami sangat merindukanmu, kenapa kamu tidak mau jujur saja tentang dirimu…” ujar reynal di sela-sela pelukan mereka. Melia tersentuh. Ia kira kaisar vikram membohonginya tentang keluarga jendral yang sudah mengetahui tentang dirinya dan mencarinya. Melia makin mengeratkan pelukannya. Dalam hati, ia juga sangat merindukan mereka.


“maaf kan aku,..” melia pun melepas pelukannya, mereka sama-sama terduduk. Setelah berpelukan dengan kedua saudara kembar itu, melia mengedarkan pandangannya, ia melihat nyonya catrine, selir liora dan jelita memandanginya dengan penuh kerinduan yang terpancar dari mata mereka.


Melia bediri dan menghampiri mereka, ia duduk di samping ranjang selir liora. Selir liora menggenggam tangan Melia dengan erat.


“jangan pergi lagi nak, sekarang kami adalah keluargamu. Anggaplah aku sebagai ibu kamu sendiri, mulai sekarang tetaplah bersama kami..” ujar selir liora, melia jadi tersentuh, ia merangkul selir liora dan menangis bahagia, ia tidak menyangka, bahwa mereka juga akan menyayanginya.

__ADS_1


“anggap aku juga sebagai ibumu..” seru nyonya catrine, melia melepas pelukannya dan beralih memeluk nyonya citrine. kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, tidak dapat di lukiskan dengan kata kata. sementara mira yang melihat pun ikut senang.


“terimakasih ibu catrine dan ibu liora. Melia sangat senang. “ ucap melia. Melia pun melepas pelukannnya. Dan menghampiri jelita yang berbaring, ia tidak kuasa untuk bangkit, terlalu banyak sayatan pedang di tubuhnya yang mengakibatkan ia kehilangan banyak darah.


“terimakasih melia, kau sudah menyelamatkan kami berkali-kali. Karena sekarang kamu sudah pulang, maka resmilah sudah, kau adalah adikku sekarang…!!” ujar jelita dengan senyum candanya. Melia tersenyum.


“bukankah aku lebih fasih dalam berbicara ? seharusnya kau jadi adik saja, biar aku yang jadi kakak..” timpal melia.


“mana ada aturan seperti itu, urutan siapa yang kakak dan adik itu, dilihat dari siapa yang lahir duluan..” ujar jelita tidak mau kalah. Mendegngar perdebatan melia dan jelita, semuanya hanya tersenyum dan menggeleng melihat kelakuan mereka. Sementara jendral Richard dan pramuga belum sadarkan diri. Tiba-tiba, selir liora, memperhatikan jerico dan mira yang sejak tadi diam dan tidak mengatakan apa-apa.


“jerico, mira…” lirih selir liora, mendengar selir liora memanggil nama mereka, nyonya citrine pun langsung melihat arah pandangan selir liora. Selir liora berusaha untuk bangkit dan turun dari ranjang itu. melihat hal itu, mira dan jerico segera mendekat. Jerico segera mencegah selir liora untuk tidak turun dari termpat tidurnya. Selir liora langsung menatap kedua manik mata mereka secara bergantian.


[andai saja ibuku menginginkan dan memperhatikan kami seperti ini, kami pasti akan sangat senang berada di kediaman ini dan aku tidak akan kehilangan adikku.] batin jerico sambil menatap sendu selir liora. Tanpa ia sadari, melia mendengar isi hatinya. Tiba-tiba, nyonya catrine pun ikut mendekat, ia menarik mira yang sedang berdiri dan duduk bersama mereka. Mira pun hanya menurut dan duduk disamping nyonya catrine, sementara jerico sedang berada di pelukan selir liora yang masih terisaka.


“maafkan kami ibu, kami tidak bermaksud untuk tidak mengabari..” ucap jerico, ia juga ikut terisak. Mira melihat interaksi itu sangat tersentuh, ia juga sangat ingin merasakan pelukan kasih sayang dari kedua orang tua. Mengingat, sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua mereka.


“apa kalian baik-baik saja nak..?” Tanya nyonya catrine pada mira. Mira mendengar suara yang lembut dan meneduhkan itu, serasa ia mau meneteskan air matanya. Apa lagi, tangan nyonya catrine sedang membelai sayang wajah mira.


“kami baik-baik saja i…bu…” jawab mira dengan suara yang bergetar. Mendengar suara kakaknya yang bergetar itu, melia paham. Kakaknya sedang menghayati panggilan yang seolah menjadi keramat untuk mereka, yaitu ibu.

__ADS_1


“ibu tidak mengerti, kenapa kalian lebih memilih untuk menjauh dari keluarga kita. Apakah ada sesuatu yang kurang berkenan di hati kalian. Maukah kalian menceritakannya pada kami ?” Tanya nyonya catrine.


Selir liora pun melepaskan pelukannya dan melihat jerico dengan seksama, berharap ada sesuatu yang akan mereka ceritakan. Namun sebelum jerico memulai ceritanya, jendral Richard tersadar dari pingsannya. Jendral Richard mengedarkan pandanganya yang masih lemah. Ia melihat dua sosok yang mirip, yaitu jelita dan melia. Jendral Richard pun pelan-pelan bangkit.


“melia,,,” lirihnya. Mendengar suara lemah itu, melia menolehkan matanya kearah jendral Richard. Melihat jendral Richard yang sudah sadar itu, melia dengan senang dan girang langsung menubruk badan lemah itu. jendral Richard kembali terbaring, karena belum kuat tangannya menopang berat badannya.


“a..ya.h…” ucap melia dengan pelan dan lirih. Jendral Richard membalas pelukan itu, ia mengusap lembut kepala melia.


“kamu dari mana saja nak, kami sangat menghawatirkanmu. Kenapa kamu harus pergi jauh setelah kesembuhan jelita. Kami juga menyayangimu.. dan mulai sekarang, jangan merasa sendiri lagi di dunia ini nak. Berhenti berkelana, kamu punya keluarga disini…” ujar jendral Richard dengan lirih dan pelan. Melia melepas pelukannya dan membantu ayahnya untuk duduk.


“terimakasih ayah. Kaluarga ayah mau menerimaku, jujur saja, melia juga sudah menyayangi kalian sejak melia pertama kalia mendapat pelukan ayah.”ujar melia. Air matanya lolos begitu saja. Melia kembali memeluk ayah angkatnya itu. mira melihat interaksi mereka tentu saja, ia sangat senang. Ia melihat adiknya disayang selama disini, tidak sia-sia perbuatan baik yang selalu mereka junjung tinggi.


Setelah berbicara dengan melia, jendral Richard kembali menangkap dua sosok yang begitu ia rindukan juga, dari poosisi bersandar, jendral Richard menegkkan punggungnya.


“mira, jerico. Kalian disini nak. Kemarilah, biar ayah memeluk kalian sebentar..” ujar jendral Richard sambil merentangkan kedua tangannya menyambut kedua buah hatinya yang sudah lama tidak kembali. Menyaksikan perilaku jendral kepada anak-anaknya, membuat hati mira mencolos, inilah yang ia inginkan selama ini. Tanpa menunggu lagi, jerico mengajak mira untuk mendekat pada jendral Richard dan memeluknya secraa bersamaan.😭😭


***bersambung***


terima kasih sudah mampir 🙏

__ADS_1


__ADS_2