Obsession Love

Obsession Love
Duapuluh


__ADS_3

"Tak perlu menghapusnya. Airmata ini tercipta karena dirimu" seru Callista lagi ketika Erland berusaha menyentuh pipinya.


"Semua yang kau lakukan padaku begitu buruk. Hingga aku tak yakin aku bisa melupakannya atau tidak!" lanjut Callista.


"Seharusnya kau memukul wajahku saja. Jika kau melukai batinku lalu kenapa kau melindungi ragaku. Seharusnya kau tidak setengah setengah ketika menyakitiku!" Pungkas Callista lagi. Lalu kakinya tergerak dan meninggalkan Erland yang masih berdiri menatap kepergiannya. Dalam kejauhan Erland menatap sendu kearah Callista yang mulai menjauh.


Apa seburuk itu perlakuanku?. Batin Erland. Lalu menyusul langkah Callista yang menjauh.


Disisi lain. Fiona dan David saling menatap bingung. Keduanya saling melempar pandangan ketika melihat kegaduhan antara Callista dan Erland dalam jarak jauh.


"Sepertinya mereka sedang bertengkar. Ayo kita kesana!" seru Fiona menatap David. Dan David mengangguk mengiyakan, lalu mengikuti langkah Fiona.


"Callista dengarkan aku! Aku ingin bicara padamu. Aku minta maaf jika aku salah" seru Erland dalam larinya. Namun langkah Callista jauh lebih cepat darinya.


"Callista! Aku akan memaksamu jika kau tak berhenti!" seru Erland lagi. Callista tetap tak meresponnya.


"Kak Call!" teriak David lantang. Lalu Callista berhenti dan menatap kearah David. Ia mengusap airmatanya cepat.


"Kenapa Kak Call berlari?" seru David.


"Apa Kakak ipar bertengkar dengan Kak Er?" ucap Fiona.


"Tidak! Kakak hanya lelah dan ingin pulang" pungkas Callista berbohong. Ia menampilkan senyum semaksimal mungkin untuk menutupi mata sembabnya.


"Kalau begitu kita akan pulang bersama" ujar David. Dan Fiona mengangguk setuju.


"Kak Er! Ayo kita pulang" ujar Fiona. Erland mengangguk dan menghampiri mobilnya. Diikuti dengan Callista, David dan Fiona yang berjalan dibelakangnya.


Kini mereka berempat sudah duduk dikursi mobil. Dan Erland mengambil kemudi lalu menyalakan mesin. Mobil pun melaju memecah jalanan kota yang ramai halayak.


Setelah setengah jam. Mobil yang mereka tumpangi sampai diparkiran rumah mewah itu. Seperti biasa Erland meminta satpam agar memarkirkan mobilnya. Dan membuka pintu mobil Callista, lalu menawarkan tangannya untuk membantu Callista turun dari mobil. Namun Callista menepis tangan itu dan keluar mobil tanpa bantuan tangan Erland.


"Kak Er! Aku ingin meminta izinmu untuk pergi les piano bersama David. Tadi David bilang bahwa dirumah temannya ada piano. Dan aku ingin kesana untuk belajar piano" pinta Fiona menampilkan wajah memelas.


"Pergilah! Tapi kau harus ingat waktu. Jangan pulang terlalu malam!" seru Erland. Dan Fiona tersenyum berbinar.

__ADS_1


"Dan David, aku minta padamu untuk menjaga adikku!" ujar Erland lagi.


"Baik Kak. Aku akan menjaga dan melindunginya" balas David mengangguk. Lalu tak lama Fiona dan David menuju mobil yang terparkir diujung sana. Mereka memasuki mobil itu dan David mengambil alih kemudi. Lalu mobil itu melenggang keluar dari area rumah Erland.


"Ayo masuklah!" seru Erland menatap Callista yang sedari tadi hanya diam. Tangannya menggenggam erat dan menarik pelan tangan Callista memasuki ruang utama.


