
"Minumlah obatnya. Setelah itu tidur. Kakak akan pulang kerumah untuk membawa baju baju kita. Kita akan pergi nanti malam dari rumahsakit" ujar Callista setelah mereka kembali keruangan rawat David. David mengangguk mengiyakan dan meraih obat yang diberikan oleh Callista.
"Kakak pergi dulu" ujar Callista melangkah pergi.
"Tunggu Kak Call!" Callista membalikkan tubuhnya menatap David sejenak. Tatapannya seperti mengatakan ada apa?.
"Hati hati" ujar David kembali. Dan Callista hanya tersenyum mengiyakan.
_____________________________________________
Kini Callista sudah berada dirumah tempat tinggalnya. Gadis itu dengan tergesa gesa memilah beberapa bajunya dan baju David untuk dikemasi kedalam sebuah tas besar. Callista juga membawa foto kedua orangtuanya dan beberapa barang yang ia butuhkan ketika meninggalkan rumah.
Setelah selesai berkutat dengan barang barang miliknya dan David, kini Callista sudah selesai mengemasi sebuah barang barang itu. Callista membawanya cepat kedalam mobil. Lalu menatap sejenak rumah yang Callista tinggali.
"Tidak kusangka aku akan meninggalkan rumah ini" lirih Callista menatap sendu rumahnya. Lalu tak lama menancapkan gas dan melaju pergi. Tanpa Callista sadari ada seseorang yang mengawasinya dari kejauhan.
_____________________________________________
Disisi lain. Erland nampak mondar mandir didepan meja kerjanya. Setelah kepulangannya dari rumahsakit, Erland memutuskan untuk kembali kekantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tadinya Erland ingin menemui Callista diruangan rawat David. Namun terurung karena melihat Callista keluar dari ruangan itu. Dan akhirnya memutuskan kembali kekantornya.
Dreettt. Getaran ponsel mengalihkan fokus Erland. Ia lantas meraihnya cepat tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa?" seru Erland pada pria disebrang telpon.
"Saya melihat Nona Callista keluar rumah dengan membawa tas besar. Namun arahnya menuju rumahsakit" ucap pria itu yang ternyata Egrad.
"Biarkan saja. Kau awasi saja keadaan dirumah itu!" titah Erland. Lalu panggilan pun terputus.
_____________________________________________
Callista sudah kembali diarea rumah sakit. Lalu memarkirkan mobilnya disana dan melangkahkan kaki menuju ruangan David.
Saat diruangan rawat David. Callista menatap sendu kearah David yang sedang tertidur pulas. Airmatanya mengalir tanpa diminta. Callista lalu mendekati David dan duduk dikursi disamping bangsal.
__ADS_1
"Maaf karena aku telah melibatkanmu dalam hal ini" seru Callista menggenggam erat tangan David. Lalu lama kelamaan Callista ikut menyandarkan kepalanya disamping bagsal. Dan ikut tertidur disana.
_____________________________________________
Malam hari telah tiba. Callista mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali mencoba menetralisir cahaya lampu yang masuk ke retina matanya. Setelah terbuka sempurna, Callista lalu menggoyang goyangkan pelan tubuh David agar terbangun.
"Kak Call ada apa? Kenapa membangunkanku? Huwaaa" seru David yang diakhiri menguap.
"Bangunlah. Kita akan pergi dari kota ini malam ini juga" seru Callista meraih tas besar yang dibawanya tadi. David terbangun dan mengucek ngucek matanya pelan. Lalu turun dari bangsal.
"Kau tunggulah dimobil. Kakak akan mengatakan dulu pada suster jika kau akan pulang" David mengangguk mengiyakan ucapan Callista. Lalu melenggang pergi kearah parkiran. Sementara Callista melirik sekitar mencari keberadaan suster. Dan tak lama seorang suster datang menghampiri Callista.
"Permisi suster. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Kalau adikku akan pulang kerumah sekarang. Karena kurasa dia sudah cukup pulih. Jika ada yang bertanya keberadaan kami, suster cukup katakan jika pasien diruangan ini sudah pulang kerumahnya" seru Callista. Suster itu hanya mengangguk lalu melenggang pergi. Sementara Callista menyusul David dimobil.
Callista sudah duduk didalam mobil bersamaan dengan David yang duduk disamping kemudi.
