nyasar ke zaman kuno

nyasar ke zaman kuno
bagian 68


__ADS_3

"kebetulan masalah ini sedikit lagi. Jadi kami memutuskan untuk pulang. Kan Mira dan kak jerico adalah putra-putri jendral Richard. Jadi ngak papa kan kami pulang duluan?. Dan juga kami merasa kan firasat yang aneh, sehingga memaksa kami untuk segera pulang..!!” ujar melia sambil menatap sendu mata kaisar vikram.


“mmm. Kalau begitu baiklah.. sebaiknya kalian berangkat besok, lebih cepat lebih baik. Soalnya kawasan ini cukup jauh dari peradaban karajaan purnama..” ujra kaisar vikram lagi.


“baiklah, kamu hati-hati. Jangan terlalu di paksakan untuk bekerja nanti..” ucap melia dan di angguki kepala oleh kaisar vikram serta senyum manis yang tak lupa ia hadirkan di bibirnya. Stelah pembicaraan mereka, kaisar Vikram dan pengawalnya david kembali keposko mereka.


Ke esok harinya, mira, jerico dan melia dan juga kedua hewan spiritnya itu, melakukan perjalan menuju kerajaan purnama. Melia sengaja untuk tidak melakukan teleportasi, ia ingin jalan-jalan dan menikmati pemandangan di sela-sela mereka kembali.


***


Sementara sudah tiga hari, kediaman jendral Richard di serang oleh pembunuh-pembunuh bayaran. Para pembunuh bayaran datang tanpa henti menyerang kediaman jendral Richard, jelita, nyonya catrine dan selir liora serta para pelayan, banyak mengalami luka-luka dan juga sudah di ungsikan ketempat yang aman. Sementra jendral Richard dan ketiga putranya serta beberapa pengawal yang masih bertahan, mencoba untuk terus memukul mundur lawan.


“ayah.. bagaimana ini, mereka terus berdatagan. Dan juga kekuatan mereka jauh berada dia atas kita.” Ujar pramuga. Ia berusaha untuk melindungi ayah dan saudaranya, walau pun mereka juga sedang bertarung.


Sementara jelita, yang mengingat pesan melia tentang benda itu, ia segera mengeluarkan dan menekan nya sehingga memberikan sinyal bagi melia. Jelita berharap di sela-sela lukanya, agar melia cepat datang dn melihat mereka , walau pun nanti sudah terlambat.


Melia yang medapat sinyal bahaya dari jelita pun sangat terkejut. Ia segera beranjak dari tempatnya untuk segera melakukan teleportasi.

__ADS_1


“kakak, kita harus cepat. Sepertinya terjadi sesuatu di kediaman jendral.” Mendengan ucapan melia, mira dan jerico menjadi panic, dan segera mengikuti melia untuk melakuan teleportasi.


Saat itu, jendral Richard tidak fokus sehingga ia terkena sayatan pedang di lenganya. Pedang lawan mereka beracun, namun karena mereka sudah mengonsumsi pil penawar segala jenis racun, maka racun itu tidak berekasi pada mereka. Jendral Richard terduduk setelah mendapat luka itu. ia sudah kehabisan tenaga, begitu juga dengan ketiga putranya. Tiba-tiba, saat mereka sudah tidak berdaya, muncullah sosok yang ia kenal menghampiri mereka.


“hahaha…. Jendral Richard. Bagaimana rasanya terkena sayatan pedang hah…!!” ujar selir Quira. Jendral Richard menganggkat kepalanya dan melihat selir Quira yang sedang tertawa puas melihat kekacauuan yang ia buat.


“jadi, ini adalah perbuatanmu…!!!” seru jendral Richard. “ aku tidak perlu bertanya kenapa kau melakukannya, satu hal yang harus kamu tau, manusia serakah sepertimu memang tidak pantas untuk di lindungi dan juga hidup di dunia ini. Kamu hanya akan menyusakhan orang lain..!!” ujar jendral Richard dengan terengah engah. Selir Quira menarik salah satu pedang pengawal yang telah gugur itu.


