Obsession Love

Obsession Love
61


__ADS_3

Erland mendekati Callista. Merebut paksa tubuh gadis itu dari pankuan Darius. Hatinya berdenyut nyeri melihat mata Callista yang terpejam. Melukai Callista merupakan sebuah penyesalan dalam hidupnya. Lalu tanpa menunggu lama Erland membawa tubuh gadis itu kedalam rumah.


Fiona, David dan El saling menatap. Lalu El dengan segera menghampiri Darius yang masih terduduk dibawah. Luka lebam sudah memenuhi wajah tampannya.


“Kau harusnya mengatakan jika kakakmu itu sekejam iblis.” seru David marah. Bagaimana pun seorang adik tidak akan terima jika kakaknya terluka.


“Jangan berbicara sembarangan kau David. Kak Er seperti itu juga karena kakak ipar. Kakak ipar yang membuat kak Er marah dan murka.” Tentang Fiona tak terima. David tersenyum miring.


“Sudah jelas jelas kita melihatnya. Kakakmu yang terlalu berlebihan. Padahal kak Call hanya ingin membantunya.”


“David kau-----“


“Fio sudah hentikan. Jika kalian bertengkar karena hal ini, situasinya akan semakin panas. Dan Er pasti lebih marah.” sela El yang sudah kembali didekat mereka.


“Dia yang memulai. Dan aku tidak bisa diam saja dengan perkataannya.” kesal Fiona.


“David, kau bisa diam, kan? Jangan membuat suasana semakin panas dengan menyulut emosi Fio.” ujar El memberi pengertian.


“Aku hanya kesal. Kakaknya sudah membuat-----“


“David. Sudah. Sekarang kalian masuk saja kedalam. Atau kalian temui saja Er. Barangkali dia membutuhkan bantuan kalian. Aku akan mengantar dulu Darius pulang.” ujar El kembali. David dan Fiona lalu mengangguk dan berlalu. Sementara El sendiri kembali menghampiri Darius.


***


Erland membaringkan pelan tubuh Callista diranjang. Pergerakannya benar benar sangat pelan. Karena tidak mau membuat punggung gadis itukembali terasa nyeri.


Erland menyingkap rambut diwajah Callista. Lalu mengusapnya perlahan dengan tatapan yang lirih.


“Maaf. Maafkan aku.” lirih Erland. Suaranya sudah sangat parau.


“Aku membuat kesalahan dengan melukaimu. Dan tidak akan pernah aku maafkan diriku seumur hidupku.” racau Erland.


“Kenapa kau melakukan hal ini? Kau membuatku melukaimu dua kali.”


“Pertama kau melindungiku, lalu punggungmu terluka karena itu. Dan sekarang kau melindungi pria itu, dan membuatku melukaimu.”  Erland mengusap kasar wajahnya. Lalu tak lama sebuah ketukan pintu terdengar. Suara Fiona terdengar dibaliknya. Namun sesegera mungkin Erland mengusir keberadaan adiknya itu. Waktu berdua bersama Callista sangat dibutuhkannya saat ini. Meski kini gadis itu terpejam tak sadarkan diri. Namun Erland akan berusaha membuatnya terbangun.


Erland mengambil kotak obat. Mengambil selembar kapas yang sudah diaplikasikan alkohol. Pria itu mencoba memiringkan tubuh Callista untuk menjangkau punggungnya. Setelah posisi Callista yang miring, Erland buru buru mengolesi punggung gadis itu dengan alkohol. Matanya kembali memanas dan berair. Luka dipunggu Callista benar benar parah. Bukan hanya merah dan lebam.


Tapi membiru dan terdapat beberapa codetan memar.

__ADS_1


“Luka yang kemarin belum sembuh total. Dan aku menambahkan lagi luka ini.” Sendu Erland. Rasanya lebih sakit melihat Callista yang menderita dari pada dirinya yang terluka.


Erland sudah selesai mengobati punggung Callista. Lalu kembali merapikan kotak obat dan menyimpannya. Lalu sebuah erangan terdengar ditelinganya. Callista sudah membuka matanya perlahan. Erland lalu buru buru mendekat pada gadis itu. Mengambil duduk disampingnya.


