Obsession Love

Obsession Love
62


__ADS_3

“Kau sudah berbicara dengannya?” tanya El pada Callista.


Mereka berdua berada dimeja makan. Menyiapkan sarapan untuk semua orang yang


ada dirumah itu.


“Sudah ku coba membujuknya.” singkat Callista. Tangannya


sibuk mengelap piring. Sementara El tiba tiba menghentikan aktivitasnya yang


sedang meyajikan makanan.


“Lalu?”


“Apa? Aku tidak tau dia akan setuju atau tidak.” Callista


selesai mengelap piring yang terakhir. Tak lama Erland mendekat pada kedua


gadis itu. Langkahnya hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai dimeja makan.


Namun kemudian teralihkan ketika suara ketukan di pintu utama terdengar pada


setiap kuping mereka. Erland membalikkan arah lajunya. Berniat membukakan pintu


itu.


“Ada urusan apa kau kemari?!” tanya Erland to the poin.


Dihadapannya terlihat Darius berdiri dengan tegapnya. Lagi lagi pria itu


datang.


“Siapa yang mengundangmu kemari?” tanya Erland lagi.


“Aku!” teriak Callista. Erland membalikan tubuhnya menatap


gadis dibelakangnya.


“Untuk apa?!” geram.


“Untuk membantumu.”


“Kalau begitu suruh dia pergi! Aku tidak akan sudi melihat


wajahnya ada disini!” Erland malangkah melewati Callista. Berada disana benar


benar tak penting untuknya.


“Masuklah. Kau bisa ikut sarapan bersama kami.” ajak


Callista. Setelahnya berlalu pergi.


“Ayo ikut aku!” ajak El tersenyum. Bagaimana pun Darius


adalah temannya yang harus ia sambut, meski bukan dirumahnya sendiri.


***


Sarapan dirumah itu telah usai. Sementara Erland memilih


pergi dan duduk disofa. Yang kemudian diikuti Callista dan Darius yang juga


berbincang masalah bisnis Darius yang sudah melejit.


“Dari dulu aku punya mimpi untuk menjadi pembisnis besar.


Tapi apalah daya ku, aku tidak punya kemampuan untuk itu.” tukas Calliista. Darius


hanya menanggapinya dengan senyum. Sementara Erland sendiri sudah menatap tajam


Darius dengan sudut matanya.


“Aku bisa mengajari mu jika kau mau.” tawar Darius.


“Tidak. Sekarang aku sudah tak tertarik. Oh ya, kita bisa


membicarakan apa misi dan strategi mu untuk membantu perusahaan Erland.”


seketika Erland menatap Callista tegas. Gadis itu selalu berbicara yang


berhasil membuatnya emosi. Erland bangkit dari duduknya. Berlalu meninggalkan


Callista disana.


Callista menatap kepergian Erland. Dari wajahnya Callista


tau jika pria itu marah. Tapi harus bagaimana lagi, Callista sudah berusaha


membujuknya. Dan pria itu tetap saja keras kepala. Tak lama El datang membawa


minuman untuk mereka dengan jumlah 4 cangkir. Namun melihat Erland tidak ada


disana, El mengambil kembali satu cangkir untuk Erland dan satu cangkir


untuknya. Tanpa berkata gadis itu sudah melenggang pergi menemui Erland.


El membuka handel pintu kamar Callista. Ia tahu jika Erland


pasti ada disana. El melangkah lebih jauh memasuki ruangan dengan nuansa wanita


itu. Kemudian mendapati Erland yang terduduk ditepi ranjang membelakanginya.


Dihadapannya El melihat tangan pria itu meremas ponselnya kuat.

__ADS_1


“Katakan padaku, apa kau marah?” El sudah terduduk disamping


Erland.


“Itu bukan pertanyaan El.” Tekan Erland tanpa menoleh.


Tatapannya tajam kearah depan.


“Aku tau. Jawabannya sudah pasti kau sangat marah. Karena


itu aku punya ide yang bagus untukmu.” Erland menoleh menatap El.


“Kau bisa setujui keinginan gadis mu itu-----“


“El!” geram Erland.


“Tunggu aku selesai bicara. Maksudku jika kau setuju


dengan keinginan Callista, maka kau sendiri yang akan berhadapan dengan Darius.


Bukan Callista. Dengan begitu kau tidak akan melihat kedekatan mereka.”


