
"ya bukan begitu juga, aku hanya rindu padamu.. habis.. kamu tidak pernah memberi kabar..!!” ucapnya dengan tampang imutnya. Melihat kelakuan seorang kaisar yang di gadang-gadangkan sebagai orang yang kejam dan berdarah dingin, itu seperti anak kecil nan manja di depannya. Jelita menepuk jidatnya. Plak..
“sudahlah… mending yang mulia pergi dulu. Aku ingin istirahat…” ucapnya sambil berlalu.
“aku akan temani kamu..” ujar kaisar vikram.
“tidak perlu yang mulia. Saya mohon. Besok yang mulia baru boleh berkunjung.. ya…” ujarnya dengan memohon. Sebenarnya jelita ingin pergi keruang dimensinya untuk bertemu dengan jelita asali dan melihat kondisinya saat ini.
“hais… baiklah. Aku akan pergi dulu, tapi janji ya,besok aku kesini dan jangan menghindariku. Paham…” ujar kaisar vikram sambil mencubit gemes hidung jelita.
“baiklah, aku janji…” ucap jelita. Setelah itu, kaisar vikram pun meninggalkan kediaman jendral Richard. Sementara jelita langsung masuk keruang dimensinya.
Syyuuuutttttt…… jelita langsung berpindah tempat. Disana jelita mengedarkan pandangannya untuk mencari alio dan juga siputih. Namun sepertinya mereka sedang tidak ada.
Jelita pun berjalan kearah pembaringan jelita yang asli. Namun pas sudah sampai di tempat itu, jelita juga tidak menemukan jelita yang asli.
“kemana mereka, kenapa tidak ada di sini juga.” Ijar jeelita sambil mengedarkan pandangannya. Tiba tiba ia mendengar kegadunhan, seperti ada yang belajar ilmu beladiri. Jelita pun mengikuti asala suara itu, sesampainya disana, ia melihat tiga mahluk yang sedang ada disana, satu di antara mereka sedang berlatih, dan dua diantara mereka sebagai pelatihnya. Tanpa piker panjang, jelita langsung menemui mereka.
“hai…..” ucap jelita dengan girang. Ketiganya pun langsung menoleh, dan melihat siapa yang datang berkunjung.
“hai mel…” balas jelita asli yang sudah menghentikan latihannya. Mereka berdua pun berpelukan seperti saudara sendiri. Si putih mendekat dan menempelkan tubuhnya di kaki melia dan menggosok-gosok kan tubuhnya.
“tuan… kenapa baru datang…?” Tanya si putih.
“iya tuan. Kami merindukannmu..” timpal alio si kucing Persia.
__ADS_1
“apa kalian merindukanku..?” Tanya melia kepada mereka.
“tentusaja…” jawab keduanya. Kemudian melia mengelus kedua binatang spiritnya. Lalu kemudian beralih menatap jelita.
“jel… aku ingin berbicara padamu..” ucapnya. jelita pun mengangguk. Mereka berdua pun mencari tempat duduk yang nyaman unutk mengobrol.
“jel.. aku rasa, waktunya unutk kamu kembali…” ucap melia.
“kenapa mel, apa kamu sudah tidak betah bersama dengan keluargaku..?” Tanya jelita. “atau mereka menyakitimu ?”
“tidak jel, aku hanya ingin pergi mencari jalan pulang. kamu kan tau, aku tidak berasal dari dunia ini. Aku merindukan kakak ku, dank u harap juga dia baik-baik saja.” Ujar melia dengan mata sayunya.
“tapi mel,…_” ucapnya lagi.
“tidak apa jel. Kamu kan sudah menjadi kuat. Kamu bisa melindungi diri sendiri. Aku akan tetap bersama dengan kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku juga mencintai keluarga kamu, merek aorang yang baik.” Ucap melia sambil menggenggam tangan jelita. Dalam hari sebenarnya melia berap unutk meninggalkan mereka, namun apa boleh buat. Ia harus bisa kembali ke dunia asalanya. Tiba-tiba melia mengeluarkan salah satu benda atau sebuag sensor, dan memberikannya kepada jelita.
