
Callista mengerjapkan kedua matanya. Mengucek matanya perlahan menggunakan tangan. Callista melihat kearah sampingnya dengan tatapan yang masih buram. Tidak ada siapapun disana. Bahkan Callista tidak melihat tanda tanda seseorang habis tidur disampingnya. Kasur disampingnya benar benar rapi tanpa kusut.
Apa dia secepat itu menghilang?. Atau yang semalam aku hanya bermimpi? Dan sebenarnya pria itu tidak tidur diranjangku?. Batin Callista. Lalu kakinya tergerak menuruni ranjang. Callista menghampiri kamar mandi untuk membersihkan diri. Mungkin setelah mandi Callista akan merasa tubuhnya sedikit segar.
Callista memegang handel pintu kamar mandi. Membukanya perlahan lalu masuk kedalam. Tubuhnya seketika terpaku melihat apa yang ada dikamar mandinya. Sesuatu yang tak diduga Callista. Gadis itu melihat pemandangan tak mengenakkan. Seorang pria tengah berdiri membelakangi dengan bertelanjang dada. Hanya sebuah boxer pendek yang menutupi area kejantanannya.
"Oh astaga!" pekik Callista dengan segera membalikkan tubuhnya. Mata gadis itu seakan sudah terkontaminasi melihat hal yang tak seharusnya.
Pria itu ternyata Erland. Erland lantas membalikkan badan saat mendengar suara Callista yang memekik, lalu menatap kearah Callista yang membelakanginya. Erland berjalan mendekat kearah Callista. Lalu berdiri disampingnya. Callista yang menyadari itu dengan cepat mengangkat kedua tangannya menutupi matanya.
"Apa yang kau lakukan?" heran Erland menatap wajah Callista yang ditutupi tangan. Callista terdiam tak menjawab. Lalu Erland mengarahkan tangannya memegang pundak Callista. Mencoba membalikan tubuh gadis itu agar menghadapnya.
Artinya semalam bukan mimpi. Dia benar benar tidur diranjangku. Dan sekarang sosoknya ada disini. Batin Callista merasakan tangan Erland yang menyentuh sebelah pundaknya.
Erland penasaran dengan apa yang dilakukan gadis dihadapannya. Bukannya menjawab pertanyaan Erland, Callista malah bungkam dengan terus menutupi wajahnya. Akhirnya Erland memberanikan diri untuk meraih tangan Callista agar membuka wajahnya. Sekarang wajah Callista sudah tidak terhalangi oleh tangan. Namun matanya masih tetap terpejam. Erland mendengus kesal. Tak mengerti apa maksud gadis itu .
"Apa aku juga harus membukakan matamu?" ujar Erland. Callista terkesiap mendengar ucapannya. Lalu dengan cepat menggelengkan kepala.
"Kalau begitu buka matamu!" Callista menggeleng lagi. Erland kesal sendiri. Lalu sepintas ide terlintas dipikirannya.
"Baiklah tak usah membukanya. Aku akan pergi sekarang" seru Erland melangkah pergi. Namun bukannya keluar kamar mandi, ia malah berjalan kebelakang tubuh Callista. Erland berdiri membisu dibelakang tubuh gadis itu. Menyadari sudah tidak ada Erland disana, Callista sontak menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Gadis itu dengan cepat membalikan kembali tubuhnya. Namun----
__ADS_1
"Aaaa" pekik Callista nyaring menggema. Tubuhnya membentur keras sesuatu yang kekar. Callista membelalakan matanya melihat wajah Erland yang tepat berada didepannya. Jarak wajah mereka sangat dekat. Hingga hembusan diantara keduanya nyaris terdengar. Callista menatap lekat mata coklat milik Erland. Begitu teduh dan menenangkan. Menatap manik mata Erland seakan menatap surga bagi Callista, begitu indah.
Erland melambaikan sebelah tangannya pada wajah Callista. Menyadari Callista yang sedari tadi hanya diam menatapnya membuat Erland berkerut dahi. Pria itu lantas menyadarkan Callista. Sontak Callista mengerjapkan matanya berulang.
"Apa yang kau pikirkan?" tukas Erland menatap wajah Callista yang gelagapan.
"Tidak ada apapun yang aku pikirkan" ketus Callista. Erland memicingkan matanya tak percaya. Ucapan Callista seakan sebuah kebohongan.
"Aku tidak yakin kau berbicara jujur" imbuh Erland. Callista menatap sejenak wajah Erland. Lalu sedikit memajukan wajahnya pada telinga Erland.
