Obsession Love

Obsession Love
65


__ADS_3

Erland melangkah cepat menyusuri koridor kantornya. Hari ini


pria itu sengaja datang lebih awal untuk kembali beraktivitas seperti biasanya.


Darius dan El juga turut berada disana untuk membantu Erland. segala strategi


dan usaha sudah susah payah mereka lakukan. Hingga kini puncak dari kerja keras


mereka yang tidak tau akhirnya akan bagaimana.


Erland melangkah besar memasuki ruangannya. Ruangannya masih


sama luas dan elegannya. Bahkan semua sisi dikantornya sudah kembali pada


kondisi awal. Petugas pembersih sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat


baik.


Erland membuka perlahan jas hitamnya. Ditaruhnya jas itu


pada sandaran kursi kebesarannya. Lalu tubuhnya ikut terduduk diatas kursi itu.


Huft. Menarik nafas kasar. Tampang lelah sudah memenuhi


pahatan wajahnya. hingga peluh keringat bercucuran disetiap pelipisnya.


Tuk tuk tuk. Suara ketukan pintu nyaring menggema. Erland


mengalihkan arah pandangannya menatap asal suara. Dengan sekali teriakan Erland


mempersilahkan orang dibalik pintu itu untuk masuk. Tak lama seorang pria


dengan perawakan tegap dan berisi masuk kedalam ruangan itu. Erland menatap


sekilas kearah pria itu yang ternyata adalah Egrad.


Egrad sebenarnya sudah kembali bergabung dengan perusahaan


Erland dan kembali memegang tempat yang sama sebagai tangan kanan Erland. Pria


yang menjadi suruhan sekaligus kepercayaan Erland itu berdiri tegak dihadapan


meja didepan Erland.


“Ada apa?” tanya Erland.


“Hari ini ada meeting dengan seorang pengusaha ternama


didunia. Tuan wajib menghadirinya. Dan jangan sampai terlambat.” tutur Egrad.


“Berikan saja jadwal meetingnya padaku. Aku akan datang


tepat waktu.” jawab Erland.


“Baik tuan.” Menunduk hormat. Tak lama kemudian Egrad


kembali pergi setelah menyerahkan secarik kertas yang berisi jadwal pertemuan


yang harus dihadiri Erland.


***


“Bagaimana dengan pertemuan kau dan Er?” tanya El pada


Darius. Mereka tengah berada diruangan yang menjadi milik El untuk bekerja.


“Aku sudah menyiapkan segalanya. Hanya tinggal menunggu waktunya


saja.”


“Apa Er sudah tau?” tanya El lagi.


“Aku sudah meminta pada Egrad untuk menyampaikannya pada Er.


Aku yakin dia sekarang sudah tau.” balas Darius. El mengangguk sekilas


“Kau juga harus ikut meeting dan menghadiri pertemuan


bersama kami El. Kehadiranmu akan sangat berpengaruh. Kau pandai dalam


berbicara.” tambah Darius.


“Benarkah? Tapi aku rasa aku tidak perlu ikut. Kehadiran


kalian berdua yang terpenting.”


“Tapi El-----“


“Tolonglah. Jangan menyeretku dalam pertemuan itu. Asal kau


tau aku sudah sangat lelah.” ucap El memelas.

__ADS_1


“Baiklah tidak usah. Aku tau wajahmu sangat lesu begitu.


Setelah ini kau bisa mengistirahatkan tubuhmu El.” ujar Darius. El mengangguk


pelan.


***


Dikediaman rumah Callista.


Fiona berlari pelan menuju kamar Callista. Tangannya lihai


mengetuk ointu kamar itu berulang ulang. Hingga tak lama Callista sendiri


membukanya dan muncul dihadapan Fiona.


“Ada apa?” tanya Callista berkerut.


“Kakak ipar, apa kau sedang sibuk?” Callista menggeleng


sebagai jawaban.


“Kenapa? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Callista.


“Aku bosan dirumah. Semua orang pergi dengan kesibukan


mereka masing masing. Sementara David terus saja membuatku naik darah. Dia


menyebalkan sekali kakak ipar.” ujar Fiona mengerucutkan bibirnya.


“Lalu? Kau mau apa? Kau ingin aku memarahi David? Akan ku


marahi dia.” Callista hendak saja akan pergi menemui David. Namun terhalang


oleh tangan Fiona yang terlentang dihadapannya.


“Tidak kakak ipar. Bukan itu maksudku.” sergah Fiona.


Callista terdiam menunggu Fiona melanjutkan perkataannya.


“Aku ingin pergi keluar. Temani aku jalan jalan. Aku mohon.


Aku sungguh bosan.” Fiona memelas.


“Tapi Fio, masalahnya kakakmu tidak mengizinkan ku keluar


rumah. Ia ingin aku tetap dirumah pada saat ia pulang.”


marah. Aku pastikan hanya sebentar saja.” mohon Fiona.


