
Malam harinya. Callista hendak memasuki kamarnya. Malas dengan Erland dan El yang sedari tadi masih sibuk dengan aktivitas mereka. Gadis itu memilih mengunci dirinya dikamar. Karena Erland telah meminta izinnya agar El bisa menginap dirumahnya. Callista sebenarnya ingin protes. Namun karena pria itu memohon dengan sungguh jadilah Callista terpaksa mengiyakan permintaannya untuk mengizinkan El menginap.
# Flashback On #
"Ini sudah hampir malam. Dan aku harus pulang." ujar El menatap Erland.
"Hanya tinggal satu berkas lagi. Setelah itu aku yang akan mengantarmu pulang" balas Erland. Callista masih duduk menatap kedua orang itu.
"Aku tidak terbiasa pulang malam. Aku akan membereskannya besok." ujar El.
"Lebih cepat lebih baik bukan? Kau bisa menyelesaikan semuanya sekarang. Atau kalau perlu kau bisa menginap saja disini." tawar Erland. El sempat terdiam berfikir.
"Tuan rumahnya pasti mengizinkan mu menginap disini. Bernar, kan Callista?" Erland menatap wajah Callista. Mencari jawaban dari gadis itu. Sementara Callista nampak gelagapan. Apa mungkin gadis itu membiarkan El menginap dirumahnya? Callista sudah menerima Erland dan Fiona menginap dirumahnya. Rumahnya bukan panti jika harus mengizinkan El menginap disana.
"Callista! El boleh menginap disini, kan? Kau mengizinkannya?" Erland kembali bertanya. Kali ini menaikan alisnya tinggi menuntut jawaban.
"Terserah. Tapi aku tidak mau berbagi kamarku." jawab Callista. Melihat tatapan tajam Erland yang menuntut mengharuskan Callista menyetujuinya.
"Callista sudah mengizinkannya. Jadi kau menginap saja disini. Kau akan tidur bersamaku disofa." seru Erland tertuju pada El. Gadis itu nampak mengangguk mengiyakan.
# Flashback Of #
Callista merebahkan tubuhnya diranjang. Dengan piyama model dres yang membaluti tubuhnya. Piyama dengan panjang yang hanya sebatas lutut. Gadis itu hendak saja akan memejamkan matanya. Namun merasa kerongkongannya kering dan serak. Callista memutuskan untuk kedapur mengambil segelas minum.
Callista melangkah kearah dapur. Kakinya tergerak pelan. Kedua matanya kemudian melirik kearah samping tepat keruang tengah. Nampak Erland dan El tengah tertidur. El yang menyandarkan kepalanya pada bahu Erland. Begitu pun sebaliknya.
Callista menggerutu kesal. Matanya seolah melihat sesuatu yang tak ingin dilihatnya. Melihat Erland bersama El, Callista merasa muak. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengambil minum. Kakinya berbalik arah menuju sofa.
Callista menatap sekilas berkas yang berserakan dimana mana. Hatinya kembali kesal. Bahkan bertambah kesal. Callista menepuk berulang kali pundak Erland yang kosong. Hingga pria itu mengerjap pelan dan setengah sadar.
"Kau belum tidur?" tanya Erland. Suaranya sedikit serak. Dengan mata yang masih menyipit.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Callista beralih topik.
"Apa yang ku lakukan? Memang apa yang ku lakukan?" bingung Erland berkerut dahi. Bukannya menjawab pertanyaan Callista, ia malah berbalik bertanya.
Callista menghembuskan nafasnya malas. Memutar bola matanya asal.
"Kau tidur dengannya?" ujar Callista. Wajahnya sudah nampak kesal yang memburu. "Sekarang aku tau maksudmu. Kau sengaja membuatnya menginap agar bisa mendekatinya? Menyebalkan sekali." argumen Callista mencibir. Tangannya sudah terlipat didepan dada. Didetik yang sama El mengguliat pelan. Mengangkat wajahnya perlahan dari pundak Erland. Melihat Callista yang berdiri didepannya dengan mata yang setengah terbuka.
"Ada apa?" serak El menatap bingung.