“Kau sudah bangun?” senang Erland. Tangannya menyentuh pipi Callista lembut. Gadis itu tersenyum mengangguk mengiyakan ucapan Erland. Lalu dengan sisa tenaga Callista berusaha bangkit dari tidurnya. Erland juga membantunya untuk terduduk bersandar.


“Maafkan aku. Kau terluka untuk kedua kalinya. Kau melindunginya dan-----“ telunjuk Callista menyentuh bibir Erland. menghentikan pria itu berbicara.


“Kau tidak perlu meminta maaf. Ini bukan kesalahanmu.”


“Tapi aku yang-----“


“Jika kau terus menyalahkan dirimu, aku juga akan sangat merasa bersalah.” tutur Callista. Jari telunjuknya beralih membelai lembut pipi Erland.


“Apa terasa sangat sakit?” tanya Erland. Mengambil tangan Callista yang membelai pipinya. Beralih menjadi menggenggam tangan gadis itu.


“Tidak.” Menggeleng pelan.


“Aku tau rasanya pasti sangat sakit.”


“Sakitnya sudah hilang karena kau sudah mengobatinya.” Callista tersenyum. Dan giliran tangan Erland yang mengusap pipi gadis itu lembut.


“Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Punggungku sudah benar benar sembuh. Apalagi jika kau-----“ mengggantung.


“Apa?”


“Aku ingin kau menerima bantuan pria itu.” hendak saja Erland akan kembali bersuara. Callista sudah kembali memotongnya.


“Aku mohon. Ini demi perusahaanmu. Aku tidak meragukan kemampuan dan kepintaranmu. Hanya saja dengan bantuan dan kerjasama bersama pria itu akan lebih cepat membuat perusahaan mu berkembang.”


“Tidak masalah jika kau tidak setuju sekarang. Tapi apa kau bisa memikirkannya lagi? Aku melakukannya untukmu.” Ujar Callista. Menatap penuh harap Erland.


“Atau begini saja. Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Apapun itu. Aku akan menurutinya. Asal kau mau menerima bantuannya. Aku mohon. Akan ku turuti semuanya.” ujar Callista lagi. Erland meraih tangannya. Tidak lagi memegang pipi Callista. Tatapan pria itu datar tanpa ekpresi. Membuat harapan Callista seakan sudah patah sebelum mendengar jawaban Erland.


“Maaf. Aku tidak bisa. Aku mungkin akan menuruti semua keinginanmu. Tapi tidak yang satu ini.” tekan Erland. pria itu lalu hendak bangkit dari ranjang Callista. Namun tangan Callista yang menggenggamnya kuat membuat Erland mengurungkan pergerakannya.


“Kau tidak mau memikirkannya? Walau hanya sekali?” ujar Callista berusaha. Namun jawaban Erland tetap sama.


“Aku tetap pada jawabanku. Tidak, tidak dan tidak. Kau sudah puas? Biarkan aku pergi. Lepaskan tanganku.” Bukannya melepaskan, Callista malah justru semakin menguatkan cekalannya.

__ADS_1


“Callista.” seru Erland menatap tajam wajah gadis itu sebagai isyarat untuk melepaskan tangannya.


“Aku tidak mau melepaskannya. Sebelum kau setuju atau memikirkan lagi semuanya.” keukeuh Callista. Erland hanya mengusap wajahnya jengah.


“Kau boleh berusaha. Tapi aku tidak akan pernah menyetujuinya!” tegas Erland.


“Kau yakin?” Erland mengangguk. Tanpa disangka gadis itu lalu mendekat pada Erland. Mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Erland.


“Callista, jangan melakukan apapun!” peringat Erland. Berusaha menjauhkan gadis itu meski sulit.