"Kau ingin beristirahat? Aku akan mengantarmu!" seru Erland lagi menuntun Callista menuju kamarnya.


Setelah dalam kamar. Callista duduk ditepi ranjang Erland. Lalu Erland juga ikut duduk disampingnya.


"Maafkan aku karena kejadian tadi. Aku hanya sedang marah, maka dari itu aku berkata seperti itu padamu. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak berniat untuk memukulmu. Callista aku sangat menyayangimu. Mana mungkin aku mampu melakukan kekerasan terhadapmu" seru Erland. Tangannya meraih dagu Callista agar menatapnya.


"Kau tidak ingin menyakitiku begitu? Kau tidak ingin melakukan kekerasan padaku? Lalu yang kau lakukan hari lalu? Kau mencoba melecehkanku! Kau ingat itu?!" seru Callista geram. Airmata kembali jatuh mengenai pipinya.


"Callista, malam itu aku sedang mabuk. Aku tidak sadar jika aku melakukan semua itu padamu!" seru Erland lagi. Pandangannya menatap sendu Callista.


"Bukan hanya itu! Kau juga mengambil ciuman pertamaku, kekasihku, bahagiaku, semuanya! Apa kau fikir itu tidak menyakitiku?" airmata semakin deras membasahi wajah Callista. Dan gadis itu tidak berusaha menghapusnya.


"Callista mengertilah! Apa yang ku lakukan padamu itu bukan kekerasan atau menyakitimu. Aku hanya ingin menunjukkan betapa cintanya aku padamu. Tapi kau tidak pernah menyadari itu. Kau selalu memikirkan pria itu. Sementara aku? Tidak sedikit pun ada dalam fikiranmu. Aku telah melakukan semuanya yang kau mau. Aku memberikan semua yang kau butuh. Aku hanya berharap kau membalas cintaku. Tapi justru kau seolah tak ingin aku didekatmu!" ucap Erland.


"Baiklah, anggap aku yang salah. Anggap semua kesalahan karena diriku. Tapi apa kau bisa memaafkanku? Apa kau bisa menerimaku dalam hidupmu? Callista! Aku berjanji akan mewujudkan apa yang kau mau. Asal kau mau memaafkanku dan menerimaku" ujar Erland lagi. Tangannya beralih menggenggam tangan Callista.


"Apapun! Akan ku wujudkan semuanya untukmu!" tekan Erland. Lalu Callista menghapus airmatanya kilat. Dan membalas genggaman tangan Erland yang menggenggamnya.


"Aku ingin kekasihku kembali! Kau sudah berjanji padaku akan mewujudkannya. Jadi wujudkan keinginanku! Bawa kekasihku kembali padaku! Aku mohon!" seru Callista. Tatapannya menatap wajah Erland dalam. Ada siratan memohon dalam serotan matanya. Sementara Erland yang mendengar keinginan Callista terdiam sejenak. Jantungnya seakan berhenti memompa saat itu juga. Lalu dengan keras Erland membanting tangan Callista yang menggenggamnya.


"Ku Fikir kau sudah melupakannya. Tapi sekarang kau meminta padaku untuk mengembalikannya padamu? Callista aku tidak sebodoh itu!" seru Erland beranjak berdiri.


"Aku akan mewujudkan apapun kecuali pria itu. Aku tidak akan mengembalikannya padamu!" lanjut Erland. Lalu kakinya tergerak meninggalkan Callista yang menatapnya kosong. Dan sebelum keluar kamar, Erland membanting keras pintu itu hingga Callista terlonjak kaget.


Sementara Callista mengusap wajahnya kasar. Gadis itu menatap sendu kearah pintu yang dibanting Erland. Lalu lagi lagi airmata itu turun tanpa suara.


"Sudah ku duga akan seperti ini. Lalu apa yang bisa ku lakukan?" Gumam Callista.


