
Kembali dikediaman Erland. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Sedari tadi Erland duduk disofa ruang tamu menunggu kedatangan Fiona dan David. Namun sampai sekarang masih belum ada tanda tanda kemunculan mereka.
Erland mengepalkan tangannya kuat. Fikirannya sudah penuh dengan Fiona dan David yang tak kunjung kembali. Padahal Erland sudah memperingati Fiona agar tidak pulang terlalu malam. Tapi gadis itu melanggarnya dan membuat Erland marah.
Sebenarnya Erland bukan mengekang Fiona. Hanya saja ia takut adik satu satunya itu terjerumus pada jalan yang salah. Karena setelah kepergian kedua orangtuanya, hanya Fiona yang Erland punya. Seorang gadis kecil yang kini sudah beranjak remaja. Dan hal itu tentu membuat Erland takut jika Fiona terjerumus pada pergaulan bebas.
"Aku sudah memperingatinya. Tapi dia malah mengecewakanku. Lain kali aku tidak akan lagi mengizinkannya kemana pun ia ingin pergi!" seru Erland dengan rahangnya yang sudah mengeras. Lalu tiba tiba sebuah bel berbunyi nyaring. Erland menatap pintu dengan tatapannya yang tajam dan memanas. Lalu berteriak memanggil Bi Imas agar membukakan pintu. Tak lama Bi Imas pun datang dengan tergesa gesa menghampiri pintu dan membukanya. Lalu menampakkan Fiona dan David yang berdiri sejajar.
Fiona dan David melangkah mendekati Erland. Mereka berdiri menunduk dihadapan Erland. Erland yang melihatnya tak menggubris. Pria itu hanya menatap tajam pada Fiona dan David secara bergantian. Lalu bangkit berdiri dengan tangan kanannya yang melayang. Erland hendak menampar keras Fiona dihadapan David. Namun pergerakannya tertahan karena tangan David menahan lengan Erland.
"Jangan menamparnya Kak. Tampar saja aku, ini semua salahku. Aku terlalu asik mengajari Fio bermain piano. Sampai aku tak sadar bila langit sudah gelap. Maafkan aku" ucap David. Erland menoleh dan menatap wajahnya marah. Lalu melepaskan tangan David yang mencekal lengannya.
"Kau seorang pria. Seharusnya kau memberi contoh yang baik. Bukan justru membuat adikku melanggar perintahku!" seru Erland murka. Ia hendak melayangkan pukulan pada wajah David. Namun lagi lagi terhenti karena suara Callista yang menggema.
"David, kau sudah kembali?" teriak Callista dari arah tangga. Dan berjalan mendekat pada posisi David.
"Lain kali ajari adikmu sesuatu yang benar!" ujar Erland yang ditujukan untuk Callista. Callista yang tak mengerti menoleh heran.
"Dan kau! Jangan berani berani lagi mengajari adikku bermain piano! Dengan alasan belajar piano kau membuat adikku menjadi pembangkang!" seru Erland lagi mengangkat jari telunjuknya menunjuk wajah David.
"Jangan lancang mengangkat jarimu pada adikku. Aku tahu betul bagaimana dia. Aku sangat mengenalnya. Dia tidak mungkin membawa seseorang pada keburukan! Jadi jangan pernah menyalahkannya untuk kejadian ini!" tekan Callista menatap tajam Erland.
"Satu lagi! Memang apa salahnya jika adikmu baru pulang? Ini baru pukul 7 malam. Belum begitu larut!" seru Callista lagi.
__ADS_1
"Urusanku bukan denganmu! Tapi dengan pria ini!" seru Erland menunjuk David.
"Dan pria ini adalah adikku! Urusannya akan menjadi urusanku juga!" tegas Callista.
"Kak Call sudah. Aku tidak mau kalian bertengkar gara gara aku. Aku akan semakin merasa bersalah" ujar David dengan wajah yang sudah sendu. Callista menoleh dan menatap adiknya.
"Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan kesalahanmu. Tapi ini adalah kesalahan pria ini. Dia tidak ingin adiknya berperilaku buruk karena pergaulan bebas. Tapi buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika prilakunya saja buruk, maka adiknya tidak akan jauh seperti dirinya!" ujar Callista menatap hina wajah Erland. Erland yang mendengar perkataan Callista barusan mendadak mata dan telinganya memanas. Hatinya seakan sudah berapi api.
"CALLISTA!!" teriak Erland. Tangannya melayang keras mengenai pipi Callista. Fiona dan David menyaksikan tindakkan itu, lalu saling menatap terkejut. Mereka tidak menduga jika kesalahan mereka akan berakibat fatal dan menjadikan Callista jadi sasaran dari kemarahan Erland.
Callista yang merasakan panas pada pipinya hanya terdiam membisu dengan airmata yang bercucuran dipipinya. Lalu tangannya memegangi pipi yang terkena tamparan itu. Pandangannya masih menatap kearah lantai.
Sementara Erland yang tersadar akan tindakkannya menyesal. Pria itu sudah melayangkan tangannya menampar Callista. Erland menatap tangannya yang tadi ia gunakan untuk menampar Callista. Kemudian wajah penuh penyesalan memenuhi wajahnya.