“Aku tau membujukmu sulit. Tapi kau lemah dengan dua hal. Satu, kau lemah dengan airmata wanita. Karena itu kau tidak pernah suka ketika aku menangis. Tapi aku tidak akan menangis untuk membuatmu setuju. Aku akan melakukan hal yang satunya. Membangkitkan nafsu birahimu dan membuatmu hanyut.” tutur Callista. Erland terdiam sesaat mendengar ucapan gadis dihadapannya. Didetik kemudian Callista mengalungkan tangannya ditengkuk Erland. Pria itu berusaha melepas namun sedikit sulit.


“Ini bukan dirimu.” seru Erland. berusaha menarik tangan Callista yang mengalung melingkari tengkuknya.


“Ini memang bukan diriku. Dan kau tau? Aku tidak akan pernah menjadi orang lain untuk menggoda dirimu. Karena itu setujui semuanya. Setuju untuk bekerjasama dengan pria itu.” Erland geram. Melempar tangan Callista yang berada ditengkuknya. Pria menjadi mendorong tubuh Callista hingga terbaring. Menindihnya dengan menyisakan jarak yang sangat minim. Mengunci pergerakan gadis itu dengan memegang kuat kedua tangan gadis itu dikedua sisi kepalanya.


Callista terbelalak. Kenapa sekarang malah dirinya yang terjebak. Tujuannya membuat sedikit ancaman untuk Erland agar mau menyetujui keinginannya. Tapi malah dirinya yang berada dalam ancaman hasrat Erland.


“Aku sudah mengatakannya berulang kali. Tidak dan tidak. Tapi kau tetap keras kepala. Jangan salahkan aku jika aku menghukummu.” Callista bergidik ngeri. Perkataan Erland benar benar menusuk untuknya. Bulu kuduknya saja sudah sangat menegang. Rasa takutnya menjalar lebih besar dari kemarahan Erland tadi.


Erland ******* kasar bibir ranum Callista yang sudah menjadi candunya. Gerakan kasarnya yang ******* bibir Callista bukan karena terbawa hasrat atau kemarahan. Tapi untuk menghukum gadis itu karena terus meminta dirinya untuk setuju dengan keinginannya.


Erland memperdalam ciumannya. Gerakannya liar dan brutal. Lebih buas dari buasnya hewan. Tangannya sudah tak lagi memegang tangan Cuallista. Sudah beralih memegang kuat kepala Callista agar terdiam didalam permainannya. Erland menggigit cukup keras bibir bawah Callista. Yang langsung mendapat respon dari Callista yang membuka mulutnya lebar. Pria itu memasukan seluruh mulut dan lidahnya rakus. Tidak peduli lagi gadis dibawah kukungannya akan kehabisan nafas dan sesak. Terpenting adalah dia yang bisa menyalurkan seluruh hasratnya. Callista sudah membuat amarahnya meledak hingga murka. Dan pria itu akan membalas tindakan Callista dengan hasratnya yang akan tersalurkan pada gadis itu.


Erland tak membiarkan tangannya terdiam begitu saja. Ia menggerayangi seluruh area sensitive gadis itu. Hingga Callista sudah berulang kali mengerang. Menahan semua gejolak yang Erland berikan padanya. Tangan pria itu terhenti disatu titik. Yaitu disekitar perut Callista. Mengusapnya pelan dengan gerakan yang sangat erotis. Lalu memainkan jarinya di udel milik Callista. Gadis itu kembali mengerang. Dan setiap erangannya selalu berhasil membuat Erland menggila dibawah alam sadarnya.


***


NetNot!!!!!!


Hanya sampai sini ya. Maap hihi. Author ga bisa jelasin lebih detail lagi. Takut nanti ga lolos review hihi.


Untuk apa yang terjadi selanjutnya bisa kalian bayangkan sendiri ya. Tapi jangan kelewatan juga :v maksudnya ga sampe Erland sama


Callista sampe menyatu juga. Di Indonesia s*x itu setelah menikah ya. Jadi ngikutin


tradisi aja. Gaa ada yang macem macem diantara Erland sama Callista.


See you next time ya temen temen. Semoga terhibur dengan cerita yang receh ini. Kalau ada kritik dan saran boleh komen ya.

__ADS_1


__ADS_2