Obsession Love

Obsession Love
57


__ADS_3

Erland menghentikan aktivitasnya yang menggelitiki Callista. Baru saja ia ingat bahwa hari ini ia berjanji untuk mengajak El keliling


Indonesia. Sebenarnya bukan keliling Indonesia. Melainkan hanya mengajak


mengunjungi beberapa tempat. Indonesia luas. Mustahil jika harus mengelilinginya. Kecuali orang itu mempunyai kekuatan super yang hanya langsung terbang.


“Aku harus pergi. Maafkan aku.” ujar Erland. Baru saja akan beranjak dari duduknya. Namun tangannya tercekal oleh Callista yang terlebih dulu menghentikan pergerakannya. Gadis itu menggenggam erat tangan Erland.


“Mau kemana?” selidik Callista. Erland lalu berbalik memegang tangan Callista. Menatapnya dengan senyum lembut.


“Aku punya janji.” baru saja Callista akan membuka mulutnya bertanya lebih. Erland sudah menjawabnya cepat. “Aku berjanji mengajak El keliling Indonesia.”


“Untuk apa?” sinis Callista. Tampangnya sudah menampakan wajah tidak suka. Selama bersamanya Erland tidak pernah mengajaknya kemana pun. Hanya ke bali. Itu pun Callista sendiri yang mengajak. Bukan Erland.


“Dia sudah lama di Texas. Jadi aku ingin membawanya pergi.” Callista memutar bola matnya kesal.


“Kenapa? Kau ingin ikut?” tanya Erland. Dahinya berkerut melihat Callista yang memutar bola mata.


“Tidak. Aku malas.” Ketus Callista. Wajahnya sudah menatap kesembarang arah.


“Baiklah. Kalau begitu aku pergi.” pergerakan Erland kembali terhenti ketika gadis itu kembali menggenggam tangannya.


“Apa lagi?” ujar Erland menghembuskan nafas.


“Siapa saja yang pergi?”


“Tadinya kupikir Fio dan David juga akan ikut. Tapi melihat mu yang tidak akan ikut, aku mungkin akan menyuruh Fio dan David untuk


menemanimu saja dirumah. Jadi hanya aku dan El yang pergi.”


“APA?” kaget Callista. Menatap tak percaya wajah Erland.


“Iya, memangnya kenapa?”


“Tidak. Aku hanya berubah pikiran dan ingin ikut.”


“HAH?” giliran Erland yang memasang wajah terkejut.


“Kenapa? Aku serius ingin ikut.” tekan Callista.


“Masalahnya kau sedang sakit-----“


“Aku sudah sembuh.” Sela Callista.


“Tidak. Kau masih sakit. Kau tidak bisa ikut.” tutur Erland.


“Kenapa? Apa kau ingin berduaan dengan wanita itu? Kau takut aku menggangu kalian? Hebat sekali.” Gadis itu melipat tangannya didepan dada.

__ADS_1


“Tidak seperti itu-----“


“Lalu?” menunggu jawaban Erland. Sejenak pria itu sedang menarik nafasnya lalu membuangnya dengan satu tarikan.


“Baiklah, kau boleh ikut.” pasrah Erland. Callista lalu tersenyum riang.


“Aku akan bersiap.” Callista beranjak cepat dari duduknya. Berlari menuju kamar mandi.


“APA AKU JUGA HARUS MENUNGGU MU?” teriak Erland saat gadis itu hendak menutup pintunya.


“Kau bisa tunggu diluar. Aku akan menyusul.” balas Callista. Suaranya samar dibalik pintu.


***


Detik jam berlalu. Sudah hampir satu jam Callista masih berkutat dengan aktivitasnya. Erland bersama ketiga orang lainnya masih


menunggu sabar Callista diruang tengah. Hingga didetik kemudian gadis itu keluar kamarnya menuju ruang tengah.


“Ayo,” riang Callista. Berdiri tegak dihadapan keempat orang disana. Semua pasang mata menatapnya kagum tanpa berkedip. Bahkan Fiona dan El yang sama sama seorang wanita pun berdecak kagum melihat aura pancaran


Callista. Bisa dideskripsikan dewi yunani saja kalah cantik dengannya. Tuhan seolah membisikan kata sempurna ketika mengukir wajahnya.


Erland masih menatap Callista. Senyuman manis gadis itu terus merekah dibibir mungilnya. Melihat penampilan Callista, Erland seolah menatap bidadari surga. Sebab iner beauty dari Callista benar benar terpancar. Menutup setengah kecantikan Fiona dan El.


“Apa kita akan berangkat sore hari? Ayo cepat!” seru Callista lagi. Sontak semua mata yang menatapnya berkedip cepat, tak terkecuali Erland. Pria itu langsung berdiri tegap. Berjalan mendekat pada Callista.


***


“Kau yang menyetir David.” seru Erland. Mereka sudah berada dipekarangan rumah Callista.


“Ini,” Erland melempar asal kunci mobil El pada David. Yang sontak David langsung menggapainya cepat.


