nyasar ke zaman kuno

nyasar ke zaman kuno
bagian 72


__ADS_3

hanya settingan belaka 🥰. makasih sudah mampir 🙏🙏


****


"sepertinya permainan mereka itu sangat menarik kak, bagaiman kalau kita gabung saja...,” ujar jelita lagi.


“ya, ayo sebaiknya begitu..” ujar jerico. Mereka semua pun pergi menghampiri melia dan mira yang sedang asik bermain bulu tangkis. Sementara jendral Richard dan kedua istrinya di tinggal begitu saja. jendral Richard menggelengkan kepalanya melihat keantusiasan putra putri nya.


“lihatlah anak-anak mu jendral, mereka semua langsung melupakan kita..” ujar nyonya catrine. Selir liora tersenyum.


“memangnya anakku saja, mereka juga anak-anakmu..” seru jendral Richard tidak mau kalah.


“tapi, itu permainan apa ya kakak. Aku juga ingin bermain. Sepertinya sangat menyenangkan..!!” seru selir liora sontak membuat nyonya catrine dan jendral Richard memandanginya. Menyadari hal itu, selir liora tersenyum cengengesan.


“hehehe… aku hanya penasaran saja kak…” ujar selir liora. Nyonya catrine tersenyum.


"memang nya kamu tau cara memainkan nya ??" Tanya nyonya Catrine sambil memicingkan matanya melihat selir liora. sementara yang di Tanya pun hanya menggarut kepada nya yang tidak gatal.


“kalau kalian ingin mencobanya, maka mintalah untuk diajarkan sama anak-anak, tapi jangan merengek padaku jika badan kalian sakit-sakit. Karena, aku akan menambah sakit kalian nanti di kamar..” mendengar ucapan jendral Richard yang begitu vulgar membuat mereka berdua malu sendiri.


“hemm… kak, aku ambilkan minum dulu untuk anak-anak ya…” ujar selir liora, ia memilih menghindar, ia cukup malau dengan gurauan suaminya.


“ya aku juga berencana untuk memetik beberapa buah di kebun..” timpal nyonya catrine. jendral Richard terkekeh melihat tingkah keduanya yang malu-malu.


“kalian ingin pergi meninggalkan ku sendiri,? Dan juga, kau istriku ingin memetik buah di kebun..? di kebun mana sayang, disini Cuma ada kebun bunga saja…” ujar jendral Richard sambil mengulum senyum di bibirnya. Ia tahu, kedua istrinya ini pasti sedang merasa malu atau gurauannya tadi.

__ADS_1


“kau juga, minuman semua sudah ada di sini, mau ngambil minuman untuk siapa lagi.. ha… cepat kalian berdua duduk, atau aku akan membuat kalian berdua tidak keluar kamar selama berhari-hari..” ujarnya lagi. Nyonya catrine mencubit pingangg suaminya.


“kau ini, jangan bercanda, disini banyak anak-anak, bagaiman kalau mereka dengar nanti.” Ujar nyonya catrine. Jendral Richard pun tersenyum manis kepada kedua istrinya.


“kalau begitu, duduk yang manis, suami kalian ini ingin kalian berada di sisinya. Jarang-jarang kan kita memiliki waktu untuk bersama-sama. Sini cepat duduk.. pagi pula, anak-anak kan sudah dewasa, sudah waktunya untuk mereka menikah...” ujar jendral Richard kepad kedua istrinya. Ya tentu saja, ini merupakan hari yang sangat menyenangkan, yaitu berkumpul bersama keluarganya.


***


“adik permainan apa yang kalian mainkan ini ? kenapa kami baru melihatnya..?” Tanya jerico.


“apakah kami boleh memainkannya juga…?” Tanya jelita. Ia sangat antusias melihat permainan itu. melia dan mira menghentikan permainan mereka, badan merka sudah di penuhi dengan peluh dan sangat menyegarkan.


“tentu saja boleh. Sini..” ujar mira. Jelita mendekat kearah mira dan mengambi alih permainan itu.


“melia, apakah kak boleh menggantikan mu,,,?” Tanya jerico.


Saat jendral Richard sedang asik mengobrol bersama kedua istrinya dan menonton anak-anak mereka bermain. Tiba-tiba pengawal astra datang bersama dengan kaisar Vikram dan David.


“maaf tuan jendral, kaisar Vikram ingin bertemu..!!” ujar astra kepada jendral Richard. Jendral Richard dan kedua istrinya langsung menoleh kearah nya dan cukup membuat mereka terkejut, karena kaisar Vikram sudah berada di dekat mereka.


“maaf yang mulia, hamba tidak menyambutmu..” ujar jendral Richard dan bersujud dengan segera dan di ikuti oleh kedua istrinya.


