
”Bagaimana? Apa kau suka? Jika tidak kau bisa memilih yang
lain.” ujar Erland dalam duduknya. Tatapannya melihat Callista yang baru saja
keluar dari ruangan ganti. Dengan balutan gaun pengantin yang sedang Callista
coba. Ya, sekarang mereka sudah berada di desainer ternama itu.
“Aku merasa tidak nyaman Er. Ini terlalu ketat. Aku jadi
sulit bergerak.” Callista nampak membenahkan gaun itu dengan terus menarik
nariknya. Lalu Erland berdiri dan mendekatinya.
“Kalau begitu jangan gunakan gaun ini. Aku tidak mau dihari
pernikahan kita kau merasa tidak nyaman hanya karena gaunnya.” pungkas Erland.
Lalu beralih menatap wanita yang sedari tadi melayani Callista dan membantunya
mencoba gaun.
“Kau punya gaun yang lain? Gaun yang lebih longgar dari ini.
Tapi aku ingin kualitasnya juga sangat bagus. Aku tidak masalah dengan harga. Aku
akan membayarnya berapa pun.” kata Erland.
“Ada tuan. Akan saya ambilkan.” Membungkuk, lalu melenggang
pergi.
“Tapi sebenarnya kau sangat cocok menggunakan gaun itu. Tubuh
mu terlihat sangat molek dan membentuk. It’s so sexy Callista.” Erland tersenyum
seringai menggoda Callista. Hingga Callista melotot tajam mendengar godaannya.
“Jangan katakan apapun tentang tubuh ku Er. Atau aku akan
memutuskan untuk memakai gaun ini dan membiarkan para tamu pernikahan kita
untuk melihatnya.” ancam Callista. Diluar prediksi Erland justru malah
tersenyum lebar.
“Lakukan saja. Pakai gaun yang ketat ini. Tapi aku tidak
akan membantu mu jika semua tamu wanita melabrakmu karena membuat para
lelakinya menatap mu.” seru Erland.
“ER!” kesal Callista menggertak. Sementara Erland semakin
tertawa mejadi jadi.
“Maaf tuan, nona. Ini gaunnya. Jika kalian suka maka akan
saya bantu untuk mrncobanya.” pegawai wanita itu kembali datang dengan gaun
yang berwarna sama seperti sebelumnya. Warna putih.
“Baiklah akan aku coba.” Callista tersenyu manis. Lalu meraih
gaun itu dari tangan pegawai wanita tadi. Callista kembali masuk kedalam
ruangan ganti. Namun sempat mendelik kesal kearah Erland yang masih mengukir senyum
padanya.
Setelah beberapa menit Erland menunggu Callista yang
kesekian kalinya, Callista kembali muncul dengan mengenakan gaun yang berbeda. Desain
dan potongan yang sangat berbeda dengan gaun yang sebelumnya. Gaun yang kali
ini lebih mengembang. Hingga Callista merasa tubuhnya aman. Tidak terlihat
ketat seperti gaun sebelumnya.
Erland menatap tanpa kedip kearah Callista. Fokus dengan
Callista yang sungguh memukau dihadapannya. Callista sudah memiliki wajah yang
begitu cantiknya. Dan sekarang ditambah dengan gaun yang begitu melekat
sempurna dan pas ditubuh Callista.
“Er, jangan hanya diam saja. Berikan pendapatmu. Menurutmu lebih
cocok yang mana? Kalau aku sendiri aku lebih suka gaun ini.” ungkap Callista. Tangannya
sedikit megibaskan gaun itu agar Erland bisa melihatnya secara keseluruhan. Hingga
tak lama Erland kembali bangkit dari duduknya.
“Kau bisa tinggalkan kami sebentar?” tanya Erland pada
pegawai wanita. Yang langsung dibalas anggukan dan tak lama pegawai wanita itu
meninggalkannya.
“Er, kenapa kau memintanya pergi? Aku memintamu memberikan
pendapatmu , bukan menyuruhnya pergi.” heran Callista. Dan lagi lagi Erland
tersenyum tanpa arti. Kini langkah pria itu semakin mendekati Callista.
“Kau ingin pendapatku, kan? Maka ini pendapat ku.” Erland
__ADS_1
mencium sebelah pipi Callista singkat. Lalu kembali menjauhkan diri dari
Callista. Senyumnya masih terukir.
“Apa apaan ini Er? Ini bukan pendapat. Kau mencium pipiku
ditempat umum seperti ini?” protes Callista menatap tak percaya sekaligus kesal
yang sudah diubun ubun.
