
Keesokannya Callista sudah mempersiapkan diri. Dengan balutan hotpants dan baju tanpa lengan. Gadis itu sudah merias dirinya secantik mungkin.
Callista bejalan kearah kamar David yang juga terdapat Fiona disana. Callista mengambil duduk dihadapan mereka.
"Fio, kau mau pergi berlibur bukan?" seru Callista tersenyum lebar. Fiona menganggukkan kepalanya cepat.
"Tapi Kak Er tidak mengizinkannya" Fiona mengerucutkan bibirnya kecewa.
"Aku akan membujuknya sekarang. Kau bersiaplah. Kau juga David" ujar Callista beralih menatap David. Tak lama gadis itu melenggang pergi meninggalkan kamar David.
***
Callista menghampiri Erland yang tengah duduk bersandar disofa ruang tengah. Nampak pria itu melihat sekilas kearah Callista yang kemudian mengambil duduk disebelahnya.
"Aku, Fio, dan David akan pergi berlibur. Kau boleh ikut jika kau mau" sarkas Callista. Erland beralih menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa tidak ada yang akan pergi berlibur?!" Callista bungkam. Mengingat apa yang dikatakan Erland kemarin membuat dirinya skak.
"Kalau begitu aku akan tetap pergi bersama Fio dan David. Terserah jika kau tidak mau ikut!" tekan Callista. Gadis itu hendak berdiri dari duduknya. Namun terhenti saat Erland kembali bersuara.
"Kau membantahku Callista?!" mengeraskan rahang kuat. Callista menoleh menatapnya.
"Jika ya kenapa?" tantang Callista. Pertama kalinya gadis itu berani berbicara seperti itu pada Erland.
Erland meraih cepat tangan Callista. Menariknya keras hingga tubuh Callista sedikit terhuyung kedepan. Callista menatap tidak suka pada Erland. Sementara Erland menatapnya tajam.
"Pergi saja berlibur jika kau mau. Tapi itu tidak akan terjadi!" ujar Erland serius. Entah berupa ancaman atau apa perkataannya, yang jelas Callista akan terus menantang Erland.
"Sejak kapan aku peduli dengan omonganmu? Aku akan tetap pergi berlibur meski kau mencoba menghalanginya sekali pun!" tegas Callista. Tak lama ia bangkit berdiri saat tangan Erland sudah melepaskan tangannya. Gadis itu berlalu meninggalkan Erland yang menatapnya marah.
***
Callista sudah berada didalam kamarnya. Ia menyimpan koper miliknya diatas ranjang dan memasukan beberapa baju ganti untuk dirinya saat berlibur. Ya, Callista akan pergi berlibur keluar kota. Ia butuh tempat yang jauh dari rumahnya.
Callista selesai mengemasi pakaian dan beberapa keperluannya. Gadis itu membawa pergi kopernya keruang tengah, dimana masih terdapat Erland disana. Pria itu menatap lurus kearah Callista yang memeggangi koper. Tak lama Fiona dan David muncul dengan koper mereka masing masing. Callista tersenyum singkat. Lalu beralih menatap Erland.
"Kak Er, apa kau tidak akan ikut? Kenapa belum bersiap?" tanya Fiona pada Erland.
"Tidak masalah jika Kakakmu tidak mau ikut Fio. Dia sudah mengizinkan mu untuk ikut" timpal Callista sedikit berbohong.
__ADS_1
"Benarkan apa yang ku katakan?" seru Callista lagi beralih menatap Erland dengan senyum yang terukir dibibirnya. Erland hanya diam tak bersuara.
"Ayo Fio, David. Kita akan pergi sekarang" ujar Callista lagi berjalan melewati Erland yang disusul Fiona dan David dari bekakang. Namun saat hendak membuka handel pintu, tiba tiba suara bariton terdengar khas.
"Aku ikut bersama kalian!" teriak Erland yang berdiri membelakangi. Callista beserta Fiona dan David menghentikan langkahnya. Menoleh pada Erland yang kini sudah berjalan mendekat.
"Aku akan ikut!" ulang Erland lagi menekan katanya. Tatapannya menatap manik mata Callista. Sementara gadis itu hanya tersenyum penuh kemenangan.
Erland berjalan melewati mereka. Menuju mobil dan memarkirkannya.
"Kak Er, bagaimana dengan pakaianmu?" teriak Fiona. Namun Erland tak mengindahkannya.
Biarkan saja dia pergi dengan tidak membekal pakaian. Toh itu lebih bagus, agar tubuhnya kedinginan. Kekeh Callista pelan. Lalu melangkah menyusul langkah Erland.
***
Didalam perjalanan keempatnya masih bungkam. Erland yang fokus mengemudi dan Callista yang tampak bersandar sembari tatapannya melihat keluar jendela. Menikmati perjalanan yang menurutnya menyenangkan. Sementara David dan Fiona tertidur dikursi belakang.
"Kau yakin akan pergi ke bali?" Erland buka suara. Memecah hening diantara mereka. Memang sebenarnya Callista sudah mengatakan pada Erland, bahwa ia ingin pergi berlibur ke bali. Dan yang lainnya pun setuju dengan keinginan Callista.
"Memang kenapa? Tidak ada yang salah dengan bali bukan?" balas Callista tanpa menoleh. Erland hanya berdecak kesal. Seteleh itu tidak ada balasan lagi. Suasana hening kembali menyelimuti mereka.
Mereka berjalan bersama menuju kamar hotel yang sudah dibooking. Hanya dua kamar hotel yang dibooking Erland. Satu kamar untuk para wanita dan satunya lagi untuk para pria.
Mereka sampai didepan kamar hotel masing masing. Kamar hotel bernomor 1205 untuk pria dan bernomor 1210 untuk wanita.