"Diam! Sudah ku duga ini akan terjadi. Penilaianku tentangmu tidak salah. Kau adalah pria kasar tanpa berperasaan!" lirih Callista disela tangisnya. Lalu tangannya menarik lengan David menuju pintu utama. Mereka hendak pergi dari rumah itu. Dan Fiona yang melihatnya sudah beruraian airmata. Kesalahannya sudah membuat bencana besar dirumah itu.
"Callista kau mau kemana?!" sergah Erland ketika mereka membuka handel pintu. Callista menoleh dan menatap Erland.
"Kau masih bertanya?" Callista tersenyum miring dengan airmata yang masih bercucuran. "Ini bukan rumahku! Dan tindakkan mu barusan menunjukkan bahwa aku tidak pantas tinggal dirumah ini! Aku akan membawa adikku kembali kerumah kami. Jadi kau tidak usah khawatir lagi karena adikku tidak akan membawa keburukan lagi untuk adikkmu!" lanjut Callista. Kemudian kakinya kembali melangkah meninggalkan rumah itu.
"Arrgghhh!" pekik Erland menendang sofa sekeras mungkin hingga sofa tersebut sedikit tergeser. Pria itu mengacak rambutnya kasar. Lalu tubuh kekarnya jatuh kelantai dan tumbang disana. Erland menatap kepergian Callista dengan begitu menyesal dan terpukul. Sebenarnya Erland sangat ingin menyusul langkah Callista dan membujuknya untuk tidak pergi. Tapi kesalahannya sudah membuat semuanya seakan tidak mungkin. Callista adalah gadis keras kepala. Tidak akan mudah bagi Erland untuk membujuknya. Apalagi setelah pria itu menyakitinya.
Erland masih terduduk lemas diatas lantai. Dan tanganmya tak henti memukul lantai begitu keras. Hingga terdapat beberapa luka yang membekas ditangannya. Fiona yang menyadari itu merasa sangat bersalah. Kesalahannya telah menjadi malapetaka dan kehancuran. Gadis itu menatap nanar pria dihadapannya. Lalu buliran kristal semakin deras mengalir melewati pipinya. Fiona tahu, jika Kakaknya begitu mencintai Callista dengan dalam. Namun kini Callista pergi dan membuat Kakaknya seperti kehilangan kehidupan. Dan tentu Fiona menyadari jika semua itu adalah kesalahannya.
__ADS_1
"Kak Er maafkan aku. Ini semua terjadi karena_____"
"Pergilah kekamarmu!" potong Erland sebelum Fiona menyelesaikan ucapannya. Dan mau tidak mau Fiona hanya menurut dan melangkah menuju kamarnya dengan kaki yang sudah lemas. Sementara Erland masih dengan posisinya.
_____________________________________________
Disisi lain. Callista dan David tengah berjalan menyusuri jalanan yang sudah sepi dan gelap. Sebenarnya Callista bisa menggunakan mobilnya yang tersimpan diparkiran pekarangan rumah Erland. Karena ketika hendak melarikan diri kala itu, Erland memintanya pulang bersama, dan saat itu Erland juga memerintahkan Egrad untuk membawa mobil Callista kerumah Erland. Namun karena marah, Callista tidak berfikir panjang dan tak mengingat untuk mengambil kunci mobilnya. Sekarang jika sudah begini, Callista tidak mungkin kembali kerumah itu untuk sekedar mengambil kunci mobilnya.
"Kau kuat, kan? Jika kita berjalan menuju rumah?" seru Callista. Kemudian David mengangguk cepat.
"Kakak lupa mengambil kunci mobil dan uang, dan juga meninggalkan ponsel Kakak disana. Jadi kita juga tidak bisa memesan taksi" lanjut Callista lagi.
"Tak masalah Kak Call. Semua ini terjadi karena aku. Aku yang harus bertanggung jawab. Bukan Kak Call" ucap David menatap sendu kearah Callista.
"Tidak. Ini bukan kesalahanmu. Tapi kesalahan pria itu" ujar Callista memegang bahu David dan tersenyum.
"Tidak Kak Call. Ini kesalahanku. Kakaknya Fio tidak bersa_____"
"Tolong jangan membahasnya lagi!" pinta Callista. Dan David menghentikan ucapannya lalu mengangguk. Dan mereka masih meneruskan perjalanan menuju rumah Callista dibawah gelapnya awan yang menghitam.
_____________________________________________
"Aku punya tugas untukmu! Cari Callista dan awasi dia. Dia pergi dari rumahku bersama adiknya. Kau jaga dia! Jangan sampai dia terluka dan jangan membiarkan apapun terjadi padanya! Kau mengerti?!" seru Erland dibalik telpon. Pria itu memerintahkan Egrad untuk mengawasi Callista agar selamat.
__ADS_1
Kemudian Erland melempar ponselnya keras kelantai hingga terpental dan mengeluarkan bunyi. Ponsel itu hancur dan sudah tak berbentuk. Erland kembali menendang sofa dan mengusap wajahnya kasar. Sambil sesekali berteriak marah.