“baiklah kalau begitu…” ucap jelita dan menyimpannya.
“oh ya…!! Satu lagi, aku telah menerima dekrit dari kaisar maupun raja unutk menikah dengan kaisar Vikram dari kerajaan awan. Kamu bisa menggantikanku nanti..hehehe…” ujar melia. Jelita melototkan matanya.
“kamu menerima dekrit itu, dan kamu memberikannya padaku…!!” ucap jelita dengan mata yang masih melotot. Melia pun menganggukan kepalanya.
“astaga mel, dia adalah kaisar yang kejam dan tidak berperasaan, aku tidak mau..” ucap jelita. Melia pun mendekat.
“terus… kamu ingin menikah dengan mantang tunangan kamu begitu..?” ujar melia sambil memicingkan matannya.
__ADS_1
“tentu saja tidak. Ia sudah menyingkirkanku. Bodoh kalau aku kembali lagi padanya..” ucap jelita sambil melipat kedua tangannya. Sementara kedua binatang itu sedang tertidur manja di samping melia dan jelita.
“baguslah kalau begitu, ingat kalau sudah kembali, jangan pernah percaya dengan orang lain. Kecuali mereka adalah keluarga, namun walaupun begitu, tetap harus di pastikan dulu kebenarannya. Ingat ya… jangan jadi orang bodoh lagi. Kamu sudah belajar ilmu beladiri, maka pergunakan itu sebaik mungikin. Karena ayah banyak sekali yang tidak menyukainya.” Ujar melia menasehati jelita. Jelita mulai berkaca-kaca.
“apakah benar kamu akan pergi..? kenapa tidak tinggal bersama kami..? aku senang punya saudara kembar..” ujarnya dengan mata yang suddah berair. Melia mengelus lembut punggung jelita.
“sudahlah, jika sudatu saat nanti takdir kita unutk bersama-sama, maka pasti kita akan bersama-sama kembali.” Ujar melia. Jelita pun menghapus air matanya.
“benar ya… kamu juga mainnya jangan terlalu jauh, biar nanti aku bisa sekali-kali bertemu denganmu.” Ucap jelita.
“hais… kalau itu, aku belum yakin..” ujar melia. “namun, akan aku usahakan nanti bertemu denganmu dan melihat kedua orang tuamu.” Ujar melia, dan di angguki kepala oleh jelita. Setelah mereka berbincang, melia langsung membawa jelita keluar dari ruang dimensi itu dan langsung berada di kediaman jelita.
“ingat jel, jaga kesehatanmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir si, 4 ulat bulu sudah aku singkirkan. Namun kamu tetap waspada, karena kemaren aku dan ayah sudah membunuh lira dan ira denga tidak sengaja, dan jangan kamu Tanyakan apa-apa kepada ayah, paham..”ujar melia.
“iya paham, ini seperi aku yang adik sih, terus-terisan diomeli sama kamu..” ujar jeita, namun hanya di balas cengengesan oleh melia.
“tapi, kamu akan kemana setelah ini..?” Tanya jelita.
“aku akan pergi ke desa endapan unutk babarapa saat, namun mungkin aku akan kembali kehutan tempat aku terlempar dulu.” Uca melia. Sebenarnya jelita tidak ingin berjauhan dengan melia. Namun ia sadar, ia tidak dapat mengekang melia. Ia hanya berharap suatu saat nanti ia dan melia dapat di pertemukan lagi.
“kalau begitu, berhati-hatilah… aku doakan semoga, kamu cepat menemukan jalan keluar dari sini.” Ujar jelita. Setelah itu, melia pun langsung menghilang dari sana. Sementara jelita, menyelisik semua sudut ruangan yang ada di kamarnya itu.
tidak ada yang berubah…” ucapnya sambil berjalan menuju tempat pembaringannya. Jelita membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.
“ternyata, aku merindukanmu tempat tidurku…” ujar jelita sambil mengelus tempat tidurnya.
__ADS_1
“sebaiknya aku istirahat, besok waktunya mengganti peran melia…” ucapnya, jelita pun langsung terlelap.
***bersambung***