“Lalu bagaimana jika dia tau? Bisa habis kau dan aku Fio.”


seru Callista.


“Baiklah tidak usah. Aku akan diam saja dirumah setiap


hari.” ucap Fiona. Wajahnya sudah kusut karena ditekuk.


“Huft. Baiklah. Aku akan coba meminta izin pada kakakmu


dulu. Jika dia mengizinkan aku akan pergi bersamamu.”


“Yeay! Baiklah kakak ipar. Aku akan bersiap dulu dan akan


kembali menemui kakak ipar.” riang Fiona. Wajahnya kembali merona. Tak lama ia


pergi meninggalkan Callista. Sementara Callista sendiri sudah mengetikan pesan


untuk Erland. Ntahlah, Erland akan memberi izin atau tidak.


Setelah lumayan lama Callista menunggu balasan. Tidak ada


satu pun notif balasan dari Erland. pesannya masih belum dibaca sama sekali.


Callista sendiri berpikir mungkin Erland sangat sibuk hingga tak tau Callista


mengirim pesan untuknya. Gadis itu akhirnya kembali meyakinkan hatinya untuk


menuruti keinginan Fiona. Toh Fiona bilang tidak akan lama. Mereka pasti sudah


pulang sebelum Erland datang.


***


Kembali diperusahaan Erland.


Diruangan meeting yang luas. Terdapat para pengusaha muda


yang sukses yang tengah menghadiri rapat kali ini. Termasuk Erland dan Darius


yang juiga bergabung disana.

__ADS_1


“Baiklah. Kita akan mulai meeting ini. Sebelumnya akan saya


perkenal lebih dulu siapa saya dan dari perusahaan mana.” teriak Darius


memimpin. Ia sudah berdiri dengan tegapnya yang otomatis menjadi objek nomer


satu sebagai pusat perhatian.


“Saya Darius Skinner. Pemimpin dari perusahaan property.


Sekaligus akan memandu meeting kali ini.” papar Darius. Diakhiri senyum yang


terukir.


“Jadi perusahan kami, lebih tepatnya perusahaan yang


dipimpin Tuan Erland Christopher. Perusahaan kami sedang bekerja sama dengan


perusahaan ternama didunia, yang dipimpin oleh Tuan Joseph Morgan. Kami bekerja


sama untuk memennagkan tender yang sangat besar. Karena itu dituhkan strategi


untuk mendapatkan tender itu. Jadi perusahaan kita harus semaksimal mungkin


menyiapkan segala usaha dan strateginya. Apa pun yang terjadi tender itu harus


kita menangkan.” tutur Darius lagi beruntun.


“Aku punya rencana dan strategi yang sangat baik. Kita bisa


memenangkan tender itu dengan strategi ini. Aku yakin kita akan menang.” timpal


Erland. tampak Darius hanya mengangguk anggukan.


“Begini saja. Kau lakukan semua strategi dan usahamu untuk


memenangkan tender itu. Sementara aku akan membantu setelah kau memenangkan


tendernya. Aku akan menjadikan perusahaanmu menjadi rekan bisnis selamanya


perusahaanku. Dengan begitu aku akan senatiasa berinvestasi diperusahaanmu


tanpa putus. Sementara untuk tender itu, kau bisa mendapatkannya tanpa harus


berbagi denganku. Dengan begitu perusahaanmu akan sangat berkembang. Dan


perusahaanku akan dapat menaikan bintangnya. Bagaimana?” tawar tuan Joseph.


Erlandsempat berpikir sejenak sebelum mengangguk dan mengulurkan tangannya.


Menjabat tangan tuan Joseph.


“Deal!” tegas Erland dalam jabatannya. Tuan Joseph tersenyum


senang.


“Kalau begitu kau bisa langsung memulai strategi dan


usahamu. Persiapkan matang matang. Aku percaya kau mampu jika hanya memenangkan


satu tender. Aku masih ingat bagaimana kau dulu memenangkan tiga tender


sekaligus.” kata tuan Joseph tesenyum bangga. Mengingat kembali perjuangan


Erland yang kala itu juga pernah menjadi rekan bisnisnya.


“Tentu saja.” balas Erland balik tersenyum.


“Kau bisa akhiri meetingnya sekarang.” ujar Erland menatap


Darius.


“Baiklah, semuanya. Meeting kali ini sudah berakhir. Sekarang


kita bisa langsung kembali bekerja.siapkan matang matang strategi kalian.


Mengerti?” teriak Darius ramah. Sontak semua pegawai yang bersangkutan


mengangguk patuh.


“Terimakasih untuk semuanya tuan. Akan ku pastikan aku


memenangkan tender besar itu.” kata Erland lagi setelah semuanya berhamburan


keluar ruangan rapat.


“Aku percayakan semuanya padamu. Semangat!” menepuk bahu


Erland bersahabat.


 

__ADS_1


__ADS_2