Obsession Love

Obsession Love
63


__ADS_3

“Bangunlah! Apa kau akan tidur sepanjang hari? Darius sudah


menunggumu diruang tamu.” seru Callista. Tangannya menggoyahkan tubuh kekar


Erland. Hingga sesekali Erland menggeliat pelan dalam tidurnya.


“Ini masih sangat pagi. Aku akan bangun satu jam lagi.”


racau Erland melirik sekilas jam disamping ranjang. Callista semakin kesal.


Geram dengan perkataan Erland.


Masih pagi katanya?


Huh. Menghembuskan nafas berat. Tangannya kembali menggoyahkan tubuh pria


itu. Gerakannya kini lebih keras sampai Erland bersusah payah membuka matanya


yang masih sangat rapat.


“Cepat mandi dan bersiaplah! Darius sudah menunggumu.”


“Aku malas bertemu dengannya.” balas Erland.


“Apa kau lupa dengan apa yang kau katakan kemarin? Kau sudah


menyetujuinya. Jadi sekarang pergi dan mulailah segalanya.” kata Callista.


“Aku akan menemuinya. Tapi sebelum itu berikan aku hadiah.”


menatap seringai kearah Callista. Lalu membawa tubuhnya  agar terduduk.


“Hadiah? Untuk apa? Kau tidak sedang ikut olimpiade dan


menjadi juara satu bukan? Kenapa harus memberimu hadiah?” mengernyitkan dahinya.


“Hadiah karena aku sudah melakukan yang kau mau. Dan kau


harus berikan aku hal yang serupa. Berikan hadiah ku!” Erland menyodorkan


telapak tangannya meminta.


“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”


Tampak Erland membuang nafasnya kasar.


“Tidak ada yang perlu dimengerti. Berikan saja hadiah ku!


Ayo cepat!”


“Katakan saja hadiah seperti apa yang kau mau. Aku akan


segera membelinya.”


“Apa? Membelinya? Apa kau pikir hadiah yang ku minta ada


dipasaran?”


“Iya.” singkat Callista berwajah polos. Hingga Erland


frustasi dan mengusap wajahnya kasar


“Kau pergi ke pasar atau supermarket manapun hadiah yang ku


minta tidak mungkin ada!”


“Kenapa?” berraut cengo.


“Karena hadiah yang ku minta adalah ini.” Erland membulatkan


sebelah pipi kanannya. Sedikit menonjolkannya dengan dorongan lidah. Sementara


Callista menatap tak mengerti apa maksud pria dihadapannya.


“Kau sedang sakit gigi?” Erland menggeleng keras.


“Atau gusi mu yang sakit?” kembali menggeleng.


“Lalu apa? Kenapa kau menyembulkan pipimu?” Erland kembali


pada posisi awal. Dimana pipinya sudah normal tak membulat. Namun sorot matanya


berubah kecewa.


“Kenapa lagi? kau sepertinya labil sekali. Pertama kau minta


hadiah dariku. Kemudian menyembulkan pipi mu seperti anak kecil. Apa setelah


hari kemarin kau menjadi kehilangan kewarasan?” kata Callista.


“Jadi kau benar benar tak mengerti apa maksudku?” Callista


menggeleng cepat.


“Kau yakin? Kau tidak mengerti sedikit pun?”


“Tidak.”


“Kalau begitu apa yang ini kau mengerti?” Erland menangkupkan


telapak tangannya. Seperti orang yang mau makan menggunakan tangan. Lalu


perlahan menggerakkan tangannya menyentuh pada pipi.


“Ciuman maksudmu?” tanya Callista.


“Ya! Tepat sekali. Itu maksudku.”


“Tapi aku tidak mau melakukannya.


Aku tidak akan mencium mu.” Tolak Callista.


“Ayolah. Sekali saja. Lagi pula hanya ciuman ringan dipipi.


Apa salahnya?” memelas.


“Tetap tidak tidak dan tidak! Lebih baik sekarang kau


membersihkan dirimu dan temui Darius.”


“Tidak akan ku lakukan!” bantah Erland.


“Kenapa?”


“Aku tidak akan menemuinya. Sekalinya bertemu aku hanya akan


membatalkan kerjasama kita.”


“Kau sudah gila? Cepat pergi temui dia!” pinta Callista.

__ADS_1


“Kalau begitu berikan dulu hadiah ku! Ayo berikan!” Erland


kembali menepuk pipinya dengan telunjuk.


“Tidak. Tidak akan! Lebih baik aku pergi. Terserah kau akan


bersiap dan menemui Darius atau tidak.” Callista hendak beranjak dari duduknya.