"Kak Call. Apa kita benar benar akan pergi dari kota ini?" ucap David lirih.
"Memang kenapa?" seru Callista menatap David.
"Tidak bisa. Kita tetap akan pergi sekarang!" tegas Callista.
"Tapi ini sudah malam Kak Call. Sudah jam 9 malam. Kemana kita akan pergi?" ujar David kembali melirik jam arloji yang melingkari pergelangan tangannya.
"Kemana saja, yang penting kita harus segera pergi dari kota ini!"
"Baiklah" ucap David melemas. Seakan pasrah apa yang dilakukan Kakaknya.
_____________________________________________
"Apa kau melihat Callista dirumah itu?" seru Erland pada Egrad yang berada disebrang telpon.
"Tidak Tuan. Sedari tadi saya tidak melihat Nona Callista pulang kerumahnya. Saya rasa Nona menginap dirumahsakit" ujar Egrad. Erland yang mendengarnya hanya terdiam sejenak. Lalu tak lama mematikan telpon sepihak.
__ADS_1
Erland menekan nama Callista diriwayat panggilannya. Karena Erland tak sempat menyimpan nomer Callista ketika Callista pertama kali menghubunginya karena memintanya pulang.
"Sialan! Tidak ada jawaban!" desis Erland ketika mencoba menghubungi nomer Callista.
"Tetap tidak ada jawaban! Argghh!" pekik Erland lagi menendang keras meja dihadapannya.
"Callista, jika kau macam macam kau akan tahu akibatnya!" Erland menggertakan giginya kuat. Lalu keluar ruangan dan menuju parkiran. Pria itu menancapkan gas dan mengemudikan mobilnya dalam kecepatan maksimal menuju rumahsakit.
Setelah sampai dirumahsakit. Erland mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suster. Lalu terlihat seorang suster berjalan menuju ruangan rawat David.
"Permisi! Apa kau tahu dimana pasien didalam ruangan ini?" seru Erland. Tatapannya menatap marah kearah bangsal yang sudah kosong.
"Pasien atas nama David?" seru suster. Erland mengangguk cepat mengiyakan.
"Pasiennya sudah pulang kerumah. Tadi seorang wanita mengatakan jika pasiennya sudah pulih dan akan dibawa pulang kerumahnya" jelas suster itu. Lalu tanpa membuang waktu Erland berlari cepat menghampiri mobilnya. Ia mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Dalam perjalanan Erland tak henti hentinya melirik jalanan sekitar mencari Callista. Pencahayaan yang temaram tidak membuatnya mengurungkan niat untuk mencari keberadaan Callista. Fikirannya seketika gusar mengetahui Callista tidak ada didua tempat tadi. Erland berfikir Callista ingin menghindar darinya dan pergi jauh.
"Tidak akan ku lepaskan kau walau hanya selangkah!" tekan Erland disetiap kalimatnya. Tangannya memegang kuat stir mobil dan menambah kecepatan laju mobilnya.
_____________________________________________
Disisi lain. Fiona mundar mandir dengan perasaannya yang gusar. Sejak dimall tadi, ia pulang seorang diri. Dan Erland tidak memberinya kabar mengenai Callista. Bahkan sampai selarut ini Erland juga belum pulang kerumahnya. Dan itu membuat perasaan Fiona seakan bercampur aduk.
"Kak Er masih belum pulang. Bagaimana aku tahu keadaan Kakak ipar. Sedari tadi aku mencoba menghubungi Kakak ipar namun ponselnya tidak aktif" ucap Fiona menatap posel ditangannya.
_____________________________________________
Callista mengemudikan mobilnya melewati jalanan yang cukup sepi. Tidak ada satupun pencahayaan disana. Hanya sorotan dari lampu depan mobil Callista. Callista fokus menyusuri jalanan itu. Sementara David sedang tertidur pulas disampingnya.
"Aku telah mengganggu tidurmu. Kau pasti sangat mengantuk" ujar Callista menatap David sekilat. Dan kembali fokus menatap jalanan.
Tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat dihadapan mobil Callista. Callista menghentikan mobilnya sejenak lalu memicingkan matanya menatap pria bertubuh besar keluar dari mobil tersebut.
__ADS_1
"Pria itu?" ucap Callista bergetar. Ia menatap takut pada pria yang berdiri dihadapan mobilnya. Pria itu adalah Egrad.