
Ponsel Erland berdering nyaring. Ia melihat sekilas nama orang yang memanggilnya. Tertera dengan jelas nama Callista dilayar ponselnya. Tanpa fikir panjang Erland segera menerima panggilan itu.
"Maaf, saya harus permisi sebentar" ujar Erland pada klien penting dihadapannya. orang itu mengangguk dan kemudian Erland melangkah keluar dari ruangan rapat.
"Apa?! Apa ini serius?! Jadi pemilik dari ponsel ini mengalami kecelakaan?!" seru Erland menggema. Hatinya benar benar hancur berkeping keping. Wanita yang begitu dicintainya kini sedang tertidur dengan berlumuran darah. Setelah menerima panggilan dari Callista, ternyata itu bukanlah Callista. Tapi salah satu pengendara yang memberitahu keadaan Callista mengenai kecelakaan tragis yang menimpa gadis itu.
Erland mengacak rambutnya kasar. Wajahnya seketika berubah masam. Tanpa disadari ia berlari cepat menuju mobilnya. Tanpa ingat bahwa sekarang dirinya sedang ada pertemuan dengan klien penting.
Erland menyalakan mesin mobilnya cepat. Lalu berlalu pergi meninggalkan bangunan mewah itu, menuju tempat dimana Callista mengalami kecelakaan.
Erland sampai disana. Ia melihat jelas mobil Callista yang dikerumuni banyak orang. Erland keluar dari mobil dan berlari cepat mendekat kearah mobil Callista. Ia menyusup masuk dalam kerumunan itu. Hingga matanya seakan terbakar melihat tubuh Callista yang terkulai tak berdaya. Darah segar mengucur tanpa henti dikening gadis itu. Erland mendekat pada tubuh Callista dan mendekap kuat tubuh itu. Hingga buliran airmata berlinang dipelupuk matanya.
"Bertahanlah. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu" ujar Erland. Suaranya sudah terdengar berat.
Erland memangku tubuh Callista dan memasukkannya pada mobil miliknya. Lalu melenggang pergi dengan kecepatan tinggi menuju rumahsakit ternama dikota itu.
Erland memarkirkan mobilnya asal. Lalu mengais tubuh Callista memasuki koridor rumahsakit. Ia berteriak histeris memanggil dokter dan tak lama seorang suster menghampirinya membawa bangsal. Erland membaringkan tubuh Callista disana. Lalu suster itu membawa cepat Callista ke ruangan UGD. Erland hendak ikut masuk ke ruangan itu. Namun seorang suster sudah menghentikannya dan menginstruksikan Erland untuk menunggu diluar.
Erland terduduk lemas dibalik pintu ruangan UGD itu. Tangannya terus mengacak kasar rambutnya dan sesekali menjambaknya keras.
Arghhh. Teriak Erland mengerang. Pria itu memukulkan tangannya pada kepalanya. Memukul diri sendiri.
"Jika kau tak selamat, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa hidup tanpamu, Callista" lirih Erland dengan suara berat. Buliran kristal sudah membanjiri wajahnya deras.
Erland masih terduduk lemas diatas lantai tepat didepan pintu ruangan UGD. Setelah 2 jam berlalu, dokter masih belum keluar dan memberitahu apa apa. Hingga Erland memutuskan mengirim pesan pada Fiona untuk memberi tahu apa yang terjadi pada Callista.
Satu jam sudah berlalu. Sudah memakan waktu 3 jam untuk dokter itu memeriksa keadaan Callista. Hingga tak lama pintu ruangan terbuka. Erland sontak berdiri cepat dan melihat wajah sang dokter yang baru saja keluar bersama 3 orang suster yang membantunnya.
"Katakan padaku ada apa?" ujar Erland tak sabaran. Ia mencekal kuat kerah dokter dihadapannya. Namun dokter tersebut hanya diam membisu dan menundukkan kepalanya. "Cepat katakan! Apa kau tak bisa berbicara?!" ujar Erland kembali. Hingga dokter itu mendongak dan menatap sendu kearah Erland.
"Sebelumnya saya minta maaf_____"
"Apa maksudmu meminta maaf?!" sela Erland memperkuat cekalannya terhadap kerah sang dokter.
"Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik. Namun karena darah mengalir sangat banyak, itu menyebabkan kondisi pasien kekurangan banyak darah. Dan kondisinya sangat kritis. Saya tidak bisa menjamin apa dia mampu bertahan hidup atau_____"
"Omong kosong! Yang kau katakan hanya kebohongan bukan? Cepat katakan iya!" sela Erland kembali. Hatinya seakan patah. Hidupnya sudah kehilangan arah dan tujuan. Bahkan darah yang mengalir ditubuhnya pun seakan berhenti seketika. Jantungnya terasa sulit memompa hingga Erland tercekik tak bisa bernafas. Pernyataan sang dokter tadi benar benar sebuah badai besar untuk Erland. Dan disaat itu juga kedua orang yang berdiri dibelakang Erland mendengar dengan jelas apa yang disampaikan sang dokter. Mereka adalah David dan Fiona, keduanya baru saja sampai dirumahsakit dan langsung mendengar sesuatu yang menyakitkan yang diucapkan sang dokter.
Argghhh. Bughh. Erland berteriak histeris. Tangannya sudah tidak mencekal kerah sang dokter, tapi beralih memukul keras tembok disampingnya. Hingga kulit tangannya robek dan mengeluarkan darah. David dan Fiona menyaksikan hal itu. Mereka merasa iba melihat hancurnya Erland karena kondisi Callista.
__ADS_1
"Tapi ada satu cara yang mungkin bisa membantunya untuk sadar dan kembali pada kondisi normal" ujar dokter lagi. Erland menatap langsung wajah sang dokter dengan penuh harap.
"Katakan!" seru Erland menatap tajam dengan mata basah.
"Pasien perlu donor darah secepatnya. Golongan darahnya A positif . Dan rumahsakit kami sedang kehabisan donor darah dengan golongan itu" ujar dokter lagi. Erland terdiam sejenak. Lalu mengangguk cepat kearah sang dokter.
"Aku akan segera mencarinya. Katakan saja berapa waktu yang ku punya?!" seru Erland.
"Tidak lebih dari 3 jam. Karena jika terlambat sedikit saja, pasien akan kehilangan nyawa-nya" balas sang dokter. Erland mengiyakan ucapan itu. Namun setelahnya ia berfikir panjang.
Tiga jam? Apaa mungkin aku bisa mendapatkan donor darah secepat itu?. Batin Erland. Ia kembali mengacak rambutnya frustrasi. Lalu beralih menatap Fiona dan David setelah sadar mereka berada disana sejak tadi.
Fiona dan David mengambil duduk disamping Erland setelah kepergian doktet tadi, Erland duduk dikursi panjang yang dekat dengan ruangan UGD. Lalu Fiona mengambil duduk disebelah kiri Erland, dan David disebelah kanan Erland.
"Yang sabar ya Kak Er. Aku yakin ini ujian untuk cintamu. Setelah ini tuhan pasti akan menyatukan kalian" ujar Fiona menatap yakin kearah Erland untuk memberi kekuatan. Namun Erland hanya terdiam tanpa menjawab. Tatapannya kosong menatap kearah depan.
"Kak Call itu sangat kuat. Jadi tidak perlu mengkhawatirkannya. Kak Call akan segera sadar dan terbangun. Sekarang dia hanya sedang tertidur. Dan akan segera bangun dalam tidurnya" ujar David. Dan tak mendapat balasan juga dari Erland.
"Kakak harus pergi sekarang. Waktunya kurang dari 3 jam. Dan Kakak harus segera mendapatkan donor darah itu!" ujar Erland. Ia bangkit berdiri dan berlalu cepat meninggalkan keduanya.
Disisi lain Fiona dan David saling menatap. Mereka juga prihatin dengan kondisi Callista. Mereka ingin ikut mencari donor darah untuk Callista. Namun karena Erland sudah pergi mencari donor darah, jadilah mereka memutuskan untuk menemani Callista.
_____________________________________________
Fiona dan David menoleh kearah Erland yang berlari cepat menghampiri keduanya. Saat sudah berada dihadapan Fiona dan David, Erland terduduk lemas dilantai. Lalu mengusap wajahnya kasar.
"Donor darah itu sulit ditemukan. Kakak tidak mendapatkannya" ujar Erland sendu. Wajahnya sudah tak karuan. Antara sedih dan lelah berkecambuk menjadi satu.
Tak lama sang dokter yang tadi menangani Callista kembali datang bersama 3 suster dibelakangnya.
"Waktunya hanya tersisa 1 jam. Kami tidak punya banyak waktu. Pasien harus segera mendapat donor darah atau nyawanya akan hi_____"
"Ambil saja darahku. Aku akan mendonorkan darahku untuknya" ujar Erland menyela. Suaranya terdengar sangat berat. Ia lalu berdiri menatap sang dokter.
"Kak Er apa yang kau katakan? Kita masih bisa mencari pendonor lain" ujar Fiona yang bangkit berdiri dan mengambil posisi disamping Erland.
"Sudah tidak ada waktu Fio. Kakak tidak mau kalau harus kehilangan Callista. Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawa-nya" ujar Erland menatap kosong. Matanya sudah memerah akibat terus mengeluarkan airmata.