"TERSERAH!" teriak Callista tepat ditelinga Erland. Erland refleks menutup telinganya dengan sebelah tangan. Teriakan Callista berhasil masuk sepenuhnya ditelinga Erland. Pria itu seperti merasakan gendang telinganya seakan mau copot.
Callista tidak memperdulikan tindakkannya barusan. Justru dalam hatinya Callista tertawa menang. Setelah merasa puas dengan tindakannya, gadis itu hendak berbalik badan meninggalkan Erland. Namun terhenti ketika Erland meraih tangannya dan kembali membalikan tubuh Callista hingga tubuhnya membentur keras dada bidang milik Erland.
"Tidak ada yang lucu! Hentikan senyummu!" kesal Callista dengan tindakan Erland. Namun pria itu tetap tidak menghilangkan senyumannya.
"Kau senang setelah berteriak ditelingaku tadi?" seru Erland memajukan wajahnya mendekat pada wajah Callista. Callista tak menghiraukannya. Tetap fokus pada usahanya yang mencoba melepaskan cekalan tangan Erland.
"Kalau begitu aku akan membalas tindakan mu tadi" Erland tersenyum menyeringai yang menakutkan. Seketika Callista terpaku dalam posisinya. Tatapannya sekarang fokus menatap wajah Erland yang semakin mendekat.
Erland semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Callista. Namun secepat kilat Callista memalingkan wajahnya. Dan sekarang Erland lebih tersenyum saat melihat leher jenjang Callista. Terlihat beberapa garis urat dileher gadis itu. Erland menghembuskan nafas beratnya tepat ditengkuk Callista. Sesekali pria itu meniup gairah, memberikan rangsangan pada Callista. Callista mengerjap. Tubuhnya kembali terpaku. Callista sangat ingin pergi dari sana. Namun kakinya seakan sulit digerakkan.
__ADS_1
Erland menggigit kecil telinga Callista. Terdengar rintisan pelan yang keluar dari mulut gadis itu. Callista memejamkam matanya. Erland terkekeh pelan melihat respon yang ditujukan Callista. Pria itu kembali mengangkat wajahnya. Menyadari Erland sudah tidak berada ditengkuknya, Callista membuka matanya. Lalu menatap kesal kearah Erland yang terkekeh geli.
"Cepatlah bersihkan dirimu. Kau kesini untuk mandi bukan?" tukas Erland yang terdengar seperti sindiran. Callista semakin kesal. Lalu melangkah cepat melewati Erland menuju sower. Bahkan tubuhnya sengaja menabrak tubuh Erland.
"Apa aku perlu memandikanmu juga?" seru Erland dengan geli. Callista semakin geram.
"PERGILAH!" teriak Callista. Tawa Erland kembali pecah. Tak lama Erland keluar kamar mandi dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya
***
Callista keluar dengan handuk yang membungkus tubuh telanjangnya. Ia memilah baju dilemari dan mengambil salah satunya. Memakai baju itu cepat. Lalu beralih duduk dimeja rias dan mengaplikasikan beberapa skincare ke wajahnya. Setelah dirasa selesai. Callista membuka handel pintu dan keluar kamar. Berjalan menuju ruang tengah. Terdapat David, Fiona, dan Erland yang tengah berbincang hangat. Callista mendekat kearah mereka.
"Selamat pagi" sapa Erland lebih dulu dengan senyumnya. Callista tidak membalas. Gadis itu hanya memutar bola matanya malas. Rasa kesal dibenaknya untuk Erland masih utuh. Callista mengambil duduk disamping David.
"Apa Kak Call sudah merasa baikan?" tanya david menoleh kearah Callista. Callista mengangguk sekilas.
"Kalau begitu bagaimana jika kita pergi berlibur? Anggap saja untuk merayakan kesembuhan Kakak ipar. Kakak ipar sudah lama koma, pasti ingin menikmati suasana luar" riang Fiona menimpali. Seluruh pasang mata menatap kearahnya.
"Tidak Fio, kita tidak akan pergi kemana mana" seru Erland.
"Kenapa? Bukankah udara terbuka sangat bagus untuk kesehatan kakak ipar?" ujar Fiona. Callista nampak mengangguk kecil menyetujui ucapan Fiona.
__ADS_1
"Aku rasa juga seperti itu. Fio, kita akan pergi berlibur" timpal Callista mengukir senyum. Tentu Fiona merasa senang dengan persetujuan Callista.
"Tidak akan ada yang pergi kemana pun! Dan tidak ada bantahan!" tegas Erland menekan katanya. Fiona nampak merubah mimik wajahnya menjadi guratan kecewa. Dan Callista menatap kearah Erland dengan mengeraskan rahangnya. Berbeda dengan David yang terlihat santai.