Obsession Love

Obsession Love
74


__ADS_3

Erland tengah berjalan terburu buru. Kakinya melangkah besar


menuju ruangan Egrad. Dengan tangan yang cekatan Erland langsung membuka pintu


ruangan Egrad saat baru saja sampai disana.


Dihadapannya nampak Egrad tengah sibuk dengan beberapa


berkas yang diberikan Erland padanya. Hingga kedatangan Erland yang tiba tiba


membuyarkan pandangan Egrad untuk beralih menatap pria yang dianggapnya bos


itu.


“Maaf tuan, apa kau butuh sesuatu? Seharusnya kau panggil


aku saja. Biar aku saja yang datang menemuimu.” sopan Egrad menunduk. Sekarang


ia sudah berdiri menghadap Erland.


“Iya aku butuh sesuatu. Tapi tidak mau menunggu lama. Karena


itu aku yang datang menemuimu.” sahut Erland.


“Baik tuan. Kalau begitu katakan apa yang kau butuhkan.”


“Aku ingin kau lupakan dulu pekerjaanmu yang aku berikan


tempo lalu. Sekarang kau akan membantu ku dalam menyiapkan pernikahanku.” tutur


Erland. Nampak Egrad hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


“Baik tuan. Dengan senang hati saya akan membantu anda.”


“Kalau begitu kau bisa pergi sekarang? Pergi ke salah satu


desainer ternama dikota ini. Kau survey keadaan disana bagaimana. Apakah


pelayanannya baik atau tidak. Setelah itu beritau aku. Jika pelayanannya baik


maka aku akan memilih desainer itu untuk pernikahan ku dan Callista nanti.”


papar Erland panjang lebar.


“Tentu tuan. Secepatnya saya akan pergi. Setelah membereskan


berkas ini saya akan langsung meluncur.” Erland mengangguk mengiyakan ucapan


Egrad. Lalu tak lama kembali pergi meninggalkan ruangan itu.


***


“ER!” teriak El lantang. Suaranya bahkan terulang saking


menggemanya. Erland yang merasa namanya dipanggil berbalik. Lalu berdiri


menatap El dan menunggunya mendekat.


“Ada apa ?” tanya Erland ketika El baru saja sampai


dihadapannya.


“Aku mencarimu. Kau dari mana saja? Aku sudah keruanganmu


tapi kau tidak ada disana.” hebos El langsung. Sembari mengatur nafasnya yang


masih ngos ngosan.


“Aku baru saja dari ruangan Egrad. Aku sudah memberinya


tugas. Sekarang katakan mau apa kau mencariku?” giliran Erland yang bertanya.


“Aku ingin memberikan berkas ini. Seorang pengusaha datang


langsung kemari dan mengajukan kerjasama proyek dengan perusahaan mu. Kau bisa


melihatnya dulu. Jika setuju kau bisa mananda tanganinya.” Erland meraih cepat


berkas yang disodorkan El padanya. Lalu hendak berbalik pergi.


“Tunggu Er!”


“Apa lagi?” Erland kembali menatap El.


“Pengusaha itu bilang jika kerjasamanya kau setujui, dia


ingin proyek ini dikerjakan secepatnya. Minggu minggu ini.” pungkas El. Erland

__ADS_1


sempat berfikir sejenak. Tak lama mneyodorkan kembali berkas itu pada tangan


El.


“Kalau begitu kembalikan lagi berkas ini. Aku tidak


menyetujui kerjasamanya. Kau tau benar El, pernikahan ku dan Callista hanya


tinggal 2 hari lagi. Sekarang bukan waktunya aku fokus bekerja.” Erland  melangkah pergi setelahnya. Tidak perduli


dengan teriakan El yang terus memanggil namanya.


“Ayolah Er, kerjasama ini juga bernilai sangat mahal.” gumam


El lemah. Lalu membuang nafas lelah dan kembali pergi.


***


Malam harinya. Erland baru saja membereskan semua pekerjaan


yang menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Erland


sendiri tanpa bisa diwakilkan, sebab pekerjaannya yang lain sudah Erland


alihkan pada beberapa karyawan termasuk Egrad.


Erland melangkah santai memasuki lift lantai utama. Hingga


setalah bunyi ting terdengar Erland keluar dengan langkah yang masih santai.


Dan kehadiran Egrad yang baru saja turun dari mobil menjadikan rasa penasaran


Erland untuk bertanya.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Erland to the point.


“Pelayanannya sangat bagus tuan. Dan pekerja disana juga


ramah tamah. Saya juga sempat melihat beberapa gaun pengantin yang sangat


elegan. Saya yakin desainer itu cocok untuk tuan.” papar Egrad. Erland tersenyum


tipis.


“Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik. Kupastikan


kau mendapatkan bonus berkali lipat bulan ini.” ujar Erland. Dan giliran Egrad


“Terimakasih banyak tuan.” ucap Egrad riang. Erland tak lagi


membalas. Sekarang ia memasuki mobilnya dan melenggang pergi.


***


“Kak Er! Ayo kemari. Kita makan malam bersama.” teriak Fiona


dari arah meja makan. Erland hanya melirik sekilas lalu mengiyakan ucapan


Fiona. Dan melangkah mendekat pada meja makan. Ia duduk disamping Callista.


“Kenapa kau pulang agak larut?” tanya Callista. Erland


melihat kearahnya.


“Aku menyelesaikan dulu pekerjaan ku. Karena setelah menikah


aku akan cuti bekerja. Dan tidak ada orang yang bisa menghandelnya.” Erland


menjawab sembari tersenyum.


“Kau pasti sangat lelah kan Er? Kau melakukan segalanya


sendirian. Pekerjaanmu dan persiapan pernikahan.” sendu Callista, tatapannya


terpampang raut khawatir. Kemudian Erland membelai pipinya lembut dengan


tersenyum manis.


“Lelah sudah pasti. Tapi walau begitu aku akan tetap


melakukannya untukmu.” Callista meneteskan airmata haru. Tatapannya sedari tadi


terus terfokus menatap wajah Erland yang seakan benar benar sungguh.


“Maafkan aku.” lirih Callista.


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Aku sudah membuatmu lelah. Saat akan tidur nanti aku


berjanji akan membuatkanmu lemon hangat. Rasa lelah mu pasti langsung hilang.”


kata Callista. Yang direspon gelengan cepat oleh Erland.


“Kenapa?” tanya Callista melihat Erland yang menggeleng


gelengkan kepala kuat.


“Kau tau benar aku tidak suka lemon. Buatkan saja aku kopi


panas. Itu sudah cukup.” seru Erland waspada.


“Tapi lemon ampuh untuk menghilangkan rasa lelahmu.”


“Tidak Callista. Aku tetap tidak mau meminumnya. Rasa lelah


ku sudah hilang sekarang.” bohong Erland menepiskan senyuman paksa.


“Baiklah. Aku tidak akan membuatnya.” ujar Callista. Erland


hanya mengangguk, lalu membuang nafas lega.


“Oh ya, aku sudah dapat desainer terbaik untuk pernikahan


kita nanti. Besok kita akan pergi untuk fitting baju pengantin.” Erland


mengalihkan topik.


“Aku akan pergi bersamamu.” Callista tersenyum. Begitu pun


dengan Erland.


“InI! Kau makan saja dulu. Setelah itu istirahat kekamar.”


Callista menyodorkan piring makanan yang sudah tertata berbagai lauk disana.


Dengan cepat Erland meraihnya. Lalu mulai melahap perlahan makanan dipiringnya.


Setelah beberapa menit. Fiona mengambil minum dan mengelap


mulutnya dengan sarung tangan.


“Kak Er, aku boleh kekamar duluan?” tanya Fiona. Erland


mengangguk.


“David, kau juga bisa istirahat.” kata Erland.


“Iya kak. Selamat malam untukmu. Untukmu juga kak Call.”


balas David tersenyum sembari bangkit berdiri.


“Dah kak Er, kakak ipar!” ucap Fiona. Lalu  melenggang bersamaan bersama David.


“Jika kau ingin istirahat istirahatlah. Aku akan membereskan


dulu meja makan ini.” pungkas Callista.


“Tidak perlu. Disini ada Bi Imas. Apa kau lupa?”


“Tapi Er, aku terbiasa mengerjakan ini sendiri dirumahku.


Jadi biarkan aku melakukannya juga. Anggap saja aku membantu Bi Imas.” Callista


mulai merapikan tatanan piring dimeja makan untuk dibawanya ke wastafel. Yang


kemudian terhenti dengan tangan Erland yang mencegah pergerakannya.


“Baiklah bantu saja Bi Imas. Jangan membantuku.” ketus


Erland.


“Jadi kau butuh bantuan ku Er?” polos Callista.


“Tentu saja. Aku ingin kau memijat ku lagi dikamar ku.


Setelah itu aku bisa tidur tanpa rasa lelah yang mengganggu.”


“Baiklah Er, aku akan kekemarmu nanti.” Callista tersenyum.


“Sekarang Callista! Bukan nanti. Sekarang kau lupakan dulu


semua ini. Ayo!” Erland meraih piring piring yang sudah Callista pegang dan


menaruhnya kembali diatas meja. Lalu menarik pergelangan gadis itu untuk

__ADS_1


mengikutinya. Sementara Callista hanya menggeleng geleng kecil melihat tindakan


Erland.


__ADS_2