“Justru karena itu. Aku tidak bisa mengungkapkan pendapat ku
padamu. Kau terlihat sangat cantik dan menawan dengan gaun ini. Kata kata ku
habis untuk mengungkapkannya. Jadi aku berikan mu hadiah untuk gaun cantik yang
kau gunakan ini.” jelas Erland panjang lebar. Callista seketika membisu. Kenapa
rasanya Callista seakan berbuat salah dengan mencurigai tindakan Erland.
“Kenapa? Kau masih tak percaya? Kalau begitu akan ku
buktikan dengan hal lain.” Kata Erland lagi. Lalu berusaha mendekati Callista
lagi dengan membuat gadis itu sedikit demi sedikit memundurkan diri.
“Tidak Er, aku pecaya. Kau tidak perlu melakukan apa pun.” cegah
Callista sebelum Erland melakukan tindakan diluar pemikirannya. Seketika Erland
kembali tertawa terpingkal. Tangannya sudah memegangi perutnya.
“Aku hanya ingin memberikan hadiah. Kenapa kau takut?
Callista, aku sudah berjanji tidak akan menyentuh mu dulu sampai hari
pernikahan kita. Dan akan ku tepati janji itu. Jadi jangan berpikir macam macam
dengan mengira aku akan menciummu ditempat umum seperti ini?” ucap Erland disertai
tawanya. Sementara Callista sudah menatap kesal dan mendengus.
“Satu hal yang harus kau tau. Aku tidak berpikir kau akan
mencium ku. Aku juga tidak akan memimpikan hal itu.” Callista tersenyum tipis
menutupi rasa malunya.
“Oh ya? Benarkah? Kalau begitu aku akan membuat mimpimu
terwujud. Akan ku cium kau disini sekarang ju-ga!” Erland mengeja kalimat
terakhirnya. Disepersekian detik Callista tiba tiba tak berkutik. Rasa merinding
sudah menjalar dipori pori kulitnya. Namun seperti yang Erland bilang sebelumnya.
Pria itu tidak akan meenyenuth Callista sampai hari H pernikahannya. Hingga Erland
gadis itu menghirup udaranya.
“Kau ganti lagi pekaian mu. Aku akan menunggu dikasir untuk
melunasi gaunnya. Setelah ini kita akan pergi ke tempat lain.” titah Erland.
Callista mengangguk kecil. Lalu masuk ke ruang ganti setelah pegawai wanita itu
kembali datang untuk membantunya melepaskan gaun.
***
“Terimakasih tuan. Pembayarannya sudah berhasil. Tim kami
akan datang tepat waktu dihari pernikahan anda besok.” ucap ramah si kasir itu.
Erland hanya membalasnya dengan senyuman singkat. Tak hanya gaun Callista yang
Erland beli. Tapi berbagi gaun lainnya untuk Fiona dan El. Dan beberapa jas
untuk dirinya dan David.
“Er, ayo!” Callista baru saja datang dengan berjalan cepat
kearah Erland. Erland dengan sigap menggandeng pergelangan Callista dan melangkah
keluar dari gedung itu. Mereka memasuki mobil lalu melaju pergi.
“Kau mau mengajakku kemana lagi sekarang?” tanya Callista
disela perjalanan mereka.
“Ketempat yang selalu kau datangi bersama keluargamu dan
David dulu. Aku tau kau sudah lama tidak pergi ketempat itu. Jadi sekarang aku
berniat membawa mu kesana untuk sekedar melepaskan rindumu. Karena setelah hari
esok pernikahan kita, aku kan membawa mu pergi dari kota asalmu. Sementara itu
aku ingin kau mengingat semua masalalumu ditempat itu. Atau kau tidak akan punya
waktu lagi untuk mengingatnya. Seperti janjiku, aku tidak akan melepaskan mu
setelah kita menikah.” jawab Erland melihat Callista sekilas.
“Kau tau tempat itu Er?” bingung Callita.
“Tidak hanya tempat itu. Aku bahkan tau segala hal yang
menyangkut tentang mu.” Erland tersenyum mentapa wajah Callista yang penuh
__ADS_1
tanda tanya.
“Aku akan memberitau mu kenapa aku bisa tau. Sementara sekarang
nikmati saja perjalanannya.” kata Erland mendahului Callista yang hendak
berbicara lagi. Seakan bisa membaca apa yang dipikirkan gadis itu saat ini.