Callista bersama Fiona masuk kedalam kamar hotel tersebut. Menggiring koper mereka masing masimg agar ikut masuk kedalam.
"Biar aku yang membawanya masuk" seru Erland mengambil alih koper yang dipegang Callista. Gadis itu hendak menolak. Namun Erland sudah lebih dulu membawa koper Callista memasuki kamar hotelnya. Tak lama Callista pun ikut masuk kedalam. Sementara Fiona masih berdiri diambang pintu dengan tatapan yang tertuju pada David.
"Apa kau tidak akan melakukan hal yang sama?" kesal Fiona mendengus.
"Aku juga membawa koper. Koper ku sangat berat. Jadi kau bawa masuk saja kopermu sendiri. Kakakmu bisa membawakan koper Kak Call karena dia tidak membawa koper" santai David membalas polos. Lalu meninggalkan Fiona yang sedang menyumpahinya.
"Pria gila! Tidak ada pria yang selabil dia. Kadang cuek kadang perhatian!" kesal Fiona mulai bermonolog.
***
Keesokan paginya. Cuaca pagi hari yang sejuk membangunkan tidur Callista. Kedua tangannya menyatu, lalu mengguliat pelan. Callista menatap Fiona yang masih terpejam disampingnya. Kemudian gadis itu bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat sebuah cahaya sang surya yang perlahan masuk melalui celah jendela kamarnya. Callista merasa tertarik dengan cahaya itu. Ia mengurungkan niatnya untuk mandi dan memilih menghampiri jendela kaca dikamarnya.
__ADS_1
Matanya terkesima melihat ciptaan tuhan yang benar benar indah. Ternyata jendela kamar Callista langsung mengekspose dengan jelas area pantai yang luas. Pasir putih dan ombak yang menghasilkan suara tenang. Sejenak bibir Callista mencetak senyum.
Terdengar suara ketukan pintu tiga kali. Callista sontak beralih menatap kearah pintu kamarnya. Kakinya tergerak mendekati pintu dan membukanya. Terlihat Erland sedang berdiri disana. Tangannya dimasukan pada saku celana pendek. Dan baju kaosnya yang sudah diganti.
Tunggu tunggu, dari mana dia mendapatkan baju itu? Bukankah dia tidak membawa koper dan satu pakaian pun?. Batin Callista. Seolah mengerti dengan arti tatapan Callista yang terus menatap pakaiannya, Erland sesegera mungkin kembali bersuara.
"Aku membelinya ditoko baju terdekat" ujar Erland. Callista nampak mengangguk anggukkan kepala.
"Bersiaplah. Kita akan pergi dalam 15 menit!" sarkas Erland.
"Kemana?" bingung Callista. Melihat pakain Erland memang sepertinya pria itu akan mengajak Callista pergi.
"Kau bersiap saja. Setelah selesai temui aku dikamarku!" Erland langsung melangkah pergi. Dan Callista buru buru menutup pintu lalu bersiap.
***
Callista sudah siap dengan balutan dress santai. Dress yang biasa digunakannya sehari hari. Gadis itu sengaja tidak memakai pakaian berlebihan karena bagaimana jika Erland ternyata membawanya ke tepi pantai.
Callista berjalan membuka handel pintu. Menutupnya kembali dan menuju kamar nomor 1205. Mengetuk pintu beberapa kali dan tak lama sosok Erland muncul membukan pintu.
"Kita hanya pergi berdua?" Erland mengangguk mengiyakan.
"Lalu bagaimana dengan David dan Fio?" seru Callista lagi.
"David sudah bangun. Aku menyuruh dia untuk menemui Fio dikamarnya" jelas Erland. Callista mengangguk kecil. Lalu tangan besar Erland menarik tangan Callista dan menggenggamnya. Membawa Callista berjalan disampingnya menuju tempat yang sudah Erland pikirkan.
Mereka sampai disana. Dimana terdapat hamparan pasir dan suara ombak yang nyaris terdengar. Terpampang indahnya pantai dihadapan mereka. Namun anehnya hanya mereka berdua disini. Tidak ada pengunjung lain atau siapa pun.
"Bagaimana bisa disini tidak ada orang?" heran Callista menelusuri setiap penjuru pantai itu.
"Ini bagian belakang pantai. Aku sengaja mengajakmu kemari. Kau berlibur untuk menghirup udara segar setelah sekian lama bukan? Dan tempat ini cocok untukmu" ujar Erland menatap wajah Callista.
"Aku bisa menghirup udara walau banyak orang. Tidak perlu hanya berdua seperti ini"
"Tidak baik untuk kesehatanmu jika kau berada diantara orang banyak. Tempat dimana terdapat orang banyak, itu tandanya udaranya sudah tidak steril. Tidak semurni dan sesejuk ditempat sunyi" jelas Erland lagi. Callista terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Erland memang ada benarnya.
Mereka duduk diatas pasir dengan posisi kaki yang berselonjor. Nampak Callista menyimpan kedua tangannya disamping sebagai penahan tubuhnya, kerena sekarang gadis itu sudah menengadahkan wajah keatas langit dengan terpejam. Sambil sesekali terdengar hembusan Callista yang sedang menghirup udara. Erland kicep melihat wajah Callista dari samping. Apalagi melihat posisi Callista yang seperti itu. Siapa yang tidak jatuh cinta? Gadis itu benar benar terlihat cantik saat terpejam. Erland juga dapat melihat betapa tenangnya wajah Callista yang tanpa beban.
Bagaimana jika dia tahu kalau aku tinggal dirumahnya karena perusahaanku sudah bangkrut. Batin Erland menatap wajah Callista lirih.
__ADS_1