
Keesokan harinya. Erland terbangun saat mendengar suara ketukan pintu yang begitu keras. Semalaman kemarin pria itu menginap dirumah Callista. Ia tidur bersama David dikamar David.
Erland mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali. Cuaca pagi hari yang begitu sejuk membuatnya ingin berlama lama diatas ranjang itu. Namun suara ketukan yang keras itu telah mengganggu tidurnya yang nyenyak. Erland bangkit dari tidurnya setelah kedua matanya berhasil terbuka. Pria itu melangkah menuju pintu kamar.
"Ada apa?" ujar Erland dengan suaranya yang serak khas bangun tidur. Ia menatap kesal kearah David yang telah mengetuk pintunya keras.
"Ini sudah jam 8. Apa Kakak tidak akan bangun?" ujar David.
"Ini masih pagi. Kau pergi saja sana. Aku ingin kembali tidur" seru Erland menutup kembali pintunya.
"Kak Call sudah menunggumu dimeja makan. Ia sudah membuatkan sarapan" teriak David dibalik pintu, lalu tak lama berlalu pergi. Sementara Erland terdiam sejenak mendengar ucapan David barusan.
"Membuatkan sarapan? Untukku?" seru Erland dengan nada riang. Tak lama ia keluar kamar menyusul David.
Dimeja makan. Callista nampak mengelap piring yang akan digunakan. Lalu menatap David yang berjalan kearahnya.
"Ada apa? Mukamu masam begitu?" seru Callista menatap David.
"Kakak Fio tidak mau sarapan" balas David. Lalu meraih kursi dan duduk disana.
"Sudah Kakak bilang tak perlu memanggilnya_____"
"Selamat pagi!" teriak Erland menuju meja makan. Ia menampilkan senyum hangat kearah Callista dan David. Callista hanya melihat kedatangannya dengan mengernyitkan dahi. Dan memperhatikan rambut Erland yang begitu acak acakan.
"Aku akan sarapan bersama kalian" seru Erland kembali. Ia masih menunjukkan senyum dan duduk dihadapan David.
"Bukannya Kakak tidak mau sarapan?" seru David menatap Erland.
"Siapa bilang? Aku tidak mengatakannya!"
"Tapi tadi Kakak mengatakan jika Kakak akan tidur kembali" ujar David.
"Aku berubah pikiran" ucap Erland beralasan. Lalu menatap Callista yang baru selesai mengelap piring.
"Duduklah!" seru Erland menunjuk kursi disampingnya dengan sorotan mata. Namun dengan cepat Callista menjauh dan mengambil duduk disamping David.
"Kau membuat sarapan apa?" seru Erland yang ditujukan untuk Callista. Callista menatapnya sejenak lalu mendelikkan mata.
"Kau bisa melihatnya sendiri!" ketus Callista. Lalu mengambil sepotong sandwich berisi seafood dan menaruhnya diatas piring. Ia juga menambahkan sedikit saus tomat sebagai pelengkap. Dalam kunyahannya Callista asik menyantap sandwich tersebut. Begitu pun dengan David. Mereka nampak menikmati makanan mereka. Berbeda dengan Erland, pria itu justru terdiam menatap wajah Callista yang sedang mengunyah.
"Kakak akan memakan sandwich-nya atau tidak? Jika tidak aku akan menghabiskannya" seru David menyadari Erland yang hanya terdiam.
"Habiskan saja! Aku tidak mau!" balas Erland menatap kearah Callista. Callista balas menatapnya dan sedikit bingung. Sementara Erland menepiskan senyum kearah Callista. Tak lama pria itu bangkit dan menghampiri kursi disebelah Callista. Erland duduk disana.
__ADS_1
"Mau apa kau?!" seru Callista menatap Erland dari sudut matanya. Sementara Erland masih tersenyum menatap Callista. Ketika Callista hendak memasukkan kembali sandwich kedalam mulutnya, tiba tiba tangan besar Erland meraih tangannya dan mengarahkan sandwich itu pada mulut Erland.
"Aku tidak mau makan, kecuali tangan ini yang menyuapkan makanan kemulutku!" ujar Erland. Lalu dengan cepat melahap habis potongan sandwich ditangan Callista. Dan gadis itu tersentak dengan tingkah Erland yang tiba tiba. Lalu Callista menarik tangannya kembali dari cekalan Erland.
"Ayo suapi aku lagi!" pinta Erland. Namun Callista memalingkan wajahnya menatap kesembarang arah. Erland yang melihat tindakan Callista kembali tersenyum. Lalu meraih kembali tangan Callista dan mengarahkan tangan itu agar mengambil lagi sepotong sandwich, tak lama Erland kembali melahap sandwich itu. Pria itu tersenyum dalam kunyahannya.
