
Callista mengguliat pelan. Tangannya terlentang hingga tak sengaja menyenggol wajah seseorang disamping. Callista melirik kearah samping ranjang. Nampak Erland memejamkan matanya dengan tenang. Pria itu masih pulas dalam tidurnya. Seketika Callista ingat sesuatu. Semalam saat pesta dansa berakhir, malam sudah semakin larut. Hingga yang lainnya memutuskan untuk
lanjut tidur.
Callista bangkit dari tidurnya. Lalu memposisikan tubuhnya agar bersandar disandaran ranjang. Pandangannya mengalih kembali pada Erland. Dengan memberanikan diri Callista baru saja akan menepuk pipi pria itu untuk membuatnya bangun. Namun mengingat wajah Erland yang lelah, Callista
mengurungkan niatnya.
“KAK ER! KAKAK IPAR! AYO BANGUNLAH. TIDAK LIHATKAH KALIAN
INI SUDAH SIANG?” teriak Fiona disertai gedoran dipintu yang sangat keras.
Callista terperanjat. Suara Fiona begitu menggema. Hingga Erland saja terjaga
dalam tidurnya. Pria itu mengucek ngucek matanya. Lalu sedikit menyipit untuk
melihat kearah pintu.
“Fio, pelankan suaramu! Atau pintunya akan kakak tendang dan mengenai wajahmu!” kesal Erland.
“KAK ER, KAU BERJANJI AKAN BERLIBUR SETELAH PERAYAAN DIMALAM
HARI SELESAI. TAPI SEKARANG KAU SENDIRI BELUM BANGUN.” teriak Fiona lagi.
Erland bersamaan dengan Callista menutup telinga masing masing.
“Iya iya! Kakak akan bersiap sebentar lagi. Sekarang kau pergilah!” balas Erland setengah berteriak. Tak lama terdengar hentakan langkah Fiona yang menjauh.
Erland beralih menatap Callista. Tubuhnya sedikit miring. Dan menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Garis bibirnya tertarik membentuk simetris indah.
“Kenapa?” tanya Callista. Erland melebarkan senyumannya.
“Tidak apa apa.” kata Erland.
“Maksudku kenapa melihatku seperti itu?”
“Aku senang Callista. Dalam tidurku, kau ada disampingku. Ketika aku bangun kau masih ada. Dan wajah cantikmu itu yang pertama aku lihat.” tutur Erland. Callista bersemu. Lalu membuang wajahnya untuk menutupi.
“Hei, kenapa membuang wajah? Kau tidak suka? Tapi aku mengatakan yang sejujurnya.”
“Aku menyukainya, Er.” balas Callista kembali menatap Erland dengan senyuman.
__ADS_1
“Lalu kenapa kau membuang wajah? Kau malu?” selidik Erland. Alisnya saling bertautan.
“Tidak, Er. Aku-----“ Erland menarik tangan Callista cepat. Refleks gadis itu tersungkur dan mengenai dadanya. Callista mendongak. Lalu mendapati wajah Erland yang sangat dekat dengannya.
“Bagaimana jika ku katakana kau harus terbiasa? Setelah menjadi istriku nanti, setaip kali aku bangun wajahmu yang akan aku lihat.” ujar Erland. Callista tersenyum tipis.
“Kau tau? Tidak ada yang lebih bahagia dari melihat wajah orang yang kita cintai saat bangun tidur. Dan akan aku pastikan, wajahmu akan selalu akau tatap lama sedekat ini. Tidak akan kubiarkan kau pergi dan menghindar.” parau Erland. Callista hanya diam mendengarkan. Meski kini hatinya
bahkan sudah terbakar. Dan nafas Erland yang memburu yang memicu terbakarnya
hati Callista. Untuk menghirup udara saja Callista rasanya kesulitan. Karna tidak mungkin Callista menghirup udara dari nafas yang Erland buang.
Erland lebih mendekatkan wajahnya padda Callista. Hingga didetik selanjutnya hidung mereka saling bergesekan. Dan Callista sudah menghirup kembali udara. Nafasnya sama memburu seperti nafas Erland.
Tangan kekar pria itu menahan kepala belakang Callista. Lalu.kemudian tersenyum dan menjauhkan kembali wajahnya. erland menhghempaskan bahunya pada bantal. Menatap langit langit dengan tersenyum manis. Sementara Callista sendiri masih dilanda kebingungan.
“Untuk hari ini sampai hari pernikahan kita. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu dulu. Aku ingin menikmati tubuhmu setelah resmi menjadi suamimu. Dan saat itu terjadi, jangan harap kau bisa lepas dariku!” ancam Erland bernada candaan. Callista yang semula biasa saja, kini tubuhnya menjadi menegang. Bersamaan dengan Erland yang bangkit dari tidurnya.