“tidak apa jendral, santai saja. Sepertinya putra-putrimu sedang asik bermain jendral..?” ujar kaisar Vikram sambil menatap kearah putra-putri jendral yang sedang asik bermain bulu tangkis. Jendral Richard menoleh kepada anak-anaknya berharap ada yang melihat. Tapi tiba-tiba kaisar Vikram melepas baju beratnya dan memberikannya kepada David. ia Berjalan mendekat kearah anak-anak jendral, jendral Richard menjadi bingung melihat kaisar Vikram, ia tidak tau kaisar Vikram akan  melakukan apa.


“boleh saya bergabung…?” Tanya kaisar Vikram mengejutkan mereka semua. Sontak semua putra-putri jendral termasuk melia dan mira ikut bersujud menyambut kedatangan nya.

__ADS_1


“hais… tidak perlu seperti itu, santai saja…” ujarnya selow. Jendral Richard melirik putra-purinya.


“maafkan kami yang mulia, kami tidak menyedari kedatanganmu. Ampuni kami yang rendahan ini..” ujar pramuga sebagai kakak tertua. Kaisar Vikram tersenyum.


“tidak apa tuan muda, bangunlah aku ingin bergabung bersama kalian. Anggap saja, aku sebagai saudara kalian, jika kalian merasa canggung.” Ujar kaisar Vikram. Anak-anak jendral Richard pun saling melirik satu sama lain. Dan terakhir mereka melirik melia. Melia yang sadar akan lirikan saudara-saudarinya pun berdehem.


“hem…. Yang mulia benar ingin bermain bersama kami ? permainan kami ada taruhannya yang mulia. Jika kalah, yang mulia harus menuruti perintah yang menang.” Ujar melia, sudah menegakkan tubuhnya kembali. Kaisar Vikram tersenyum.


“baiklah, aku tidak keberatan, asalkan yang menjadi lawanku adalah kamu..” ujarnya sambil mengikir senyum di bibirnya.


“baiklah yang mulia.” Ujar melia. Semua yang bersujud pun bangkit, jendral dan kedua istrinya pun mendekat kepada anak-anak mereka. Ia memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan minuman dan juga makanan.


Melia  dan kaisar Vikram pun mulai bertanding, terdengar sorakan-sorakan mengembirakan dari putra-putri jendral Richard. Kaisar Vikram sangat antusias dengan permainan ini. Menurutnya, permainan ini baru pertama kali ia mengenalnya.


Kaisar Vikram kerap kali menjatuhkan bulu tangkis itu dalam beberapa ronde. Menghadapi melia, kaisar Vikram di penuhi dengan keringat hingga membuat bajunya basah, ia harus melakukan konsentrasi penuh untuk memenangkan permainan ini. Namun berbeda dengan melia, ia sama sekali tidak merasakan panas, malah merasa bosan, karena sudah berkali-kali, bolanya jatuh di tangan kaisar Vikram hanya dengan sekali pukul. Akhirnya permainan mereka berakhir dengan di menangkan oleh melia. Semua yang ada di sana pun bersorak ria, mengikis batas antara kaisar dengan kalangan bawah. Namun itu merupakan suatu kesan tersendiri bagi kaisar Vikram.


“yang mulia, anda kalah…” ujar melia. Ia berjlan mendekat kearah kaisar Vikram dengan di perhatikan oleh semua orang.


“hais… suatu saat, aku pasti akan mengalahkanmu. Lihat saja nanti..” ujarnya sambil memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya. Melihat itu, melia terkekeh.


“jadi, apakah yang mulia akan memenuhi taruhan kita..?” Tanya melia. Melia tidak ingin memaksa kaisar Vikram untuk melakukannya, jika ia tidak setuju. Apalagi, kaisar Vikram adalah seorang pemimpin dan bukan orang sembarangan. Melia juga faham, kaisar Vikram harus menjaga wibawanya, jika ia ingin melakukannya, maka itu lebih baik. Namun di luar dugaannya. Kaisar Vikram menyetujuinya.


“baiklah, aku bukan orang yang akan lari dari tanggung jawab. Maka, katakan permaisuriku apa yang harus aku lakukan..?” ujar kaisar Vikram pelan sambil mencubit lembut hidung melia. Yang menyaksikan hal itu, sontak membuat mereka menganga tak percaya, kaisar itu. hais sudahlah.


“baiklah yang mulia.” Saat melia ingin mengatakan hal yang harus di lakukan, tiba-tiba melia terpikir bahwa ia adalah seorang kaisar yang memiliki banyak uang. Ia jadi kepikiran untuk membelikan beberapa baju untuknya dan keluarganya. Memikirkan hal itu, ia mengukir senyum yang tak biasa, membuat mira yang melihat hal itu, berdesih.

__ADS_1


“cih… aku tau apa yang ada di otak kecilnya itu..” ujarnya pelan, nmun sudah terdengar oleh jelita. Jelita mendekat.


*** bersambung***


__ADS_2