
kemarilah kakak ipar, sepertinya kakak ipar merindukan kakak ku..” ujar melia, yang membuat kaisar vikram tercengang. Sementara, David menjadi takut. Takut kaisar vikram tidak menyetujuinya, apa lagi ia hanya seorang pengawal. Kaisar vikram menatap David, yang sudah berkeringat dingin. Melia terkekeh.
“apa maksudnya David. Kau menyembunyikan sesuatu dariku..?” Tanya kaisar vikram datar. Sementara mira sudah menyiapkan pelurunya apa bila kaisar vikram menentang hubungang mereka.
“mm..maa,,aff… yang mulia. Hamba_” ucapannya terpotong.
“maaf yang mulia. Hamba memilih pengawal david sebagai pendamping putri saya mira..” ujar jendral Richard dengan tenang. Kaisar vikram menoleh lagi kearah david dan pemukul pelan kepalanya.
“kenapa tidak bilang….” Ucap kaisar vikram. Mira melotokan matanya, melihat kaisar itu memukul kekasinya.
“yang ,mulia tidak marah kan…?” Tanya David pada kaisar vikram.
“tentu saja, memangnya apa yang kamu fikirkan sampai kamu tidak mengatakanya padaku…” ujar kaisar vikram mulai absurd, ia berdecak pinggang.
“hamba hanya takut, yang mulia keberatan…” ucap David sambil cengengesan.
“kalau pun aku larang, memangnya kamu mau dengar..? lagi pula, aku sudah menganggap mu sebagai saudara sendiri. Kamu sudah lama ikut aku kan,,,? Jadi tenang saja, selama masih wajar, aku tidak akan melarangmu. ya sudah, yang pasti jangan mempermainkan dia. Awas saja..” ancam kaisar.
“baik yang mulia…” ucap david senang dan membungkuk. Tiba-tiba, mira angkat bicara.
“maaf yang mulia, kalau seandainya saya lancang. Kalau saja nanti tidak merestui kami, maka aku akan melarang melia untuk menikah dengan yang mulia…” ujar mira dengan datar namun, masih dalam kategori menghormati kaisar itu. gluk…
[ Untung saja aku tidak melarang, kalau tidak aku ngak bisa pikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tapi ngomong-ngomong, kakak melia, lumayan menyeramkan juga…] batin kaisar vikram. Melia yang dapat mendengar suara hatinya pun tersenyum. Kaisar vikram dan melia bertemu pandang, melihat melia tersenyum, kaisar vikram sudah paham apa yang terjadi, ia pun ikut tersenyum canggung.
“baiklah jendral, kami tidak bisa berlama-lama. Kami harus segera kembali. Nanti kita akan bertemu dua bulan lagi pada saat perayaan. Kami akan menunggu keluarga dari jendral.” Ucap kaisar vikram. David mendekat kearah kaisar viram.
__ADS_1
“yang mulia. Apa tidak sebaiknya kita pulang besok saja…” tawar david.
“heh.. ngak, untuk sementara kamu tahan saja rindu itu. nanti dua bulan kemudian kalian bisa bertemu.. kita banyak pekerjaan nanti..” ucap kaisar vikram. David pun menjadi lemas dan tak bertenaga, niat hati ingin memeluk gunung, eh ternyataa meletus.
“baiklah yang mulia…” ucap David pasrah. Ia mengalihkan pandangannya pada mira. Mira pun hanya memberikan senyum yang penuh arti, seolah senyum itu memberikan semangat untuknya.
“baiklah yang mulia..” ujar jendral Richard. Kaisar viram dan David pun di antar sampai pintu gerbang kediaman itu.
“kami pamit jendral, titip calon permaisuri ku…” ujar kasiar vikram dan langsung di angguki oleh jendral Richard.
“kami pamit jendral, titip calon istriku..” ujar David tidak mau kalah. Kaisar vikram mepletak kepala david.
“dasar bucin” ujar kasiar itu. ia sendiri tidak sadar, kalau ia lebih bucin lagi. Yang menyaksikan hal itu pun terkeke. Termasuk mira dan melia.
“baiklah, kalian berhati-hatilah.” Ujar jendral richrd. Setelah itu, mereka berdua pun menghilang. Setelah itu, mereka kembali kekediaman masing-masing. Melia masuk kedalam kediamannya. Saat kembali kekediaman jendral, melia sudah memiliki dua dayang, yaitu Tia dan cia. Tia dan cia pun mengekori junjungan mereka untuk kembali kekedimanya. Tak lama, mereka pun sampai.