"Apa yang kau lakukan? Jika kau mau makan makanlah! Jangan memintaku untuk menyuapimu! Ambil ini!" Callista beranjak dari duduknya. Lalu menaruh piring sandwich miliknya dihadapan Erland. Erland menatap piring sandwich yang diberikan Callista, hanya tersisa beberapa potong sandwich lagi disana.
"Kau mau kemana? Makananmu belum habis" seru Erland memegang piring yang disodorkan Callista.
"Aku sudah tidak mau memakannya. Kau ambil saja! Ini yang kau mau, kan?" Callista berbalik arah dan meninggalkan Erland berserta David yang masih terduduk dimeja makan. Sementara Erland menatap sejenak sandwich dipiring Callista. Lalu beralih menatap kearah David. David juga membalas tatapannya.
"Kau habiskan semua sandwich-nya!" seru Erland sarkastik. Lalu melenggang pergi menyusul langkah Callista yang menuju ruang tamu.
Sementara David masih terduduk dimeja makan dengan tatapannya yang menatap tiga piring sandwich.
"Aku yang harus menghabiskan semua ini?" polos David. Wajahnya melongo tak percaya.
_____________________________________________
Sementara diruang tamu. Callista menjatuhkan tubuhnya keras pada sofa. Lalu menyenderkan kepalanya santai. Tiba tiba Erland datang menghampirinya. Pria itu ikut duduk disamping Callista.
"Ada apa lagi?" seru Callista bernada kesal. Lalu menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu sudah benar benar muak dengan tingkah Erland dari kemarin. Erland selalu saja membuat hidup Callista serasa dalam penjara. Kemana pun Callista pergi Erland pasti mengikuti langkahnya. Dan yang lebih parah lagi adalah ketika pria itu mengganggu kegiatan Callista dan pergerakan Callista.
"Benarkah hanya itu? Atau kau sengaja mengikutiku?" ujar Callista memicingkan matanya menatap Erland.
"Iya! Memang aku mengikutimu!" jujur Erland menepiskan senyum kecil. "Aku tidak bisa jauh darimu. Karena itu aku mengikutimu kemana pun kau pergi!" seru Erland lagi.
"Jika aku mati apa kau juga akan ikut?" kesal Callista. Ia menegakkan tubuhnya menatap Erland.
"Tentu saja! Jiwa dan hatiku bersamamu. Jika kau mati maka aku juga akan ikut mati" Erland tersenyum dalam. Dan ikut menegakkan tubuhnya membalas tatapan Callista. Sekarang posisi mereka saling berhadapan.
"Jika kau pergi, hidupku akan tamat. Sebelum aku mengenalmu mungkin aku bisa hidup tanpamu. Namun setelah adanya dirimu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa dirimu" ujar Erland lagi. Ia meraih dagu Callista dan menatap dalam mata gadis itu. "Callista, aku sangat mencintaimu! Mana mungkin aku mampu hidup tanpamu. Mungkin cintaku terlalu egois. Aku terlalu memaksakan diriku padamu. Aku telah memisahkanmu dari pria yang kau cintai. Tapi yang ku lakukan hanya untuk mendapatkanmu. Aku ingin kau hanya menjadi milikku. Aku begitu terobsesi padamu!" lanjut Erland. Callista membisu mendengar setiap kata yang diutarakan Erland. Hatinya sedikit tersentuh untuk pria itu. Callista tahu bagaimana rasanya ketika sangat mencintai seseorang. Mungkin yang dirasakan Erland juga seperti itu. Hanya saja cara Erland dalam menunjukkan cintanya sangat salah. Callista tidak bisa melupakan semua tindakan Erland terhadap dirinya. Ia ingat betul bagaimana hancurnya dia ketika Erland telah menipunya dengan cara menjadikan Callista sekretaris-nya. Ditambah Erland yang juga memisahkannya dari pria yang begitu Callista cintai. Hubungan Callista baik baik saja ketika Erland belum muncul dan menghancurkan semuanya. Hubungan mereka sudah terjalin bertahun tahun lamanya. Namun kini harus terpisah karena Erland yang telah membawa pergi Alvis yang ntah kemana. Dan hal itu pun jelas membuat kebencian Callista terhadap Erland semakin bertambah.
"Ada apa? Kenapa kau diam?" seru Erland kembali. Menatap Callista yang terpaku.