“Aku tau kau bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan siapa


pun. Kau sangat pintar dan cerdik Er. Bisa ku katakan kepintaranmu jauh lebih


tinggi daripada Darius. Darius bukan tandinganmu. Hanya saja sekarang


kondisinya sedang lemah. Perusahaanmu membutuhkan dana yang cukup besar untuk


kembali ke titik normal. Dan mungkin Darius yang bisa membantumu untuk


berinvestasi. Maksudku jika kau menerima bantuannya, maka perusahaanmu bisa


lebih dari kata sukses. Dan kau tidak akan melihat kedekatan Callista dan


Darius lagi. terlebih untuk investasi Darius, kau bisa mengembalikan uangnya


ketika perusahaanmu sudah normal nanti. Semua jadi imbas dan selesai. Kau tidak


akan merasa berutang jasa atau apapun kepada Darius. Tidak akan ada yang


dirugikan dan tidak ada yang diuntungkan dalam hal ini. Intinya permasalahan


sudah selesai.” tambah El. Erland hanya terdiam mendengarkan dan mencerna perkataan El.


“Satu hal lagi. Apa kau akan menyia nyiakan usahaku Er? Aku


sudah membantumu dalam membuat proposal dan dokumen serta file yang dibutuhkan.


Dengan menerima investasi Darius, maka semuanya terselesaikan. Aku tidak akan


merasa sia sia dalam membantumu menyiapkan strategi.” lanjut El lagi. kali ini


yang terakhir. Karena setelahnya El kembali pergi meninggalkan Erland. Erland


menolak investasi Darius. Sementara perusahaannya saja dulu selalu menerima


investasi dari para pengusaha sukses. Yang jadi masalahnya adalah Darius


sendiri. Pria itu yang sudah membuat gerbang permusuhan antara Erland dan diirinya.


Ketakutan Erland hanya satu, yaitu takut jika Callista terjerembab pada tipu muslihat


Darius. Namun setelah mendengarkan perkataan El. Seperti sebuah pencerahan


untuk Erland. pria itu berpikir akan mencoba mengizinkan Darius untuk menjadi


investor pertama diperusahaannya.


***


Erland keluar kamar. Langkahnya kembali mengahampiri ruang


tengah. Masih terlihat Callista yang tengah berbicara dengan tertawa. Hingga


Erland kemudian cemburu melihat kedekatan mereka. Mereka baru saja bertemu


beberapa kali. Masih bisa terhitung jari. Tapi Darius sudah berhasil membuat


tawa Callista merekah.


Erland lebih mendekat pada mereka. Malah ia mengambil duduk


ditengah tengah Darius dan Callista. Keduanya sempat heran melihat tindakan


Erland. terlebih Callista. Kini Erland duduk disampingnya dengan posisi yang


menghadap lurus kearah Darius.


“Aku setuju dengan investasimu. Aku menerima mu menjadi


investor pertama di perusahaanku. Tapi setelah perusahaanku berada ditiik normal,


kau bisa pergi dengan membawa uangmu!” tegas Erland. Meski dalam ucapannya berakhir


pengusiran.


“Kau serius?” shocked Callista. Tangannya menggapai pundak


Erland dan membalikannya. Sejenak Erland beralih menatapnya.


“Demi dirimu!” Callista tersenyum mendengar pernyataan

__ADS_1


Erland.


“Tentu saja dia akan setuju. Kalau begitu kesepakatannya


sudah dimulai. Deal?-----“ Erland membalas uluran tangan Darius yang tersodor


padanya. Sesaat mereka berjabat tangan.


“Deal!” tekan Erland. memutuskan jabatan tangan mereka. Darius


tersenyum kearah Callista. Begitu pun gadis itu.


“Sekarang kau ikut aku!” Erland beranjak berdiri. Meraih


tangan Callista, lalu membawanya ikut pergi. Melihat Callista memberikan


senyuman pada Darius membuatnya tak nyaman.


“Aku tidak percaya kau berubah pikiran dan menyetujuinya.”


senang Callista. Mereka masih berjalan beriringan.


“Kau mau aku membatalkannya lagi? bersikaplah sewajarnya! Kau


sangat senang seakan bisa lebih lama menatap pria itu!” Erland fokus menatap


jalan didepannya.


“Aku senang bukan untuk itu. Tapi aku merasa bisa membantumu.” balas Callista. Erland tak lagi membalasnya. Mereka sendiri sudah berada dikamar Callista. Erland kembali menutup pintunya rapat.


“Sekarang kau bantu aku.” ujar Erland. Callista sudah terduduk ditepi ranjang. Dan Erland sibuk mengambil berkas yang tertumpuk disofa.


“Aku? Maksudmu?” ulang Callista. Menunjuk dirnya dengan telunjuk.


“Iya kau. Kau bantu aku periksa semua berkas ini.” Erland sudah kembali dengan banyak berkas ditangannya. Callista sendiri tidak mengerti harus diapakan berkas sebanyak itu.


“Ayo cepat. kenapa hanya diam?”


“Aku tidak mengerti apapun dengan semua ini.” bingung Callista.


“Kau hanya perlu memeriksanya. Tidak ada yang perlu dimengerti.”


“Masalahnya apa yang harus ku periksa?”


