Obsession Love

Obsession Love
Duapuluhlima


__ADS_3

Saat didapur, Erland mencari beberapa barang untuk memasak. Ia mengambil satu mangkuk kaca yang cukup besar. Lalu memecahkan beberapa telur disana. Erland juga menambahkan sedikit bumbun asin dan penyedap. Lalu mengoceknya perlahan. Tak lama David datang menghampirinya.


"Kakak sedang membuat apa?" seru David melihat tangan Erland yang sibuk mengocek.


"Kau akan tahu setelah makanan ini matang. Sekarang bantu saja aku. Iris sosis dan semua seafood-nya!" David mengangguk mengiyakan. Lalu mengambil pisau dan mengiris kecil sosis dan semua jenis seafood tersebut.


"Masukkan kemari!" titah Erland ketika melihat David yang sudah selesai mengiris. David lantas menurut dan memasukan hasil irisannya pada mangkuk yang berisi telur.


"Kau bisa menyalakan kompor?" seru Erland.


"Tentu saja"


"Kalau begitu nyalakan kompornya! Biar aku yang memasaknya" David terkekeh kecil mendengar ucapan Erland barusan.


"Kenapa tertawa? Aku menyuruhmu menyalakan kompor!" seru Erland lagi. Matanya sedikit menyorot tajam menatap David.


"Kakak mau memasak tapi tidak mau menyalakan kompor?" balas David dengan tawa yang sudah menggelegar.


"Aku punya trauma menyalakan kompor. Jadi tidak mau menyalakannya lagi. Lagi pula kau menurut saja. Nyalakan kompornya!" seru Erland memalingkan wajah.


"Akan ku nyalakan" ujar David sembari menyalakan kompor. "Tapi jangan bilang kalau Kakak juga tidak mau mematikannya" lanjut David lalu kembali terkekeh pelan.


"Aku akan mematikannya!" tegas Erland penuh penekanan. Lalu menuangkan perlahan adonannya pada wajan.


_____________________________________________


Setelah beberapa menit. Erland selesai dengan masakannya. Ia menaruh omlete pada piring hias. Lalu menambahkan hiasan daun seladah disana. Erland juga memberi sedikit saus dan mayones yang dibentuk inisial E dan C, dan terdapat bentuk love ditengahnya.


Erland berjalan menuju kamar Callista dengan nampan ditangannya. Nampan yang berisi sepiring omlete dan jus lemon kesukaan Callista.


Erland sampai didepan kamar Callista. Ia membuka handel pintu dan masuk kedalamnya. Lalu mendapati Callista yang sudah duduk kembali diatas ranjang. Erlan juga ikut duduk disana.


"Ayo makanlah. Aku akan menyuapimu" seru Erland. Ia menyimpan nampan diatas meja dan meraih piring omlete. Lalu memtong kecil omlete itu dan hendak memasukannya pada mulut Callista.


"Aku tidak mau!" sergah Callista. Erland terdiam sejenak dan menyimpan kembali sendok itu pada piring.


"Kau masih keras kepala?!"


"Aku tidak lapar! Jadi aku tidak mau memakannya!"


"Callista, aku tidak mau memaksamu untuk makan! Jadi kau harus menurut dan makan!" seru Erland.


"Tapi aku tidak mau!" keukeuh Callista.


"Aku sudah membuatkan ini untukmu!" tegas Erland menekan setiap katanya.


"Ini keinginanmu! Aku sama sekali tidak memintamu untuk membuatnya!" balas Callista. Erland lalu menyimpan piring itu kembali pada nampan. Dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Callista. Ia menghimpit tubuh gadis itu dengan rapat. Sampai Callista gelagapan karena sulit bernafas.


"Menjauhlah! Aku bisa mati!" seru Callista. Ia memukul keras dada Erland. Namun Erland sama sekali tak merasakan pukulannya. Pria itu justru menyimpan kedua tangannya dikedua sisi kepala Callista. Membuat Callista tidak dapat bergerak dan hanya menatap lurus. Untuk melawan pun rasanya sangat sulit. Tubuh gadis itu sudah terkunci oleh tubuh kekar Erland.

__ADS_1


"Kau tidak akan mati jika aku memberimu nafas buatan!" seru Erland menanggapi ucapan Callista. Lalu menyunggingkan senyum licik dibibirnya.