“kau sudah mau mati tapi masih berlagak di depanku…!!” ujar selir Quira dengan geram. “ rasakanlah kematian mu, hahahah…..” seliar Quira pun menganggkat pedang itu tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke arah leher jendral Richard. Namun tiba-tiba pedang itu terlempar jauh. Melia dan rombongannya sampai tepat waktu. mira dan jerico yang melihat ha itu menjadi marah.  Mereka bertiga pun segera mendekat ke arah jendral Richard dan ketiga pemuda itu. jendral Richard melihat mereka, ia cukup senang melihat anak-anaknya kembali, namun ini bukan waktu yang tepat, karena kediaman mereka sedang di serang.


“ayah….” Ujar jerico langsung mendekati ayahnya. Air mata jerico tumpah begitu saja. Perlahan tapi pasti, jendral Richard mulai kehilangan kesadarannya akibat kehilangan banyak darah, ia pun akhirnya pingsan di pangkuan jerico.


“cepat kak, bawa ayah pergi. Alio dan putih, bantu ke tiga kakak ku. Bawa mereka pergi dan obati mereka semua.” Perintah melia. Tiba-tiba suasana jadi hening dan mencekam. Melia dan mira kembali menatap para pembuat onar itu, termasuk selir Quira.


“selir Quira. Ternyata kamu belum jerah juga rupanya…!!” ujar melia datar. Selir Quira terkejut melihat keberanian jelita. Dan juga melihat mira. Ia melihat mira yang berada di dekat melia langsung bersuara.


“kau berada di pihak mana mira.! Aku ibumu, seharusnya kau berada di pihak ku..!!” ujar selir Quira. Melia dan mira saling memandang.

__ADS_1


“apakah aku akan memiliki ibu yang serakah sepertimu, cuih… aku tidak sudi…!!” seru mira. Mendengar hal itu selir Quira tidak terima.


“heh..mira, kalau bukan aku, siapa lagi yang menjagamu. Aku bahkan sudah mengorbankan diri untuk mu, tapi kau malah bersikap seperti itu. dasar anak durhaka...!!” Ujar selir Quira memprovokasi. Dan langsung memerintahkan para pembunuh bayaran itu untuk menyerang melia dan mira.


“maaf saja kalau begitu. Aku tidak suka orang yang serakah…” jawab mira dan langsung mengubah auranya. Ya dia adalah melati, gadis yang berdarah dingin dan tak tersentuh.


“kau salah memilih lawan..” ujar melia dan langsung menerima serangan itu. mereka berdua mulai menggunakan belati mereka dengan lihai. Sama seperti yang di alami oleh jendral Richard, lawan mereka selalu bermunculan. Namun melia memikirkan satu ide, Ia mengeuargkan pistol dalam ruang dimensinya dan lansing melakukan tembakan ganas.


Sementara mira, ia terus bermain cantik dengan belati kecilnya itu. Tak menunggu waktu lama, dan bahkan melia tidak menggunakan kekeuatan spiritualnya mereka berdua mampu mengalahkan mereka semua. Dan tinggalah selir quira di hadapan mereka. Melihat kejadian hal itu dan juga kekuatan mereka  selir quira menggeleng tidak percaya. Melihat cara mereka bertarung sangat membuatnya ketakuan, ia melihat pertarungan sengit itu yang mampu melumpuhkan pembunuh bayaran kelas atas itu.


“ka..ka..lian adalah iblis…” ujar selir quira terbata bata. Melia menyeringai dan mendekati selir quira. Ia langsung memukul kakinya dan membuat selir quira berlutut. melia mengengam erat dagu selir quira.


“kalau tida punya keberanian jangan menantang…” ujar melia, ia langsung menghempaskan cengkaramannya. Ia juga langsung mengikat selir Quira dan langsung merenyeretnya ke dalam ruang bawa tanah.


“lepaskan aku..”teriak selir quira.


“melepaskan mu, mimpi saja kamu. Aku sudah memberimu kesempatan untuk memperbaiki sikap mu, namun sepertinya kamu malah menantang kami.” Ujar melia dengan datar. Melia pun langsung mengurung selir quira dan juga menambah arayya yang kuat untuk melindungi tempat itu.

__ADS_1


“nikmatilah hati-harimu disini…” ujar melia.


*** bersambung***


__ADS_2