
Hanya settingan belaka 🥰😘
***
"hais..biasa saja, ini adalah hasil kerja kerasmu sendiri. Dan juga tidak usah memanggil nona, panggil melia saja. Bukankah kita sudah berkenalan..?” ujar melia santai. Tiba-tiba saat mereka sedang mengobrol, alio datang dengan tergesa-gesa.
“hos~~ hos~~ nona… hos~~..”ujar alio sambil ngos-ngosan.
“ada apa alio. Kenapa kamu berlari seperti itu..?” Tanya melia. Jerico pun ikut bangun dan menatap kearah alio.
“itu, adik kecil itu sudah sadarkan diri..,” ucapan alio sukses membuat jerico senang, akhirnya ia tidak kehilangan adiknya. Ia berlari bahagia menemui adiknya dan di susul oleh melia dan alio.
“mira… kamu sudah bangun.. hu..u..u….” Ujar jerico sambil memeluk dan menangis seperti anak kecil. Tak lama, melia dan alio pun sampai. Melia memperhatikan mira seperti kehilangan arah, ia bingung seolah ia tidak mengenali jerico, namun ia tidak memberontak. Ia lebih memilih diam dan tenang.
“biarkan aku memeriksanya dulu..” ujar melia dengan wajah yang masih tertutup. Jerico pun melepaskan pelukannya dan membiarkan melia untuk memeriksa adiknya. Melia pun langsung melakukannya. Ia memeriksa denyut nadinya, dan tidak menemukan kejanggalan apapun. Namun tiba-tiba mira mengeluarkan suaranya.
“siapa kalian…?” Tanya nya dengan datar namun masih terkesan lembut. Melia dan juga jerico selaku kakaknya menjadi terkejut. Ia mendekat kearah mira.
“kamu tidak kenal kakak dek..?” ujar jerico dengan pelan.
“tidak. Aku tidak mengenal kalian semua..” ujarnya. Jerico kembali menatap kearah melia.
“apa yang terjadi nona, kenapa adikku tidak mengenaliku…?” ucap jerico dengan pelan. Melia paham, ia mendekat kearah mira dan bertannya.
“kalau begitu, aku ingin bertanya. Kamu tidak mengenali kami bukan..? kalau begitu, apa kamu mengenali diri kamu sendiri..?” Tanya melia. Mira pun menjawab.
“tentu saja, aku adalah melati dan aku tidak mengenali kalian..” pengakuan mira sontak membuat melia terkejut. Ia berpikir nama itu adalah kakaknya, tapi mana mungkin..!! melia kembali bertanya.
__ADS_1
“kalau begitu, kamu berasal dari mana…?” Tanya melia, membuat jerico bingung.
“aku berasal dari zaman modern. Dan ketika aku memperhatikan kalian, sepertinya aku terlempar ke zaman kuno.” Ujarnya lagi tanpa ekspresi.
“lalu, kenapa kamu sampai di tempat ini,..?” Tanya melia lagi.
“aku juga tidak tau, setau ku. Aku sedang melawan orang yang berusaha mengejar aku dan adik ku, Karena mereka tidak ada habis-habisnya, aku menyuruh adik ku untuk pergi menyelamatkan diri duluan. namun sangat disayangkan, aku malah tertembak dan mati.” Jelasnya. Melia mendengar cerita itu menetekan air matanya. Tanpa berpikir panjang, melia membuka penutup wajahnya, jika memang itu saudara kembarnya. Pasti akan mengenalinya.
“apa aku saudara mu..” ujar melia membuka penutup wajahnya. Mira melihat wajah itu dan mendekat, ia mengusap pipi melia, sejenak air matanya luruh jatuh tanpa permisi. Jerico sendiri terkejut melihat wajah melia.
“jelita…” ujarnya pelan. Sementara mira masih setia memastikan bahwa itu benar adiknya.
“melia…” ujar mira dan langsung memeluk melia. Mereka berpelukan penuh dengan rasa haru, ia tidak menyangka masih dapat bertemu dengan adiknya walau dengan wajahnya yang berbeda.
Sementara jerico di buat bingung dengan semua ini, di satu sisi, itu adalah jelita tapi mengapa mira memanggilnya dengan melia. Apakah ia sedang menyamar. Tapi ia menghentikan pemikirannya itu, dan kembali fokus. Ia bertanya lagi.
“iya.. aku setuju dengannya. Kenapa kamu mengaku jadi orang lain, sementara kamu adalah adiknya.” Tanya melia. Tiba-tiba alio menimpali ucapan mereka.
“mungkin saja, jiwanya bukan lagi mira, melainkan berganti dengan jiwa orang lain..” ujar alio. Jerico dan melia melihat kearah alio.
“bagaimana bisa itu terjadi alio. Itu tidak mungkin..?” ujar melia jadi meragukan kebenaran.
