
cerita ini hanya sebuah settingan belaka 🥰
****
Setelah itu, jendral Richard memanggil beberapa pengawal yang tidak terluka dan membantu jendral menguburkan kedua putrinya itu.
“dengarlah… apa yang terjadi hari ini, jangan lah kalian sebar luaskan. Biarkan kita saja yang tau, jika aku menemukan ada yang berhianat..!! maka kalian akan kehilangan kepala kalian.. apa kata-kata ku dapat di pahami..?” semua prajurit pun mengatakan iya, setela itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Di perjalanan, mereka semua terdiam tak seperti awal mereka berangkat.
Tiba-tiba, setelah merasa kalau tempat itu sudah jauh dari mereka, jendral Richard memerintahkan mereka untuk beristirahat dan membangun tenda. Mereka masih harus menempuh dua hari perjalannan lagi untuk sampai di wilayah itu.
***
Sementara di tempat lain, selir Diana dan selir Liora merasa gelisah, karena sudah sangat larut putri-putri mereka belum kembali juga.
“bagaimana ini kakak, apakah mereka berhasil membunuh jendral dan putra-putrinya itu..?” Tanya selir Diana dengan perasaan cemas.
“tenanglah.. mereka pasti berhasil. Aku sudah memberikan mereka bubuk beracun untuk menjadi senjata.” Ucapnya santai.
Mereka sedang berada di pengasingan tempat selir Quira dan Lira. Untuk membalas dendam karena di perlakukan tidak adil menurut mereka, mereka memutuskan untuk menyewa pembunuh bayaran dan mengutus putri-putri mereka untuk memantau. Sementara mereka mengetahui keberangkatan jendral itu merupakan hasil rumor yang mereka dengar dari masyarakat. Karena rakyat mengomplen, kenapa harus jendral Richard yang berangkat dan bukan putra mahkota, karena ini adalah tanggungjawabnya.
Flas off
__ADS_1
***
Ke esok harinya, rombongan jendral Richard kembali melanjutkan perjalanan mereka, dengan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai di wilayah barat. Dari perjalanan saja, jelita cukup terkejut melihat keadaan wilayah itu. dimana tidak terjadi banjir maupun lonsor, tempat itu sudah tidak memilki pohon untuk penyangga tanah dan juga sebagai penyerap air hujan. Di tambah tempat itu tidak memiliki parit atau Bandar sebagai salah satu tempat penampungan air, sunga disana juga sangat dangkal hampir bukan sungai, melainkan sebuah rawa saja.
Akhirnya mereka sampai dan tinggal di tempat yang telah disediakan, pemuka atau kepala desa tempat itu menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Jendral dan para pengikutnya juga membagikan sembako pada warga. Setelah itu, jelita berbicara pada ayahnya.
“yah… gimana wilayah ini tidak banjir…!! Semua pohon-pohon ditebang secara liar. Dari bentuk geomorfologinya saja, seharusnya pohon-pohon tidak di hilangkan.” Ujarnya. Jendral Richard melihat putrinya itu, ia tidak menyangka bahwa jelita memahami kondisi wilayah ini.
“dari mana kamu tau nak, bahwa salah satu penyebab banjir dan lonsor karena pohon yang di tebang secara liar. Bahkan ayah tidak berpikir kesitu.” Ucap jendral Richard pada putrinya. Plak… jelita memukul jidatnya…
“ayah… pohon itu memiliki beberapa manfaat. Akarnya bisa mengikat tumbuhan serta dapat mengangkut atau menyerap air yang berlebihan. Dan juga daunnya itu bisa menghasilkan oksigen agar suhu udara tidak sepanas ini. Belum lagi, daerah ini tidak membuat parit sebagai salah satu tempat untuk air mengalir, juga sungainya tidak dibersihkan dan juga dangkal, sementara wilayah ini adalah area pegunungn. Tentusaja, saat hujan turun ia akan langsung berinteraksi dengan tanah tanpa ada halangan, percikan air hujan juga dapat menimbulkan erosi.” Ucap jelita panjang lebar. Jendral melihat putrinya dan mengerti bahwa itu adalah permasalahannya.