“Isi hatiku yang berada diberkas itu.”


“Hah?” ujar Callista melongo. Kedua alisnya bertautan.


“Tentu kau periksa isinya sudah benar atau tidak? Jika masih ada kekurangan kau beri tau aku!” larat Erland. Callista mengangguk sesaat. Mengambil satu berkas tipis dengan map berwarna merah.


“Apa menurutmu ada kesalahan dalam berkas ini?” tanya Callista cengo. Erland menghembuskan nafas beratnya.


“Berikan padaku! Ini berkas yang berisi tandatanganku sebagai pemilik perusahaan. Untuk apa kau memeriksa yang tidak penting? Kau ambil lagi berkas yang lain.” Callista mengangguk cepat. Kembali meraih satu map. Kali ini map yang lebih tebat berwarna coklat.


“Apa berkas ini juga tidak penting? Aku tidak menemukan kesalahan apapun.” tanya Callista lagi.


“Tentu saja tidak. Ini hanya berkas investasi beberapa tahun lalu. Kau ambil lagi berkas yang lain.” ujar Erland. Kembali fokus pada aktivitasnya yang tengah membaca beberapa berkas. Sementara Callista sendiri mendengus mendengar jawaban Erland. Setiap berkas yang diambilnya selalu tak penting. Kali ini Callista mencoba mengambil lagi satu berkas. Berharap berkas itu penting dan perlu diperiksa.


“Aku menemukan kesalahan. Kau lihat ini? Tanda tanganmu belum tertera diberkas ini. Huft, akhirnya aku menemukan berkas yang harus diperbaiki. Sekarang kau taruh tanda tanganmu disini.” riang Callista. Matanya sudah berkilat senang. Namun melihat wajah Erland yang biasa saja membuat senyum diwajah gadis itu sirna,


“Tentu saja tidak ada tanda tanganku disana. Itu berkas penipuan. Beberapa tahun lalu ada orang yang ingin menipu ku dengan alasan berinvestasi. Tapi ketika kubaca isi berkasnya adalah pengalihan nama pemilik perusahaan. Karena itu aku tidak menyimpan tanda tangan ku disana. Dan sekarang kau ingin aku menanda tanganinya? Apa kau terlibat dalam penipuan itu?” Erland menaikan alisnya tinggi menatap wajah Callista yang tiba tiba datar dan lesu.


“Kalau begitu aku salah lagi. Aku memang tidak ahli dalam hal ini. Aku tidak mengerti apapun. Tapi kau malah memintaku untuk mengahadapi semua berkas ini. Maafkan aku karena tak berguna untukmu.” Callista menunduk dalam. Tampang kecewa sudah tersirat jelas diwajahnya. Kedua tangannya juga saling bertautan meremas. Tiba tiba Erland mengangkat wajah Callista dengan telunjuknya, membuat gadis itu menatap dirinya.


“Tidak masalah jika kau tidak mengerti apapun dan tidak


mampu membantuku. Kehadiran mu disiku sudah lebih dari cukup membantuku. Kau


penyemangatku, tujuanku, prioritas, kau segalanya.” tutur Erland yakin. Tangannya


menjadi membelai lembut wajah Callista.


“Kau serius? Kau menganggapku seperti itu?” haru Callista


ketika mendengar perkataan pria dihadapannya. Dengan cepat Erland mengangguk.


“Kau segalanya bagiku. Kau lebih dari cukup. Kau hanya perlu


terus berada disampingku. Temani aku menitih karir ku. Itu sudah cukup membantu


ku.” ujar Erland lagi. Dengan cepat Callista mengangguk yakin. Senyum haru


sudah menghiasi bibirnya. Dengan secepat aingin Callista menubruk tubuh kekar


Erland. Memeluknya haru. Perkataan Erland bukan sekedar penggalan puisi cinta.


Bukan hanya sebuah gombalan mainstream. Bukan surat cinta untuk Starla. Apalagi


godaan sang anak raja. Tapi lebih dari semua itu. Perkataan sweet Erland seakan


layaknya tombak besi yang mengenai ulu hati gadis itu. Ketika lama Callista


menjalin hubungan dengan Alvis. Tak pernah sedikit pun Alvis membuat Callista


melambung dengan kata kata manisnya. Tapi perkataan Erland tadi benar benar


membuat Callista dihargai dan begitu diinginkan. Hati gadis itu kembali


terkoyak. Semakin lama bersama dengan Erland seolah menemukan apa itu cinta


yang sesungguhnya. Getaran hatinya terasa berdesir hebat. Hingga lambat laun


waktu mulai menumbuhkan benih cinta dalam hatinya.

__ADS_1


Callista Quinza. Dia adalah gadis beruntung yang dapat


dicintai pria bertanggung jawab penuh pesona semanis Erland Christopher.


__ADS_2