
"Kakak ipar masuklah. Ini kamarku" seru Fiona setelah mereka berdua berada dikamar Fiona. Callista mengangguk sembari tersenyum mengiyakan ucapan Fiona. Gadis itu mengedarkan pandangannya menatap kamar bernuansa merah cabai yang elegan. Serta banyak lukisan yang terpampang disetiap tembok. Dan kaca rias mewah yang juga elegan.
"Kamarmu bagus. Aku juga suka warna merah" ucap Callista memuji.
"Benarkah? Kalau begitu selera kita sama" ujar Fiona tersenyum. Dan Callista hanya mengangguk.
"Kakak ipar istirahat saja disini. Aku akan kembali kekamar Kak Er untuk melihat kondisinya" seru Fiona lagi. Lalu melenggang pergi meninggalkan Callista. Sementara Callista menghampiri sisi ranjang dan duduk disana. Dan posisi duduknya langsung terarah berhadapan dengan cermin rias tadi. Otomatis Callista bisa melihat dirinya dipantulan cermin. Callista menatap sendu dirinya. Matanya yang membengkak dan wajah yang pucat pasi. Kejadian hina yang menimpanya barusan benar benar membuat Callista tak habis fikir. Mengapa dirinya bisa berada dalam situasi serumit ini. Padahal Callista tidak pernah mengharapkan semua ini akan terjadi dalam hidupnya. Callista hanya ingin hidup tenang bersama adik satu satunya yang ia miliki. Callista berharap tidak akan lagi merasakan pedih dan sepi. Kepergian kedua orangtuanya sudah cukup membuat hidup Callista dan David sangat terpukul. Ia tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi dalam hidupnya. Namun sepertinya takdir berkata lain. Apa yang Callista harapkan tidak sesuai kenyataannya. Dan gadis itu hanya berharap suatu saat hidupnya akan dipenuhi tawa dan airmata bahagia. Tidak ada lagi tangis dan derita.
Callista memejamkan matanya dan menarik nafas dalam, lalu membuangnya dengan perlahan. Callista mencoba mengendalikan tubuhnya dan melupakan semua yang telah terjadi.
_____________________________________________
Sementara dikamar Erland. Fiona duduk ditepi ranjang Erland. Ia menatap sendu kearah Erland yang terbaring dengan kening yang diperban. Setelah kepergian Bi Imas tadi, Fiona terus menatap Erland tanpa bersuara. Lalu tangannya memegang obat yang diberikan bi Imas untuk Erland.
"Bagaimana aku memberikan obat ini pada Kak Er? Dia sangat membenci obat" ucap Fiona gusar. Ia menatap plastik obat dan wajah Erland secara bergantian.
Fiona meraih selimut tebal dan membalutkannya pada tubuh Erland sampai menyentuh dada bidangnya. Lalu ia menatap sejenak Erland. Dan tak lama Fiona pergi meninggalkan Erland menuju kamarnya. Dan beberapa bungkus obat yang dipegangnya tadi, Fiona memutuskan untuk membawanya. Ia takut jika Erland bangun nanti dan melihat obat itu, maka dia akan marah dan membuang obatnya.
Fiona sudah kembali pada kamarnya. Ia menutup pintunya rapat dan menguncinya. Lalu menghampiri Callista dan duduk disebelahnya.
"Kakak ipar belum tidur?" seru Fiona.
"Aku belum mengantuk" ucap Callista menatap Fiona.
"Tapi ini sudah tengan malam. Jika Kakak ipar tidak tidur Kakak ipar bisa sakit kepala" ujar Fiona lagi.
"Tak masalah. Aku akan meminum obat ketika aku pusing" balas Callista tersenyum. Fiona mengangguk dan hendak membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Namun mengurungkannya ketika Callista kembali bersuara.
"Tunggu! Siapa namamu?" seru Callista.
__ADS_1
"Pamggil saja aku Fio. Nama asliku Fiona" saut Fiona.