"Tidak. Aku tidak apa apa!" balas Callista gelagapan. Lalu menepis kasar tangan Erland yang memegang dagunya. Callista hendak beranjak dari duduknya. Namun tangan Erland lagi lagi menarik tangannya dengan keras. Dan tubuh Callista kembali terjatuh diatas sofa.
"Kau tidak bisa pergi sebelum menjawab pertanyaanku!" tekan Erland. Callista mengernyitkan dahinya heran.
"Pertanyaan apa?" seru Callista.
"Apa kau bisa meninggalkan pria yang kau cintai itu?"
__ADS_1
"Apa maksudmu_____"
"Callista! Aku bisa memberikan semuanya padamu. Aku hanya ingin kau melupakan pria itu dan menerima diriku. Aku berjanji aku bisa membuatmu mencintaiku!" ucap Erland cepat. Matanya kembali menatap dalam mata Callista. Namun Callista mengalihkan pandangannya tidak mau menatap Erland.
"Callista jawablah! Jawabanmu sangat penting bagiku" seru Erland lagi. Namun Callista tetap membisu dan menatap kesembarang arah. Erland yang sudah merasa kesal dengan Callista akhirnya meraih wajah gadis itu agar menatapnya.
"Aku bertanya padamu!" tegas Erland. Tangannya memegang kuat wajah Callista. Hingga gadis itu terpaku kesatu arah menatap Erland.
"Callista!" panggil Erland saat Callista masih diam membisu. Tak lama Erland menarik wajah Callista agar mendekat padanya. Mereka bertatapan dalam jarak yang kurang lebih hanya 20cm.
"Callista, jawablah pertanyaanku!" pinta Erland kembali.
"Aku tidak bisa!" lirih Callista menatap kearah bawah.
"Kau tidak bisa meninggalkan pria itu?!" seru Erland.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu" balas Callista.
"Kenapa? Pertanyaanku tidak sulit bukan?" ujar Erland.
"Tapi itu bukan pertanyaan. Itu pemaksaan. Kau hanya ingin aku menjawab bahwa aku akan meninggalkan kekasihku dan menerimamu. Hanya itu yang ingin kau dengar! Selain jawaban itu kau hanya akan marah dan kembali menyiksa diriku" ucap Callista mengatakan yang sebenarnya.
"Callista_____" ucap Erland terhenti. Karena David menghampirinya dan berdiri menatap Erland dan Callista secara bergantian.
"Ada apa? Kenapa kau mengganggu? Apa kau bisa pergi?" seru Erland menatap tajam David.
"Aku hanya ingin bilang kalau sandwich kalian masih utuh. Aku sama sekali tidak memakannya. Aku sudah sangat kenyang memakan sandwich-ku" ujar David. Lalu Erland menatapnya sangat kesal.
"Hanya itu yang ingin kau katakan?!" seru Erland bernada kesal. Ia mengeraskan rahangnya kuat.
"Memang aku akan mengatakan apa selain ini? Aku hanya memberi tahu kalian. Jadi lebih baik kalian makan lagi sandwich kalian" ujar David.
"Apa yang kau katakan sama sekali tidak penting!" tekan Erland.
"Apa yang ku katakan ini sangatlah penting. Jika aku tak memberi tahu kalian, mungkin kalian akan berfikir aku begitu rakus sampai menghabiskan tiga sandwich sekaligus" balas David.
"Aku tidak peduli meski kau menghabiskan lima sandwich sekali pun. Sekarang pergilah! Kau mengganggu waktu kami!" seru Erland.
"Kau salah besar Kakak. Mana mungkin aku menghabiskan lima sandwich? Satu sandwich saja sudah membuatku sangat kenyang" ujar David mengelus perutnya yang datar. Callista yang mendengar perdebatan antara David dan Erland merasa jengah. Pikirannya sudah penat, ditambah lagi dengan perdebatan antara kedua pria itu. Callista merasa hidupnya semakin tak tenang saat Erland ada didekatnya. Gadis itu memutuskan melenggang pergi dan meninggalkan kedua pria yang masih beradu mulut.
"Lihatlah! Karena dirimu dia jadi pergi!" ujar Erland menatap kepergian Callista.
"Kenapa menyalahkanku? Kak Call pergi mungkin karena bosan berdekatan dengan Kakak" balas David sekenanya. Lalu Erland yang semakin kesal dengan jawaban David beranjak berdiri dan siap menerkam tubuh David. Namun David sudah berlari kencang meninggalkannya.
__ADS_1
"Argghh!" teriak Erland kesal. Ia mengacak kasar rambutnya.