Obsession Love

Obsession Love
69


__ADS_3

Malam hari tiba. Callista sudah siap dengan sweater tebal


yang menghangatkan tubuhnya. Angin malam yang berhembus diluar sudah sangat


menusuk. Kulit Callista saja sudah terasa menggigil, padahal masih berada didalam


rumah.


“Kakak ipar!” teriak Fiona dengan intonasi yang panjang. Ia


tengah berlari kearah Callista.


“Ada apa Fio?”


“Kakak ipar. Aku ingin bertanya. Apa kau membawa baju ganti


untuk di villa nanti?” setengah ngos ngosan.


“Tidak Fio. Untuk apa membawa baju? Kita hanya mengadakan


pesta bukan menginap-----” terpotong.


“Tidak. Kita juga akan menginap. Pesta akan berakhir sangat


larut. Tidak memungkinkan jika harus pulang kerumah. Fio, kau bisa mengemasi


beberapa baju. Setelah pesta nanti malam, besoknya kita akan berlibur. Anggap


saja untuk merayakan kemenangan kakak.” Ujar Erland. Ia sudah berdiri tepat


didepan pintu utama.


Fiona tersenyum. Tak lama berlari kembali menuju kamar.


“Aku juga akan membantu mengemasi bajumu.” Tawar Callista


menatap Erland. Erland sempat membalas tatapanya sejenak. Namun kemudian


memilih melangkah pergi ketimbang membalas perkataan Callista.


Callista menatap punggung tegap Erland yang semakin menjauh.


Seperti ada sesuatu yang bergetar dihatinya. Rasanya Callista merasakan sedang


mengalami masa sulit yang membuatnya sangat ingin berteriak histeris. Namun


lidahnya terasa kelu. Detak jantungnya pun seolah berhemti sesaat. Suaranya


sudah tercekat. Melihat keacuhan Erland seperti ini. Seolang bomerang yang


menyerang ulu hatinya. Callista merasa sulit untuk menerimanya.


***


“Apa semua sudah siap? Kalian sudah memastikan bahwa tidak


ada satu pun kebutuhan kalian yang tertinggal?” tanya Erland. El, Darius, Fio,


David dan Callista, mereka semuanya mengangguk mengiyakan ucapan Erland.


“Kalau begitu kita pergi sekarang!” pimpin Erland.


“Tunggu Er. Apa kita akan menggunakan satu mobil. Aku rasa


itu akan sangat sempit.” sela El sebelum Erland melangkah jauh.


“Tidak El. Kita menggunakan tiga mobil. Setiap mobil akan


ditumpangi dua orang.”


“Kalau begitu aku bersama David. Menggunakan mobil kakak


ipar.” Seru Fiona melirik kearah David. Yang dibalas senyuman dari David.


“Kalian bisa masuk sekarang! tapi ingat! Kendarai mobilnya


dengan hati hati. Langit sudah malam. Jalanan pasti sangat gelap. Jaga


konsentrasi kalian. Dan untukmu David. Kau jaga adikku baik baik!”


“Akan kulakukan, kak.” balas David.


Mereka masuk kedalam mobil masing masing. Dimulai dari Fiona


yang semobil dengan David. El yang sudah masuk kedalam mobil Darius. Sementara


Erland dan Callista masih saja saling menatap.


“Callista! Jika kau ingin masuk dimobilku masuklah. Dengan


senang hati aku sangat menginginkanmu satu mobil yang sama denganku.” Goda


Darius. Senyumnya tersirat nakal. Callista hanya membalas tatapannya dengan


wajah yang datar.

__ADS_1


“Dia satu mobil denganku! Ayo masuk!” ajak Erland. Callista


tersenyum tipis. Hatinya terasa kembali menghangat. Padahal Erland hanya


mengajaknya dengan cara yang biasa. Tapi begitu terkesan untuk Callista.


Berharap dengan bersuaranya Erland. Erland sudah memaafkan Callista atas


keteledorannya.


Callista kesusahan memasang sealbeth. Semua tenaga sudah dikeluarkannya


untuk menarik sealbeth itu. Hingga kemudian Erland melihat pergerakannya. Pria


itu mendekat. Tangannya seolah sedang memeluk Callista. Padahal sekarang ia


sedang membantu Callista memasang sealbeth itu.


“Ini sedikit keras. Membuang waktu jika harus memaksanya.


Kau tak perlu memakai sealbeth ini. Ini sudah malam. Tidak akan ada polisi yang


berjaga.” ujar Erland. lalu kembali duduk ditempatnya.


Beberapa bunyi mesin mobil terdengar nyaring dan menggeruh.


Erland sudah menancapkan gasnya. Hingga mobil miliknya melaju menempuh jalanan


trotoar. Mobil Erland yang pertama melaju sebagai petunjuk arah. Sementara


mobil David melaju dibelakangnya. Dan disusul mobil Darius yang paling


terakhir.


***


Mobil mereka berhenti bersamaan. Decitan rem yang bergesekan


nyaring terdengar. Erland dengan segera keluar dari mobil. Lalu memutar arah


dan membukakan pintu untuk Callista.


“Kita masuk sekarang. Ayo!” ajak Erland berjalan lebih dulu.


