Obsession Love

Obsession Love
75


__ADS_3

”Bagaimana? Apa kau suka? Jika tidak kau bisa memilih yang


lain.” ujar Erland dalam duduknya. Tatapannya melihat Callista yang baru saja


keluar dari ruangan ganti. Dengan balutan gaun pengantin yang sedang Callista


coba. Ya, sekarang mereka sudah berada di desainer ternama itu.


“Aku merasa tidak nyaman Er. Ini terlalu ketat. Aku jadi


sulit bergerak.” Callista nampak membenahkan gaun itu dengan terus menarik


nariknya. Lalu Erland berdiri dan mendekatinya.


“Kalau begitu jangan gunakan gaun ini. Aku tidak mau dihari


pernikahan kita kau merasa tidak nyaman hanya karena gaunnya.” pungkas Erland.


Lalu beralih menatap wanita yang sedari tadi melayani Callista dan membantunya


mencoba gaun.


“Kau punya gaun yang lain? Gaun yang lebih longgar dari ini.


Tapi aku ingin kualitasnya juga sangat bagus. Aku tidak masalah dengan harga. Aku


akan membayarnya berapa pun.” kata Erland.


“Ada tuan. Akan saya ambilkan.” Membungkuk, lalu melenggang


pergi.


“Tapi sebenarnya kau sangat cocok menggunakan gaun itu. Tubuh


mu terlihat sangat molek dan membentuk. It’s so sexy Callista.” Erland tersenyum


seringai menggoda Callista. Hingga Callista melotot tajam mendengar godaannya.


“Jangan katakan apapun tentang tubuh ku Er. Atau aku akan


memutuskan untuk memakai gaun ini dan membiarkan para tamu pernikahan kita


untuk melihatnya.” ancam Callista. Diluar prediksi Erland justru malah


tersenyum lebar.


“Lakukan saja. Pakai gaun yang ketat ini. Tapi aku tidak


akan membantu mu jika semua tamu wanita melabrakmu karena membuat para


lelakinya menatap mu.” seru Erland.


“ER!” kesal Callista menggertak. Sementara Erland semakin


tertawa mejadi jadi.


“Maaf tuan, nona. Ini gaunnya. Jika kalian suka maka akan


saya bantu untuk mrncobanya.” pegawai wanita itu kembali datang dengan gaun


yang berwarna sama seperti sebelumnya. Warna putih.


“Baiklah akan aku coba.” Callista tersenyu manis. Lalu meraih


gaun itu dari tangan pegawai wanita tadi. Callista kembali masuk kedalam


ruangan ganti. Namun sempat mendelik kesal kearah Erland yang masih mengukir senyum


padanya.


Setelah beberapa menit Erland menunggu Callista yang


kesekian kalinya, Callista kembali muncul dengan mengenakan gaun yang berbeda. Desain


dan potongan yang sangat berbeda dengan gaun yang sebelumnya. Gaun yang kali


ini lebih mengembang. Hingga Callista merasa tubuhnya aman. Tidak terlihat


ketat seperti gaun sebelumnya.


Erland menatap tanpa kedip kearah Callista. Fokus dengan


Callista yang sungguh memukau dihadapannya. Callista sudah memiliki wajah yang


begitu cantiknya. Dan sekarang ditambah dengan gaun yang begitu melekat


sempurna dan pas ditubuh Callista.


“Er, jangan hanya diam saja. Berikan pendapatmu. Menurutmu lebih


cocok yang mana? Kalau aku sendiri aku lebih suka gaun ini.” ungkap Callista. Tangannya


sedikit megibaskan gaun itu agar Erland bisa melihatnya secara keseluruhan. Hingga


tak lama Erland kembali bangkit dari duduknya.


“Kau bisa tinggalkan kami sebentar?” tanya Erland pada


pegawai wanita. Yang langsung dibalas anggukan dan tak lama pegawai wanita itu


meninggalkannya.


“Er, kenapa kau memintanya pergi? Aku memintamu memberikan


pendapatmu , bukan menyuruhnya pergi.” heran Callista. Dan lagi lagi Erland


tersenyum tanpa arti. Kini langkah pria itu semakin mendekati Callista.


“Kau ingin pendapatku, kan? Maka ini pendapat ku.” Erland

__ADS_1


mencium sebelah pipi Callista singkat. Lalu kembali menjauhkan diri dari


Callista. Senyumnya masih terukir.