"Tapi golongan darah Kak Er tidak sama dengan golongan darah Kakak ipar" ujar Fiona kembali. Lalu sang dokter menatap Fiona dan Erland secara bergantian.
__ADS_1
"Apa golongan darahmu, Tuan?" ujar sang dokter.
"O positif" singkat Erland. Kemudian dokter itu tersenyum dan mengangguk.
"Kau bisa donorkan darahmu. Golongan darah O bisa mendonorkan darahnya untuk semua golongan darah" seru dokter. Tiba tiba sepercik cahaya muncul dihadapan Erland. Pria itu seperti menemukan kembali harapan dalam hidupnya.
"Tuan, ikutlah bersama suster ini. Mereka akan mengambil darahmu diruangan yang sama dengan pasien" seru dokter lagi. Lalu tanpa menunggu lama Erland berlalu mengikuti langkah sang suster. Sang dokter pun masuk kedalam ruangan ICU tempat Callista dirawat, karena tadi dokter sudah memindahkan Callista keruang ICU untuk donor darah. Sementara Fiona kembali duduk dikursi panjang bersama David. Dalam cemasnya mereka berdua sama sama berdoa untuk kelancaran dan keselamatan Callista.
Didalam ruangan ICU. Erland sudah berbaring dibangsal tepat disamping Callista yang masih terbaring. Ia melihat kearah Callista yang masih tak sadarkan diri. Tatapannya pucat pasi dan lirih. Erland bisa menyaksikan secara langsung betapa lemahnya Callista sekarang. Infusan yang terpasang dilengan gadis itu, perban yang menutupi dahinya, serta ventilator yang terpasang dihidungnya sebagai alat bantu pernafasan. Erland merasa begitu rapuh melihat kondisi Callista yang separah itu.
Seorang suster datang mendekat kearah Erland. Lalu menancapkan jarum steril untuk mengambil darah Erland. Erland hanga terdiam melihat darahnya diambil.
Hanya sedikit darah. Aku bahkan akan memberikan semua darahku. Batin Erland. Lalu tanpa sadar airmata turun dari pelupuk matanya. Mungkin untuk sebagian kalian ini terkesan berlebihan. Pandangan kalian tentang Erland seakan Erland adalah pria cengeng. Namun berbeda untuk Erland sendiri. Pria itu tidak menangis untuk darahnya yang diambil, tapi ia merasa terharu karena sedikit berguna untuk Callista.
Suster sudah selesai mengambil darah Erland. Hingga selang darah yang dihubungkan langsung dengan Callista mengalir. Erland tampak hendak bangkit dari tidurnya. Namun sang suster menghentikan pergerakannya.
"Beristirahatlah sebentar, Tuan. Tubuhmu akan terasa lemas akibat sudah donor darah" ujar suster. Erland hanya menurut dan terus berbaring. Tatapannya melihat kearah dokter yang sedang menangani Callista. Dalam hatinya pria itu berharap semoga Callista bisa cepat terbangun.
Satu jam sudah berlalu. Dokter yang menangani Callista sudah selesai. Dan Erland sudah keluar ruangan. Ia memutuskan untuk menunggu Callista diluar ruangan saja. Erland tak kuasa jika harus terus melihat wajah Callista yang terpejam.
Dokter keluar dari ruangan. Erland bersama Fiona dan David sontak berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Apa dia sudah sadar?" seru Erland terburu buru. Fiona dan David hanya terdiam menunggu jawaban dari dokter.
"Keadaannya sudah kembali normal. Namun_____" Dokter itu menunduk dalam.
"Ada apa lagi?! Cepat katakan!"seru Erland kembali mencengkam kerah sang dokter.
"Kak Er bersabarlah. Tunggu dokter melanjutkan perkataannya" ucap Fiona. Lalu Erland mendorong pelan kerah sang dokter saat melepaskan cekalannya.
"Pasien dalam keadaan koma. Kami tidak bisa memastikan kapan dia akan terbangun. Tidak tahu 1 bulan, 2 bulan, atau bahkan lebih dari itu. Karena yang kami lihat sekarang kondisi tubuhnya masih sangat lemah dan rentan" jelas sang dokter.
Seperti petir di siang bolong. Erland kembali merasa hidupnya terguncang. Ujian tidak henti hentinya menamparnya keras. Dunia seakan sedang membencinya, sehingga semua yang terjadi terasa begitu menyakitkan.
_____________________________________________
Untuk yang suka cerita ini, tolong berikan cinta kalian dengan cara mendukung cerita ini. Berikan like, komen, dan vote. Bantu author untuk meramaikan cerita ini.
Thanks u all :)
__ADS_1