
***
"kakak… apa yang harus kita lakukan, aku sudah tidak kuat tinggal di sini. Akankah kita mati di tempat ini kak?. Aku merindukan ayah,,,,” ucapnya sambil berderai air mata. melihat adiknya bersedih. Jerico mendekati adiknya dan memeluknya.
“tenanglah adikku, kita pasti akan keluar dari tempat ini….” Ujar Jerico menghibur adiknya.
Saat itu, karena terlalu lama mendekam dalam ruang gelap tanpa udara dan dengan di perlakukan sebagai binatang, Mira pun jatuh sakit. Jerico menjadi semakin takut dan cemas tentang adiknya. Ia berusaha untuk menggali tanah agar bisa keluar dari tempat itu.
setelah berhari-hari berusaha menggali tanah itu, akhirnya usahanya tidak sia-sia. Dengan tubuh mereka yang bergetar, mereka merangkak keluar dari tempat itu dan segera melarikan diri ke dalam hutan. Mira mulai lelah dan melemah, akibat berlari tanpa henti. ia meminta kakaknya untuk lari terlebih dahulu dan meninggalkannya disana, namun tentu sja sang kakak tidak mau melakukannya.
“kak, larilah dan tinggalkan saja aku. Aku sudah tidak kuat. Pergi dan selamatkan dirimu kak.” Ujar Mira dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.
“tidak…kakak tidak akan meninggalkanmu. Walaupun harus mati, lebih baik kita mati sama-sama.. kakak akan terus membawamu walau apaun yang terjadi.” Ujar Jerico. Jerico menaikkan Mira di atas punggungnya,l.
“tapi kak, aku sudah tidak kuat. Kakak juga sangat kelelahan. Dan para perampok itu semakin mendekat kak.” Ujar Mira dalam gendongan Jerico. Dan benar saja, baru saja Jerico akan melangkahkan kakinya, mereka sudah di kepung oleh para perampok itu.
“kalian ingin kemana hah…!! Kalian pikir bisa bebas dari kami..hahaha…kalian itu akan segera kami jual, maka menurutlah.” Ujar ketua permpok itu.
“aku tidak akan menyerah, kalian adalah orang-orang yang harus di musnahkan karena sudah mengacau kerajaan ini.” Ujar Jerico.
Walau pun badannya sudah tidak bertenaga, ia akan melawan mereka sampai akhir dari pada harus menyerah. Sementara Mira, ia sudah tidak sadarkan diri karena kelelahan dan juga syok melihat para perampok itu. Jerico menurunkan Mira dengan pelan, dan menyandarkan adiknya di pohon yang roboh itu.
“banyak omong ternyata. Sudah mau mati tapi masih berlagak…. Hahaha…. Aku akui keberanianmu nak…hahah…” ejek perampok itu.
“baiklah kalau begitu, aku akan mengambil nyawamu dulu, dan segera membebaskanmu…” ujar kepala perampok itu lagi.
__ADS_1
Perampok itupun melayangkan pedangnya menuju Jerico. Nmaun tiba-tiba, pedang itu terpental jauh dan tertancap di sebuah pohon. Jerico dan para perampok itu pun terkejut akan hal itu. dan tiba-tiba saja muncullah sosok perempuan di antara mereka. Sesaat, melia melihat wajah pemuda itu, ia merasa tidak asing dengan wajahnya, seperti mirip dengan jendral Richard ayah angkatnya. Namun ia tidak ingin berasumsi terlalu jauh.
“hebat sekali, kalian ingin mengeroyok orang yang sudah tidak berdaya itu.. apakah kalian seorang laki-laki sejati atau seorang pengecut.?” Ujar melia. Kepala perampok itu mengukir senyum licik.
“kau tidak usah ikut campur cantik. Setelah menyelesaikan mereka, maka akan tiba giliranmu. Atau kau ingin bermai-main dengan kami dulu..!!” ujar kepala perampok yang tersenyum mesum itu. melia menjadi jengah dengan kata-kata perampok itu, ia tidak memiliki waktu unutk meladeni mereka, atau tidak, dua orang yang sedang di tolongnya ini akan mati.
“jangan terlalu banyak bacot, jemputlah kematianmu,,” ujar melia. Melia langsung melayang kan belati itu, dan langsung menebas kepala perampok itu. melihat ketua mereka mati hanya dengan sekali gerak, mereka semua terkejut. Namun mereka langsung menyerang melia secara bersamaan. Melia tidak ingin membuang waktu. Ia langsung menebas kepala mereka dan mati tidak bersisa.
Melia kembali melihat kedua orang itu, hatinya seperti tidak tega untuk meninggalkan mereka, terlebih ia adalah seorang dokter.
“bangunlah. Apakah kau masih sanggup untuk berjalan.?” Tanya melia kepada jerico. jerico membuka matanya, ia sejenak mengistirahatkan tubuhnya untuk mengumpulkna tenaganya kembali.