“apa maksud ayah… tentu saja, yang harus dilakukan itu adalah menanam pohon dan membuat saluran air.” Jawab jelita santai. Setelah pembicaraan ayah dan anak itu selesai. Jendral Richard lansung menemui kepala desa disana. Dan kedatangannya membuat kepala desa merasa malu, karena seharusnya ia yang pergi menemui jendral itu, bukan jendral yang datang menemuinya.
“ada apa gerangan jendral datang tiba-tiba, seharusnya jendral mengutus orang saja untuk datang memanggil saya jendral.” Ucapnya sambil membungkuk.
“oh.. itu tidak jadi masalah.. aku datang karena ingin mengatakan sesuatu padamu pak desa..” ujar jendral itu. kepala desa yang namanya pak rigit pun mempersilahkan jendral itu duduk. Setelah itu mereka mulai berdiskusi.
“jadi begini pak rigit, tadi saya sudah melihat kondisi wilayah yang sering lonsor dan juga daerah yang sering kebanjiran. Penyebabnya ialah, kurang nya penanaman pohon di atas bukit dan juga dangkalnya saluran air. Jadi besok kita akan melakukan penanaman pohon secara masal dan juga menggali tanah membuat parit untuk saluran air serta membersihkan sungai dari sampah-sampah. Bagaimana pak rigit..?” Tanya jenddral Richard.
“oh.. jika benar seperti itu jendal, maka kami dengan senang hati akan melakukannya.” Ucap kepala desa itu. ia senang akhirnya permasalahan desanya dapat di atasi.
__ADS_1
Setelah merundingkan itu dengan para warga, ke esok harinya mereka mulai merbondong-bondong, bergotong royong bersama menanam pohon dan membuat parit, serta membersihkan sungai dari sampah-sampah, dan juga menambah kedalaman sungai itu. mereka bekerja sama dan saling bahu-membahu. Jendral dan ke empat anaknya pun ikut terlibat. Rakyat yang ada di wilayah itu pun merasa senang atas kedatangan mereka, karena jendral dan putra-putrinya sama sekali tidak sombong dan bahkan mengormati mereka.
Selama Sebulan itu, mereka menanam pohon dan membuat parit. Selain itu, jelita juga mengajarkan mereka cara bercocok tanam dengan baik, mengingat tanah disana adalah tanah yang subur, namun mereka tidak tau cara mengelolanya, mereka hanya menjual kayu sebagai salah satu penghasilan mereka.
Jelita mengajarkan mereka, cara membuat pola perkebunan, mengajari cara membibit, merawat dan juga memanen. Sehingga mereka tidak harus merusak hutan. Setelah mengerjakan hal itu, ke esok harinya mereka akan kembali ke kerajaan. Namun dua hari sebelum kembali, masalah kembali terjadi di desa sebelah, dan itu masih di wilayah barat. Desa itu terkena wabah penyakit yang menular. Banyak warga yang sakit dan bahkan ada yang meninggal. Mereka datang meminta bantuan kepada jendral Richard yang masih berada di wilayah itu.
“jendral, mohon maaf, ada beberapa warga yang ingin bertemu dengan jendral.” Ucap salah satu pengawal yang menjaga di luar. Mendengar hal itu, jendral dan keempat anaknya pun seegera keluar.
“jendral, tolong desa kami jendral. Desa kami terkena wabah penyakit....” Ujar salah satu warga itu.
“penyakit apa itu..?” kali ini jelita yang bertanya.
“kami juga tidak tau nona, penyakit ini menular. Yang tertular akan merasakan demam yang tinggi, jika di biarkan maka akan menyebabkan hilangnya nyawa....” Ucap salah satu dari mereka lagi. Jelita mengangguk-anggukan kepalanya.
“ayah sebaiknya kita kesana dan melihat sendiri kondisi mereka.” Ucap jelita.
“tapi nak, itu adalah penyakit menular. Ayah tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, lebih baik ayah saja yang kesana, dan kalian semua tunggu disini.” Ucap jendral Richard.
*** bersambung***
terimakasih sudah mampir 🙏🙏
__ADS_1