“Kak Er, harusnya kak Er yang menyetir. Kak Er lebih tua disini.” ucap Fiona.


“Kakak malas. Ayo,” Erland memasuki mobil El. Membawa Callista agar ikut bersamanya. Mereka sengaja memakai mobil El karena merasa mobil El jauh lebih luas dari mobil Callista.


“Menurutlah David. Kak Er memang seperti itu jika sedang datang gilanya.” Cibir Fiona.


“Husss, kau mengawur jika berbicara Fio. Ayo cepat masuk.” ajak El. Mengikuti langkah Erland dan Callista yang sudah berada didalam mobil.


“Aku benar kak El.” teriak Fiona malas. Memutar badannya untuk menatap El yang sudah hilang dibalik pintu mobil.


“Ayo cepat,” ajak David. Tangannya menggandeng tangan Fiona. Sementara gadis ABG itu hanya menurut dengan berjalan malas.


***


Mereka sampai disana. Ditempat yang sudah Erland persiapkan. Dengan pemandangan anggun yang menyejukan. Hamburan berbagai macam bunga yang terhampar luas disekitar area itu. Callista menghirup perlahan wangi bunga yang menyeruak indra penciumannya. Hatinya terasa sejuk. Hingga tersalur pada senyum yang menghias bibir ranumnya. Matanya terpejam menikmati sensasi angin yang menyapu lembut wajahnya. Menjadikan rambut panjang Callista yang berterbangan menutupi wajahnya. Sebuah tangan kekar menyentuh pipi mulus Callista. Menyingkap helaian rambutnya hingga tersimpan dibelakang telinga. Erland membawa mereka ke tempat yang belum banyak orang tau. Tempat. dengan udara sesejuk pegunungan. Namun hamparan Bunga yang menyerbak dimana mana seolah taman Bunga.

__ADS_1


“Ayo turun,” ajak Erland. Semuanya mengangguk. Lalu berhamburan keluar dari mobil. Sementara Callista yang hendak ikut turun tercegah oleh tangan Erland yang memegangi bahunya.


“Ada apa?” tanya Callista.


“Tidak ada apa apa.”


“Kalau begitu ayo keluar. Semuanya sedang menikmati alam sementara aku masih disini.”keluh Callista memprotes. Erland lalu mencodongkan wajahnya mendekat pada wajah Callista.


“Apa kau berpikir kau masih perlu menikmatinya?-----“


“Tentu saja.” cepat Callista menjawab.


“Disini ada aku, untuk apa menikmati alam? Aku jauh lebih indah dari itu.”


“Cek, sejak kapan kau sepede itu? Sudah ayo cepat keluar.” Erland kembali menahan lengan Callista. Kembali menjadikan gadis itu menoleh lagi menatapnya.


“Apa lagi? Ayo cepat.” Kali ini Callista berhasil keluar mobil dengan tergesa. Sementara Erland yang masih berada didalam mobil


mendengus kesal. Lalu tak lama mengikuti langkah Callista.


***


“Ini sudah tengah hari. Ayo makan siang.” ajak Erland. Namun mereka seakan menolak lembut. Tempat itu sudah membuat mereka malas kemana mana.


“Kakak ipar, bujuk kak Er agar tidak terburu buru.” pinta Fiona. Yang langsung mendapat dukungan dari El.


“Aku malas. Aku tidak ingin berbicara pada siapa pun kecuali bunga ini.” sarkas Callista menjawab. Seakan orang yang hilang akal yang berbicara dengan bunga.


“Kau sudah gila. Ayo cepat bangun.” menarik Callista yang tengah berjongkok.


“Fio, El, David. Ayo!” mendengar perintah Erland yang tajam membuat mereka mengangguk terpaksa.


***


Mereka sampai disebuah restorant yang cukup dekat dengan tempat tadi. Mungkin hanya sekitar 3 kilometeran mereka menempuh jalan.


“Biar aku yang pesankan.” tawar El hendak berdiri.


“Aku saja.” sergah Callista. El tersenyum mengangguk. Lalu kemudian gadis itu melenggang pergi menuju kasir. Memesankan beberapa menu makanan dan minuman untuk mereka santap. Setelah memesannya Callista hendak kembali kemejanya. Namun rasa menggangu diperutnya ingin segera dikeluarkan. Gadis itu menghampiri kamar mandi untuk membuang air kecil. Namun belum sampai kakinya memasuki pintu kamar mandi, sebuah lengan menarik tangannya hingga membuat Callista berbalik menatap pada si pemilik tangannya itu.


Dadanya bergejolak abnormal. Melihat siapa orang yang menarik lengannya membuat bulu kuduk Callista berdiri menegang. Jantungnya


sudah maraton tak terkendali.


“Hai nona, masih ingat denganku?”


***

__ADS_1


NB : MAAF KALAU BERANTAKAN YAA. AKU NULISNYA DI LAPTOP DAN GA AKU EDIT LAGI. BIASANYA SIH NULIS DI HANDPHONE. CUMA TANGAN SUKA AMPE PEGEL GITU.


__ADS_2