
Malam hari tiba. Callista sudah siap dengan sweater tebal
yang menghangatkan tubuhnya. Angin malam yang berhembus diluar sudah sangat
menusuk. Kulit Callista saja sudah terasa menggigil, padahal masih berada didalam
rumah.
“Kakak ipar!” teriak Fiona dengan intonasi yang panjang. Ia
tengah berlari kearah Callista.
“Ada apa Fio?”
“Kakak ipar. Aku ingin bertanya. Apa kau membawa baju ganti
untuk di villa nanti?” setengah ngos ngosan.
“Tidak Fio. Untuk apa membawa baju? Kita hanya mengadakan
pesta bukan menginap-----” terpotong.
“Tidak. Kita juga akan menginap. Pesta akan berakhir sangat
larut. Tidak memungkinkan jika harus pulang kerumah. Fio, kau bisa mengemasi
beberapa baju. Setelah pesta nanti malam, besoknya kita akan berlibur. Anggap
saja untuk merayakan kemenangan kakak.” Ujar Erland. Ia sudah berdiri tepat
didepan pintu utama.
Fiona tersenyum. Tak lama berlari kembali menuju kamar.
“Aku juga akan membantu mengemasi bajumu.” Tawar Callista
menatap Erland. Erland sempat membalas tatapanya sejenak. Namun kemudian
memilih melangkah pergi ketimbang membalas perkataan Callista.
Callista menatap punggung tegap Erland yang semakin menjauh.
Seperti ada sesuatu yang bergetar dihatinya. Rasanya Callista merasakan sedang
mengalami masa sulit yang membuatnya sangat ingin berteriak histeris. Namun
lidahnya terasa kelu. Detak jantungnya pun seolah berhemti sesaat. Suaranya
sudah tercekat. Melihat keacuhan Erland seperti ini. Seolang bomerang yang
menyerang ulu hatinya. Callista merasa sulit untuk menerimanya.
***
“Apa semua sudah siap? Kalian sudah memastikan bahwa tidak
ada satu pun kebutuhan kalian yang tertinggal?” tanya Erland. El, Darius, Fio,
David dan Callista, mereka semuanya mengangguk mengiyakan ucapan Erland.
“Kalau begitu kita pergi sekarang!” pimpin Erland.
“Tunggu Er. Apa kita akan menggunakan satu mobil. Aku rasa
itu akan sangat sempit.” sela El sebelum Erland melangkah jauh.
“Tidak El. Kita menggunakan tiga mobil. Setiap mobil akan
ditumpangi dua orang.”
“Kalau begitu aku bersama David. Menggunakan mobil kakak
ipar.” Seru Fiona melirik kearah David. Yang dibalas senyuman dari David.
“Kalian bisa masuk sekarang! tapi ingat! Kendarai mobilnya
dengan hati hati. Langit sudah malam. Jalanan pasti sangat gelap. Jaga
konsentrasi kalian. Dan untukmu David. Kau jaga adikku baik baik!”
“Akan kulakukan, kak.” balas David.
Mereka masuk kedalam mobil masing masing. Dimulai dari Fiona
yang semobil dengan David. El yang sudah masuk kedalam mobil Darius. Sementara
Erland dan Callista masih saja saling menatap.
“Callista! Jika kau ingin masuk dimobilku masuklah. Dengan
senang hati aku sangat menginginkanmu satu mobil yang sama denganku.” Goda
Darius. Senyumnya tersirat nakal. Callista hanya membalas tatapannya dengan
wajah yang datar.
__ADS_1
“Dia satu mobil denganku! Ayo masuk!” ajak Erland. Callista
tersenyum tipis. Hatinya terasa kembali menghangat. Padahal Erland hanya
mengajaknya dengan cara yang biasa. Tapi begitu terkesan untuk Callista.
Berharap dengan bersuaranya Erland. Erland sudah memaafkan Callista atas
keteledorannya.
Callista kesusahan memasang sealbeth. Semua tenaga sudah dikeluarkannya
untuk menarik sealbeth itu. Hingga kemudian Erland melihat pergerakannya. Pria
itu mendekat. Tangannya seolah sedang memeluk Callista. Padahal sekarang ia
sedang membantu Callista memasang sealbeth itu.
“Ini sedikit keras. Membuang waktu jika harus memaksanya.
Kau tak perlu memakai sealbeth ini. Ini sudah malam. Tidak akan ada polisi yang
berjaga.” ujar Erland. lalu kembali duduk ditempatnya.
Beberapa bunyi mesin mobil terdengar nyaring dan menggeruh.
Erland sudah menancapkan gasnya. Hingga mobil miliknya melaju menempuh jalanan
trotoar. Mobil Erland yang pertama melaju sebagai petunjuk arah. Sementara
mobil David melaju dibelakangnya. Dan disusul mobil Darius yang paling
terakhir.
***
Mobil mereka berhenti bersamaan. Decitan rem yang bergesekan
nyaring terdengar. Erland dengan segera keluar dari mobil. Lalu memutar arah
dan membukakan pintu untuk Callista.
“Kita masuk sekarang. Ayo!” ajak Erland berjalan lebih dulu.