“ya tia, tolong siapkan air mandi untukku, aku ingin mandi…” ucap melia. Tia pun menganggukan kepalanya dan ia dengan segera melaksanakan perintah melia. Taklama, tia pun kembali.
“nona, air untuk mandi sudah siap..” ucapnya sambil melihat kebawah. Melia memperhatikan mereka berdua. Lalu menghampiri mereka sebelum ia memasuki kamar mandi.
“kalian berdua, jika kalian ingin mengikuti saya, maka jika berbicara, kalian harus menatap lawan bicara, kalian paham… lagi pula, menatap lawan bicara itu adalah hal yang wajar. Paham ya,,,” ucap melia dan langsung di angguki oleh keduanya.
“bagus, kalau begitu aku mandi dulu…” ucap melia. Melia pun langsung beralih memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Taklama ia pun selesai mandi.
Ke esok harinya, melia pergi bertemu dengan kakaknya mira. Sesampainya disana, melia melihat mira sedang sibuk dengan berbagai alat berserakan di kamarnya itu. melia berpikir, apa yang akan dilakukan oleh kakaknya.
__ADS_1
“kakak sedang apa..? kenapa berserakan seperti iini..?” Tanya melia. Mira menoleh kearah melia dan tersenyum.
“kakak sedang membuat kincir angin sederhana untuk membangkitkan tenaga listrik..” ucap mira. Melia dan kedua pelayannya pun mendekat.
“kalau begitu, boleh melia bantu kak..?” Tanya melia bergabung duduk bersama kakaknya.
“tentu saja boleh. Sebaiknya kita buat yang agak besar alatnya, supaya bisa di gunakan untuk penerang di setiap kediaman…” ucap mira. Melia pun menganggukan kepalanya. Melia dan mira mulai merakit alat pembangkit tenaga listrik.
Sementara para pelayan menyiapkan makanan untuk mereka. Karena melia dan mira sudah menguasai cara pembuatannya, maka mereka tidak perlu melakukan uji coba untuk alat itu. sejam, dua jam, tiga jama dan akhirnya selesai dimalam hari. alat itu pun sudah terpasang sempurna dengan 5 buah kincir angin yang berukuran sedang dan dilengkapi dengan panel tenaga surya.
Setelah selesai dipasang, alat itu mulai bekerja, melia dan mira juga tidak lupa memasang alat untuk menampung atau alat sebagai pengatur kekuatan listrik yang di ciptakan oleh alat itu, sehingga tidak menimbulkan ledakan jika menggunakannya.
“hah…lelah sekali, sebaiknya kita lanjut besok pagi saja kak, untuk pemasangan bola dan aliran listrik ke setiap kediaman.” Ucap melia sambil menyangga pinggangnya karena lelah.
“baiklah, sebaiknya kita istirahat saja dulu, besok baru kita lanjutkan.” Ucap mira lagi. Sebenarnya mira dan melia di panggil untuk makan malam bersama dengan keluarga. namun karena mereka sedang sibuk, mereka hanya meminta makan itu di antar di kediman mira. Setelah mereka selasai makan, melia dan kedua pelayannya pun kemabali kekediaman mereka.
“sebaiknya, kalaian berdua langsung beristirahat saja. Tidak usah melakukan apapun. Aku juga langsung istirahat.” Ujar melia dan di angguki oleh kedua pelayannya. Mereka pun sama-sama memasuki kamar masing-masing. Melia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
“aduh lelahnya. Lebih baik, aku masuk kedimendi dulu. Aku ingin berendam di kolam kehidupan.” Ucap melia dan langsung saja syuuut.. melia sudah berpindah tempat. Melia pun mulai beren dam di kolam itu.
“aduh… enaknya… rasanya ringa sekali. Huh memang kolam ajaib…” ucap melia sambil memejamkan matanya. Setelah ia rasa cukup, melia pun beranjak dari kolam itu, dan memasuki sebuah istana yang ada di ruang dimensinya untuk mengganti pakaiaannya. Setelah itu, Melia pun mencari alio dan si putih. Melia melihat alio dan siputih sedang berada di suatu ruangan, sepertinya mereka sedang mengamati sesuatu.
“hey…. Sedang apa kalian…” ujar melia mengejutkan mereka.
“astaga memel, bikin kaget saja…” ujar alio dan siputih. Melia terkekeh melihat tampanga mereka.
__ADS_1
“hehe… sebegitu seriusnya kalian, sampai tidak menyadari kehadiran ku..?” ujar melia. Melia pun beralih menatap benda yang yang sedang mereka amati.
bersambung