
"Aduh nona kumat lagi kan, bagaimana aku menakutinya nona, sedang dia belum membuka matanya ?" Protes alio kesal.
" Hehehe..... baiklah baiklah, jangan kesal seperti itu. Kamu tambah tidak menarik. Hehehe...." Ejeknya lagi.
"Nona.... " Belum sempat alio berkata-kata Melia sudah memutuskan telepati nya. " Hais dasar nona tidak bersimpati. Hais...buat ku kesal saja..." Gerutunya.
"Nona, kenapa nona diam, nona tidak apa-apa kan ?" Tanya xixi cemas.
tidak apa-apa xixi" ujar Jelita dengan lembut. "Xixi, aku tidak mau tau, pokoknya aku ingin bertemu dengan ibu, bagaimana pun caranya." Tekan Jelita.
"Tapi nona, tuan akan marah jika mengetahui nona melanggar perintahnya. Hamba takut nona akan di hukum" ujar xixi lagi.
"Maka dari itu, kau jangan memberi tau pada siapapun. Soal ini, hanya kita yang tau.. paham xixi." Ujarnya sambil melirik xixi.
__ADS_1
"Baiklah nona" ujar xixi takut melihat aura nonanya.
"Baiklah, kita akan mengunjungi ibu di malam hari. Kamu lihat ke adaan saja." Ucap Jelita lagi.
"Baik nona" ucap xixi. Saat mereka sedang mengobrol, Reynal datang menghampiri kediamanNya.
"Maaf nona, diluar ada tuan muda Reynal" ujar salah satu sayang yang lain.
"Baiklah" ujar Jelita sambil berdiri berjalan menghampiri kakak nya. Jelita melihat kakaknya duduk menunggu kedatangannya. Jelita pun tersenyum.
"Tidak juga jeje"ucapnya membelai rambut Jelita. "Ayo kita keruang makan, ayah dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita" ucap Reynal menggandeng tangan Jelita. Satu langkah mereka berjalan keluar kediaman, mereka melihat ada yang berlari menghampiri mereka, semakin dekat semakin jelas. Ya itu adalah Rayyandi, kakak pertama Jelita dan saudara kembar Reynal.
"Jelita...." Ujat Rayyandi langsung memeluk Jelita. Sesaat Jelita terkejut, namun ia membalas pelukan kakaknya Rayyandi. MElihat pelukan itu tidak lepas-Lepas, Reynal langsung turun tangan melerai pelukan mereka.
__ADS_1
"Sudah-sudah, kita sudah ditunggu di ruang makan."ujarnya dengan nada cemburu. Reynal pun menarik Jelita menuju ruang makan.
"Ayo xixi ...." Ujar nya pada xixi
"Baik nona..." angguk xixi. Mereka berjalan berdampingan dengan pelayan xixi mengekori mereka dibelakang.
"Kau ini, selalu merasa cemburu kalau aku memeluk Jeje." Gerutu Rayyandi sambil mengikuti langkah kaki mereka. Zhisu menggeleng, ia tidak habis pikir, kakak kembarnya akan bersifat seperti itu. Sejenak ia teringat dengan saudaranya melati. Namun cepat-cepat ia sadar dari lamunannya, sehingga kedua kakaknya tidak menyadarinya.
Tak lama, mereka pun sampai di ruang makan. Melihat kedatangan mereka, Jendra Ricardo tersenyum kearah ketiganya.
"Kemarilah jeje, duduk disampingnya ayah" ujar jendral Richard sambil menepuk kursi kosong disebelahnya. Jelita pun berjalan mendekat kearah ayahnya dan duduk disampingnya. Para pelayan menyediakan makanan di depan mereka, namun tiba-tiba, ia melihat kearah selir Quira, ia duduk di tempat ibunya duduk.
"Ayah, setau ku selir Quira tidak boleh duduk dikursi itu, karena hanya istri sah yang boleh menduduki nya. Dan juga ibuku belum meninggal." Tekannya di akhir kata, sambil melirik kearah selir Quira. Selir Diana dan selir liora hanya diam tak menanggapi.
__ADS_1
Ya tentu saja, selir Quira sudah menduduki nya sejak lama. Namun karena jenderal Ricardo malas menanggapi nya, akhirnya membiarkan dia duduk disana. Bahkan dulu jelita tidak keberatan.
***