“Apa apaan ini Er? Ini bukan pendapat. Kau mencium pipiku


ditempat umum seperti ini?” protes Callista menatap tak percaya sekaligus kesal


yang sudah diubun ubun.


“Justru karena itu. Aku tidak bisa mengungkapkan pendapat ku


padamu. Kau terlihat sangat cantik dan menawan dengan gaun ini. Kata kata ku


habis untuk mengungkapkannya. Jadi aku berikan mu hadiah untuk gaun cantik yang


kau gunakan ini.” jelas Erland panjang lebar. Callista seketika membisu. Kenapa


rasanya Callista seakan berbuat salah dengan mencurigai tindakan Erland.


“Kenapa? Kau masih tak percaya? Kalau begitu akan ku


buktikan dengan hal lain.” Kata Erland lagi. Lalu berusaha mendekati Callista


lagi dengan membuat gadis itu sedikit demi sedikit memundurkan diri.


“Tidak Er, aku pecaya. Kau tidak perlu melakukan apa pun.” cegah


Callista sebelum Erland melakukan tindakan diluar pemikirannya. Seketika Erland


kembali tertawa terpingkal. Tangannya sudah memegangi perutnya.


“Aku hanya ingin memberikan hadiah. Kenapa kau takut?


Callista, aku sudah berjanji tidak akan menyentuh mu dulu sampai hari


pernikahan kita. Dan akan ku tepati janji itu. Jadi jangan berpikir macam macam


dengan mengira aku akan menciummu ditempat umum seperti ini?” ucap Erland disertai


tawanya. Sementara Callista sudah menatap kesal dan mendengus.


“Satu hal yang harus kau tau. Aku tidak berpikir kau akan


mencium ku. Aku juga tidak akan memimpikan hal itu.” Callista tersenyum tipis


menutupi rasa malunya.


“Oh ya? Benarkah? Kalau begitu aku akan membuat mimpimu


terwujud. Akan ku cium kau disini sekarang ju-ga!” Erland mengeja kalimat


terakhirnya. Disepersekian detik Callista tiba tiba tak berkutik. Rasa merinding


sudah menjalar dipori pori kulitnya. Namun seperti yang Erland bilang sebelumnya.


Pria itu tidak akan meenyenuth Callista sampai hari H pernikahannya. Hingga Erland


gadis itu menghirup udaranya.


“Kau ganti lagi pekaian mu. Aku akan menunggu dikasir untuk


melunasi gaunnya. Setelah ini kita akan pergi ke tempat lain.” titah Erland.


Callista mengangguk kecil. Lalu masuk ke ruang ganti setelah pegawai wanita itu


kembali datang untuk membantunya melepaskan gaun.


***


“Terimakasih tuan. Pembayarannya sudah berhasil. Tim kami


akan datang tepat waktu dihari pernikahan anda besok.” ucap ramah si kasir itu.


Erland hanya membalasnya dengan senyuman singkat. Tak hanya gaun Callista yang


Erland beli. Tapi berbagi gaun lainnya untuk Fiona dan El. Dan beberapa jas


untuk dirinya dan David.


“Er, ayo!” Callista baru saja datang dengan berjalan cepat


kearah Erland. Erland dengan sigap menggandeng pergelangan Callista dan melangkah


keluar dari gedung itu. Mereka memasuki mobil lalu melaju pergi.


“Kau mau mengajakku kemana lagi sekarang?” tanya Callista


disela perjalanan mereka.


“Ketempat yang selalu kau datangi bersama keluargamu dan


David dulu. Aku tau kau sudah lama tidak pergi ketempat itu. Jadi sekarang aku


berniat membawa mu kesana untuk sekedar melepaskan rindumu. Karena setelah hari


esok pernikahan kita, aku kan membawa mu pergi dari kota asalmu. Sementara itu


aku ingin kau mengingat semua masalalumu ditempat itu. Atau kau tidak akan punya


waktu lagi untuk mengingatnya. Seperti janjiku, aku tidak akan melepaskan mu


setelah kita menikah.” jawab Erland melihat Callista sekilas.


“Kau tau tempat itu Er?” bingung Callita.


“Tidak hanya tempat itu. Aku bahkan tau segala hal yang


menyangkut tentang mu.” Erland tersenyum mentapa wajah Callista yang penuh

__ADS_1


tanda tanya.


“Aku akan memberitau mu kenapa aku bisa tau. Sementara sekarang


nikmati saja perjalanannya.” kata Erland mendahului Callista yang hendak


berbicara lagi. Seakan bisa membaca apa yang dipikirkan gadis itu saat ini.