Namun sebuah dorongan pintu terbuka. Callista dan Erland lantas menatap


bersamaan. Nampak El tengah berdiri disana. Pakaian wanita berambut pirang itu


sudah rapih dengan balutan jas putih bermodel wanita yang pas dilekukan tubuh


idealnya.


“Ada apa?” tanya Erland.


“Darius sudah menunggumu. Apa kau bisa lebih cepat dalam


bersiap?” El balik bertanya.


“Aku memang ingin bersiap. Tapi kau lihat? Callista


menghalangai ku. Dia tidak ingin aku meninggalkannya barang hannya semenit


saja.” Erland tersenyum. Menatap wajah Callista yang juga tengah menatapnya


dengan berkerut dahi.


“Callista, tolonglah. Biarkan Er bersiap. Aku hanya


meminjamnya sebentar. Setelah itu aku akan mengembalikan Er padamu.” mohon El.


Callista kemudian mendelik kesal. Kenapa bisa bisanya Erland mengubah fakta dan


El bisa langsung percaya.


“Kenapa harus memohon El? Dari tadi aku juga sudah


memintanya untuk bersiap. Tapi pria ini yang keras kepala.” kesal Callista.


Dengan cepat Erland menimpali ucapannya.


“Oh ya? Benarkah? Bukankah tadi kau hanya merengek memintaku


agar jangan kemana mana? Kenapa sekarang malu malu? Kau bisa mengatakan yang


sebenarnya.” Erland menaikan alisnya tinggi.


“Er, tolong. Jangan mengubah-----“


“Callista aku mohon. Biarkan Er bersiap. Kasihan Darius, dia


sudah menunggu lama.” El memelas. Callista menatap wajahnya sekilas.


“Hem baiklah. Terserah kalian. Terserah kau!” Callista


menatap tajam Erland. Sementara pria itu tertawa dalam kemenangannya.


“Kalau begitu aku pergi. Callista, kau bisa membantu Er


bersiap?” tanya El sebelum hendak melenggang. Callista dengan terpaksa menjawab


iya. Wajahnya sudah menampakkan wajah malas. Setelah kepergian El, Callista


“Sebenarnya apa mau mu? Kenapa memutar balikan fakta seperti


tadi?” hebos Callista. Erland tersenyum miring.


“Keinginan ku sederhana. Aku hanya ingin hadiah ku. Jadi


berikan hadiahnya sekarang!” kembali membulatkan sebelah pipinya. Terdengar


Callista yang hanya berdecak.


“Dengar-----“


“Kau akan berbicara lagi? itu hanya akan menghambat waktu.


Cepat berikan hadiah ku sekarang! Atau aku bersumpah kerjasama ini tidak akan


pernah terjadi!” menatap dalam Callista.


“Huh, baiklah. Hanya ciuman di pipi, tidak lebih.” gumam


Callista. Dengan gerakan malas tubuhnya mendekat pada wajah Erland. Nafas


mereka kemudian saling menyatu. Jarak wajah mereka tidak lebih dari 10cm.


Callista semakin mendekat. Hingga tanpa sadar hidung mereka sudah saling


bergesekan. Callista memiringkan sedikit kepalanya kesamping. Menjangkau pipi


Erland untuk diciumnya. Sebernarnya gadis itu tidak mau mencium pria lebih dulu.


Itu sama sekali bukan dirinya. Alasan pertama karena kaku danalasan kedua


karena Callista sendiri merasa malu dengan harga dirinya. Tapi mengingat


kebersamaannya dengan Erland sudah lumayan lama, membuat Callista membuang rasa


gengsinya. Ditambah mengingat Erland yang sudah berulang kali mencuri ciuman


Callista bahkan mencuri first kissnya. Gadis itu jadi lebih meyakinkan diri


memberikan Erland sebuah ciuman.


Hanya ciuman ringan di


pipi. Tidak akan masalah. Batin Callista. Kemudian dengan cepat menubruk


pipi Erland dengan sekali tarikan nafas. Cup. Callista berhasil mencium


pipinya. Lalu kembali tersadar dan buru buru mejauhkan wajahnya dari Erland.


Tapi sebelum itu, Erland lebih dulu sudah menggigit kecil telinga Callista.


Hingga gadis itu merengek merasakan ngilu.


“Sialan.” Desis Callista.


“Hah? Kenapa?”


“Tidak ada. Cepat bersiap!  Darius sudah sangat lama menunggu mu. Ku harap kau tidak membuatnya


menunggu lagi.” bangkit dari duduk.


