nyasar ke zaman kuno

nyasar ke zaman kuno
bagian 70


__ADS_3

"oh dewa, kebaikan apa yang aku lakukan dalam hidup ku, sehingga kau menuntun anak-anak ku kembali kepadaku dengan selamat…” ujar jendral Richard di sela-sela pelukannya. Mira dan jerico mengeratkan pelukan mereka, begitu juga dengan jendral Richard. Setelah pesta haru-haruan itu, saat ini mereka kembali mengobrol dengan santai.


“coba, ceritakan pada ayah, kenapa kalian tidak ingin kembali. Dan kenapa tidak betah tinggal disini..?” Tanya jendral Richard pada mira dan jerico.


“iya nak, ceritakan lah. Apa yang membuat kalian tidak betah. Ataukah ini menyangkut dengan ibu atau saudara-saudari kamu..?” Tanya selir liora. Jerico menghela nafasnya berat dan mulai bercerita.


“ayah ibu, dan saudara semua. Kami memilih pergi dan menjauh dari rumah, itu karena kami malu melihat tindakan ibu kami yang serakah. Semuanya tidak ada hubungannya dengan ayah dan ibu, atau saudara. Hanya saja, melihat sikap ibu Quira yang selalu ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi, serta melakukan segala cara agar keinginannya tercapai. Kami sebenarnya sangat malu yah, makanya kami memilih untuk pergi belajar keluar, kami juga tidak mau, ibu memanfaatkan kami dari hal yang tidak-tidak, dan mencelakai saudara-saudari kami, kami hanya berusaha untuk menghindari hal itu yah..” ujar jerico dengan perasaan malu dan bersalah pada ayah serta keluarganya. Jendral Richard menepuk pundak jerico.


“ketahuilah nak, ayah sangat bangga memiliki kalian. Selama hidup ayah, ayah tidak akan pernah membedakan kasih sayang di antara kalian. Ayah hanya menekankan untuk selalu berbuat baik dan saling menyayangi. Ayah juga tidak menyalahkan kalian dengan apa yang sudah di lakukan oleh selir Quira pada keluarga kita, karena pada dasarnya, selir Quira bukanlah ibu kandung kalian..” ujar jendral Richard. Pengakuan itu tentu saja, membuat mereka semua tercengang. Jerico menatap ayahnya dengan intens berusaha mencari kebohongan di mata ayahnya.


“maksud ayah…?” Tanya mereka semua. Kecuali selir liora dan nyonya catrine. Jendral Richard menatap mata anak-anaknya, ingin sekali ia mengerjai anak-anaknya itu, namun ia sadar, mereka dalam mode serius.


“ibu kalian adalah selir larista, selir pertama ayah dan saudari ibumu selir liora. Saat itu, kakak mu pramuga sudah berumur satu tahun, si kembar ray berumur 7 bulan. Saat kalian lahir, ibu kalian tidak dapat tertolong karena mengalami pendarahan, setelah kalian berumur satu hari, ibu kalian pun meninggal. Saat itu ayah sangat bersedih. Setelah mengkremasi jasad ibu kalian, selir Quira datang menemui ku dan mengatakan untuk merawat dan membesarkan kalian mengingat ia masih belum memiliki anak. Ayah sebenarnya ingin kalian dirawat oleh ibu catrine, namun selir quira berdalil bahwa ibu catrine sudah memiliki sikembar. Akhirnya dengan penuh pertimbangan, ayah mengijinkannya untuk merawat kalian. Ayah sengaja tidak ingin menceritakannya kepada kalian, karena ayah ingin kalian tumbuh dengan baik dan melupakan sementara tentang ibu kalian. Ayah sungguh minta maaf…” ujar jendral Richard dengan mata yang mulai mengembun, ia membelai kepala keduanya dan meminta maaf.


Jerico yang mendengar penuturan ayahnya tentang ibunya itu, ia bernafas lega, walau ibunya sudah tidak ada di dunia ini, tapi mereka bersyukur, mereka tidak lahir dari Rahim yang salah.


“ayah tidak perlu meminta maaf, ayah tidak salah. Kami sangat senang ayah mau memperhatikan kami dan sayang pada kami. Kedepannya, kami yang akan menjaga ayah dan juga ibu.” Kali ini, yang bersuara adalah mira. Ia awalnya hanya diam dan mendengarkan saja, namun melihat ketulusan dari jendral Richard, ia bertekad dalam hati, bahwa akan menjaga mereka semua. Jendral Richard tersenyum menanggapi perkatan putrinya itu.


