
Mereka keluar dari mobil. Dengan nafas yang terburu diantara keduanya. Peluh keringat membasahi kening mereka. Callista menundukkan kepalanya dalam. Menyembunyikan pipinya yang sudah seperti udang rebus.
Erland berjalan disamping Callista dengan pelan. Callista tidak memapah tubuh Erland yang masih lemah. Gadis itu sibuk dengan rasa malu yang berusaha disembunyikannya.
"Tubuhku lemas. Aku tidak kuat jika harus berjalan" seru Erland menatap kearah Callista. Lalu Callista dengan cepat menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Tapi tidak mungkin juga jika aku harus memangku mu" ketus Callista dingin. Pandangannya kembali menatap kearah depan.
"Dan aku tidak meminta mu untuk memangku ku. Argh!" balas Erland diakhiri ringisan pelan. Tangannya memegang bagian pelipis.
"Tapi kau mengatakan kalau kau tidak kuat berjalan. Dan aku tau itu kode darimu agar aku memangku mu. Benar, kan?" Callista kembali menoleh. Bola matanya memutar kesal. Menghembuskan nafas kasar dengan kedua tangan yang diterlipat didepan dada.
"Kau salah. Bantu aku berjalan. Hanya itu saja" dengan terpaksa Callista mengiyakannya. Ia menurunkan kembali tangannya. Dan berjalan mendekat pada Erland dengan membisu.
"Ayo!" mengulurkan tangan. Erland dengan sigap menerimanya. Lalu Callista menyimpan tangan pria itu dipundaknya. Dalam diam Erland tersenyum senang. Baru kali ini wanita itu menuruti keinginannya meski dalam keadaan terpaksa.
***
"Apa kau akan langsung kekamar?" tanya Callista saat mereka baru saja memasuki pintu utama.
"Ini rumahmu. Aku tidak punya kamar disini"
"Kau bisa pakai kamarku" ujar Callista. Erland menoleh cepat menatap wajah Callista yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Lalu kau akan tidur dimana?" tanya Erland.
"Tentu aku akan tidur dikamarku. Mana mungkin tidur diluar" jutek Callista memalingkan wajah. Dan Erland sontak tersenyum lebar mendengar ucapannya.
"Ada apa?" selidik Callista menyadari Erland yang tersenyum.
"Tidak. Bawa saja aku kekamarmu" Callista mendelik kesal. Tapi tetap menurut untuk membawa Erland kekamarnya.
***
Keesokan paginya. Callista sibuk menyiapkan sarapan untuk semua orang yang ada dirumahnya. Fiona juga ada disana untuk membantu.
"Kakak ipar, apa kau sudah memberi obat pada Kak Er?"
"Sudah. Aku menyimpannya diatas meja disamping ranjang" balas Callista.
"Hanya menyimpannya? Kakak ipar tidak memberikannya langsung?" tanya Fiona lagi.
"Tidak. Memangnya kenapa? Kakakmu bisa meminumnya sendiri. Tidak perlu aku menyuapinya obat seperti anak kecil" Fiona menghembuskan nafasnya kasar.
"Masalahnya Kak Er memang sepeti itu. Dia lebih dari anak kecil. Dia tidak akan meminum obat jika tidak dipaksa. Percuma saja kakak ipar menyimpan obat itu jika tidak memberikannya langsung. Kak Er hanya akan membuangnya" Callista menghentikan aktivitasnya yang sedang mengelap piring dan sendok. Lalu beralih menatap Fiona.
"Kau serius?" tanya Callista meyakinkan. Fiona mengangguk cepat. Lalu dengan sigap Callista menyimpan celemek yang dipakainya. Berlari cepat menuju kamarnya.
__ADS_1
"Fio, kau teruskan saja semuanya. Hanya tinggal menyajikan makanan dan setelah itu selesai. Dan kau bisa sarapan lebih dulu bersama David. Aku akan memberikan dulu kakakmu obat" kembali berlari cepat. Fiona yang mendengar ucapan Callista mendengus kesal. Namun ada kesenangan juga dihatinya.
Callista sampai dikamarnya. Terlihat Erland sudah terbangun dan duduk bersandar pada sandaran ranjang. Callista mendekat dan ikut duduk disampingnya dengan posisi mengahadap pada Erland.
"Kau sudah meminum obatmu?" tanya Callista langsung.