_____________________________________________

__ADS_1


Dikediaman rumah Kenzi. Ya, sebenarnya David membawa Fiona ke rumah Kenzi. Dan disana Kenzi menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Setelah kecelakaan yang menimpa David, Kenzi sudah tidak bisa bertemu dengan temannya lagi. Bukan apa apa, tapi Callista meminta Kenzi agar tidak terlalu memikirkan David. Karena Callista takut Kenzi jadi tidak fokus belajar jika memikirkan keadaan David.


"Jadi kau kesini karena ingin bermain piano? Ku fikir sejak koma kau sudah lupa memainkan piano" canda Kenzi dalam tawanya.


"Piano adalah hobbyku. Aku tidak akan lupa memainkannya" balas David yang juga ikut tertawa.


"Tunggu tunggu, gadis ini siapa? Apa dia kekasihmu? Jadi selama koma kau mendapatkan seorang gadis heuhh?" canda Kenzi lagi menatap Fiona.


"Omong kosong! Jaga bicaramu! Dia bukan kekasihku" klarifikasi David.


"Lalu siapa?" ucap Kenzi kepo.


"Dia adik dari Kakaknya"


Hahaha. Tawa Kenzi yang menggelegar memenuhi seisi ruangan. Tangannya memegangi perutnya. Mungkin terasa sakit karena tertawa berlebihan.


"David sejak kapan kau bodoh? Tentu saja dia adik dari Kakaknya. Tidak mungkin dia adik dari Neneknya. Hahha" seru Kenzi disela tawanya.


"Maksudku. Kakaknya adalah teman kakakku. Maka dari itu aku mengenalnya" jelas David. Lalu menatap kesal kearah Kenzi yang masih tertawa.


"Kenapa tak mengatakannya dari tadi. Kalau seperti itu aku baru mengerti" ujar Kenzi. Ia sudah menghentikan tawanya.


"Sudah cepatlah. Bawa aku kekamarmu!" ujar David.


"Untuk Apa?"


"Bermain piano bodoh! Sudah ayo cepat" ujar David menoyor kepala Kenzi. Lalu Kenzi membawanya menuju kamar.


"Ayo Fio!" seru David menuntun tangan Fiona mengikuti langkah Kenzi.


Saat berada dalam kamar kenzi. Ketiganya duduk bersama mengahadap kearah grand piano yang berada dihadapan mereka. Lalu David menggerakkan tangannya menyentuh setiap not dalam piano itu. Tekanannya menghasilkan irama yang begitu indah dan khas. Sebuah harmoni nada yang romantis.


Fiona yang berada disamping kanan David menatapnya takjub. Gadis itu terpesona dengan cara David yang lihai memainkan piano. Dan telinganya seakan tersentuh mendengar irama indah yang dihasilkan dari permainan David.


"Apa kau mau mencobanya? Aku akan mengajiarimu teknik dasar terlebih dulu" ujar David menghentikan pergerakannya dan menatap Fiona. Lalu dengan cepat Fiona menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.

__ADS_1


"Aku mau!" balas Fiona. Lalu David meminta Fiona agar duduk lebih dekat dengannya. Fiona menurut dan dekat bersebelahan dengan David sampai bahunya menyentuh bahu David. David memegang tangan Fiona agar menekan not yang diarahkannya. Fiona menurut dan membiarkan tangan David mengendalikan tangannya untuk menekan not not piano. Lalu sebuah nada terbentuk dan menghasilkan melody yang tak kalah indah seperti yang tadi dimainkan David. Dalam posisi mereka yang seperti itu, dunia seakan akan adalah milik mereka berdua. Sementara Kenzi yang menatap keduanya menampilkan wajah malas. Sambil sesekali menghembuskan nafas kesal.


Apa mereka kerumahku hanya untuk menunjukkan ini?Menyebalkan sekali!. Batin Kenzi. Lalu memutuskan memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya pada tembok.


__ADS_2