
hanya settingan belaka 🥰
***
di tempat lain
Saat ini jendral Richard merasa tidak tenang dalam hatinya, pekerjaannya kerap kali dia abaikan. Hatinya solah diliputi rasa cemas, entah tentang apa, ia juga tidak mengerti. Ia berulang kali menghembuskan nafas gusar dan gelisah.
“ada apa ini, kenapa sepertinya aku tidak merasa tenang. Apakah terjadi sesuatu dengan keluargaku ? ataukah aku mencemaskan putri ku melia..?” ujar jendral Richard. Ia memijit pelipisnya. Seolah merasa di liputi rasa cemas. Jendral Richard pun akhirnya memilih untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya yang sedang berkecamuk itu.
Ke esok paginya terjadi keributan di luar kediaman jendral. Siapa lagi kalau bukan selir Quira dan selir Diana. Mereka sedang adu mulut dengan para penjaga kediaman. Melihat keributan yang di buat oleh kedua selir yang di buang oleh jendral Richard itu, salah satu pengawal pun pergi melapor kepada jendral Richard.
“mohon ampun tuan karena kelancangan saya..!!” ujar pengawal itu sambil berlutut. jendral Richard yang sedang memeriksa laporan itu menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah pengawal itu.
“ada apa..?” tanya jendral Richard dengan ekspresi datar.
“maaf tuan, di luar gerbang ada selir Quira dan selir Diana, mereka membuat keributan. Kami sudah berusaha untuk mencegah mereka dan mengusir mereka, namun mereka tetap tidak mendengarkannya tuan..” ujar pengawal itu. jendral Richard memijit kembali pelipisnya. Namun ia segera keluar untuk menemui mantan selirnya itu. ia berjalan keluar dan menghampiri mereka.
“ada apa kalian datang kemari.. bukankah kalian sudah tidak memiliki hak untuk menginjakkan kaki di kediaman ku ini..!!.” Ujar jendral Richard dengan datar. Mendengar ada keributan diluar, nyonya catrine dan selir Liora serta anak-anak pun ikut keluar.
__ADS_1
“heh…!! ayah mancam apa kamu ini, dua anak perempuanmu sudah tidak kembali dalam waktu 2 bulan ini, tapi kamu sama sekali tidak menghawatirkan mereka…!! Apakah kamu pantas di sebut sebaga ayah..!!!”teriak selir Quira. Jendral Richard mendesah pelan. Sungguh ia tidak habis pikir dengan kedua wanita ini.
Jendral Richard bukan tidak peduli dengan mereka, namun nyatanya mereka sudah meninggal akibat pertarungan itu.
“lalu.. apa yang kalian inginkan..?” Tanya jendral Richard. Bukan jendral Richard tidak tau mengenai hal itu, namun ia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh mereka. Mendengar hal itu, selir Quira tersenyum sinis.
“kami menginginkan kembali tinggal di kediaman ini dan juga mengembalikan semua barang kami..!!”seru selir Quira lagi. Sementara mendengar hal itu, nonya catrine dan juga seliar liora hanya diam saja.
“kalian ingin kembali tinggal di kediaman ini..? lalu apa hubungannya dengan kedua putri yang tidak pulang itu..?” Tanya jendral Richard yang mampu membuat kedua selir itu kelagapan.
“tentu saja,,, kau harus mencari dan menemukan mereka, maka sebelum mereka di temukan kami akan tinggal disini bahkan sampai mereka di temukan. Ini adalah bentuk tanggung jawabmu…!!!”seru selir Quira lagi. Sementara selir Diana, ia tidak menimpali. Karena ia tidak sama beraninya dengan selir Quira itu.
“lihat saja kamu jendral Richard, aku akan membuat semua keluargamu mati dan tak ada satu pun yang bersisa, dan aku akan menyiksa dirimu…!!!” teriak selir Quira tak tau malu.