“Bersiaplah! Fio menagih janjiku untuk berlibur.” ujar Erland lagi. Callista tersentak. Lalu mengangguk cepat. gadis itu turun dari
ranjang.
“Tunggu!” Callista berhenti. Lalu menoleh kearah Erland.
“Tapi aku juga membawa baju ganti, Er.”
“Aku tau. Tapi aku ingin kau memakai baju pemberianku kali ini. Anggap saja ini sebuah hadiah. Kau tidak mau menerima cincinnya, tapi setidaknya pakai bajunya.” Callista terdiam sejenak lalu mengangguk. Sementara
Erland kembali tersenyum.
***
“Kakak ipar, dimana kak Er?” tanya Fiona. Callista baru saja keluar dari kamarnya.
“Dia sedang bersiap. Sebentar lagi juga dia datang.”
“Baiklah.” Fiona tersenyum. Tak lama perkataan Callista terjadi. Erland datang menhampiri keduanya.
“Kak Er, kau sangat rapi. Memang kemana kita akan berlibur? Aku pikir kita hanya akan berlibur disini dengan berkeliling. Karena udara disini sangat sejuk dan indah.”
“Benar Fio, kita akan berlibur disini. Tapi karena seperti yang kau bilang, tempat ini sangat sejuk dan indah. Jadi kakak memutuskan untuk sekalian melakukan prewed.” Tersenyum tersenyum lebar dengan bangganya. Sementara Callista yang berdiri disampingnya membolakan matanya.
__ADS_1
“Prewed, Er?” tanya Callista mematiskan.
“Iya. Prewed kau dan aku. Aku suka dengan tempat ini. Disini alamnya sangat terbuka dan lestari. Dan aku ingin tema pernikahan kita bertema alam. Begitu pun dengan prewed kita. Bagaimana denganmu?” Erland melirik
Callista.
“Tapi, Er. Bukankah terllau cepat? maksudku kemarin kau baru saja-----“
“Lebih cepat lebih baik bukan? Jadi apa salahnya jika aku ingin meyiapkan segalanya sekarang? Dimulai dari prewed, lalu hal lainnya. Aku juga sudah memanggil photographer yang lihai.”
“Waw kak Er! Kau sangat hebat dan cekatan. Dalam waktu semalam kau melamar kakak ipar. Lalu dalam sehari kau mulai menyiapkan pernikahannya. Apa pernikahannya juga akan dadakan seperti ini?” kata Fiona.
“Fio benar. Ini terlalu dadakan. Aku belum siap. Aku takut hasilnya nanti tidak memuaskan untukmu.” seru Callista. Erland menangkup wajah gadis itu agar menatapnya.
“Dengarkan aku. Aku tidak peduli hasilnya memuaskan atau tidak. Selama dengan mu, semuanya akan sempurna.” yakin Erland. Namun Callista menggeleng cepat.
“Er, pernikahan itu sekali dalam seumur hidup. Jika tidak berkesan, bagaimana bisa kita mengingatnya?”
“Kita akan selalu mengingatnya. Seperti aku yang selalu mengingatmu, kita juga akan selalu mengingat pernikahan kita. Percaya padaku, aku yakin semuanya akan berjalan lancar. Akun akan melakukan yang terbaik untuk persiapan pernikahan kita.” papar Erland menepiskan senyum.
“Aku mohon padamu. Tolong setujui keinginanku. Kau akan melakukan prewed dengan ku hari ini.” Erland menatap dalam Callista dengan pancaran keyakinan. Hingga kemudian Callista mengangguk dan menyetujuinya.
“Fio, kau dan yang lain juga bisa ikut. Setelah berada dilokasi pemotretan, terserah pada kalian. Kalian mau berpencar dan menikmati
alam, atau akan menonton kakak dan Callista.” Fiona sempat berpikir sejenak.
Namun tak urung ia mnegangguk.
“Baiklah. Aku dan yang lainnya akan ikut bersama kalian. Bahkan akan meminta mereka agar melihat sesi pemotretan kak Er dan kakak ipar. Anggap saja sebagai saksi cinta kalian.” Fiona teesenyum manis diakhir kalimat. Lalu berbalik dan meninggalkan Erland.
“Er, apa kau benar benar yakin? Apa waktunya tidak terlalu cepat?” ragu Callista lagi.
“Aku yakin. Sangat yakin. Sekarang kita pergi saja. Mungkin photographer-nya sudah ada dilokasi.” Menuntun lengan Callista.
***
Hai hai. Disini aku mau liatin cincin berlian yang Erland kasih buat Callista tapi Callista nolak dengan alasan.... ada di bab sebelumnya ya.
Ini dia cincinnya. Jeng jeng jeng:v
__ADS_1