"Omong kosong! Jangan berani beraninya melakukan apapun!" ancam Callista. Namun Erland membalasnya dengan kekehan kecil.


"Bagaiman jika aku benar benar berani melakukannya?" goda Erland masih tersenyum licik menatap Callista.


"Kau sudah menikmatinya tadi. Apa kau mau menikmatinya lagi?" lanjut Erland. Wajahnya sudah menempel pada tengkuk Callista.


"Menjauhlah dariku! Apa kau tidak mengerti!" seru Callista.


"Aku akan melakukannya jika kau banyak bicara! Jadi diamlah!" ancam Erland. Tubuh Callista seketika membeku. Ia takut kejadian tadi terulang lagi.


"Sudah ku katakan menja_____ Awww!" pekik Callista ketika merasakan ngilu ditelinganya. Erland sudah menggigit telinganya keras.


"Kau suka?" seru Erland. Ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah Callista. Lalu menempelkan dahinya dengan dahi Callista.


Pria bodoh! Dia menyakiti telingaku. Mana mungkin aku menyukainya!. Guman pelan Callista melihat kesembarang arah.


"Apa?! Kau mengatakan sesuatu?" ucap Erland ketika melihat mulut Callista bergerak namun tak bersuara.


"Hah? Apa? Aku tidak mengatakan apapun! Sekarang menyingkirlah! Aku akan memakan makananmu!" balas Callista gelagapan. Ia mendorong keras tubuh Erland agar menjauh dari tubuhnya. Lalu meraih piring omlete tadi dan menyuapkan satu potong omlete kemulutnya.


"Habiskan! Aku tidak mau melihat ada sedikit sisa dipiring itu!" ujar Erland menatap Callista yang sedang mengunyah.


"Aku tidak mungkin menghabiskannya! Ini begitu banyak!" ujar Callista menyuapkan kembali omlete pada mulutnya.


"Aku tidak mau tahu!" tegas Erland.


"Jangan menatapku! Atau aku tidak akan menghabiskan makanan ini!" seru Callista menyadari Erland menatapnya dari arah samping.


"Aku suka melihat wajah tenangmu" ujar Erland. Callista yang mendengarnya merasa muak. Ia menaruh kembali piring itu diatas nampan.


"Kenapa berhenti?" ujar Erland menatap Callista yang menyimpan kembali piring itu. "Habiskan makananmu! Aku tidak akan menatapmu lagi!" tegas Erland. Ia meraih kembali piring itu dan memegangnya.


"Aku sudah kenyang. Karena itu aku berhenti!" balas Callista. Namun Erland tak menggubrisnya dan memotong kembali omlete itu lalu menyuapkannya pada Callista.


"Tunggu!" sergah Callista menghentikan pergerakan Erland. Ia menatap piring omlete dan mengernyitkan dahi melihat saus yang ditata Erland.


"Apa ini?" seru Callista melihat bentuk love serta inisial huruf E dan C yang tertera diatas omlete. Erland melirik sejenak lalu tersenyum. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Callista.


"Erland love Callista!" bisik Erland ditelinga Callista. Disertai senyum menggoda dibibirnya.


"Aku akan menghapusnya!" ujar Callista. Ia hendak mengacak ngacak saus itu agar tidak berbentuk lagi. Namun pergerakannya tertahan oleh Erland yang menempelkan sendok berisi sepotong omlete pada mulut Callista.


"Jauhkan sendoknya! Aku tidak mau memakannya lagi!" tegas Callista.


"Tidak! Kau akan tetap memakannya!" keukeuh Erland. Callista terdiam sejenak. Lalu melihat kearah jus lemon yang dibawa Erland tadi. Seketika ide gila muncul dikepalanya. Callista meraih jus itu dan memberikannya pada Erland.


"Aku akan menghabiskan makanan ini jika kau mau menghabis jus lemon ini!" tantang Callista. Ia mengangkat kedua alisnya tinggi.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan meminumnya. Rasanya sangat asam!" tolak Erland secara mentah mentah.


"Kalau begitu kau jangan memaksaku untuk menghabiskan makanan ini!" ujar Callista. Erland nampak menatapnya lesu.


"Callista jangan seperti ini. Kau harus menghabiskan makanannya!"


"Aku akan menghabiskannya. Tapi kau juga harus menghabiskan jus lemon ini! Aku hanya membuat persujuan denganmu. Kau hanya perlu menyetujuinya. Lalu setelah itu aku akan menghabiskan makanan ini" seru Callista.