“iya, terimakasih banyak sudah menolong kami…” ujar jerico dengan suara pelan dan tak bertenaga.
“ayo…kita harus mengobati kalian.” Ujar melia lagi. Ia langsung menggunakan ilmu teleportasinya dan membawa keduanya. Dan tibalah mereka di sebuah gubuk yang kecil namun layak untuk di tempati. Melia langsung membaringkan dan mengobati keduanya, ia membalut luka yang penuh dengan bekas cambukan tadi, setelah itu melia mengeluarkan makan yang di simpan di dalam ruang dimensinya dan memberikannya kepada lelaki itu. Melia bertanya pada pemuda itu.
“siapa namamu..? kenapa kalian bisa di kejar oleh para perampok itu..?” Tanya melia kepada pemuda itu. melia menghidangkan makan di depan pemuda itu. “makanlah, tidak perlu sungkan..” ujar melia lagi. Jerico pun angsung menyambar makan itu, namun sekilas ia melihat kearah adiknya. Seolah paham melia langsung bersuara.
“kamu makanlah dulu, kalau dia sudah sadar, ia bisa makan. Tapi makanannya bukan makanan kasar ini, ia hanya boleh makan bubur dulu.” Ujar melia. Mendengar hal itu, jerico menjadi lega dan memakan makanannya.
“tadi nona bertanya siapa aku..?” Tanya jerico dan di angguki oleh melia.
“namaku jerico dan ia adalah Mira adikku. Kami bersaudara.” Ucapnya. melia pun menganggukan kepala tanda mengerti.
“lalu, kenapa kalian sampai di kejar oleh perampok itu..?” Tanya melia lagi. Jerico pun tidak keberatan menceritakannya. Ia menceritakan bagaimana mereka sampai tertangkap, hidup di dalam ruang yang gelap dan juga bagaimana mereka kabur dan dikejar oleh mereka sampai akhirnya mereka bertemu dengan melia. Ia bercerita, tak terasa air matanya menetes. Melihat hal itu, melia menjadi tidak tega.
__ADS_1
“baiklah, kalian bisa tinggal bersma ku dulu. Oh ya kalau boleh tau, apa kalian masih punya keluarga..?” Tanya melia lagi. Jerico pun menjawab.
“ia.. kami adalah anak dari selir Quira dan jendral Richard adalah ayah kami..” mendengar penuturan itu, melia terkejut tak terbilang. Ia tidak habis pikir, apakah ada satu hal yang tidak ia ketahui..?. namun seketika, ia langsung sadar dari keterkejutannya.
“jendral Richard. Bukankah ia adalah seorang jendral yag sangat menyayangi anak-anaknya, kalau aku tidak salah… lalu, kenapa kalian sampai mengalami nasib yang seperti ini..?” Tanya melia lagi.
“oh… nona benar. Ayahku adalah seorang ayah yang terbaik. Ayah tidak tau apa yang tejadi dengan kami. Ayah hanya mengetahui bahwa kami masih menutut ilmu dari seorang guru. Kami lebih memilih pergi dari kediaman dengan alasan ingin belajar, agar kami bisa menghindari sikap ibu kami yang selalu ingin merebut posisi tertinggi. Kami malu, makanya kami memilih jalan ini. Kebetulan aku dan adikku, sama-sama menyukai ilmu pengobatan.” Jelas jerico panjang lebar.
Mendengar penjelasan dari jerico, melia pun mengangguk paham. Karena memang tidak mungkin seorang jendral yang sangat menyayangi anak-anaknya itu membuang darah dagingnya sendiri.
“lalu, apakah kalian ingin kembali..? tempat ini sangat jauh dari kerajaan purnama..” ujar melia.
“tentu saja kami ingin kembali nona. Kami sudah sangat merindukan ayah, dan juga. Kami sudah mendengar bahwa ibu kami sudah di asingkan oleh ayah. Namun kami yakin, itu pasti karena ibu berulah.” Ujarnya lagi.
(BTW.. jerico ngak tau ya wajah melia. Karena ia menggunakan penutup wajah sehingga jerico tidak mengenalinya. Dan juga, mereka tidak memiliki sifat yang sama dengan ibu mereka dan juga adiknya lira.)
“baiklah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Setelah kalian sembuh, aku akan menemani kalian kembali ke kerajaan. Karena aku juga ingin kesana untuk mengelana..” bohongnya.
“baiklah nona, terima kasih atas kebaikan nona dan mengijinkan kami untuk tinggal.” Ujar jerico sambil sedikit membungkuk.
“sama-sama, memang sudah sepatutnya saya menolong orang yang membutuhkan pertolongan.” Ujar melia. Melia pun beranjak dari duduknya, sebelum ia keluar, ia memeriksa denyut nadi Mira terlebih dahulu. Setelah itu ia keluar.
***bersambung***
makasih sudah mampir 🙏🙏🙏
__ADS_1