Obsession Love

Obsession Love
Tigapuluhtiga


__ADS_3

Saat dalam perjalanan. Erland mendengar ponselnya berdering. Ia melirik sekilas dan kembali melihat kearah jalanan. Erland melihat ada jalanan yang sepi dan cukup luas. Ia memarkirkan mobilnya sejenak disana. Lalu meraih ponselnya untuk menerima panggilan.


"Ada apa Fio?" seru Erland pada orang disebrang telpon yang ternyata adalah Fiona.


"Kakak ipar tiba tiba sesak nafas. Dan dokter sedang menanganinya" ujar Fiona. Seketika itu pula Erland merasa cemas yang berlebihan. Ia lantas menayalakan kembali mesin mobil dan melaju dengan kecepatan maksimal. Tanpa memperdulikan lagi ucapan Fiona, Erland segera mematikan telpon sepihak dan fokus pada jalanan.


_____________________________________________


Erland menyusuri lorong rumahsakit dengan langkah yang terburu buru. Sampai beberapa orang tak sengaja ditabraknya. Ia menemui Fiona dan David yang tengah duduk dikursi panjang disamping ruangan Callista.


"Apa yang terjadi padanya?" seru Erland tak sabaran. Wajahnya penuh dengan kecemasan. Fiona bangkit dari duduknya dan berdiri dihadapan Erland.


"Dokter sedang memeriksanya Kak Er. Kami belum tahu apa yang terjadi" ujar Fiona. Lalu tak lama seorang dokter keluar dari ruangan Callista. Erland menghampirinya cepat.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa sampai sesak nafas?" ucap Erland.


"Pasien tidak ada apa apa. Dia baik baik saja. Hanya ada sedikit kesalahan dengan ventilator pernafasannya. Dan kami sudah menggantinya denga ventilator yang baru" jelas sang dokter. Erland menghembuskan nafasnya lega.


"Baiklah" ujar Erland. Ia lantas memasuki ruangan Callista disusul dengan Fiona dan David.


"Sudah Kakak bilang Kakak tidak mau meninggalkannya. Lihatlah sekarang, kejadiannya jadi seperti ini" ujar Erland menggenggam tangan Callista. Fiona dan David hanya saling menatap.


"Kak Er, ini terjadi bukan karena Kak Er pergi. Tapi memang terjadi kesalahan pada ventilatornya" ucap Fiona.


"Tidak Fio. Ini tidak akan terjadi jika Kakak ada disini" balas Erland menatap Callista. Dan Fiona hanya menatap David sendu. Sementara David sendiri menggelengkan kepala sembari tersenyum pada Fiona berusaha membuat Fiona agar tidak terlalu sedih.


_____________________________________________


Keesokan harinya. Erland kembali menerima panggilan dari Egrad yang memberitahu tentang kedatangan klien penting untuk memberikan uang investasinya. Namun setelah mendengar hal itu. Erland merasa cuek dan tak terlalu peduli. Dalam fikirannya Erland tidak akan lagi meninggalkan Callista hanya untuk menemui klien penting itu. Pria itu tidak mau jika sesuatu terjadi lagi pada Callista jika dirinya pergi.


Kau terima saja uang investasinya. Dan katakan padanya jika aku tidak bisa menemuinya!. titah Erland dalam pesan yang dikirimkan pada Egrad. Dan setelah hari itu, Erland sama sekali tidak pernah pergi lagi ke kantor meski hanya sekedar memeriksa keadaan kantor. Ia sudah meminta Egrad agar mengawasi semua karyawan yang bekerja. Dan meminta semua pekerjaan Erland agar dihandel oleh semua karyawan dengan persetujuan, bahwa semua karyawan akan mendapat gaji 2 kali lipat.

__ADS_1


_____________________________________________


Hari hari berlalu. Hingga sudah genap satu bulan Callista terbaring tak sadarkan diri dirumahsakit. Dan Erland masih setia menemani Callista. Pria itu selalu ada diruang inap Callista setiap waktu. Paling Erland hanya pulang ketika ia akan mandi dan berganti pakaian saja. Selain itu semua aktivitasnya dilakukan dirumahsakit. Seperti makan dan hal lainnya.