Mereka sampai ditempat yang menjadi tujuan Erland setelah


beberapa menit berlalu. Namun Erland sengaja memarkirkan mobilnya jauh dari


tempat lokasi. Tujuannya memberikan Callista kejutan sebelum pernikahan. Erland


sendiri yang akan membawa Callista ke tempat itu dengan menuntunnya. Itu pun


dengan mata yang tertutup kain.


Erland mengeluarkan sapu tangan hitamnya. Lalu meminta


Callista agar memunggunginya. Erland mengikat sapu tangan itu dikepala Callista


sebagai penutup mata.


“Aku akan membukanya saat kita sampai ditempat lokasi.” tutur


Erland. Callista hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


Erland memegang bahu Callista. Mengarahkan gadis itu agar


berjalan sesuai intruksinya. Hingga cukup jauh mereka berjalan, mereka sampai


ditempat tujuan. Yaitu taman kanak kanak yang sudah berbeda jauh keadaanya


seperti saat dulu Callista mengunjunginya bersama David dan kedua orangtuanya.


Dulu Callista memang sangat suka dengan tempat satu ini. Mungkin


untuk yang lain memang tidak ada istimewanya sama sekali. Tapi berbeda untuk


Callista sendiri. Ada banyak kenangan manis dan mengharukan ditaman kanak kanak


ini. Dunianya dulu selalu tersenyum bahagia dan penuh warna. Hingga kemudian


takdir memanggil kedua orangtuanya secara bersamaan. Kehangatan keluarga mereka


tiba tiba hilang. Tawa yang Callista rindukan seakan lenyap begitu saja. Hingga


warna dihidupnya perlahan memudar. Kenangan manis dan hidupnya yang penuh canda


tawa, Callista merindukan saat saat seperti itu.


Gadis itu menatap kosong pada sekeliling tempat


dihadapannya. Kondisinya sudah sangat jauh berbeda. Sekarang tempat favoritnya


dulu telah usang dan berdebu. Ada banyak sampah berserakan dimana mana. Bahkan area


taman yang sudah tidak stabil. Ditambah perlengkapan bermain yang juga sudah


ruksak tak layak pakai. Callista berkaca kaca. Hingga buliran bening tanpa


sadar melewati pelupuk matanya. Bukan untuk keadaan taman itu Callista menangis.


Melainkan mengingat moment moment manisnya bersama keluarganya dulu.


“Er,” panggil Callista tercekat. Ia berbalik dan mendapati


Erland berdiri tepat dibelakangnya. Gadis itu seketika memeluk Erland cepat. Menumpahkan


segala tangisnya didada pria itu. Dengan sigap Erland mengusap lembut punggung


Callista.


“Tidak Callista, jangan buang airmata mu. Tujuan ku membawa


mu ketempat ini bukan untuk membuatmu menangis. Tapi aku ingin kau mengingat


masalalu mu dengan keluarga mu. Tidak sadarkah kau sekarang kau sudah dewasa? Rasanya


baru kemarin kau bermain disini bukan? Kau berlari bersama David dan tertawa


bersama keluarga mu. Hingga kemudian waktu berlalu sangat cepat dan menjadikan


mu gadis dewasa. Tak terasa sekarang kau akan menikah dan menempuh kehidupan


baru. Aku ingin kau megingat masalalu mu dan kenangan manis mu dulu. Setelah menikah


kau pasti akan lupa dengan semuanya. Sementara aku tidak mengiginkan hal itu. Aku


tidak bisa menemui kedua orangtua mu untuk meminta restunya, tapi setidaknya


aku bisa membuat mu untuk selalu mengingat kedua orangtua mu.” papar Erland.


Callista semakin menderaskan airmatanya. Setiap kalimat yang diucapkan Erland


terasa nyata dan menyakitkan. Hingga Callista sendiri berpikir ingin kembali


kemasa kecilnya dulu ketika kedua orangtuanya masih ada.


“Terimakasih Er. Terimakasih banyak! Kau melakukan sesuatu


yang sangat berharga untuk ku. Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal ini. Tapi


kau justru memikirkannya. Kau yang terbaik Er. Kau segalanya. Aku mencintaimu. Don’t


ever leave me, please.” Callista semakin tumpah lagi dalam tangisnya. Sementara


Erland terus menguatkan Callista dengan memberikan belaian lembut. Hingga perkataan

__ADS_1


Callista barusan pun berhasil membuat Erland tersenyum.


“And you know I never leave you.” Erland.


__ADS_2