"Lihat saja. Jika tidak ada berarti aku sudah meminumnya" balas Erland. Callista dengan cepat menoleh kearah meja samping. Tidak ada apapun disana. Callista sudah tidak melihat lagi obat yang ia simpan semalam. Seketika hatinya merasa tenang. Dan hendak kembali beranjak dari sana. Namun-----
Krek. Callista meninjak sesuatu dibawah kakinya. Sesuatu itu cukup keras. Dan anehnya Callista merasa ada beberapa benda yang ia injak. Tak hanya satu, tapi banyak.
Callista sedikit menunduk untuk memastikan benda itu. Ia berjongkok dan melihat plastik bening yang terdapat beberapa bungkusan obat obatan.
"Astaga!" pekik Callista. Matanya tiba tiba menyala nyala. Hatinya begitu kesal. Dengan cepat gadis itu berdiri dan melemparkan semua bungkusan obat kearah wajah Erland dengan lemparan yang cukup keras.
"Apa ini?! Apa kau membuangnya?! Obat ini di beli dengan uang. Apa kau tidak bisa menghargai itu?!" teriak Callista murka. Rasa kesal seolah sudah menggunduk didalam benaknya. Erland menoleh menatap wajah Callista. Tangannya memegang pipi yang terkena lemparan tadi.
"Aku tidak suka obat. Jadi jangan memberikannya lagi. Atau aku akan kembali membuangnya" simple Erland menjawab.
"Pria gila. Memangnya siapa orang yang suka obat? Semua orang juga tidak menyukainya" ketus Callista.
"Kalau kau mengerti kau tidak perlu memberikan ku lagi obat" Callista membuang nafas kesal.
"Ini berbeda. Kau sedang tidak pulih. Jadi harus meminumnya"
"Aku tidak mau" singkat Erland. Pria itu menyibakan selimut dan beranjak dari sana. Hendak menuju kamar mandi. Namun sebelum melangkah jauh, Callista sudah menghalangi jalannya.
"Apa peduliku?" Callista menggeram mendengar balasan Erland.
"Minum obatmu atau------"
"Apa?" potong Erland. Callista terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Atau aku tidak akan pernah menerimamu!" ancam Callista. Namun tak berlaku sama sekali untuk Erland. Karena justru pria itu tersenyum miring mendengar ucapan Callista.
"Memang kapan kau menerimaku?" sindir Erland. Callista terdiam membisu. Apa yang dikatakan Erland memang benar adanya. Melihat Callista yang hanya terdiam, Erland lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan mengambil arah samping. Dan lagi lagi Callista menghalangi jalannya.
"Akan ku lakukan apapun untukmu. Tapi minumlah obatnya" bujuk Callista kembali. Kini suaranya jauh lebih lembut. Erland nampak berfikir sejenak. Mendengar ucapan Callista yang seolah yakin membuat pria itu berfikir macam macam.
"Kau yakin? Apapun yang ku mau?"
"Apapun yang kau mau akan ku lakukan." tekan Callista. Erland menepiskan seringai licik. Callista yang melihat seringai itu diwajah Erland bergidik ngeri.
"Tapi ada syaratnya. Kau tidak boleh macam macam! Atau aku tidak akan menuruti apapun!" ancam Callista yang penuh peringatan. Erland menggeleng dengan cepat.
"Tidak macam macam. Hanya-----" menggantung. "Sedikit " lanjutnya disertai tawa kecil. Callista membelalakan matanya bulat tak percaya.
"Kenapa? Kau takut? Kalau begitu aku tidak akan meminum obatnya" mengedikan bahu acuh.
__ADS_1
"Tidak tidak. Kau katakan saja apa mau mu. Aku akan menurutinya" ucap Callista kilat. Erland kembali tersenyum senang.
Walau dengan terpaksa. Batin Callista melanjutkan perkataannya.
"Berciuman denganku setelah aku meminum obat" Callista terdiam sejenak. Tubuhnya membeku mendengar ucapan Erland yang menurutnya sangat gila. Baru saja Callista akan protes, Erland sudah mendahuluinya.
"Satu lagi. Jangan lepaskan ciumannya sebelum aku yang melepasnya" Callista semakin membeku. Lidahnya kelu. Perkataan Erland bagaikan sebuah sambaran petir untuknya.
"Kenapa kau diam? Kau setuju atau tidak?" seru Erland lagi. Callista dengan cepat menatap wajahnya.
"Ini gila. Keinginan mu tak masuk akal. Kau katakan saja keinginan yang lainnya"
"Tidak. Aku hanya menginginkan apa yang ku katakan tadi. Jika kau setuju dan mau, aku akan meminum obatnya sekarang. Tapi jika tidak-----"
"Aku setuju!" ujar Callista memotong cepat. Atau pria itu akan mengatakan hal yang aneh lagi.
