
"Aku pernah berguru pada seorang alkemis, dia mengajarkan kepada saya cara meramu obat-obatan. Jadi ketika saya melihat koyo kemarin yang menempel pada tubuhnya ibu. Aku langsung terpikir untuk membuat ramuan yang sama." Bohongnya, namun kata kata Jelita dipercaya begitu saja oleh tabib lino.
" Oh... begitu nona. Kalau boleh tau, siapakah nama guru nona. apakah saya boleh mengenalnya nona ?." Tanya tabib itu dengan antusias.
Jujur saja, melihat teknik pengobatan seperti ini, siapapun akan tertarik untuk belajar padanya. Apalagi khasiat obat yang digunakan benar-benar efektif.
"Oh... Itu saya minta maaf tabib. Guru saya orang yang tertutup, dan bahkan saya sendiri tidak tau namanya. Jangan kan namanya, wajahnya saja tertutup dan irit bicara." Ujarnya bohong. Tabib lino berbicara dalam hatinya.
(, Seperti apakah guru ini, misterius sekali. Muridnya saja tidak mengenalinya . Namun dia sangat hebat. Aku baru melihat cara pengobatan seperti ini, mungkin kah guru itu sedang menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya. Atau ia dalam bahaya ?.) ucap tabib lino. Jelita yang mendengar isi hati tabib lino itu, seolah-olah ia ingin tertawa. Namun ia takut dikira aneh, terpaksa ia tahan dan tidak mengeluarkan tawanya.
***
Di sisi lain
Selir Quira mengetahui bahwa, nyonya kediaman jendral sudah di pindahkan di kediaman nya semula, ia menjadi marah, ia mengepalkan tangannya kuat kuat sampai tangan nya memutih.
"Kurang ajar, siapa yang berani menentang ku" Ujarnya dengan marah. Tabib karli yang ada disana menenangkan nya. Namun ia juga heran, apakah sudah ada yang mengetahui bahwa nyonya Catrine tidak mengidap penyakit menular ? Pikir nya. Kalau benar begitu, mereka akan berada dalam bahaya.
__ADS_1
"Tenanglah nyonya, saya akan pergi memeriksa keadaannya,." Ujar tabib itu. Tabib karli ingin pergi dan memastikan sendiri, apa yang terjadi sebenarnya.
", Baiklah, pergilah. Jangan lupa berikan ini padanya." Ucap selir Quira sambil memberikan sebotol ramuan. Tabib karli terkejut melihat ramuan itu, itu adalah racun raflesia yang akan membunuh target dengan sekejap. Tabib karli mengambil nya. "Tapi ingat, jangan sampai ada yang tau, jika tidak, kamu tau konsekuensi nya." Ancam selir Quira.
"Nyonya tenang saja, " balas Tabib karli dan langsung undur diri dari sana.
***
Tabib karli pun pergi kekediaman nyonya Catrine, sesampainya disana. Ia melihat ada Jelita dan tabib lino sedang berdiskusi. Tabib karli menyapa mereka.
"Salam Nona jelita, " ucap Tabib karli sambil membungkuk. Jelita menoleh kearah sumber suara tadi. Disana ia melihat tabib karli sedang membungkuk namun tak lama ia menegakkan badannya lagi. Jelita membatin.
"Tabib karli, apa kabar. " Sapa tabib Lino. Jelita menoleh kearah tabib lino dan tabib karli.
( Dia tabib karli. ?. Sedang apa dia disini ?)Batin jelita lagi.
"Ada apa gerangan tabib kemari ?" Tanya Jelita dengan tidak suka.
__ADS_1
"Maaf nona, saya kesini karena saya mendengar bahwa nyonya Catrine sudah dipindahkan ke kediaman semula. Saya hanya ingin memastikan penyakit menular ini tidak menyebar. " Ujar dengan sopan.
" Apa kau yakin, bahwa ibuku mengidap penyakit menular. Sejauh ini, saya belum merasakan tertular oleh penyakit itu. Bahkan para pengawal dan pelayan yang menjaga ibu, mereka pun belum tertular." Ucap Jelita dengan percaya diri.
Tabib karli terdiam sejenak. Ia membatin.
( Sial, apa yang dia katakan. Kalau begini terus, rencana semula tidak akan berjalan. Baiklah, aku tidak akan melakukannya hari ini.") Batin tabib karli. Jelita tersenyum licik, mendengar isi hati tabib karli.
"Kalau begitu, biarkan saya periksa dulu nona. Barang kali saya yang telah keliru mendiagnosa nya." Ujar tabib karli.
"Tidak perlu tabib karli. Tabib yang menangani ibuku ada, ia juga sudah memeriksa nya tadi. Jadi tabib karli tidak perlu repot-repot. Dan juga, besok besok kamu jangan kesini lagi." Ucap Jelita terus terang.
Tabib lino yang mendengar pengakuan atas dirinya, ia menjadi senang. Ia tidak menyangka, kalau nona jelita akan mengakuinya, ia berjanji akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan nyonya Catrine. Sementara Tabib karli mengeram.
( Kurang ajar, anak bau kencur ini. Ia berani sekali menentang ku...!! ) batinnya lagi.
( Kamu yang berani menentang ku, Lihat saja. Jika kamu berani menyentuh ibuku se ujung kuku pun, maka nyawamu taruhan nya ) balas Jelita melalui suara hatinya.
__ADS_1
***🍒🍒***