Sudah satu bulan Erland menemani Callista, dan sudah satu bulan juga Erland tidak pergi ke kantor. Ia bahkan tidak tahu keadaan kantor jika Egrad tidak memberitahunya.


Kala itu. Egrad memberitahu Erland bahwa klien penting protes karena Erland tidak bekerja secara profesional. Ketika Erland harus menghadiri pertemuan penting, namun Erland menolaknya karena tidak mau meninggalkan Callista. Dan hal itu tentu berakibat sangat fatal. Karena sebelum memulai kerjasama, Erland sudah menanda tanganni kontrak kerjasama. Jelas dalam kontrak itu terdapat perjanjian jika pihak A bisa membatalkan kerjasamanya jika pihak B tidak bekerja secara profesional. Dan kali ini pertama kalinya Erland mengalami hal seperti ini.


Sebuah telpon berdering. Erland melihat nama Egrad tertera dilayar ponselnya. Lalu tanpa menunggu lama Erland menjawab panggilan itu.


"Maaf mengganggu waktumu Tuan. Saya hanya ingin memberitahu jika klien penting itu mendatangi perusahaan dengan marah marah. Dia mengatakan jika dia akan membatalkan kerjasama dengan perusahaan Tuan dengan alasan perusahaan Tuan tidak profesional dan lebih mementingkan privasi. Dia juga ingin mengambil kembali uang investasinya senilai 2 triliun" ujar Egrad. Erland terdiam sejenak. Lalu wajahnya berubah masam.


"Aku tidak bisa mengatakan apa apa sekarang. Jika dia ingin membatalkan kerjasamanya, maka biarkan saja" ujar Erland seakan pasrah. Meski dalam hatinya ia merasa begitu berat.


"Satu lagi Tuan. Para karyawan juga protes karena mereka belum mendapatkan gaji mereka" Erland mengusap wajahnya kasar. Ia benar benar penat mendengar semua yang dikatakan Egrad.


"Katakan pada mereka, aku akan segera memberikan gaji mereka"


"Baiklah Tuan" tak lama telpon terputus. Dan Erland mematikan telponnya sepihak. Pria itu bersandar pada sandaran sofa yang ada disudut rumahsakit. Tatapannya menelaah kelangit langit ruangan. Dan sesekali. Melihat kearah Callista yang tak kunjung terbangun.


"Tuan, pasien sudah mendapatkan perawatan yang maksimal dan intensif. Tapi kau belum membayar sama sekali tagihan untuk bulan ini" pungkas dokter.


Kenapa semuanya harus berhubungan dengan uang?. Batin Erland mendengar ucapan dokter tadi.


"Saya akan melunasinya dengan cepat" ujar Erland. Dan tak lama dokter itu kembali melenggang pergi setelah mengiyakan ucapan Erland.


Erland meraih ponselnya disofa. Ia mengetikkan sebuah pesan singkat.


Aku akan datang ke kantor besok. Siapkan pembukuan kas dan salinan pemasukan serta pengeluaran kantor!. Isi pesan Erland pada Egrad. Lalu ia mengambil duduk disamping bangsal Callista. Ia menggenggam kembali tangan gadis itu.


"Akan ku lakukan semuanya untukmu. Apapun itu!" gumam Erland seorang diri. Ia tersenyum menatap wajah Callista.

__ADS_1


_____________________________________________


Keesokan harinya. Cuaca yang cerah menemani aktivitas Erland. Pria itu sudah siap dengan balutan jas rapi yang pas ditubuhnya yang atletis. Erland hendak pergi ke kantor untuk menyelesaikan urusannya. Pria itu memasuki mobilnya dan menancapkan gas lalu melenggang pergi.


Saat sudah sampai. Erland memasuki lantai utama perusahaan itu. Seluruh pasang mata menatapnya heran. Satu bulan terakhir Erland tidak pergi ke kantor. Jadi wajar jika seluruh karyawannya menatap heran kedatangannya sekarang. Erland tak menghiraukan semua karyawan yang menatapnya. Ia fokus berjalan menuju ruangannya.