"Fio, apa kau mau membantuku? Aku percaya kau orang baik dan bersedia membantuku. Tolong bantu aku" lirih Callista. Tangannya menggenggam erat lengan Fiona. Dan Fiona hanya menatapnya bingung.
"Memang apa yang bisa aku bantu?" ucap Fiona.
"Tolong bantu aku pergi dari sini. Aku tidak mau berlama lama berada disini. Aku ingin menemui adikku. Dia sedang dirawat dirumahsakit" lirih Callista lagi. Airmata sudah beruraian dipipinya.
"Apa yang Kakak ipar katakan? Kenapa Kakak ipar mau meninggalkan Kak Er?" seru Fiona. Ia melepaskan tangan Callista yang menggenggam erat tangannya.
"Fio. Aku ini bukan kekasih Kakakmu. Dan aku sama sekali tidak mencintainya" ucap Callista setelah memberanikan diri.
"Lalu kenapa Kakak ipar tidak mengatakannya dari tadi? Kenapa Kakak ipar mau ketika aku meminta Kakak ipar untuk membujuk Kak Er pulang?"
"Itu karena aku tidak punya pilihan lain. Aku melihat kecemasanmu yang begitu besar untuk Kakakmu. Aku takut mengecewakanmu jika aku menolak. Dan bahkan aku hendak mengatakan padamu jika aku bukan kekasih Kakakmu. Namun perkataanku selalu terpotong oleh ucapanmu" balas Callista. Matanya menatap sendu wajah Fiona.
"Sebenarnya aku sangat ingin membantu Kakak ipar_____" Callista menepiskan senyumnya mendengar perkataan Fiona.
"Tapi aku rasa aku tidak bisa melakukannya. Kak Er sangat mencintai Kakak ipar. Aku tidak bisa membuatnya kecewa" lanjut Fiona. Dan seketika senyuman dibibir Callista mendadak menghilang. Tubuhnya melemas seperti kehilangan sebuah harapan.
"Kakak ipar, Kak Er sangat mencintai Kakak. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Tadinya ku fikir Kak Er tidak normal atau hatinya sudah membeku. Karena dari dulu saat kedua orangtua kami masih ada, Kak Er tidak pernah sekali pun terlihat berkencan dengan wanita. Bahkan ia selalu marah ketika Ayah dan Ibu mencarikan jodoh untuknya" Fiona menatap Callista dalam. Lalu tangannya menggenggam erat lengan Callista.
"Tapi sekarang, semuanya seakan berubah. Kak Er yang ku kenal bukan bukan Kak Er yang dulu. Ia sebelumnya tidak pernah berbinar saat berbincang tentang wanita. Namun kehadiran Kakak ipar telah mengubahnya. Kak Er jadi lebih ceria saat membahas wanita. Dan wanita itu adalah Kakak ipar. Bahkan saat aku mengatakan bahwa usia Kak Er terpaut jauh dengan usia Kakak ipar, Kak Er mengatakannya dengan sangat bijak. Ia bilang jika usia bukan penghalang kedua insan untuk bersama. Dan ketika Kakak ipar belum sadar pun, Kak Er bulak balik kamar untuk memastikan Kakak ipar sudah sadar atau belum. Lalu Kak Er juga membuatkan makanan untuk Kakak ipar. Agar setelah Kakak ipar sadar, Kakak ipar langsung memakannya" lanjut Fiona lagi.
"Tapi dia melukaiku. Sikapnya padaku adalah suatu kekerasan. Dan aku tidak menyukai orang seperti itu" ucap Callista membalas tatapan Fiona.
"Mungkin tindakannya adalah wujud dari rasa cintanya. kakak ipar harusnya senang jika Kak Er over protektif pada Kakak ipar"
"Tapi dia juga menyakiti kekasihku. Kakakmu telah melukainya" lirih Callista kembali.
__ADS_1
"Apa?! Jadi Kakak ipar sudah memiliki kekasih?" kaget Fiona membelalakkan matanya. Dan Callista mengangguk mengiyakan.
