
***
Jendral Richard merupakan seorang jendral yang hebat dan disegani, namun ketiga anaknya tidak begitu. Saat kecil berumur sekitar 8 tahun, mereka dikenal sebagai jenius nomor satu. Namu setelah umur mereka mencapai 10 tahun, tingkat kultivasi mereka berhenti di tingkat menengah level awan. Dan sampai sekarang, mereka sudah berumur 20 tahun, masih ditinggat awan level 3.
Dari situ, jendral Richard mendapatkan cemoohan dari para petinggi istana. Namun mereka hanya berani berbicara dibelakangnya, tidak ada yang berani mengatakan langsung didepannya atau menyinggungnya, karna mereka tau akibat mengusik anak-anaknya.
Namun, anak-anak jendral Richard selalu berlatih dan terus berlatih untuk meningkatkan kekuatan mereka. Mereka bertekad akan menjadi kebanggaan ayahnya suatu saat nanti.
****
Jendral Richard, dilubuk hatinya yng paling dalam, ia menangis melihat usaha putra-putranya yang tidak kenal lelah.
“ayah harap, suatu saat nanti. Kalian akan menjadi yang terkuat, dan mampu melindungi diri kalian sendiri. Ayah hanya bisa mendukung kalian dari belakang.”ujar jendral Richard dan berlalu pergi memasuki ruang kerjanya. Diruang kerja, berkas-berkas itu bertumpuk, menunggu jendral Richard mengemas mereka.
Ditempat lain
Jelita selesai mandi dan berias. Para pelayannya menyiapkan makan malam untuknya. Ia berencana, akan menemui ibunya setelah ia selesai makan.
( siap makan malam, aku akan menjenguk ibu. Entah kenapa, aku sangat merindukannya, apakah karna aku tidak merasakan kasih saying seorang ibu.) Ujarnya dalam hati. Melihat jelita merenung, lili memberanikan diri untuk bertanya.
“ada apa nona, apakah nona membutuhkan sesuatu ?” Tanya lili.
__ADS_1
“eh… tidak lili, aku hanya memikirkan ibu saja. Nanti siap ini, kalian temani aku untuk menjenguk ibu..” ucapnya, lili pun menganggukan kepalanya.
“baiklah nona..” ujarnya.
“mana yang lain lili ? panggil mereka kesini..” ucap jelita, lili pun langsung bergegas memanggil xixi dan yuyu. Tak lama, mereka datang dengan tergopoh-gopoh, takut nanti nona mereka menunggu lama.
“ada apa nona ?, apa nona membutuhkan sesuatu ?” ucap xixi.
“kalian bertiga duduklah, makan bersamaku…” ujar jelita.
“tapi nona_…” ucapan yuyu terpotong.
Merekapun berjalan menuju kediaman ibunya. Tak lama mereka sampai dan disambut oleh pengawal ager dan astra.
“selamat datang nona…”ujar mereka sambil membungkukan badannya.
“ya..ya… tidak perlu membungkuk seperti itu..!!” seru jelita. “ bagaimana keadaan ibu…”Tanya jelita kepada keduaya,
“maaf nona, kami kurang yakin untuk mengatakannya, silahkan nona anyakan nanti pada tabib lino.” Ujar pengawal astra dengan sopan.
“oh.. baiklah, apakah tabib lino didalam ? “Tanya jelita kepada keduanya.
__ADS_1
“ada nona, kebetulan tabib lino sedang memeriks keadaan nyonya nona. Silahkan masuk.” Ujar mereka sambil mempersilahkan jelita masuk. Jelitapun masuk kedalam kediaman ibunya, sementara para pelayan menunggu jelita diluar.
Di dalam, Jelita bertemu dengan tabib lino yang sedang sibuk memeriksa keadaan nyonya Catrine. Jelita pun menghampirinya.
"Tabib, bagaimana keadaan ibu..?" Tanya Jelita. Tabib lino menoleh kan badannya, melihat siapa gerangan yang memanggilnya.
"Ah... Nona, maafkan saya. Saya tidak menyadari kedatangan nona." Ujar tabib lino dengan sopan.
"Tidak apa tabib, kau sedang fokus memeriksa ibu. Oh ya, bagaimana keadaannya." Tanya Jelita.
"Nona, seperti nya, racun dalam tubuhnya sudah mulai berkurang, dilihat dari ujung jari nyonya, sudah tidak terlalu biru. Dan juga, obat yang ditempelkan kepada nyonya sudah tinggal 1 nona. Saya sedang berusaha mempelajari ramuan yang ditempelkan di tubuh nyonya, agar saya bisa membuat nya ulang. Namun ini sangat sulit nona." Jelas tabib lino pada Jelita. Jelita tersenyum.
"Tidak perlu khawatir tabib. Aku Membawakan nya untuk mu." Ujar Jelita sambil memberikan koyo itu pada tabib lino. saat Jelita masuk kedalam kediaman ibunya, Jelita mengambil ramuan itu didalam ruang dimensinya, Tanpa ada yang menyadarinya.
"Eh... Nona, dimana anda mendapatkan nya nona. Kurasa ramuan ini belum ada yang menjualnya." Tanya tabib lino heran.
"Aku sendiri yang membuatnya tabib.." jawab jelita. Tabib lino tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia mengerutkan keningnya.
"Bagaimana nona melakukannya.?" Tanya tabib itu lagi. Jelita berpikir sejenak, tidak mungkin ia mengatakan kalau ia yang membuat ramuan itu.
***
__ADS_1