
Erland tengah berjalan terburu buru. Kakinya melangkah besar
menuju ruangan Egrad. Dengan tangan yang cekatan Erland langsung membuka pintu
ruangan Egrad saat baru saja sampai disana.
Dihadapannya nampak Egrad tengah sibuk dengan beberapa
berkas yang diberikan Erland padanya. Hingga kedatangan Erland yang tiba tiba
membuyarkan pandangan Egrad untuk beralih menatap pria yang dianggapnya bos
itu.
“Maaf tuan, apa kau butuh sesuatu? Seharusnya kau panggil
aku saja. Biar aku saja yang datang menemuimu.” sopan Egrad menunduk. Sekarang
ia sudah berdiri menghadap Erland.
“Iya aku butuh sesuatu. Tapi tidak mau menunggu lama. Karena
itu aku yang datang menemuimu.” sahut Erland.
“Baik tuan. Kalau begitu katakan apa yang kau butuhkan.”
“Aku ingin kau lupakan dulu pekerjaanmu yang aku berikan
tempo lalu. Sekarang kau akan membantu ku dalam menyiapkan pernikahanku.” tutur
Erland. Nampak Egrad hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Baik tuan. Dengan senang hati saya akan membantu anda.”
“Kalau begitu kau bisa pergi sekarang? Pergi ke salah satu
desainer ternama dikota ini. Kau survey keadaan disana bagaimana. Apakah
pelayanannya baik atau tidak. Setelah itu beritau aku. Jika pelayanannya baik
maka aku akan memilih desainer itu untuk pernikahan ku dan Callista nanti.”
papar Erland panjang lebar.
“Tentu tuan. Secepatnya saya akan pergi. Setelah membereskan
berkas ini saya akan langsung meluncur.” Erland mengangguk mengiyakan ucapan
Egrad. Lalu tak lama kembali pergi meninggalkan ruangan itu.
***
“ER!” teriak El lantang. Suaranya bahkan terulang saking
menggemanya. Erland yang merasa namanya dipanggil berbalik. Lalu berdiri
menatap El dan menunggunya mendekat.
“Ada apa ?” tanya Erland ketika El baru saja sampai
dihadapannya.
“Aku mencarimu. Kau dari mana saja? Aku sudah keruanganmu
tapi kau tidak ada disana.” hebos El langsung. Sembari mengatur nafasnya yang
masih ngos ngosan.
“Aku baru saja dari ruangan Egrad. Aku sudah memberinya
tugas. Sekarang katakan mau apa kau mencariku?” giliran Erland yang bertanya.
“Aku ingin memberikan berkas ini. Seorang pengusaha datang
langsung kemari dan mengajukan kerjasama proyek dengan perusahaan mu. Kau bisa
melihatnya dulu. Jika setuju kau bisa mananda tanganinya.” Erland meraih cepat
berkas yang disodorkan El padanya. Lalu hendak berbalik pergi.
“Tunggu Er!”
“Apa lagi?” Erland kembali menatap El.
“Pengusaha itu bilang jika kerjasamanya kau setujui, dia
ingin proyek ini dikerjakan secepatnya. Minggu minggu ini.” pungkas El. Erland
__ADS_1
sempat berfikir sejenak. Tak lama mneyodorkan kembali berkas itu pada tangan
El.
“Kalau begitu kembalikan lagi berkas ini. Aku tidak
menyetujui kerjasamanya. Kau tau benar El, pernikahan ku dan Callista hanya
tinggal 2 hari lagi. Sekarang bukan waktunya aku fokus bekerja.” Erland melangkah pergi setelahnya. Tidak perduli
dengan teriakan El yang terus memanggil namanya.
“Ayolah Er, kerjasama ini juga bernilai sangat mahal.” gumam
El lemah. Lalu membuang nafas lelah dan kembali pergi.
***
Malam harinya. Erland baru saja membereskan semua pekerjaan
yang menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Erland
sendiri tanpa bisa diwakilkan, sebab pekerjaannya yang lain sudah Erland
alihkan pada beberapa karyawan termasuk Egrad.
Erland melangkah santai memasuki lift lantai utama. Hingga
setalah bunyi ting terdengar Erland keluar dengan langkah yang masih santai.
Dan kehadiran Egrad yang baru saja turun dari mobil menjadikan rasa penasaran
Erland untuk bertanya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Erland to the point.
“Pelayanannya sangat bagus tuan. Dan pekerja disana juga
ramah tamah. Saya juga sempat melihat beberapa gaun pengantin yang sangat
elegan. Saya yakin desainer itu cocok untuk tuan.” papar Egrad. Erland tersenyum
tipis.
“Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik. Kupastikan
kau mendapatkan bonus berkali lipat bulan ini.” ujar Erland. Dan giliran Egrad
“Terimakasih banyak tuan.” ucap Egrad riang. Erland tak lagi
membalas. Sekarang ia memasuki mobilnya dan melenggang pergi.
***
“Kak Er! Ayo kemari. Kita makan malam bersama.” teriak Fiona
dari arah meja makan. Erland hanya melirik sekilas lalu mengiyakan ucapan
Fiona. Dan melangkah mendekat pada meja makan. Ia duduk disamping Callista.
“Kenapa kau pulang agak larut?” tanya Callista. Erland
melihat kearahnya.
“Aku menyelesaikan dulu pekerjaan ku. Karena setelah menikah
aku akan cuti bekerja. Dan tidak ada orang yang bisa menghandelnya.” Erland
menjawab sembari tersenyum.
“Kau pasti sangat lelah kan Er? Kau melakukan segalanya
sendirian. Pekerjaanmu dan persiapan pernikahan.” sendu Callista, tatapannya
terpampang raut khawatir. Kemudian Erland membelai pipinya lembut dengan
tersenyum manis.
“Lelah sudah pasti. Tapi walau begitu aku akan tetap
melakukannya untukmu.” Callista meneteskan airmata haru. Tatapannya sedari tadi
terus terfokus menatap wajah Erland yang seakan benar benar sungguh.
“Maafkan aku.” lirih Callista.
“Untuk apa?”
__ADS_1
“Aku sudah membuatmu lelah. Saat akan tidur nanti aku
berjanji akan membuatkanmu lemon hangat. Rasa lelah mu pasti langsung hilang.”
kata Callista. Yang direspon gelengan cepat oleh Erland.
“Kenapa?” tanya Callista melihat Erland yang menggeleng
gelengkan kepala kuat.
“Kau tau benar aku tidak suka lemon. Buatkan saja aku kopi
panas. Itu sudah cukup.” seru Erland waspada.
“Tapi lemon ampuh untuk menghilangkan rasa lelahmu.”
“Tidak Callista. Aku tetap tidak mau meminumnya. Rasa lelah
ku sudah hilang sekarang.” bohong Erland menepiskan senyuman paksa.
“Baiklah. Aku tidak akan membuatnya.” ujar Callista. Erland
hanya mengangguk, lalu membuang nafas lega.
“Oh ya, aku sudah dapat desainer terbaik untuk pernikahan
kita nanti. Besok kita akan pergi untuk fitting baju pengantin.” Erland
mengalihkan topik.
“Aku akan pergi bersamamu.” Callista tersenyum. Begitu pun
dengan Erland.
“InI! Kau makan saja dulu. Setelah itu istirahat kekamar.”
Callista menyodorkan piring makanan yang sudah tertata berbagai lauk disana.
Dengan cepat Erland meraihnya. Lalu mulai melahap perlahan makanan dipiringnya.
Setelah beberapa menit. Fiona mengambil minum dan mengelap
mulutnya dengan sarung tangan.
“Kak Er, aku boleh kekamar duluan?” tanya Fiona. Erland
mengangguk.
“David, kau juga bisa istirahat.” kata Erland.
“Iya kak. Selamat malam untukmu. Untukmu juga kak Call.”
balas David tersenyum sembari bangkit berdiri.
“Dah kak Er, kakak ipar!” ucap Fiona. Lalu melenggang bersamaan bersama David.
“Jika kau ingin istirahat istirahatlah. Aku akan membereskan
dulu meja makan ini.” pungkas Callista.
“Tidak perlu. Disini ada Bi Imas. Apa kau lupa?”
“Tapi Er, aku terbiasa mengerjakan ini sendiri dirumahku.
Jadi biarkan aku melakukannya juga. Anggap saja aku membantu Bi Imas.” Callista
mulai merapikan tatanan piring dimeja makan untuk dibawanya ke wastafel. Yang
kemudian terhenti dengan tangan Erland yang mencegah pergerakannya.
“Baiklah bantu saja Bi Imas. Jangan membantuku.” ketus
Erland.
“Jadi kau butuh bantuan ku Er?” polos Callista.
“Tentu saja. Aku ingin kau memijat ku lagi dikamar ku.
Setelah itu aku bisa tidur tanpa rasa lelah yang mengganggu.”
“Baiklah Er, aku akan kekemarmu nanti.” Callista tersenyum.
“Sekarang Callista! Bukan nanti. Sekarang kau lupakan dulu
semua ini. Ayo!” Erland meraih piring piring yang sudah Callista pegang dan
menaruhnya kembali diatas meja. Lalu menarik pergelangan gadis itu untuk
__ADS_1
mengikutinya. Sementara Callista hanya menggeleng geleng kecil melihat tindakan
Erland.