
Erland melangkah cepat menyusuri koridor kantornya. Hari ini
pria itu sengaja datang lebih awal untuk kembali beraktivitas seperti biasanya.
Darius dan El juga turut berada disana untuk membantu Erland. segala strategi
dan usaha sudah susah payah mereka lakukan. Hingga kini puncak dari kerja keras
mereka yang tidak tau akhirnya akan bagaimana.
Erland melangkah besar memasuki ruangannya. Ruangannya masih
sama luas dan elegannya. Bahkan semua sisi dikantornya sudah kembali pada
kondisi awal. Petugas pembersih sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat
baik.
Erland membuka perlahan jas hitamnya. Ditaruhnya jas itu
pada sandaran kursi kebesarannya. Lalu tubuhnya ikut terduduk diatas kursi itu.
Huft. Menarik nafas kasar. Tampang lelah sudah memenuhi
pahatan wajahnya. hingga peluh keringat bercucuran disetiap pelipisnya.
Tuk tuk tuk. Suara ketukan pintu nyaring menggema. Erland
mengalihkan arah pandangannya menatap asal suara. Dengan sekali teriakan Erland
mempersilahkan orang dibalik pintu itu untuk masuk. Tak lama seorang pria
dengan perawakan tegap dan berisi masuk kedalam ruangan itu. Erland menatap
sekilas kearah pria itu yang ternyata adalah Egrad.
Egrad sebenarnya sudah kembali bergabung dengan perusahaan
Erland dan kembali memegang tempat yang sama sebagai tangan kanan Erland. Pria
yang menjadi suruhan sekaligus kepercayaan Erland itu berdiri tegak dihadapan
meja didepan Erland.
“Ada apa?” tanya Erland.
“Hari ini ada meeting dengan seorang pengusaha ternama
didunia. Tuan wajib menghadirinya. Dan jangan sampai terlambat.” tutur Egrad.
“Berikan saja jadwal meetingnya padaku. Aku akan datang
tepat waktu.” jawab Erland.
“Baik tuan.” Menunduk hormat. Tak lama kemudian Egrad
kembali pergi setelah menyerahkan secarik kertas yang berisi jadwal pertemuan
yang harus dihadiri Erland.
***
“Bagaimana dengan pertemuan kau dan Er?” tanya El pada
Darius. Mereka tengah berada diruangan yang menjadi milik El untuk bekerja.
“Aku sudah menyiapkan segalanya. Hanya tinggal menunggu waktunya
saja.”
“Apa Er sudah tau?” tanya El lagi.
“Aku sudah meminta pada Egrad untuk menyampaikannya pada Er.
Aku yakin dia sekarang sudah tau.” balas Darius. El mengangguk sekilas
“Kau juga harus ikut meeting dan menghadiri pertemuan
bersama kami El. Kehadiranmu akan sangat berpengaruh. Kau pandai dalam
berbicara.” tambah Darius.
“Benarkah? Tapi aku rasa aku tidak perlu ikut. Kehadiran
kalian berdua yang terpenting.”
“Tapi El-----“
“Tolonglah. Jangan menyeretku dalam pertemuan itu. Asal kau
tau aku sudah sangat lelah.” ucap El memelas.
__ADS_1
“Baiklah tidak usah. Aku tau wajahmu sangat lesu begitu.
Setelah ini kau bisa mengistirahatkan tubuhmu El.” ujar Darius. El mengangguk
pelan.
***
Dikediaman rumah Callista.
Fiona berlari pelan menuju kamar Callista. Tangannya lihai
mengetuk ointu kamar itu berulang ulang. Hingga tak lama Callista sendiri
membukanya dan muncul dihadapan Fiona.
“Ada apa?” tanya Callista berkerut.
“Kakak ipar, apa kau sedang sibuk?” Callista menggeleng
sebagai jawaban.
“Kenapa? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Callista.
“Aku bosan dirumah. Semua orang pergi dengan kesibukan
mereka masing masing. Sementara David terus saja membuatku naik darah. Dia
menyebalkan sekali kakak ipar.” ujar Fiona mengerucutkan bibirnya.
“Lalu? Kau mau apa? Kau ingin aku memarahi David? Akan ku
marahi dia.” Callista hendak saja akan pergi menemui David. Namun terhalang
oleh tangan Fiona yang terlentang dihadapannya.
“Tidak kakak ipar. Bukan itu maksudku.” sergah Fiona.
Callista terdiam menunggu Fiona melanjutkan perkataannya.
“Aku ingin pergi keluar. Temani aku jalan jalan. Aku mohon.
Aku sungguh bosan.” Fiona memelas.
“Tapi Fio, masalahnya kakakmu tidak mengizinkan ku keluar
rumah. Ia ingin aku tetap dirumah pada saat ia pulang.”
marah. Aku pastikan hanya sebentar saja.” mohon Fiona.
