Obsession Love

Obsession Love
Tigapuluhenam


__ADS_3

Hari hari cepat berganti. Angin bertiup cukup kencang dan udara yang begitu sejuk. Erland terduduk santai dikursi taman rumahsakit. Cuaca pagi benar benar cerah. Namun tak secerah dirinya. Wajahnya masih masam tanpa ekspresi. Pria itu mengenakan pakaian tebal yang membaluti tubuhnya.


Sudah genap 3 bulan Callista terkapar tak sadarkan diri. Erland masih setia menunggu Callista dirumahsakit. Ia kerap menginap dan tidur dirumahsakit. Sementara Fiona dan David kerap datang untuk membekali makanan untuk Erland. Selain itu, mereka tidak akan datang kerumahsakit karena Erland yang memintanya untuk diam dirumah.


Erland bangkit dari duduknya. Ia hendak kembali keruang inap Callista. Berlama lama berada diluar benar benar membuat tubuhnya membeku.


Erland hendak membuka handel pintu. Namun terurung saat melihat pintu itu terbuka lebih dulu. Seorang dokter dan satu suster keluar dari ruangan Callista. Erland menatap keberadaan dokter itu sejenak. Dahinya sedikit berkerut.


"Apa terjadi sesuatu? Apa yang kau lakukan diruangannya?" seru Erland dengan rasa penasaran yang menggunduk dibenaknya.


"Tidak terjadi sesuatu dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru saya punya kabar baik. Tadi suster ingin memeriksa keadaan pasien, dan ternyata pasien itu mulai menggerakkan anggota tubuhnya. Karena itu saya masuk keruangannya untuk memeriksa. Ternyata benar, pasien sudah sadarkan diri. Ia sudah terbangun dari komanya yang panjang. Ini benar benar suatu keajaiban. Pasien koma selama berbulan bulan. Saya fikir dia tidak akan bisa bertahan hidup. Tapi Tuhan berkehendak lain. Pasien itu sudah sadar. Dan sekarang kondisinya sangat membaik" dokter menepiskan senyum. Sementara Erland hanya terdiam tanpa berkutik. Ucapan dokter tadi telah membuat raga Erland serasa melemah. Ia merasa sulit untuk berucap atau mengeluarkan sepatah kata pun.


Erland tersenyum senang. Matanya berbinar tak percaya. Dan mulutnya juga membungkam.


"Terimakasih banyak. Aku akan menemuinya dulu" ujar Erland dengan senyuman yang sulit dikendalikan. Tubuhnya seakan mati rasa. Tidak tahu harus bertindak bagaimana untuk menunjukkan betapa bahagianya dia sekarang.


"Tunggu Tuan" panggil dokter ketika Erland hendak membuka handel pintu. Erland menghentikan pergerakannya dan menoleh menatap wajah sang dokter. Seolah mengerti dengan arti tatapan Erland, dokter itu kembali berucap.


"Jangan biarkan pasien merasa syok. Kondisinya akan kembali memburuk" ucap sang dokter. Erland hanya diam tak menggubrisnya. Pria itu kembali membuka handel pintu dan masuk keruangan Callista.


Erland terdiam. Ia menghentikan langkahnya menatap wajah Callista. Mata gadis itu sudah terbuka. Dan Erland bisa melihat kembali mata permatanya. Tanpa sadar, pria itu menjatuhkan satu buliran krystal disudut matanya. Namun secepat kilat Erland menepisnya.


Erland berjalan mendekat kearah bangsal Callista. Ia menepiskan senyum melihat Callista yang manatap kearahnya. Pria itu meraih kursi dan duduk disamping bangsal Callista.


"Kau?" ujar Callista dengan suaranya yang lemah. Tatapannya fokus pada wajah Erland. "Sejak kapan kau disini?" lanjut Callista. Namun Erland sama sekali tak menjawab. Pria itu hanya terdiam dengan terus mengukir senyuman.


"Aku bertanya padamu" ujar Callista lagi. Seketika Erland tersentak, lalu mengerjapkan matanya.


"Sejak kau tak sadarkan diri, aku sudah berada disini" balas Erland.


"Dimana David?" seru Callista beralih pembicaraan.


