
“Bangunlah! Apa kau akan tidur sepanjang hari? Darius sudah
menunggumu diruang tamu.” seru Callista. Tangannya menggoyahkan tubuh kekar
Erland. Hingga sesekali Erland menggeliat pelan dalam tidurnya.
“Ini masih sangat pagi. Aku akan bangun satu jam lagi.”
racau Erland melirik sekilas jam disamping ranjang. Callista semakin kesal.
Geram dengan perkataan Erland.
Masih pagi katanya?
Huh. Menghembuskan nafas berat. Tangannya kembali menggoyahkan tubuh pria
itu. Gerakannya kini lebih keras sampai Erland bersusah payah membuka matanya
yang masih sangat rapat.
“Cepat mandi dan bersiaplah! Darius sudah menunggumu.”
“Aku malas bertemu dengannya.” balas Erland.
“Apa kau lupa dengan apa yang kau katakan kemarin? Kau sudah
menyetujuinya. Jadi sekarang pergi dan mulailah segalanya.” kata Callista.
“Aku akan menemuinya. Tapi sebelum itu berikan aku hadiah.”
menatap seringai kearah Callista. Lalu membawa tubuhnya agar terduduk.
“Hadiah? Untuk apa? Kau tidak sedang ikut olimpiade dan
menjadi juara satu bukan? Kenapa harus memberimu hadiah?” mengernyitkan dahinya.
“Hadiah karena aku sudah melakukan yang kau mau. Dan kau
harus berikan aku hal yang serupa. Berikan hadiah ku!” Erland menyodorkan
telapak tangannya meminta.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”
Tampak Erland membuang nafasnya kasar.
“Tidak ada yang perlu dimengerti. Berikan saja hadiah ku!
Ayo cepat!”
“Katakan saja hadiah seperti apa yang kau mau. Aku akan
segera membelinya.”
“Apa? Membelinya? Apa kau pikir hadiah yang ku minta ada
dipasaran?”
“Iya.” singkat Callista berwajah polos. Hingga Erland
frustasi dan mengusap wajahnya kasar
“Kau pergi ke pasar atau supermarket manapun hadiah yang ku
minta tidak mungkin ada!”
“Kenapa?” berraut cengo.
“Karena hadiah yang ku minta adalah ini.” Erland membulatkan
sebelah pipi kanannya. Sedikit menonjolkannya dengan dorongan lidah. Sementara
Callista menatap tak mengerti apa maksud pria dihadapannya.
“Kau sedang sakit gigi?” Erland menggeleng keras.
“Atau gusi mu yang sakit?” kembali menggeleng.
“Lalu apa? Kenapa kau menyembulkan pipimu?” Erland kembali
pada posisi awal. Dimana pipinya sudah normal tak membulat. Namun sorot matanya
berubah kecewa.
“Kenapa lagi? kau sepertinya labil sekali. Pertama kau minta
hadiah dariku. Kemudian menyembulkan pipi mu seperti anak kecil. Apa setelah
hari kemarin kau menjadi kehilangan kewarasan?” kata Callista.
“Jadi kau benar benar tak mengerti apa maksudku?” Callista
menggeleng cepat.
“Kau yakin? Kau tidak mengerti sedikit pun?”
“Tidak.”
“Kalau begitu apa yang ini kau mengerti?” Erland menangkupkan
telapak tangannya. Seperti orang yang mau makan menggunakan tangan. Lalu
perlahan menggerakkan tangannya menyentuh pada pipi.
“Ciuman maksudmu?” tanya Callista.
“Ya! Tepat sekali. Itu maksudku.”
“Tapi aku tidak mau melakukannya.
Aku tidak akan mencium mu.” Tolak Callista.
“Ayolah. Sekali saja. Lagi pula hanya ciuman ringan dipipi.
Apa salahnya?” memelas.
“Tetap tidak tidak dan tidak! Lebih baik sekarang kau
membersihkan dirimu dan temui Darius.”
“Tidak akan ku lakukan!” bantah Erland.
“Kenapa?”
“Aku tidak akan menemuinya. Sekalinya bertemu aku hanya akan
membatalkan kerjasama kita.”
“Kau sudah gila? Cepat pergi temui dia!” pinta Callista.
__ADS_1
“Kalau begitu berikan dulu hadiah ku! Ayo berikan!” Erland
kembali menepuk pipinya dengan telunjuk.
“Tidak. Tidak akan! Lebih baik aku pergi. Terserah kau akan
bersiap dan menemui Darius atau tidak.” Callista hendak beranjak dari duduknya.