"Callista aku tidak bisa! Aku tidak suka rasa asam" ujar Erland. Ia berusaha membuat Callista mengerti, namun sepertinya Callista sama sekali tidak mau mengerti.


"Kalau begitu aku tidak akan menghabiskan makanan ini!" tegas Callista. Ia hendak beranjak dari duduknya. Namun ucapan Erland menghentikannya.


"Baiklah. Aku mengalah padamu. Berikan jus itu padaku! Aku akan menghabiskannya!" suara Erland terdengar putus asa. Namun Callista yang mendengarnya menampilkan senyum kemenangan. Gadis itu memberikan jus lemon pada Erland. Erland meraihnya dan menatapnya sejenak.


"Setelah aku habiskan jus ini kau juga harus habiskan makanan mu!" seru Erland.


"Tentu" balas Callista. Tak lama Erland meminum jus asam itu dengan satu tarikan nafas. Namun tiba tiba ia tersedak saat sudah menghabiskan hampir setengahnya.


"Ada apa?" khawatir Callista melihat Erland yang batuk batuk dan seperti sulit bernafas.


"Bicaralah ada apa?!" ujar Callista lagi saat Erland tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Aku alergi rasa asam. Aku akan langsung sakit lambung dan tenggorokan jika meminum minuman asam" ujar Erland disela batuknya. Callista yang terkejut dengan ucapan Erland semakin khawatir. Ia sudah menggigit jarinya kebingungan.


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Aku tidak akan memintamu meminumnya jika aku tau kau punya alergi" ucap Callista dengan suaranya yang sudah serak.


"Aku hanya ingin kau menghabiskan makananmu. Karena itu aku mau meminumnya dan tidak memberi tahumu" ucap Erland beralasan.


"Jika terjadi sesuatu padamu apa yang harus aku lakukan? Kau ini bodoh sekali. Kau menyakiti dirimu demi aku" ujar Callista kembali. Ia sudah menahan genangan airmata yang sudah penuh dipelupuk matanya. Ditambah rasa khawatirnya yang semakin besar saat melihat Erland sudah terdampar diatas ranjang dengan kondisi tubuh yang melemas. Dan pria itu juga memegangi dadanya yang sesak.


"Aku akan melakukan sesuatu. Kau tunggu disini!" ujar Callista hendak melangkahkan kaki menuju keluar kamar. Namun Erland menarik tangannya kuat hingga tubuh gadis itu terjatuh dan membentur keras tubuh Erland. Callista menatap tak percaya pada Erland yang masih sempat sempatnya menyunggingkan senyum disela rasa sakitnya.


"Apa yang kau lakukan? Kau sedang sakit. Dan aku akan memanggil dok_____"


"Tidak perlu! Aku baik baik saja" sela Erland sebelum Callista menamatkan ucapannya.


"Kau berpura pura? Menyebalkan sekali!" seru Callista. Tatapannya mendadak berubah kesal saat melihat Erland yang terlihat santai dan tidak merasakan sakit apa apa. Callista hendak beranjak dari tubuh Erland. Namun kalah cepat dengan Erland yang lebih dulu membalikan tubuh Callista hingga kini tubuh gadis itu berada dibawah tubuh Erland.


"Lepaskan aku!" ujar Callista.


"Tidak akan! Kau sudah mengerjaiku. Kau membuatku meminum jus asam itu!"


"Tapi itu kemauan mu!" Callista mengeles.


"Tapi kau yang memaksaku!" ujar Erland. Ia mengunci pergerakan Callista dan memegang kuat tangan Callista dan menyimpannya diatas kepala Callista.


"Jangan melakukan apapun! Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ancam Callista menatam tajam Erland. Erland terkekek kecil menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Aku hanya akan sedikit menghukummu! Karena kau telah mengerjaiku!" bisik Erland pada telinga Callista. Lalu bernafas kasar ditengkuknya. Dan Callista kembali merasakan sensasi yang sama seperti yang sebelumnya. Tak lama Erland beralih menatap Callista dan mencium lembut kening itu. Lalu menempelkan dahinya pada dahi Callista.

__ADS_1


"Itu hukuman untukmu!" ujar Erland. Lalu bangkit dari tubuh Callista. Pria itu mengambil kembali nampan. Dan berlalu dari kamar Callista.


__ADS_2