"Asal habiskan semua obat itu dalam satu tegukan!" lanjut Callista kesal. Lalu berlalu meninggalkan Erland yang nampak tersenyum melihat tingkah dan ucapannya.
Callista mengambil beberapa bungkus obat obatan yang sudah diresepkan dokter untuk Erland. Ia memilah sebentar dan menyimpan satu bungkusan obat yang berisi crim untuk mengeringkan luka didahi Erland. Sementara bungkusan lainnya Callista ambil.
"Ini" Callista melempar pelan bungkusan obat itu pada dada bidang milik Erland. Dengan sigap Erland meraihnya. Melihat sekilas obat obatan yang sangat ia benci. Dan kali ini pertama kalinya Erland bersedia meminumnya.
Erland memutar badan untuk mengambil minum diatas meja yang hanya satu gelas. Membuka bungkusan obat dan langsung meneguknya cepat dengan air yang hanya satu tegukan. Callista tersenyum sumringah melihat obat yang ia berikan sudah diminum Erland. Lalu terbesit rencana licik diotak cerdasnya. Callista dengan cepat hendak berlari dan meninggalkan Erland.
Jika dia segampang ini meminumnya, aku tidak perlu repot repot untuk menuruti keinginannya. Batin Callista. Hatinya tertawa senang.
"Oek. Uhuk" Callista menoleh. Pergerakannya untuk kabur terhenti ketika mendengar suara Erland yang terbatuk dan hampir muntah. Callista menghampiri Erland cepat. Memegang pundak pria itu yang berdiri membelakangi.
"Argh" Pekik Callista. Erland mendorong tubuhnya cepat dengan sekali pergerakan. Menjatuhkan tubuh gadis itu diatas ranjang dan menindihnya. Callista kembali membeku tak berkutik. Pergerakan Erland yang cepat membuatnya terkejut.
Pria itu ******* habis bibir ranum Callista. Menciumnya dengan sangat brutal. Tangannya memegang kuat kepala Callista agar terdiam. Erland menggigit cukup keras bibir bawah Callista. Yang otomatis membuat gadis itu membuka mulutnya cepat. Erland memasuki mulut Callista dengan rakus. Pergerakannya kembali pada awal mereka pertama kali berciuman. Begitu panas dan menggairahkan. Namun bedanya kali ini Erland hanya terus mempermainkan lidah Callista. Lidahnya seolah sengaja di lumatkan pada lidah Callista. Membuat Callista sesekali memukul dada Erland untuk menghentikan ciumannya. Mata gadis itu berkedip kedip seperti kehabisan oksigen. Namun kali ini bukan kehabisan oksigen. Melainkan ia merasakan sesuatu yang aneh didalam mulutnya.
Erland menghentikan pergerakannya saat ia rasa cukup. Tangannya menyangga dikedua sisi kepala Callista untuk menopang tubuh beratnya agar tidak menimpa tubuh Callista. Pria itu memberikan senyum senang sekaligus seringai kemenangan. Berbeda dengan Callista yang seperti ingin muntah. Gadis itu terus mengecap sendiri lidahnya. Ada rasa pahit diarea mulutnya.
"Lain kali jika aku selesai meminum obat aku akan segera menerkam mu dengan ciuman. Agar kau tahu bagaimana pahitnya" Erland terkekeh pelan. Callista dengan cepat melayangkan pukulan kedada Erland. Gadis itu menghantamkan pukulan yang bertubi tubi.
"Jadi kau sengaja? Kau ingin aku juga merasakan pahitnya heuh?!"
"Tentu. Memang itu rencanaku" masih terkekeh. Callista mendelikan matanya kesal. Lalu mendorong sekuat tenaga tubuh Erland hingga tubuh pria itu tersungkur dan tak lagi menindihnya. Callista buru buru bangkit hendak menjauh.
"Aku meminum obatnya tiga kali sehari. Jadi dalam sehari kau harus berciuman denganku sebanyak tiga kali!" tertawa renyah. Callista berbalik sebelum membuka handel pintu.
"Pria gila! Aku tidak akan sudi lagi!" Erland kembali terkekeh senang. Bahkan saat Callista sudah menghilang dibalik pintu pun.
***
Ga bosen bosen untuk ngingetin kasih like, komen and vote-nya. :*
__ADS_1