Saat diruangan, Erland duduk dikursi kebesarannya yang sudah lama tidak ditempati. Ia merogoh ponsel dan menekan nama seseorang. Tak lama orang yang dipanggil Erland pun menyaut panggilan.


"Selamat pagi Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" ujar Egrad disebrang telpon.


"Yang ku perintahkan padamu kemarin, sekarang bawa itu kemari!" to the poin Erland, lalu mematikan telpon. Tak lama seseorang mengetuk pintu. Erland berteriak mempersilakan. Lalu orang dibalik pintu itu nampak muncul menunduk menghampiri Erland.


Egrad mendekati meja kerja Erland dengan tangan yang membawa dua map. Lalu Egrad menyerahkannya pada Erland. Erland meraihnya cepat dan membuka tiap lembaran didalam map itu. Matanya seketika memanas melihat pengeluaran perusahaan yang begitu besar.


"Apa apaan ini?! Pemasukan tidak ada sama sekali, sementara pengeluaran begitu besar. Perusahaanku bisa mengalami kerugian besar jika seperti ini!" pungkas Erland. Ia langsung menghebos Egrad dengan bentakan.


"Maaf Tuan, tapi memang itu yang sebenarnya terjadi. Hampir semua rekan kerjasama kita membatalkan kontraknya. Mereka mengira perusahaan mereka akan rugi jika menjalin kerjasama dengan perusahaan Tuan. Mereka tahu jika perusahaan Tuan tidak profesional saat bekerjasama dengan klien yang sangat penting. Dan itu berpengaruh besar pada perusahaan yang lainnya. Kalau untuk pengeluaran yang besar, itu karena Tuan terlalu sering mengambil uang perusahaan untuk pengobatan Nona Callista" jelas Egrad.


"Diamlah! Tutup mulutmu! Kau berbicara seakan kau pemilik perusahaan ini! Dengar! Aku tidak merasa keberatan jika menghabiskan uangku untuk Callista. Ini uangku, perusahaanku! Tidak ada urusannya denganmu! Jadi jangan mengatakan jika penyebab pengeluaran besar adalah karena Callista! Paham?!" bentak Erland. Ia berteriak keras dengan posisi berdiri menghadap kearah Egrad, sembari tangannya mengepal keras diatas meja.


"Maaf Tuan. Maafkan saya" ucap Egrad menunduk dalam. Jika Erland sudah seperti ini, Egrad tahu bahwa dirinya akan habis. Kepalan tangan Erland akan siap menghantamnya bertubi tubi.


"Jangan lancang lagi dengan mengatakan hal seperti tadi! Atau kau tidak akan tau apa yang akan terjadi padamu setelahnya!"


"Baik Tuan. Sekali lagi saya minta maaf. Tolong maafkan saya" ujar Egrad kembali.


"Kali ini kau ku ampuni. Tapi jika ku dengar kau mengatakan hal yang sama lagi, maka bersiaplah untuk resikonya!" ancam Erland. Egrad hanya mengangguk paham dan masih menunduk. Lalu Erland kembali terduduk dan membuka map yang satunya lagi. Ia melihat pembukuan kas yang tertera disana.


"Hanya ada kas 1,8 triliun? Kemana sisanya?!" seru Erland.


"Saya tidak tahu Tuan. Tapi itu pembukuan seluruh kas yang ada diperusahaan"

__ADS_1


Erland terdiam sejenak. Fikirannya melayang memikirkan apa yang harus ia lakukan. Sekarang perusahaannya benar benar dalam ambang kebangkrutan. Perusahaan yang sidah dirintisnya selama bertahun tahun. Perusahaan yamg sudah sukses dengan jumlah aset terbesar no 1 di negaranya. Namun kini semua itu seakan hilang. Erland hanya perlu bersiap siap untuk kehilangan perusahaannya.


"Kau bisa pergi sekarang!" seru Erland. Dan Egrad mengangguk patuh lalu melenggang pergi.


__ADS_2