“Tunggu!” teriak Erland sebelum langkah Callista menghilang

__ADS_1


dibalik pintu. Dengan malas Callista berbalik.


“Terimakasih. Ciuman mu sangat singkat. Tapi mampu membuat


jantung ku berdegup cepat.” Erland tersenyum manis. Callista mematung sejenak.


Sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah tanpa peduli lagi ucapan Erland.


***


Diruang tengah rumah Callista. Nampak Erland sudah duduk


disana dengan balutan jas hitam pekat. Terduduk tegap seolah sedang menghadiri


rapart resmi.


“Jadi bagaimana? Kau sudah menyiapkan strategi awalnya?”


tanya Darius.


“Semuanya sudah siap berkat bantuan El.” Menatap El dikursi


samping.


“Baiklah. Jadi kita bisa memulainya hari ini. Pertama kau


harus menghitungkan dulu kerugian perusahaamu. Dan totalkan semua jumlah uang


untuk memperbaiki serta membersihkan perusahaan mu. Karena yang ku lihat


perusahaan mu sudah nampak usang.” ucap Darius.


“Sudah aku perhitungkan dan aku bukukan. Aku akan segera


menghubungi pihak renovasi untuk memeperbaiki dan membersihkan perusahaan ku.”


jawab Erland.


“Kalau begitu biarkan aku saja yang memanggil pihak renovasi


itu.” sela El.


“Good job! Jadi urusan renovasi dan perbaikan sudah kelar.


Sekarang kita beralih pada karyawan. Kau bisa mencari karyawan baru atau


memanggil kembali karyawan mu yang dulu. Setelah itu kita akan menjalin


kerjasama dan mencari investor dari kalangan pengusaha lainnya. Bagaimana?” kata


Darius.


“Aku setuju. Itu ide yang sangat bagus. Bagaimana menurut mu


Er?” tanya El.


“Aku tidak setuju. Karyawan tidak perlu dicari. Mereka akan


datang sendiri padaku. Dan untuk mencari investor, sepertinya itu akan menjadi


nomor dua. Aku hanya akan lebih fokus dulu untuk menjalin kerjasama antar


perusahaan lain. Setelah kerjasamanya usai dan hasilnya memuaskan, aku akan


lanjut untuk memenangkan tender. Dengan begitu perusahaan ku akan mendapat


keuntungan yang sangat besar. Itu rancangan strategi menurut ku.” tutur Erland.


Kemudian dua manusia dihadapannya berdecak kagum.


“Wah Er. Kau sangat jeli. Ternyata benar ucapan El,


kecerdasan mu melebihi batas rata rata. Kau jauh lebih cerdas daripada aku.


Sekarang aku merasa bantuan ku tidak berguna untuk mu.” tanggap Darius terbahak


pelan. Sementara Erland sendiri hanya menampilkan tampang yang biasa saja..


“Sudah ku katakan, Er benar benar cerdas.” kagum El memuji.


“Iya ku akui. Karena itu sampai sekarang kau masih


mencintainya dan-----“


***


Satu bab dulu ya. Besok aku usahain up lagi. Maaf kalau up


nya suka lama dan buat kalian kesel nunggu.:(


Hai ;) selamat malam, siang, pagi dan sore.


Aku kembali setelah hiatus hampir satu minggu. Hihihi


Sampai sini masih ada yang kangen sama Er & Call?


Atau udah pada lupa pada kisah ini? Hiks hiks jangan lupa


dong;(


Cerita ini sebentar lagi akan segera tamat ya;)


Dan aku udah nulisnya dengan deadline. Jadi udah nentuin


juga endingnya mau kek gimana.


So, jangan dulu hapus cerita ini dari library kalian ya? ya?


ya? Please jangan dulu. Ikutin terus cerita ini sampe tamat. Semoga diantara


kalian ada yang bener bener pembaca setia ya;)


Aku ucapin terimakasih banyak yang sebesar besarnya untuk


yang terus mengikuti cerita ini dari awal hingga sekarang. Semoga kalian ga


bosen bosen ya;) terus dukung cerita ini;) dukung kisah cinta Er & Call;) ga


lupa juga buat ingetin untuk kasih vote like dan komen kalian. Komen kalian


berharga banget ya;) selalu aku baca ko;)


Yaudah see you ya;) sampai ketemu di bab selanjutnya;)


Nb : maaf kalau dari tadi terus terusan ngasih emot senyum.


Mungkin hari ini aku lagi manis budi;)


Terlove readers-ku;*

__ADS_1


__ADS_2