
Bila bahagia mu bersamanya, maka baiklah aku akan melepaskan mu untuknya. Tapi bila kau jodohku Aku akan bahagia untuk itu dan bila kau memilihku untuk menjadi pendamping mu maka tak akan ku lepaskan lagi dirimu, akan ku buat kau ratu dalam hatiku. Untuk selamanya..
☘️
Rasa nyeri ini tiba-tiba menjalari tubuhnya Andrew saat dirinya melihat pria itu memegang tangan sang anak, dengan kata-kata yang Andrew tahu itu semua ketulusan..
Mungkinkah pria itu adalah kebahagiaan Kirana, entahlah. Dan kalaupun iya, maka Andrew harus siap menerima kenyataan nantinya..
Andrew memutuskan pergi karena dia tak sanggup lagi untuk melihat interaksi dua orang berbeda jenis tadi di ruangan itu, juga Andrew tak mampu bila harus mendengarkan mereka berbincang-bincang..
Walaupun mungkin sebenarnya niat Excel baik karena mau menengok anaknya, tapi. Hati Andrew tak bisa di bohongi dirinya merasa cemburu..
''Ki, bila dia yang terbaik untukmu. Maka aku akan mencoba mengikhlaskan mu, untuknya walau itu akan berat.'' Andrew bergumam dengan menatap kosong.
Huuft..
Andrew menghela nafas kasar kenapa harus dia kali ia akan kehilangan wanita yang di cintai nya, dulu Sindy sekarang haruskah Kirana?
Andrew lelah....
Andrew tiba-tiba menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi ada rasa ingin lenyap saja dari dalam dirinya tadi itu. Andrew ingin melenyapkan dirinya dengan mengebut..
Namun, saat bayangan wajah Adrian menari-nari di kepalanya Andrew langsung tersadar Ayah Ayah Ayah
Bahkan suara Adrian memanggilnya..
Cittttt
Andrew mengerem mendadak dengan nafas tersengal Andrew kalap dan hampir saja...
Andrew mengusap wajahnya beberapa kali, ia mengatur nafasnya yang memburu Andrew hampir saja melupakan sang anak..
''Ya Tuhan maafkan hamba ''
''Hm, Drian maafkan Ayah..''
Tak terasa air mata Andrew jatuh begitu saja, kenapa rasanya hidupnya seakan hancur saat ini juga.
__ADS_1
Tiba-tiba di samping mobil ada bayangan Adrian menatap Andrew ''Ayah.'' bayangan itu memanggilnya.
Andrew segera menoleh kesamping. ''Adrian kamu Nak ?'' ujar Andrew
''Ayah, jangan menangis '' ucap bayangan itu tangannya ia angkat dan mengusap air mata di pipi Andrew.
Andrew memejamkan matanya saat merasakan tangan mungil sang anak menyentuh pipinya.. ''Sayang,'' Adrian bergumam dan rasanya ia semakin ingin terisak.
''Nak, Ayah rapuh. Rasanya Ayah sudah tak sanggup lagi Nak.'' ujar Andrew
''Tidak Ayah, tidak! jangan pernah berkata seperti itu, Drian sangat menyayangi Ayah. Drian tak mau kehilangan Ayah, jangan pergi Ayah !'' suara bayangan itu parau mungkin ia ikut menangis..
Andrew dengan cepat ia menganggukkan kepalanya tanda ia tak akan meninggalkan Adrian. ''Baiklah sayang, baik. Ayah disini, ayah tidak akan pernah meninggalkan kamu..''
bayangan Adrian tersenyum bahagia mendengar jawaban Andrew sang Ayah..
Saat Andrew ingin memeluk tubuh bayangan itu yang Andrew pikir ini nyata, tiba-tiba bayangan itu menghilang begitu saja dari dekapan Andrew dan rupanya Andrew hanya memeluk kekosongan...
''Drian, sayang!'' Andrew memanggil dan mencari.
Sementara itu, perasaan Kirana juga tak enak karena Andrew pergi tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
'Apa aku sudah keterlaluan ?' tanya batin Kirana
'Tapi, bukan ini yang ku inginkan.' lanjutnya lagi
''B-bunda,''
''B-bunda..'' suara Adrian membuyarkan lamunan Kirana ini.
''Kirana Adrian.'' panggil Excel dengan wajah senang saat Adrian mulai membuka mata.
''Sayang ini Bunda Nak '' segera Kirana memeluk tubuh sang anak mendekapnya dengan sayang.
''Bunda!'' Adrian suaranya masih lemah.
''Ya Drian, mau apa.? Ini Bunda.''
__ADS_1
''Drian m-mau mi-minum Bun.'' pintanya suaranya terputus-putus.
''Iya tunggu Bunda ambilkan.'' dengan sigap Kirana menuangkan air dalam gelas lalu memberikan pada Adrian.
''Ini minumlah sayang.'' membantu Adrian minum
''Sudah ?''
Adrian mengangguk..
Adrian kembali berbaring dan matanya menatap sekeliling yang merasa asing dengan ruangan ini.. ''Bunda, Drian mau pulang'' ucapnya sambil menatap Kirana.
''Iya nanti ya sayang kita pulang, setelah kau sembuh'' jawab Kirana membelai kepala Adrian
''Tidak Bun, Drian maunya sekarang.'' Adrian mulai merengek ia gelengan kepalnya
''Nak, sabar dulu. iyaa nanti pasti kita pulang tapi harus meminta Izin dulu pada dokternya'' Excel berucap dan mencoba membujuk Adrian.
Adrian menatap pada Excel sebentar lalu kembali ia meminta pulang.
''Sebaiknya aku panggil dokter dulu ya, tolong kamu jaga dulu Adrian!'' ucap Kirana kepada Excel setelah itu Kirana berlalu untuk memanggil dokter dan memeriksa kondisi Adrian sekarang.
Excel pun coba membujuk dan menenangkan Adrian dengan berbagai hal.
''Drian, kamu mau uncle belikan ice krim gak?'' tanya Excel.
''Ice krim uncle?'' ulang Adrian tangisnya Mulai reda
''Ya. Mau gak, nanti uncle beli yang banyak untuk Drian.'' ucap Excel sambil melebarkan kedua tangan ke samping saat berucap banyak.
''Mau uncle. Drian suka sama Icr krim. saat sama Ayah juga Drian suka beli.'' celotehnya kini tersenyum dan dalam pikirannya ada bayangan dirinya kemarin bersama Andrew saat membeli ice krim.
Excel sedikit iri tapi ia pikir-pikir lagi kenapa harus iri. Dia bukan siapa-siapa Adrian wajar bila Adrian menyebutkan nama ayahnya..
Tiba-tiba Excel menyadari sesuatu.. Ayah yang dimaksud Adrian ini sudah jelas Ayah kandungnya kan. Lalu, berarti itu suami Kirana! Tapi, Kirana tak pernah menyebutkan tentang suami atau dia istri orang..
Apa, Kirana seorang janda? Ya mungkin seperti itu...
__ADS_1