Sementara selir Diana menjadi was-was mendengar penuturan jendral Richard. Ia merenung sejenak tentang ucapak jendral Richard yang mengatakan tentang hasil yang mereka tanam. Namun setelah mendengar makian dari Selir Quira, selir Diana kembali tersadar.
“kakak, sebaiknya kita kembali saja. Jangan membuat keributan lagi…!!” ujar selir Diana menasehati. Namun selir Quira malah memaki selir Diana itu.
“diam… jika kau ingin pergi, maka pergi saja…!!! Kau itu bodoh dan tidak bisa diandalkan. Setiap kali, kau hanya akan diam  dan diam saja, kau pikir aku melakukan hal itu untuk diriku sendiri. Kau sama sekali tidak ada gunanya…!!!” seru selir Qura dan langsung meninggalkan selir Diana sendiri. Selir Diana mendengar makian itu menjadi sakit hati.
__ADS_1
[kamu pikir kamu hebat..!! baiklah, aku tidak akan membantumu lagi, aku sudah berbaik hati menjadi sekutu mu, namun kau malah menghinaku seperti itu. heh… sebaiknya aku mencari keberadaan ira. Setelah itu, pergi dari sini…] batinya. Setelah itu pun ia juga pergi dari sana, namun bukan ketempat selir Quira tapi, ketempat pengasingannya yang di berikan oleh jendral Richard.
***
Sementara di tempat lain, melia memperlakukan kedua saudara itu dengan baik. Sudah lima hari jerico dan mira bersama dengan melia, namun mira sepertinya masih enggan untuk sadarkan diri. Sementara jerico di ajarkan untuk melatih kultivasinya oleh melia.
“minumlah ini dulu. Ini adalah ramuan penigkat kultivasi, sepertinya jalur meridian mu tersumbat sehingga menyusahkanmu untuk berkultivasi..” ujar melia sambil menyerahkan sebotol ramuan peningkat kultivasi.
“terima kasih nona..” ujar jeroco dan menerima ramuan itu. ia memandangnya sejenak, setelah itu ia angsung meneguknya. Sesaat kemudia, tubuhnya mulai berekasi, aliran daranya semakin cepat sehingga mengakibatkan tubuhnya seolah di aliri oleh sumber mata air yang deras. Ia merasa terguncang. Melia menyaksikan hal itu langsung menyuruh jerico untuk mengambil posisi lotus dan segera dilaksanakan oleh jerico.
Perlahan tapi pasti, meridian jerico mulai hancur dan membuat jalur yang baru. Sesaat ia merasakan panas dan sakit di sekujur tubuhnya, keringatnya bercucuran seolah ia akan mati, namun ia tetap berusaha agar semuanya lancar. Di sela rasa sakit yang sangat menyiksa dan akan menyerah, ia melihat bayangan adiknya yang sedang tersenyum padanya, jendral Richard yang selalu membanggakan putra-putrinya walaupun tidak ada yang berguna sama sekali dan juga perlakuan lembut nyonya catrine padanya. Ia harus bangkit demi mereka, tidak peduli apapun yag terjadi, saatnya untuk bangkit. Dengan bersusah payah, akhirnya jalur meridiannya terentuk dan juga sekali gus melakukan terobosan dalam kultivasi. Jerico yang sedari kecil suka mengikuti ayahnya untuk berlatih fisik karena tidak bisa berlatih kultivasi, akhirnya neberobos tingkat menengah pada tingkat angin di level 8. Melihat hal itu, melia menganggukan kepalanya.
[ternyata, semua anak jendral Richard tidak ada yang sampah. Semuanya berpotensi menjadi cultivator unggul, hanya perlu berlatih sedikit.] batin melia. Melihat latihan jerico sudah selesai. Melia pun mendekati jerico.
“bagus jerico, ternyata kamu mampu bertahan. Padahal itu sangatlah sakit. Selamat..” ujar melia sambil tersenyum senang dengan keberhasilan jerico.
“terima kasih nona, ini semua berkat nona..” ujar jerico dengan mata yang berbinar bahagia.
***bersambung***
__ADS_1
makasih sudah mampir 🙏🙏