Semuanya mengangguk. Terkecuali Callista yang masih terpaku ditempatnya.


“Kalian bisa langsung menuju balkonnya. Egrad sudah berada


disana untuk menyiapkan segalanya. Aku akan menyusul.” seru Erland yang lagi


lagi hanya dibalas anggukan. Setelah mereka semua berlalu, Erland menatap


yang tengah berdiri menatapnya.


“Kau tidak mau masuk?” tanya Erland.


“Bukan tidak mau, tapi belum. Aku hanya akan masuk ketika


kau sudah benar benar memaafkanku.” tukas Callista.


“Er, aku tidak nyaman jika berada disampingmu dalam keadaan


kau yang marah padaku. Karena itu tolong maafkan aku.” kata Callista.


Tatapannya sendu.


“Katakan padaku atas kesalahan apa yang kau perbuat hingga


aku harus memaafkanmu?” menaikan sebelah alis.


“Kesalahan yang ku perbuat hari lalu. Ketika aku tidak


mematuhimu dan membiarkan Darius yang-----“


“Callista, aku sudah melupakan semua itu. Jadi kuharap kau


juga melupakannya. Tidak perlu meminta maaf padaku lagi.”


“Tapi Er-----“ Erland sudah mengangkat tagannya dahulu


sebelum Callista menyelesaikan pembicaraannya.


“Aku sudah memaafkamu. Dan sudah melupakannya. Sekarang ayo


masuk!” tangan Erland menarik pergelangan tangan Callista.


“Dengan satu syarat. Kau tidak akan pernah melakukan hal


yang sama untuk kedu kalinya!” ujar Erland sebelum membuat Callista melangkah.


Dengan mantap gadis itu menganggukan kepala.


“Aku pastikan tidak kan terulang lagi.” yakin Callista.


Erland tersenyum lebar. Menampakan deretan giginya yang berjajar rapi. Didetik

__ADS_1


kemudian pria itu melyangkan ciuman kecil dikening Callista.


“Ayo masuk!” Callista menganggukan kepala lagi dan


tersenyum.


***


“Ini tempatku. Kau pergilah!” suara Fiona. Tangannya


mendorong keras tubuh David yang tengah duduk dikursi yang telah didesain


seindah mungkin. Seperti kursi dan meja khusus yang didesain untuk calon


pengantin.


“Tidak mau! Aku yang pantas duduk disini! Kau bisa duduk


dikursi lain!” balas David. Tubuhnya masih diam tanpa menyingkah.


“Kau harusnya mengalah. Kau itu seorang pria! Bukan begitu


kak El?” menatap El yang terduduk disamping David.


“Kau benar Fio. Seorang pria memang harus mengalah, dalam


hal apapun itu.” El tersenyum menatap Darius yang juga terduduk dikursi mewah


itu.


“Oh ayolah. Sekarang saatnya seorang wanita yang mengalah.


Benarkan David?” tersenyum miring.


“Benar sekali kak!” teriak David ikut tersenyum. Fiona dan


El sudah mengerucutkan bibirnya kesal.


“Ada apa Fio?” tanya Erland yang baru saja sampai dihadapan


mereka.


“Aku ingin duduk dikursi mewah ini. Dan David malah duduk


disana lebih dulu. Dia juga tidak mau mengalah pada wanita.” adu Fiona yang


masih setengah kesal.


“Fio, kursi ini tidak akan diduduki oleh mu atau David. Kakak


dan Callista yang akan duduk disini. Kalian duduk dikursi yang lain.” tutur


Erland. Fiona beralih menatap wanita yang dipanggil dengan sebutan kakak ipar


itu.


“Tapi Er-----“ suara Callista.


“Sebelumnya aku memang sudah menyiapkan ini untuk kita. Aku


ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting denganmu. Karna itu aku meminta


Egrad agar mendesain dua kursi seindah mungkin dan diletakan ditengah tengah.”


mendengar penjelasan Erland barusan Callista hanya mengangguk. Dan ntah prihal


apa yang akan dikatakan Erland padanya.


David bangkit dari duduknya. Begitu pun dengan Darius yang


juga ikut berdiri. Setelahnya Erland meminta Callista agar duduk dikursi yang


tadi ditempati David. Sementara dirinya duduk dihadapan Callista yang tadinya


diuduki Darius.


“Kalian juga ikut duduk.” perintah Erland menatap Fiona, El,


David dan Darius.


Tak lama ketika mereka sudah duduk ditempat masing masing.


Egrad datang bersamaan dengan beberapa pelayan sewaan yang masing masing


membawa nampan berisi menu makan malam. Para pelayan itu menuruti setiap


perintah yang dikatakan Egrad. Hingga satu persatu menu sudah tersaji diatas


meja makan.


“Semuanya sudah beres tuan. Saya permisi.” Egrad memundurkan


tubuhnya setelah melihat Erland mengangguk atas perkataannya.


“Ayo mulai makan malamnya. Kalian bisa mengambil apapun yang

__ADS_1


kalian mau.” ujar Erland memimpin. Sontak semua orang yang ada disana tersenyum


semangat. Dihadapan mereka sudah tersaji banyak menu makanan itali.


__ADS_2