"Adikmu ada dirumah" jawab Erland. Callista hanya mengangguk kecil. Lalu tatapannya beralih menatap kesembarang arah.


"Kau koma begitu lama. Aku tak percaya sekarang kau sudah terbangun" ujar Erland tersenyum haru. Tangannya meraih tangan Callista dan menggenggamnya erat. Callista lalu menoleh kearah tangannya yang digenggam oleh Erland.


"Lepaskan tanganku" ujar Callista menarik tangannya. Namun kesulitan karena Erland menggenggamnya kuat.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskannya. Aku sudah lama menunggumu terbangun. Dan sekarang kau sudah terbangun. Jadi aku tidak mau melepaskannya" seru Erland tersenyum. Berbeda dengan Callista yang menunjukkan respon tak suka.


"Jika kau tidak mau melepaskannya, kau akan menyakiti tanganku. Apa kau akan melakukan itu?" ucap Callista. Dahinya berkerut menatap Erland.


Erland tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya. Lalu berdiri dan menundukkan kepalanya mendekat pada wajah Callista. Erland mendaratkan ciuman dikening Callista dengan sangat lembut. Saat itu juga Callista terpejam mendapatkan sentuhan dari Erland. Selama koma mungkin Erland tidak pernah menciumnya. Dan ciuman dikening tadi adalah ciuman pertama setelah koma.


Erland melepaskan ciumannya dan menempelkan dahinya pada dahi Callista. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat minim. Mungkin hanya sekitar 10cm.


"Mana mungkin aku akan menyakitimu. Melihatmu tak sadarka diri saja sudah membuatku kehilangan segalanya" ujar Erland menatap kedua manik mata Callista. Begitu pun sebaliknya, Callista membalas tatapan Erland.


"Aku benar benar sangat takut ketika dokter bilang kau dalam keadaan kritis. Aku merasa hidupku sudah berhenti saat itu juga" tambah Erland dengan tatapan sendu. "Kau tahu? Aku seakan sudah mati saat melihat kondisimu yang memprihatinkan. Callista, aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa jika harus kehilanganmu. Apa setelah kau koma kau masih tidak merasakan hal itu?" lanjut Erland. Callista terdiam tak menjawab. Gadis itu malah memalingkan wajahnya dari tatapan Erland. Seketika dahi mereka tak lagi menyatu. Dan Erland mengangkat wajahnya kembali.


"Pergilah! Aku hanya ingin bertemu dengan David" seru Callista menatap kesembarang arah.


"Aku akan bawa adikmu kemari. Tapi jawab dulu pertanyaanku!"


"Pertanyaan itu tidak penting. Aku tidak mau menjawabnya" ketus Callista.


"Begitukah? Kalau begitu lupakan pertanyaan itu. Tapi jawab pertanyaanku yang satu ini, apa yang membuatmu mengalami kecelakan? Apa yang ada difikiranmu saat itu sampai kau hilang fokus?" Callista terdiam mendengar ucapan Erland. Gadis itu memutar kembali ingatannya. Callista ingat betul pada saat kecelakaan menimpa dirinya. Saat itu Callista memang sedang memikirkan Erland.


"Aku tidak memikirkan apapun. Mobilku rem-nya blong. Karena itu aku kecelakaan" gelagapan Callista.


"Tentu saja kau bisa mempercayai-nya. Karena aku mengatakan hal yang jujur" Erland tersenyum menyeringai mendengar ucapan Callista.


"Callista, seseorang tidak akan bisa menyembunyikan perasaannya. Begitu juga dirimu" seru Erland. Callista terdiam tak lagi menjawab. Lalu tak lama Erland melenggang pergi keluar ruangan Callista.


"Aku akan membawa adikmu kemari" teriak pelan Erland sebelum dirinya hilang dibalik pintu.


_____________________________________________


Erland sudah kembali kerumahsakit bersama dengan Fiona dan David. Fiona menghampiri Callista dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Kakak ipar" teriak Fiona memeluk refleks tubuh Callista. Callista membalas pelukan gadis itu dan mengukir senyum.


"Bagaimana keadaanmu?" seru Callista melepaskan pelukannya. Lalu menatap senyum wajah Fiona yang berbinar.