“Lalu bagaimana jika dia tau? Bisa habis kau dan aku Fio.”
seru Callista.
“Baiklah tidak usah. Aku akan diam saja dirumah setiap
hari.” ucap Fiona. Wajahnya sudah kusut karena ditekuk.
“Huft. Baiklah. Aku akan coba meminta izin pada kakakmu
dulu. Jika dia mengizinkan aku akan pergi bersamamu.”
“Yeay! Baiklah kakak ipar. Aku akan bersiap dulu dan akan
kembali menemui kakak ipar.” riang Fiona. Wajahnya kembali merona. Tak lama ia
pergi meninggalkan Callista. Sementara Callista sendiri sudah mengetikan pesan
untuk Erland. Ntahlah, Erland akan memberi izin atau tidak.
Setelah lumayan lama Callista menunggu balasan. Tidak ada
satu pun notif balasan dari Erland. pesannya masih belum dibaca sama sekali.
Callista sendiri berpikir mungkin Erland sangat sibuk hingga tak tau Callista
mengirim pesan untuknya. Gadis itu akhirnya kembali meyakinkan hatinya untuk
menuruti keinginan Fiona. Toh Fiona bilang tidak akan lama. Mereka pasti sudah
pulang sebelum Erland datang.
***
Kembali diperusahaan Erland.
Diruangan meeting yang luas. Terdapat para pengusaha muda
yang sukses yang tengah menghadiri rapat kali ini. Termasuk Erland dan Darius
yang juiga bergabung disana.
__ADS_1
“Baiklah. Kita akan mulai meeting ini. Sebelumnya akan saya
perkenal lebih dulu siapa saya dan dari perusahaan mana.” teriak Darius
memimpin. Ia sudah berdiri dengan tegapnya yang otomatis menjadi objek nomer
satu sebagai pusat perhatian.
“Saya Darius Skinner. Pemimpin dari perusahaan property.
Sekaligus akan memandu meeting kali ini.” papar Darius. Diakhiri senyum yang
terukir.
“Jadi perusahan kami, lebih tepatnya perusahaan yang
dipimpin Tuan Erland Christopher. Perusahaan kami sedang bekerja sama dengan
perusahaan ternama didunia, yang dipimpin oleh Tuan Joseph Morgan. Kami bekerja
sama untuk memennagkan tender yang sangat besar. Karena itu dituhkan strategi
untuk mendapatkan tender itu. Jadi perusahaan kita harus semaksimal mungkin
menyiapkan segala usaha dan strateginya. Apa pun yang terjadi tender itu harus
kita menangkan.” tutur Darius lagi beruntun.
“Aku punya rencana dan strategi yang sangat baik. Kita bisa
memenangkan tender itu dengan strategi ini. Aku yakin kita akan menang.” timpal
Erland. tampak Darius hanya mengangguk anggukan.
“Begini saja. Kau lakukan semua strategi dan usahamu untuk
memenangkan tender itu. Sementara aku akan membantu setelah kau memenangkan
tendernya. Aku akan menjadikan perusahaanmu menjadi rekan bisnis selamanya
perusahaanku. Dengan begitu aku akan senatiasa berinvestasi diperusahaanmu
tanpa putus. Sementara untuk tender itu, kau bisa mendapatkannya tanpa harus
berbagi denganku. Dengan begitu perusahaanmu akan sangat berkembang. Dan
perusahaanku akan dapat menaikan bintangnya. Bagaimana?” tawar tuan Joseph.
Erlandsempat berpikir sejenak sebelum mengangguk dan mengulurkan tangannya.
Menjabat tangan tuan Joseph.
“Deal!” tegas Erland dalam jabatannya. Tuan Joseph tersenyum
senang.
“Kalau begitu kau bisa langsung memulai strategi dan
usahamu. Persiapkan matang matang. Aku percaya kau mampu jika hanya memenangkan
satu tender. Aku masih ingat bagaimana kau dulu memenangkan tiga tender
sekaligus.” kata tuan Joseph tesenyum bangga. Mengingat kembali perjuangan
Erland yang kala itu juga pernah menjadi rekan bisnisnya.
“Tentu saja.” balas Erland balik tersenyum.
“Kau bisa akhiri meetingnya sekarang.” ujar Erland menatap
Darius.
“Baiklah, semuanya. Meeting kali ini sudah berakhir. Sekarang
kita bisa langsung kembali bekerja.siapkan matang matang strategi kalian.
Mengerti?” teriak Darius ramah. Sontak semua pegawai yang bersangkutan
mengangguk patuh.
“Terimakasih untuk semuanya tuan. Akan ku pastikan aku
memenangkan tender besar itu.” kata Erland lagi setelah semuanya berhamburan
keluar ruangan rapat.
“Aku percayakan semuanya padamu. Semangat!” menepuk bahu
Erland bersahabat.
__ADS_1