Mereka sampai ditempat yang menjadi tujuan Erland setelah
beberapa menit berlalu. Namun Erland sengaja memarkirkan mobilnya jauh dari
tempat lokasi. Tujuannya memberikan Callista kejutan sebelum pernikahan. Erland
sendiri yang akan membawa Callista ke tempat itu dengan menuntunnya. Itu pun
dengan mata yang tertutup kain.
Erland mengeluarkan sapu tangan hitamnya. Lalu meminta
Callista agar memunggunginya. Erland mengikat sapu tangan itu dikepala Callista
sebagai penutup mata.
“Aku akan membukanya saat kita sampai ditempat lokasi.” tutur
Erland. Callista hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
Erland memegang bahu Callista. Mengarahkan gadis itu agar
berjalan sesuai intruksinya. Hingga cukup jauh mereka berjalan, mereka sampai
ditempat tujuan. Yaitu taman kanak kanak yang sudah berbeda jauh keadaanya
seperti saat dulu Callista mengunjunginya bersama David dan kedua orangtuanya.
Dulu Callista memang sangat suka dengan tempat satu ini. Mungkin
untuk yang lain memang tidak ada istimewanya sama sekali. Tapi berbeda untuk
Callista sendiri. Ada banyak kenangan manis dan mengharukan ditaman kanak kanak
ini. Dunianya dulu selalu tersenyum bahagia dan penuh warna. Hingga kemudian
takdir memanggil kedua orangtuanya secara bersamaan. Kehangatan keluarga mereka
tiba tiba hilang. Tawa yang Callista rindukan seakan lenyap begitu saja. Hingga
warna dihidupnya perlahan memudar. Kenangan manis dan hidupnya yang penuh canda
tawa, Callista merindukan saat saat seperti itu.
Gadis itu menatap kosong pada sekeliling tempat
dihadapannya. Kondisinya sudah sangat jauh berbeda. Sekarang tempat favoritnya
dulu telah usang dan berdebu. Ada banyak sampah berserakan dimana mana. Bahkan area
taman yang sudah tidak stabil. Ditambah perlengkapan bermain yang juga sudah
ruksak tak layak pakai. Callista berkaca kaca. Hingga buliran bening tanpa
sadar melewati pelupuk matanya. Bukan untuk keadaan taman itu Callista menangis.
Melainkan mengingat moment moment manisnya bersama keluarganya dulu.
“Er,” panggil Callista tercekat. Ia berbalik dan mendapati
Erland berdiri tepat dibelakangnya. Gadis itu seketika memeluk Erland cepat. Menumpahkan
segala tangisnya didada pria itu. Dengan sigap Erland mengusap lembut punggung
Callista.
“Tidak Callista, jangan buang airmata mu. Tujuan ku membawa
mu ketempat ini bukan untuk membuatmu menangis. Tapi aku ingin kau mengingat
masalalu mu dengan keluarga mu. Tidak sadarkah kau sekarang kau sudah dewasa? Rasanya
baru kemarin kau bermain disini bukan? Kau berlari bersama David dan tertawa
bersama keluarga mu. Hingga kemudian waktu berlalu sangat cepat dan menjadikan
mu gadis dewasa. Tak terasa sekarang kau akan menikah dan menempuh kehidupan
baru. Aku ingin kau megingat masalalu mu dan kenangan manis mu dulu. Setelah menikah
kau pasti akan lupa dengan semuanya. Sementara aku tidak mengiginkan hal itu. Aku
tidak bisa menemui kedua orangtua mu untuk meminta restunya, tapi setidaknya
aku bisa membuat mu untuk selalu mengingat kedua orangtua mu.” papar Erland.
Callista semakin menderaskan airmatanya. Setiap kalimat yang diucapkan Erland
terasa nyata dan menyakitkan. Hingga Callista sendiri berpikir ingin kembali
kemasa kecilnya dulu ketika kedua orangtuanya masih ada.
“Terimakasih Er. Terimakasih banyak! Kau melakukan sesuatu
yang sangat berharga untuk ku. Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal ini. Tapi
kau justru memikirkannya. Kau yang terbaik Er. Kau segalanya. Aku mencintaimu. Don’t
ever leave me, please.” Callista semakin tumpah lagi dalam tangisnya. Sementara
Erland terus menguatkan Callista dengan memberikan belaian lembut. Hingga perkataan
__ADS_1
Callista barusan pun berhasil membuat Erland tersenyum.
“And you know I never leave you.” Erland.