"Wajar saja Kak Er marah dan melukai kekasih Kakak ipar. Itu karena Kak Er tidak bisa melihat Kakak ipar bersama oranglain. Mungkin Kak Er cemburu. Dan Kakak ipar harusnya bisa menjaga perasaan Kak Er" ucap Fiona kembali.
"Fio, Kakakmu itu bukan kekasihku. Jadi bagaimana bisa aku menjaga perasaannya. Sedangkan aku juga harus menjaga perasaan kekasihku. Lagi pula aku sama sekali tak mencintai Kakakmu itu" balas Callista.
"Aku tau. Aku paham jika Kakak ipar tidak mencintai Kak Er. Tapi Setidaknya Kakak ipar bisa membuka hati untuk Kak Er dan memberinya kesempatan untuk membuat Kakak ipar jatuh cinta padanya" ujar Fiona.
"Kakak ipar, cinta itu tidak ada yang instan. Jika sekarang Kakak ipar tidak mencintai Kak Er, mungkin nanti Kakak ipar akan mencintainya. Dan saat ini kumohon jangan mengecewakan kak Er. Aku yakin dia sangat mencintai Kakak ipar lebih dari Kakak ipar mencintai kekasih Kakak ipar. Mungkin rasa cintanya jauh lebih besar dari apapun" lanjut Fiona.
"Lalu bagaimana dengan perlakuannya padaku? Fio, Kakakmu itu telah_____"
"Aku tahu Kak Er sudah berusaha melecehkan Kakak ipar. Tapi itu mungkin karena Kak Er marah atas kesalahan yang Kakak ipar lakukan. Karena tidak mungkin Kak Er marah tanpa alasan. Apalagi sampai melakukan hal yang tidak sepantasnya. Karena percayalah, Kak Er itu orang yang baik jika kita bisa memahaminya. Dulu saat Ibuku masih ada Kak Er sangat menyayangi kami. Dia menjaga Ibu dan aku dengan penuh kasih sayang. Jadi tidak mungkin jika Kak Er memperlakukan wanita dengan begitu hina dan menyakiti hatinya. Aku percaya pada Kakakku" seru Fiona lagi. Tatapannya seolah menyalurkan kebenaran pada Callista. Namun Callista tidak bisa menepis kebenaran yang telah terjadi padanya. Bahwa Erland berusaha menjamah paksa tubuhnya.
"Sekarang Kakak ipar tidurlah. Aku yakin Kakak ipar sangat lelah. Apalagi ketika menghadapi situasi seperti tadi. Dan sebelumnya aku ingin meminta maaf jika perlakuan Kak Er pada Kakak ipar sangat senonoh dan melukai hati Kakak ipar. Aku minta maaf atas namanya. Tolong maafkan Kakakku" saut Fiona lagi. Ia memeluk erat tubuh Callista.
"Aku akan memaafkannya karena kau yang minta" ujar Callista membalas pelukan Fiona.
"Terimakasih telah membantuku tadi. Jika kau tak datang, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apalagi ketika melihat kening Kakakmu berdarah" lanjut Callista.
"Aku datang karena mendengar suara kericuhan dikamar Kak Er. Tapi aku senang karena Kakak ipar baik baik saja. Untung Kakak ipar lebih dulu memukul kepala Kakakku dengan vas. Jika tidak, maka aku akan sangat malu mempunyai Kakak yang telah menodai seorang gadis" ucap Fiona.
"Jadi kau tidak marah karena aku telah memukul kepala Kakakmu hingga berdarah?" Fiona melepaskan pelukannya mendengar ucapan Callista.
"Untuk apa aku marah. Kau sudah melakukan hal yang benar. Karena aku pun juga tidak akan membiarkan Kakakku terjerumus pada jalan yang salah" ucap Fiona. Dan Callista hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
Lalu tak lama kemudian mereka membaringkan tubuh masing masing diranjang. Merileks-kan tubuh dan fikiran mereka.
Semoga hari esok menjadi hari yang indah dan aku bisa melupakan kejadian tadi. Batin Callista.
__ADS_1