Obsesi Sahabat

Obsesi Sahabat
76


__ADS_3

Adrian terus menatap Andrew, Ia seperti sedang mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pria yang mengaku sebagai ayahnya ini.


'Ah ya, Aku ingat Bun,'' tiba-tiba ucap Adrian


Saat itu kan di acara pernikahan teman Bunda, Om ini ada di sana juga kan, Bun?'' Adrian melanjutkan. menatap Kirana


''Apa, saat Sindy menikah ?'' tebak Andrew bertanya pada Kirana


''Iya mungkin.'' jawab Kirana ikut menebak.


''Lalu kenapa saat itu, Om tidak menyapa aku ataupun Bunda? Dan ... mungkin Om ini berbohong, Om bukan Ayahku.'' tiba-tiba reaksi Adrian seperti itu, dia nampak tidak percaya.


''Adrian, maafkan Ayah Nak, mungkin saat itu ayah sedang sakit.'' Andrew coba membujuk


''Sakit? sakit apa sampai Ayah tidak menemui aku.?'' pekik Adrian


''Ayah saat itu hilang ingatan Nak, ayah baru sembuh sekarang. Jadi, sekarang juga Ayah segera menemui kamu juga Bunda mu.'' alasan Andrew dengan se- meyakinkan mungkin.


''Apa benar seperti itu Bun? Apa ada yang sakit hilang ingatan? Dan hilang ingatan itu seperti apa Bunda ?Adrian tidak mengerti.'' Adrian hanya anak-anak, dia belum terlalu paham yang di maksud Andrew


Kirana diam..


Andrew lagi yang menjelaskan, ''Sayang jagoan Ayah, Ayah mengalami kecelakaan dan menyebabkan otak Ayah terganggu,'' menunjuk pada kepalanya dan kembali melanjutkan ''dan Ayah mengalami tidak ingat pada siapa pun, termasuk padamu' dan Ibumu. Jadi saat di acara pernikahan kemarin itu, maaf ya Ayah tak menyapaku juga Ibumu.. kau mau memaafkan Ayah kan.?''


''Bun, apa benar ini Ayah Adrian ?'' menatap Kirana dengan penuh harap.


Kirana mengangguk, ''benar sayang, ini Ayah kamu.'' jawabnya


''Ayah ... '' menatap lagi pada Andrew


Andrew mengangguk sambil tersenyum, ''Kemari, dan peluk Ayah!''


Dengan cepat Adrian segera mendekap erat tubuh Andrew.

__ADS_1


''Ayah, Drian sangat rindu pada Ayah.'' ucapnya dengan menangis sesenggukan.


Andrew menitikkan air mata, Andrew sadar dia merasa begitu bodoh kenapa bisa selama ini dia, tak mau menemui Adrian. Apa salahnya anak ini, sampai Andrew tak mau mengakui bahwa dia adalah anaknya. Sedangkan sudah jelas semua orang mengatakan bahwa Adrian adalah darah dagingnya. Bahkan lihat wajahnya begitu mirip seperti dirinya...


''Bunda,'' Adrian memanggil Kirana masih dalam dekapan Andrew


''Iya, sayang, kenapa ?'' suara Kirana parau mungkin dia ikut menangis.


''Bun, sini, ikut peluk Ayah! Bukankah Bunda juga sangat merindukannya ?'' suruh Adrian


Kirana bergeming.


''Bun, ayo sini!.'' panggilnya lagi


''Iya Ki, kemari lah.'' timpal Andrew juga menyuruh Kirana


Perlahan kaki Kirana mendekat, lalu Adrian segera memegang tangan Kirana, dan membawanya untuk memeluk tubuh Andrew, yang Adrian pikir Kirana juga pasti sangat rindu pada Andrew,


Dalam hal ini, Andrew tak menyia-nyiakan kesempatan, dia memeluk Adrian juga Kirana dengan sangat erat.. Sialnya tangan Andrew tak sengaja menyenggol buah dada Ibu satu anak itu..


Andrew menunjukkan wajah so polosnya, ''Apa maksudmu ? Aku tidak mengerti, ini Adrian yang meminta.'' balasnya berbisik juga.


Kirana mendengus, Singkirkan tangan kamu dari itu aku Drew!'' menunjukkan tangan Andrew lewat ekor mata , yang masih setia di sana.


''Oh .. Sorry '' pura-pura terkejut


Kirana langsung memutar bola matanya. Dia bukanlah Adrian yang bisa di bohongi.


Sore harinya..


Andrew masih berada di rumah Kirana, tentu dia masih mendekatkan diri bersama Adrian.


''Sayang,'' Kirana memanggil Adrian dari balik pintu kamar Adrian

__ADS_1


Namun.


''Ya?.. Ya Bun,? '' Andrew dan Adrian langsung menyahut panggilan Kirana, dan sama-sama menatap Kirana


''Loh .... ''Adrian nampak heran dan melihat pada Kirana gantian pada Andrew ''Bunda tadi panggil siapa? Aku atau Ayah.?'' tanya bocah kecil itu


''Ya pasti sama Ayah.'' kata Andrew


''Pada kamu Drian.'' jawaban Kirana


Adrian semakin kebingungan, tapi .... dia berpikir lagi, tidak ada salahnya kalau benar memanggil seperti itu kepada Andrew juga, toh Andrew kan Ayahnya dia. pikir Adrian mencoba memaklumi keadaan.


Kirana pun masuk dan berjalan mendekati Adrian yang sedang bermain bersama Andrew, tentu berada di pangkuan Andrew..


''Sayang, sudah dulu mainnya. Kita makan dulu yuk.!'' ajak Kirana pada Adrian


Tapi


Lagi-lagi..


''Ayo Bun. '' sahut Andrew


''Baik Bunda . '' jawab Adrian


Padahal sudah jelas kalau mata Kirana menatap Adrian, tapi Andrew ikut ikutan menyahut lagi..


''Drew, kamu ... ''Kirana tak melanjutkan ucapannya, karena tak mau debat di depan Adrian. Walau sebenarnya dia merasa geram dengan tingkah Andrew.


Andrew berdiri dan mulai berjalan keluar, namun saat melewati Kirana yang sedang berdiri Andrew berbisik di telinga Kirana.


''Kalau tidak mau aku ikut menyahut, maka mulai sekarang panggil lah Adrian dengan sebutan Drian junior, dan panggil aku dengan sebutan Mas . '' suruhnya membuat Kirana melongo


Andrew mengajak Adrian untuk makan sambil menggendongnya menuju ruang makan.

__ADS_1


Sebelum benar-benar pergi, dia tersenyum lagi dengan lebar kepada Kirana..


''Apa apaan dia.'' ucap Kirana setelah sadar dari lamunannya.


__ADS_2