"Tidak ada. Kau bisa lanjutkan tidurmu." balas Erland menepiskan senyum hangat.
"Kau bisa berbaring disofa dulu. Aku akan segera kembali." lanjut Erland lagi. El lalu mengangguk mengiyakan. Tak lama Erland berdiri dan meraih tangan Callista hingga terpaksa gadis itu harus membuka lipatan tangannya. Erland membawa Callista menjauh dari El. Sedangkan Callista yang masih kesal hanya menurut dengan berjalan lemas.
Erland membawa Callista kekamarnya kembali. Melepaskan tangan Callista pelan dan menutup pintu kamar. Mereka berdiri dibalik pintu. Erland menatap lurus Callista. Yang juga dibalas hal serupa oleh gadis itu.
"Mau apa kau?" ujar Erland membuka suara.
"Aku hanya ingin mengambil minum didapur. Tidak sengaja melihatmu bersamanya. Kau bukan suaminya. Jadi apa hak mu tidur bersamanya?" seru Callista. Erland memberi respon dengan menghembuskan nafas jengah.
"Lalu kenapa? Dia memang tidak mempunyai suami. Begitu pun aku yang tidak mempunyai istri. Lalu apa masalahnya jika kami tidur bersama? Lagi pula kami hanya tidur. Ti-dak mela-kukan apa-pun." Erland sengaja menekankan kata diakhir kalimatnya. Dan justru respon Callista malah semakin kesal. Menatap tajam wajah Erland.
"Kau mengambil kesempatan bukan? Aku tau kau punya niat buruk pada gadis itu. Melihat perlakuan mu padaku aku yakin kau akan melakukan hal yang sama pada gadis itu." tutur Callista. Erland sempat terdiam sementara, lalu menggelengkan kepala. Kenapa bisa Callista berpikir seperti itu tentang Erland. Karena tidak mungkin pria itu melakukan hal yang sama pada wanita lain. Sementara hanya Callista yang selalu berhasil membuat hasrat birahinya naik membara.
"Apa kau pikir aku seperti itu?" menaikan alis tinggi.
"Tentu saja. Kau tidah jauh berbeda dengan pria pada umumnya. Tidak akan cukup dengan satu wanita."
"Apa maksudmu?" menatap introgasi wajah Callista. "You jealous?" tanya Erland. Callista sempat gelagapan. Namun dengan pintarnya gadis itu berhasil menyembunyikan.
"Aku? Jealous pada wanita itu? Kau pikir saja! Aku bahkan tidak sudi." Erland tersenyum miring mendengar balasan Callista. Kepalanya sudah menggeleng geleng.
__ADS_1
"Why? I'm seriously." ujar Callista lagi. Erland berhenti tersenyum. Wajahnya seketika berubah datar. Lalu menarik kembali tangan Callista menuju ranjang. Memposisikan gadis itu agar terduduk.
"Dengar! Pertama, aku bukan tipical pria yang gampang menoleh pada wanita begitu saja. Kedua, El hanya teman lama ku. Tidak lebih dari seorang teman. Ketiga, mana mungkin aku mampu melakukan hal yang macam macam pada El? Sementara birahi ku selalu muncul hanya jika bersamamu." Callista diam mendengarkan. Bahkan ketika Erland sudah selesai dengan ucapannya pun, Callista masih terdiam tanpa suara. Hingga kemudian pergerakan Erland membuat Callista serasa mati rasa. Pria itu menyentuh erotis tengkuk Callista. Niatnya hanya mengelus pelan. Tapi mampu membuat birahi dalam diri gadis itu memuncak keluar permukaan.
Callista sempat memejamkan matanya perlahan. Tubuhnya sudah kaku dengan tangan Erland yang masih mengusap erotis tengkuknya. Erland perlahan menarik pelan wajah Callista dari arah belakang. Hingga wajah Callista sudah tepat didepan wajahnya. Erland menatap sekilas wajah Callista yang terpejam. Begitu tenang dan selalu membuat Erland senang. Wajahnya saja seperti berlian yang berharga. Apalagi bibirnya yang sudah menjadi candu yang menggebu.