Namun sebuah dorongan pintu terbuka. Callista dan Erland lantas menatap
bersamaan. Nampak El tengah berdiri disana. Pakaian wanita berambut pirang itu
sudah rapih dengan balutan jas putih bermodel wanita yang pas dilekukan tubuh
idealnya.
“Ada apa?” tanya Erland.
“Darius sudah menunggumu. Apa kau bisa lebih cepat dalam
bersiap?” El balik bertanya.
“Aku memang ingin bersiap. Tapi kau lihat? Callista
menghalangai ku. Dia tidak ingin aku meninggalkannya barang hannya semenit
saja.” Erland tersenyum. Menatap wajah Callista yang juga tengah menatapnya
dengan berkerut dahi.
“Callista, tolonglah. Biarkan Er bersiap. Aku hanya
meminjamnya sebentar. Setelah itu aku akan mengembalikan Er padamu.” mohon El.
Callista kemudian mendelik kesal. Kenapa bisa bisanya Erland mengubah fakta dan
El bisa langsung percaya.
“Kenapa harus memohon El? Dari tadi aku juga sudah
memintanya untuk bersiap. Tapi pria ini yang keras kepala.” kesal Callista.
Dengan cepat Erland menimpali ucapannya.
“Oh ya? Benarkah? Bukankah tadi kau hanya merengek memintaku
agar jangan kemana mana? Kenapa sekarang malu malu? Kau bisa mengatakan yang
sebenarnya.” Erland menaikan alisnya tinggi.
“Er, tolong. Jangan mengubah-----“
“Callista aku mohon. Biarkan Er bersiap. Kasihan Darius, dia
sudah menunggu lama.” El memelas. Callista menatap wajahnya sekilas.
“Hem baiklah. Terserah kalian. Terserah kau!” Callista
menatap tajam Erland. Sementara pria itu tertawa dalam kemenangannya.
“Kalau begitu aku pergi. Callista, kau bisa membantu Er
bersiap?” tanya El sebelum hendak melenggang. Callista dengan terpaksa menjawab
iya. Wajahnya sudah menampakkan wajah malas. Setelah kepergian El, Callista
“Sebenarnya apa mau mu? Kenapa memutar balikan fakta seperti
tadi?” hebos Callista. Erland tersenyum miring.
“Keinginan ku sederhana. Aku hanya ingin hadiah ku. Jadi
berikan hadiahnya sekarang!” kembali membulatkan sebelah pipinya. Terdengar
Callista yang hanya berdecak.
“Dengar-----“
“Kau akan berbicara lagi? itu hanya akan menghambat waktu.
Cepat berikan hadiah ku sekarang! Atau aku bersumpah kerjasama ini tidak akan
pernah terjadi!” menatap dalam Callista.
“Huh, baiklah. Hanya ciuman di pipi, tidak lebih.” gumam
Callista. Dengan gerakan malas tubuhnya mendekat pada wajah Erland. Nafas
mereka kemudian saling menyatu. Jarak wajah mereka tidak lebih dari 10cm.
Callista semakin mendekat. Hingga tanpa sadar hidung mereka sudah saling
bergesekan. Callista memiringkan sedikit kepalanya kesamping. Menjangkau pipi
Erland untuk diciumnya. Sebernarnya gadis itu tidak mau mencium pria lebih dulu.
Itu sama sekali bukan dirinya. Alasan pertama karena kaku danalasan kedua
karena Callista sendiri merasa malu dengan harga dirinya. Tapi mengingat
kebersamaannya dengan Erland sudah lumayan lama, membuat Callista membuang rasa
gengsinya. Ditambah mengingat Erland yang sudah berulang kali mencuri ciuman
Callista bahkan mencuri first kissnya. Gadis itu jadi lebih meyakinkan diri
memberikan Erland sebuah ciuman.
Hanya ciuman ringan di
pipi. Tidak akan masalah. Batin Callista. Kemudian dengan cepat menubruk
pipi Erland dengan sekali tarikan nafas. Cup. Callista berhasil mencium
pipinya. Lalu kembali tersadar dan buru buru mejauhkan wajahnya dari Erland.
Tapi sebelum itu, Erland lebih dulu sudah menggigit kecil telinga Callista.
Hingga gadis itu merengek merasakan ngilu.
“Sialan.” Desis Callista.
“Hah? Kenapa?”
“Tidak ada. Cepat bersiap! Darius sudah sangat lama menunggu mu. Ku harap kau tidak membuatnya
menunggu lagi.” bangkit dari duduk.
