nyasar ke zaman kuno

nyasar ke zaman kuno
bagian 31


__ADS_3

***


tak lama, jelita sampai di kediaman ibunya, ia melihat pelayan rita mondar mandir di depan pintu kamar yang terbuka, dengan wajah yang sudah basah akibat air matanya yang turun. Ia langsung menerobos masuk kedalam, disana ia melihat tabib lino sedang berusaha menekan agar racun itu bisa di keluarkan. Ia menampilkan raut wajah putus asah.


“tabib lino, bagaimana, apa yang terjadi dengan ibu ?”Tanya nya masih mepertahankan ketenangannya. Tabib lino tidak menoleh kearah jelita, namun ia tetap merespon pertanyaan jelita.


“saya juga tidak tau nona, sepertinya ada yang memberikan racun tanpa sepengetahuan kita, namun saya tidak tau jenis racun apa itu.” ucapnya. Jelita pun mendekat, ia memperhatikan wajah ibunya yang agak kebiruan, kemudian ia memeriksa detak jantungnya.


(detak jantungnya sangat lemah, hampir tidak terdeteksi seperti pertama kali aku memeriksanya ) batin jelita. Lama ia memeriksa tubuh ibunya, ia tersadar. ( tidak mungkin, ini adalah racun raflesia, sial siapa yang sedang bermain-main dengan nyawa ibuku. ) batin jelita denga geram dan marah.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, jelita mengeluarkan bahan-bahan herbal yang ada diruang dimensinya, jelita akan membuat obat penawar rancun raflesia ini. Tabib lino yang ada disana terkejut bukan main,  melihat bahan-bahan herbal yang langka yang tersususun diatas mejanya. Dengan telaten dan konsentrasi penuh, akhirnya tanpa menunggu lama, jelita menyelesaikan obat itu. tanpa sadar, jendral Richard dan saudara kembarnya mempehatikan jelita meramu obat-obatan itu.


( bagaimana mungkin, nona yang dikatakan sebagai seorang sampah yang tidak memiliki kolam spiritual dan tidak bisa berkultivasi membuat semua ini.) batin tabib lino, begitu juga dengan kedua saudaranya dan ayahnya. Mereka cukup terkejut dengan apa yang mereka saksikan.


( apa yang terjadi... kenapa putriku bisa paham Dengan pengobatan ) Namun mereka tidak memperdulikan tentang itu dulu, mereka semua berfokus pada nyonya citrine.


Setelah itu, jelita langsung beralih kepda ibunya. Jelita meminumkan obat itu pada ibunya, setelah itu ia mendudukan ibunya dan membantu obat itu bekerja dengan menggunakan energy spiritualnya, jelita menuntun obat itu keseluruh tubuh ibunya.


Setelah itu, jelita kembali menyalurkan energinya lagi, sampai akhirnya jelita kehabisan tenaga. Ia kembali merebahkan tubuh ibunya, dibantu oleh tabib lino, jelita berdiri sepoyongan, ia kehabisan tenaga. Rayyan menopang tubuh adiknya agar tidak jatuh. Mereka terduduk dilantai, dan disusul oleh Reynal. Sementara jendral Richard melihat kearah istrinya. Ia menampilkan raut wajah sedih dan putus asa.

__ADS_1


( ya dewa, jika sekiranya istriku tidak dapat disembuhkan lagi, maka tolong jangan engkau menyiksanya, aku merelakannya pergi meninggalkanku. Aku mohon…) batin jendral Richard dan didengar oleh jelita. Namun karna kondisinya masih lemah, ia tidak merespon ayahnya.


Semetara itu, sikembar terus saja memperhatikan jelita, mereka  memberikan minum padanya dan membiarkan dia bersandar di dada kakak pertamanya. Tak lama, tabib lino melihat pergerakan kecil dari jari nyonya catrine.


“ tuan, jari nyonya bergerak….” Seru tabib lino dengan semangat. Jendral Richard beralih kejari nyonya chatrine. Tangannya kembali bergerak, mata jendral Richard melotot, ia buru-buru mendekat. Sementara anak-anaknya masih dengan posisi semula dengan hati yang berdebar-debar.


Tak lama, nyonya catrine membuka matanya, padangannya buram. Ia melihat sebelahnya ada jendral Richard yang sedang berjongkok dan memperhatikannya. Nyonya catrine tersenyum melihat siapa yang ada disampingnya. Kemudian pandangannya beralih kepada tabib lino, tabib lino tersenyum senang melihat nyonya catrine sudah siuman. Terakhir nyonya catrine melihat ketiga anaknya yang sedang memangku jelita, air matanya menetes.


Ia mengangkat sebelah tangannya dengan pelan dan masih gemetaran, ia ingin sekali menggapai dan membelai anak-anaknya. Melihat itu, reynal mendekat dan menggenggam tangan ibunya, ia mencium tangan yang begitu lembut membelai rambutnya sambil meneteskan air mata karna bahagia.

__ADS_1


****


__ADS_2