"Aku baik baik saja. Justru aku ingin bertanya keadaan Kakak ipar. Apa Kakak ipar sudah benar benar pulih?" ujar Fiona.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sudah merasa baik" balas Callista tersenyum.


"Kalau begitu apa Kakak ipar bisa pulang kerumah? Aku sangat merindukan Kakak ipar" ujar Fiona menampilkan wajah memelasnya.


"Aku akan pulang kerumah jika dokter sudah mengizinkanku" ucap Callista. Fiona mengangguk mengiyakan. Lalu beralih menatap Erland dibelakangnya.


"Kak Er, apa kau bisa bertanya pada dokter? Tanyakan apa Kakak ipar boleh pulang atau tidak? Aku mohon" seru Fiona memelas. Erland mengangguk kecil. Tak lama pria itu melenggang pergi meninggalkan ruangan.


Callista menatap David yang sedari tadi hanya terdiam. Gadis itu menepiskan senyum menatap wajah adiknya.


"Kemarilah" seru Callista. David tersenyum dan melangkah mendekat pada Callista. Callista langsung menubruk keras tubuh David. Ia memeluk erat tubuh adiknya.


"Apa kau tidak merindukanku?" lirih Callista menahan genangan airmata dipelupuk matanya. David terdiam mendengar ucapan Callista barusan. Sementara Fiona sudah berkaca kaca melihat kedekatan kedua adik kakak itu.


"Aku sangat merindukanmu Kak Call. Kau koma terlalu lama. Kau membuatku sendiri. Untung saja ada Fiona dan Kakaknya yang menemaniku" ujar David mengeratkan pelukan Callista.


"Dulu Kakak juga merasakan itu. Saat kau koma, Kakak merasa hidup Kakak hanya sendiri"


Fiona menjatuhkan airmata-nya. Melihat betapa mengharukan Callista dan David, membuat Fiona sedikit iri. Sedekat apapun Fiona dan Erland. Tapi tidak pernah sedekat Callista dan David. Fiona hendak berlalu dari ruangan itu meninggalkan Callista dan David. Fiona merasa dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi.


"Tunggu Fio. Kau mau kemana?" seru Callista saat Fiona hendak berbalik.


"Aku rasa kalian perlu waktu bersama. Jadi aku akan keluar" tegar Fiona berusaha mengukir senyum.


"Cepat Kemarilah" ujar Callista. Fiona terdiam sejenak. Lalu sebelah tangan Callista terlentang. Mengisyaratkan Fiona agar memeluknya. Fiona setengah berlari mendekati Callista. Lalu memeluk erat tubuh Callista. Callista membalas pelukan itu dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain memeluk David. Posisi mereka seperti telletubies yang berpelukan.


"Kalian sama sama adikku. Aku menyayangi kalian" seru Callista tersenyum. Masih memeluk tubuh David dan Fiona.


Tak lama suara pintu terbuka. Erland masuk bersama sang dokter. Callista melapaskan pelukannya, lalu menatap kearah Erland dan dokter itu secara bergantian. Dokter itu melangkah mendekati Callista. Seketika David dan Fiona memundurkan tubuhnya. Memberi peluang untuk dokter itu.


"Izinkan saya memeriksa keadaan anda, Nona" seru dokter. Callista mengangguk mengiyakan.


Setelah melakukan pemeriksaan. Dokter itu beralih menatap Erland dibelakangnya.


"Pasien sudah dalam keadaan yang sangat baik. Jadi Tuan bisa membawanya pulang. Tapi tolong ingat pesan saya tadi. Jangan biarkan pasien merasa syok" jelas dokter. Erland mengangguk sekilas. Lalu dokter itu melenggang pergi. Dan Erland mendekati bangsal Callista.


"Bersiaplah, kita akan pulang dalam waktu 2 jam. Fio akan membantumu" ujar Erland. Lalu menatap kearah Fiona. Dengan cepat Fiona mengiyakan ucapan Erland.

__ADS_1


"Yeay!! Kakak ipar, kita akan bersama lagi dalam satu atap" girang Fiona setelah kepergian Erland yang keluar ruangan. Gadis itu kembali memeluk tubuh Callista. Callista hanya tersenyum dalam pundak Fiona.


Satu atap?. Bingung Callista mencerna ucapan Fiona.


__ADS_2