“Tunggu!” teriak Erland sebelum langkah Callista menghilang
__ADS_1
dibalik pintu. Dengan malas Callista berbalik.
“Terimakasih. Ciuman mu sangat singkat. Tapi mampu membuat
jantung ku berdegup cepat.” Erland tersenyum manis. Callista mematung sejenak.
Sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah tanpa peduli lagi ucapan Erland.
***
Diruang tengah rumah Callista. Nampak Erland sudah duduk
disana dengan balutan jas hitam pekat. Terduduk tegap seolah sedang menghadiri
rapart resmi.
“Jadi bagaimana? Kau sudah menyiapkan strategi awalnya?”
tanya Darius.
“Semuanya sudah siap berkat bantuan El.” Menatap El dikursi
samping.
“Baiklah. Jadi kita bisa memulainya hari ini. Pertama kau
harus menghitungkan dulu kerugian perusahaamu. Dan totalkan semua jumlah uang
untuk memperbaiki serta membersihkan perusahaan mu. Karena yang ku lihat
perusahaan mu sudah nampak usang.” ucap Darius.
“Sudah aku perhitungkan dan aku bukukan. Aku akan segera
menghubungi pihak renovasi untuk memeperbaiki dan membersihkan perusahaan ku.”
jawab Erland.
“Kalau begitu biarkan aku saja yang memanggil pihak renovasi
itu.” sela El.
“Good job! Jadi urusan renovasi dan perbaikan sudah kelar.
Sekarang kita beralih pada karyawan. Kau bisa mencari karyawan baru atau
memanggil kembali karyawan mu yang dulu. Setelah itu kita akan menjalin
kerjasama dan mencari investor dari kalangan pengusaha lainnya. Bagaimana?” kata
Darius.
“Aku setuju. Itu ide yang sangat bagus. Bagaimana menurut mu
Er?” tanya El.
“Aku tidak setuju. Karyawan tidak perlu dicari. Mereka akan
datang sendiri padaku. Dan untuk mencari investor, sepertinya itu akan menjadi
nomor dua. Aku hanya akan lebih fokus dulu untuk menjalin kerjasama antar
perusahaan lain. Setelah kerjasamanya usai dan hasilnya memuaskan, aku akan
lanjut untuk memenangkan tender. Dengan begitu perusahaan ku akan mendapat
keuntungan yang sangat besar. Itu rancangan strategi menurut ku.” tutur Erland.
Kemudian dua manusia dihadapannya berdecak kagum.
“Wah Er. Kau sangat jeli. Ternyata benar ucapan El,
kecerdasan mu melebihi batas rata rata. Kau jauh lebih cerdas daripada aku.
Sekarang aku merasa bantuan ku tidak berguna untuk mu.” tanggap Darius terbahak
pelan. Sementara Erland sendiri hanya menampilkan tampang yang biasa saja..
“Sudah ku katakan, Er benar benar cerdas.” kagum El memuji.
“Iya ku akui. Karena itu sampai sekarang kau masih
mencintainya dan-----“
***
Satu bab dulu ya. Besok aku usahain up lagi. Maaf kalau up
nya suka lama dan buat kalian kesel nunggu.:(
Hai ;) selamat malam, siang, pagi dan sore.
Aku kembali setelah hiatus hampir satu minggu. Hihihi
Sampai sini masih ada yang kangen sama Er & Call?
Atau udah pada lupa pada kisah ini? Hiks hiks jangan lupa
dong;(
Cerita ini sebentar lagi akan segera tamat ya;)
Dan aku udah nulisnya dengan deadline. Jadi udah nentuin
juga endingnya mau kek gimana.
So, jangan dulu hapus cerita ini dari library kalian ya? ya?
ya? Please jangan dulu. Ikutin terus cerita ini sampe tamat. Semoga diantara
kalian ada yang bener bener pembaca setia ya;)
Aku ucapin terimakasih banyak yang sebesar besarnya untuk
yang terus mengikuti cerita ini dari awal hingga sekarang. Semoga kalian ga
bosen bosen ya;) terus dukung cerita ini;) dukung kisah cinta Er & Call;) ga
lupa juga buat ingetin untuk kasih vote like dan komen kalian. Komen kalian
berharga banget ya;) selalu aku baca ko;)
Yaudah see you ya;) sampai ketemu di bab selanjutnya;)
Nb : maaf kalau dari tadi terus terusan ngasih emot senyum.
Mungkin hari ini aku lagi manis budi;)
Terlove readers-ku;*
__ADS_1