“itu bisa saja terjadi. Barang kali, pemilik tubuh sebenarnya sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Namun jika nona tidak percaya, aku bisa membuktikannya. Kita bisa memanggil jiwa mira..” ujar alio memberi usul. Melia melihat kearah Jerico. Ia bisa melihat kesedihan yang mendalam dimatanya.
“baiklah, aku ingin mengetahuinya…” ujar jerico dengan lesu. Melia pun ikut menganggukan kepalanya.
“maka lakukanlah alio…” ujar melia.
__ADS_1
Alio pin mulai memfokuskan pikirannya untuk menghadirkan jiwa mira. Tak butuh waktu lama, jiwa mira datang dan tampak melyang di udara. Jerico menangis melihat adiknya itu, pelan-pelan jiwa mira mulai turun dan menghampiri jerico dan juga di saksikan oleh mereka.
“mira…”ujar jerico lirih. Ia berusaha menahan tangisnya agar tidak meledak.
“kakak. Maaf kan aku, tapi aku tidak bisa lama-lama. Aku harus pergi. Jagalah diri kakak disini. Dan juga, anggap lah melati sebagai saudara mu, karena bagaimana pun. Tubuhnya mengalir darah yang sama dengan mu kak.” Ucap mira. Kemudian mira berbalik menatap dan mendekat kearah melati.
“melati, jangan ubah namamu. Biarkan tetap menjadi mira, aku titip kakak ku. Anggaplah ia sebagai saudaramu. Aku tidak bisa lama-lama. Waktu ku tidak banyak. Kakak berbahagialah, aku mencintaimu..” ujar jiwa mira, setelah mengatakan hal itu, jiwanya mulai menjadi cahaya dan hilang bersama angin. Jerico yang melihat adiknya tidak bersamanya lagi, ia terpukul dan menagis tersedu-sedu. Ia hanya memiliki adiknya sebagai alasan untuk tetap bertaha. sekarang apa yang harus ia lakukan, ia seolah terjebak dalam kegelapan.
“bagaimana kakak akan bertahan hidup mira, sedangkan kamu pergi meninggalkan kakak sendirian..hiks,,,hiks…” ujar jerico. Melihat jerico yang terpukul karena kehilangan adiknya. Melati yang saat ini menjadi mira mendekatinya. Mira berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan jerico.
“kau tidak perlu bersedih, yang hilang hanya jiwanya, tapi tubuhnya masih ada bukan..? jika kamu bersedia, aku mau jadi adikmu..” ujar melati pelan dan meletakkan tangannya di punggung jerico. Jerico mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia melihat mata itu dalam-dalam, ia melihat sorot mata kasih sayang untuknya. Karena walau sudah berganti jiwa, tubuh itu tetap memiliki ikatan dengannya.
“kau mau menjadi adikku..?” Tanya jerico. Melati pun menganggukan kepalanya dan tersenyum. Jerico pun tidak kuasa menahan air matanya.
“baiklah, kau adalah adikku, sekarang dan selamanya…” ujar jerico. Jerico langsung mendekap erat tubuh munggil itu dengan erat dan menagis haru. Melia yang melihat hal itu pun ikut menangis, walau ia tidak bisa kembali menjadi saudara kembar melati, namun ia cukup senang. Ia dapat bersama dengan saudaranya walau berbeda jasad. Tak lama pelukan itu terlepas.
“namun, aku tidak bisa mengabaikan saudara kembarku, aku juga menyayanginya..” ujar melati lagi yang saat ini menjadi mira. Jerico paham maksud dari kata-kata itu.
“kakak tidak akan memisahkan kalian, ia juga akan menjadi saudara kita. Tapi… kenapa wajah melia sangat mirip dengan jelita adikku..?” tanya jerico. Mira melihat kearah melia ntuk meminta penjelasan. Melia pahan dengan tatapan kakaknya itu.
“ceritanya panjang kak, tapi yang pasti aku pernah tinggal bersama keluarganya menggantikan jelita yang sedang sakit waktu itu, tapi sekarang ia sudah sembuh dan sudah kembali kerumah orang tuanya. Oh ya, setelah nanti urusan di wilayah selatan selesai, baru kita kembali kekediaman jendral..” ucap melia. Dan di balas anggukan kepala oleh jerico dan mira.
“baiklah, ternyata kamu sudah mengenal keluarga ayah ku. Berarti kau sudah mengenalku juga…” ucap jerico.
"Awalanya aku tidak mengenalmu, karena keluarga jendral tidak membahas keberadaan kalian. Saat kamu mengatakan kalau kalian anak dari jendral Richard, sebenarnya aku terkejut. Aku sempat berpikiran negative tentangnya, dia adalah ayah yang baik, tapi kenapa kalian hidup seperti ini. Setelah kamu menceritakannya, pikiran jahat itu, aku tarik kembali.” Jelas melia.
***bersambung***
__ADS_1