“terima kasih putriku, sekarang kalian sudah mengetahui kebenarannya. Maka jangan pergi jauh lagi, kalia semua tetaplah berada dalam jangkauan ayah.. tapi, ayah perhatikan. Kenapa kalian berdua terlihat kurus, apakah kalian tidak apa-apa nak..?” Tanya jedral Richard. Ucapan jenndral Richard menarik perhatian selir liora. Selir liora mendekat kearah mereka.

__ADS_1


“ya.. apakah kalian tidak apa-apa. apakah terjadi sesuatu dengan kalian..?” Tanya selir liora. Tiba-tiba, pramuga membuka matanya, ia tersadar dari pingsannya dan mendapati banyak orang yang berada di ruangan itu.


“ibu…” panggilnya lirih. Semuanya menoleh kearah pramuga. Selir liora melihat putranya sudah sadar, dan ia tersenyum senang.


“putraku, kau sudah bangun..?” selir liora mendekat dan langsung memeluk putranya itu. ia menagis haru, melihat anak dan keponakannya sehat dan kembali. Pramuga mengedarkan pandangannya. Ia meneliti setiap orang yang ada di ruangan itu. matanya kemudian menangkap 3 sosok yang ia kenali dan sangat ia rindukan juga. Ia berusaha untuk bangkit dan duduk.


“melia, jerico, mira…” lirihnya. Ia menetekan air matanya, sunguh pertemuan yang tidak ia duga. Ia merentangkan kedua tangannya, berharap mereka datang memeluknya. Melia melihat itu langsung menubruk tubuh itu. sementara jerico dan mira berjalan mendekat.


“bagaimana keadaaan mu ? apa kamu akan pergi lagi..?” Tanya paramuga. Ia melerai pelukan mereka.


“tidak kak, melia tidak akan kemana-mana. Melia akan disini bersama kalian..” ujar melia dengan penuh derai air mata.


“apa kalian tidak mau memelukku…?” Tanya pramuga sambil merentangkan tanggannya.


“tentu saja kakak…” ujar jerico, jerico pun menghambur kepelukan pramuga, ia menangis melepaskan beban berat dalam hatinya, pramuga mengelus lembut punggung saudaranya yang bergetar itu.


“sudah jangan menagis. Aku belum mati…” ujarnya dengan gurauan. Jerico melepas pelukannya dan tersenyum.


“aku sangat senang melihat mu kak,..” ujar jerico. Jerico beralih menatap mira yang hanya berdiri mematung di sampingnya.

__ADS_1


“kau tidak ingin memeluk kakak. Bukankah kau selalu merengek pada kakak saat kamu merindukan kak Pramuga..?” ujar jerico. Mira tersenyum kecut. Ia tau, tubuh itu sudah berkali-kalai memberikan bayangan asing padanya. Mira mendekat dan memeluk pramuga. Pramuga menyambut pelukan dari mira, dengan senyum yang terpatri.


di sisi lain, kaisar vikram sudah menyelesaikan permasalah di wilayah selatan. Dan ia sudah bersiap-siap untuk kembali, namun ia baru saja mendapatkan kabar dari bawahannya mengenai keluarga jendral yang di serang.


“yang mulia…” ujar david. Kaisar vikram menoleh kearahnya.


“mm… apakah kita sudah siap berangkat hari ini. Aku ingin segera pulang..” ujarnya datar.


“tentu saja yang mulia, semuanya sudah siap. Namun tadi hamba mendengar kabar, beberapa hari yang lalu, kediaman jendral Richard di serang oleh sekelompok pembunuh bayaran.” Ujar david. Mendengar keluarga jendral di Serang, kaisara vikram membelalakkan matanya, namun segera ia menormalkan ekspresinya kembaali.


“mmm lalu, bagaiman keadaan mereka..? apakah mereka baik-baik saja…?” Tanya kaisar vikram.


“ya yang mulia, mereka baik-baik saja, untungnya, nona melia dan juga kedua saudaranya kembali di waktu yang tepat. Dan yang saya dengan, perampok itu di habisi oleh nona melia dan nona mira hanya dengan menggunakan belati!!. Dan mereka langsung tumbang!!!. Mereka sangat hebat yang mulia..!!” cerita david dengan menggebu-gebu.


Dalam hatinya ia merasa senag dengan kedua gadis itu, mereka ternyata bukan orang yang gampang di tindas, tapi mereka adalah gadis mandiri dan tergas. David membayangkan, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menjadi istrinya. Tak… suara jitakan di kepala david.


***bersambung***


terima kasih sudah mampir 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2