Erland memiringkan sedikit wajahnya. Menyingkap pelan rambut Callista hingga tertahan dibalik telinganya. Dengan gerakan lembut Erland mencium asal tengkuk Callista. Sangat asal, karena sekarang pria itu kembali mengangkat wajahnya dari tengkuk Callista. Semakin menjauhi tengkuk Callista hingga kembali pada posisi awal.
Erland menatap Callista lagi yang masih memejamkan mata. Hatinya kemudian berdenyut abnormal. Sebuah getaran kebahagiaan seakan menyengatnya. Lalu dengan refleks sudut bibirnya tertarik keatas. Membentuk simetris indah dan menenangkan.
Erland menepuk pelan wajah Callista. Mencoba membuat gadis itu membuka matanya. Dan sedetik kemudian Callista membuka kembali matanya. Langsung menatap Erland yang tengah tersenyum lepas menatapnya. Callista bingung tak paham. Erland tersenyum seolah menonton komedi yang lucunya membuat orang sakit kulit perut.
"Kau gila? you laugh like a fool." seru Callista. Erland lalu menghentikan senyumannya. Lalu kembali mendekati wajah Callista. Hingga gadis itu sedikit memundur. Namun Erland dengan segera menahan kepala belakang Callista. Menjadikan Callista yang tak lagi menghindar. Erland menatap sekilas bibir ranum Callista. Tersenyum lalu menyentuh pelan. Mengusapnya lembut. Didetik kemudian Erland kembali memiringkan wajahnya. Mengecup lembut dan penuh perasaan bibir Callista. Tangannya mengusap pelan rambut Callista. Lalu beralih memeluk gadis itu erat. Membawa gadis itu menempel pada dada bidangnya. Membuat Callista tersedak dalam rengkuhannya.
Erland melepaskan bibirnya dari bibir Callista. Ciuman mereka terhenti dalam kurun waktu yang sangat singkat. Pertama kalinya Erland menikmati bibir menggoda Callista dengan singkat. Padahal hari hari lalu bibir Callista selalu membuatnya terbuai hingga hilang akal akan hasrat. Namun kini berbeda lain, ciuman singkat Erland pada Callista membuat Callista sendiri berkerut dahi. Dengan pertanyaan yang menggunung dibenaknya. Erland mengubah posisinya. Tangannya menjadi memegangi pundak Callista.
"Lain kali jika kau menginginkannya, kau tinggal bilang. Aku selalu siap dalam situasi apapun itu." tutur Erland serius. Callista kemudian membuang wajahnya kesamping. Apa yang dikatakan Erland membuat Callista memutar kepala.
Menginginkannya? Apa maksudnya?.
"Hei, lihat aku." Erland meraih wajah Callista agar kembali menatapnya. Pria itu melemparkan senyuman hangat yang manis. Tangannya mengusap lembut bibir Callista. Menghapus liurnya yang tertinggal disana.
"Aku akan tidur disini bersamamu." Erland menjauh dari tubuh Callista. Tubuhnya lalu terbaring diatas ranjang. Dengan posisi Callista yang masih terduduk.
"Ayo cepat tidur. Sudah hampir tengah malam. Jika kau kurang tidur, aku lagi yang akan disalahkan." seru Erland kembali. Tanpa pikir panjang Callista lalu menurut tanpa bantahan atau penolakan. Tubuhnya ikut terbaring disamping Erland.
"Kenapa memutuskan tidur disini? Apa jangan jangan kau-----"
"Sudah hentikan. Jangan berpikir hal buruk tentangku. Atau otaknya akan penuh karena terlalu banyak berpikir tentangku."
"Aku hanya ingin memelukmu dalam tidurku. Itu saja." lanjut Erland. Kemudian melayangkan tangannya menyentuh pinggang ramping Callista. Mendekapnya erat tanpa memberi celah. Kepalanya sudah terbenam ditengkuk Callista. Sementara gadis itu terdiam layaknya manekin. Tubuhnya terasa hangat ketika tangan kekar itu menyentuh tubuhnya.
__ADS_1