Semuanya mengangguk. Terkecuali Callista yang masih terpaku ditempatnya.
“Kalian bisa langsung menuju balkonnya. Egrad sudah berada
disana untuk menyiapkan segalanya. Aku akan menyusul.” seru Erland yang lagi
lagi hanya dibalas anggukan. Setelah mereka semua berlalu, Erland menatap
yang tengah berdiri menatapnya.
“Kau tidak mau masuk?” tanya Erland.
“Bukan tidak mau, tapi belum. Aku hanya akan masuk ketika
kau sudah benar benar memaafkanku.” tukas Callista.
“Er, aku tidak nyaman jika berada disampingmu dalam keadaan
kau yang marah padaku. Karena itu tolong maafkan aku.” kata Callista.
Tatapannya sendu.
“Katakan padaku atas kesalahan apa yang kau perbuat hingga
aku harus memaafkanmu?” menaikan sebelah alis.
“Kesalahan yang ku perbuat hari lalu. Ketika aku tidak
mematuhimu dan membiarkan Darius yang-----“
“Callista, aku sudah melupakan semua itu. Jadi kuharap kau
juga melupakannya. Tidak perlu meminta maaf padaku lagi.”
“Tapi Er-----“ Erland sudah mengangkat tagannya dahulu
sebelum Callista menyelesaikan pembicaraannya.
“Aku sudah memaafkamu. Dan sudah melupakannya. Sekarang ayo
masuk!” tangan Erland menarik pergelangan tangan Callista.
“Dengan satu syarat. Kau tidak akan pernah melakukan hal
yang sama untuk kedu kalinya!” ujar Erland sebelum membuat Callista melangkah.
Dengan mantap gadis itu menganggukan kepala.
“Aku pastikan tidak kan terulang lagi.” yakin Callista.
Erland tersenyum lebar. Menampakan deretan giginya yang berjajar rapi. Didetik
__ADS_1
kemudian pria itu melyangkan ciuman kecil dikening Callista.
“Ayo masuk!” Callista menganggukan kepala lagi dan
tersenyum.
***
“Ini tempatku. Kau pergilah!” suara Fiona. Tangannya
mendorong keras tubuh David yang tengah duduk dikursi yang telah didesain
seindah mungkin. Seperti kursi dan meja khusus yang didesain untuk calon
pengantin.
“Tidak mau! Aku yang pantas duduk disini! Kau bisa duduk
dikursi lain!” balas David. Tubuhnya masih diam tanpa menyingkah.
“Kau harusnya mengalah. Kau itu seorang pria! Bukan begitu
kak El?” menatap El yang terduduk disamping David.
“Kau benar Fio. Seorang pria memang harus mengalah, dalam
hal apapun itu.” El tersenyum menatap Darius yang juga terduduk dikursi mewah
itu.
“Oh ayolah. Sekarang saatnya seorang wanita yang mengalah.
Benarkan David?” tersenyum miring.
“Benar sekali kak!” teriak David ikut tersenyum. Fiona dan
El sudah mengerucutkan bibirnya kesal.
“Ada apa Fio?” tanya Erland yang baru saja sampai dihadapan
mereka.
“Aku ingin duduk dikursi mewah ini. Dan David malah duduk
disana lebih dulu. Dia juga tidak mau mengalah pada wanita.” adu Fiona yang
masih setengah kesal.
“Fio, kursi ini tidak akan diduduki oleh mu atau David. Kakak
dan Callista yang akan duduk disini. Kalian duduk dikursi yang lain.” tutur
Erland. Fiona beralih menatap wanita yang dipanggil dengan sebutan kakak ipar
itu.
“Tapi Er-----“ suara Callista.
“Sebelumnya aku memang sudah menyiapkan ini untuk kita. Aku
ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting denganmu. Karna itu aku meminta
Egrad agar mendesain dua kursi seindah mungkin dan diletakan ditengah tengah.”
mendengar penjelasan Erland barusan Callista hanya mengangguk. Dan ntah prihal
apa yang akan dikatakan Erland padanya.
David bangkit dari duduknya. Begitu pun dengan Darius yang
juga ikut berdiri. Setelahnya Erland meminta Callista agar duduk dikursi yang
tadi ditempati David. Sementara dirinya duduk dihadapan Callista yang tadinya
diuduki Darius.
“Kalian juga ikut duduk.” perintah Erland menatap Fiona, El,
David dan Darius.
Tak lama ketika mereka sudah duduk ditempat masing masing.
Egrad datang bersamaan dengan beberapa pelayan sewaan yang masing masing
membawa nampan berisi menu makan malam. Para pelayan itu menuruti setiap
perintah yang dikatakan Egrad. Hingga satu persatu menu sudah tersaji diatas
meja makan.
“Semuanya sudah beres tuan. Saya permisi.” Egrad memundurkan
tubuhnya setelah melihat Erland mengangguk atas perkataannya.
“Ayo mulai makan malamnya. Kalian bisa mengambil apapun yang
__ADS_1
kalian mau.” ujar Erland memimpin. Sontak semua orang yang ada disana tersenyum
semangat. Dihadapan mereka sudah tersaji banyak menu makanan itali.