Obsession Love

Obsession Love
59


__ADS_3

“Ayo cepat masuk!” titah Erland. Tangannya menarik pergelangan Callista menuju pintu utama. Mereka sudah kembali dirumah Callista. Meski fajar masih berada diatas ubun ubun. Erland memutuskan untuk pulang siang hari. Mungkin itu lebih baik daripada berlama lama disana. Sebab sudah cukup


kejadian di restoran tadi yang menaikan darah hingga mendidih. Hingga tak dihalangi Callista, Erland pasti sudah membuat remuk Darius. Sayangnya Callista menghentikan aksinya dengan tatapan yang sendu. Ditambah dengan El yang juga mengenal dekat Darius.


“Er, aku ingin berbicara.” Teriak El ketika Er membawa Callista kekamarnya.


“Tidak ada waktu. Kita bisa bicara nanti.” Erland terus melangkah menjauh. Namun tangan Callista tertahan. Gadis itu menghentikan langkah Erland.


“Kau tidak bisa seperti ini. Dia ingin berbicara padamu.” ujar Callista. Erland hanya menatapnya sekilas dengan tampang tajam. Matanya sudah memerah sejak tadi. Kemudian tanpa membalas ucapan Callista, Erland membawa kembali Callista memasuki kamar gadis itu.


“Jika kau akan pergi, kenapa membawaku kekamar? Kau menyebalkan.” tutur Callista. Melihat Erland yang sudah hendak kembali


meninggalkan kamarnya. Pria itu masih sama. Tidak menggubris atau menjawab. Lalu keluar kamar Callista dengan pintu yang ditutup keras.


Tatapan Erland menajam. Melihat El yang tengah berdiri tepat dihadapan kamar Callista. Rahangnya kembali mengeras. Giginya sudah menggertak hebat.


“Aku hanya ingin berbicara. Ini tentang perusahaanmu yang akan kau rintis kembali. Aku punya solusi yang bagus untukmu.” terjeda. “Darius itu teman dekatku-----“


“Aku tau.” sela Erland.


“Dia juga pemilik perusahaan property terkenal di Texas-----“


“Kau sudah mengatakannya El.” geram Erland.


“Dia juga punya banyak kenalan para pengusaha sukses lainnya.”


“Lanjutkan.” titah Erland.


“Aku berpikir Darius bisa membantumu. Dia bisa membawa semua kenalan pengusahanya agar berinvestasi diperusahaanmu.”


“Aku tidak sudi El!” garang Erland. Pria itu lantas berlalu meninggalkan El. Menubruk pelan tubuh wanita itu.


El menatap Callista yang ternyata sedari tadi berdiri diambang pintu kamarnya. Menyaksikan perbincangan dirinya dan Erland. El lalu menghampiri Callista.


“Kau bisa membujuknya? Tolong.” El memelas. Tangannya memegang lengan Callista memohon. Namun dengan cepat Callista menjauhkan tangannya dari El.


“Aku tidak berjanji. Tapi aku akan mencoba.” ketus Callista. Bagaimana pun gadis itu bertanggung jawab atas gulung tikarnya perusahaan Erland. Tidak mungkin jika Callista tidak mau terlibat dalam memajukan kembali perusahaan Erland.

__ADS_1


***


Diruangan tengah. Erland nampak bersandar. Kepalanya menatap langit langit dengan terpejam. Tak lama Callista datang menghampiri. Mendekat pada Erland dan duduk disampingnya.


“Harusnya kau setuju dengan perkataan El.” tutur Callista. Erland masih terpejam. Dadanya naik turun membuang nafas perlahan. Guratan lelah dan frustasi tergambar jelas diwajah wibawanya.


“Jika kau setuju perusahaanmu bisa terbantu lagi untuk maju.”


“Terlebih kau tidak akan terlalu sulit untuk mengsukseskan perusahaanmun kembali. El dan pria itu sudah bersedia membantumu. Siapa namanya-----Da-----“


“Sudah hentikan! Aku yang akan menentukannya. Bagaimana perusahaanku akan sukses kembali, aku sendiri yang akan merintisnya. Aku tidak butuh bantuan pria itu. Tidak sadarkah kau jika dia seperti tertarik padamu?” papar Erland panjang lebar. Ia sudah menegakkan tubuhnya dan menatap Callista.


“Dia teman dekat El bukan? Tidak mungkin dia tertarik padaku. Aku yakin tindakannya tadi hanya sebuah lelucon.” lerai Callista. Erland lalu memegang kuat bahu gadis itu.


“Dengar. Tidak ada pria yang bercanda masalah hati dan perasaannya. Jadi jangan berpikir jika pria itu sedang berlelucon.”


“Tapi-----“


“Satu hal lagi. Jangan menyebut pria itu lagi. Aku tidak akan sudi jika bibirmu mengucapkan nama pria lain!” tak lama Erland berdiri. Langkahnya hendak meninggalkan Callista. Namun suara Callista membuat Erland kembali berbalik.


“Jika kau tak mau membantunya. Aku sendiri yang akan menemuinya dan meminta bantuannya.” Callista ikut berdiri. Pandangan mereka menyatu. Dengan tajam Erland menatap Callista. Dan Callista yang menatap yakin kearah Erland.


“Tapi aku serius dengan ucapanku. Aku akan menemuinya dan meminta bantuannya untuk membantu perusahaanmu agar kembali di titik normal.”


“Calista!” tekan Erland menggertak.


“Tidak sadrakah kau? Jika aku lah yang bertanggung jawab atas bangkrutnya kau? Kau relakan semua waktumu menemani ku ketika aku koma. Kau tidak pernah pergi kekantor saat itu. Kau bahkan tidak tauhu bagaimana keadaan kantormu. Apa yang terjadi dan kerugian apa yang akan menimpa. Kau juga menghabiskan uangmu untuk baiya rumahsakit ku. Padahal kau tau jika perawatan VVIP itu sangat mahal. Tapi kau bakhkan bersedia mengeluarkan semua uang dan dan kekayaanmu untuk biaya tagihan yang sama sekali bukan kewajuban mu.” papar Callista. Erland membisu. Menatap tak percaya wajah Callista yang mengatakan hal semua itu.


“Dari mana kau tau?” memicingkan mata.


“Fio yang memberitahuku. Dan sekarang aku sudah tau semuanya. Aku hanya berniat untuk membalas semua jasamu. Kebaikanmu dan semua yang kaunlakukan untukku. Atau aku akan merasa bersalah seumur hidup ku.”


Erland menggeram. Tangannya sudah terkepal kuat. Bahkan buku buku jarinya sudah memutih. Hendak saja Erland pergi dari sana. Tangan Callista kembali memegangnya.


“Jangan lakukan apapun pada Fio. Justru jika dia tidak mengatakannya padaku aku tidak akan pernah tau. Jangan lagi melakukan


kesalahan.” ujar Callista. Erland terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk

__ADS_1


mengiyakan.


“Kalau begitu izinkan aku untuk membantumu sekarang. Aku akan menemui pria itu untuk meminta bantuannya.”


“Aku tidak akan pernah mengizinkanmu!” tajam Erland.


“Mengertilah. Ini semua juga demi perusahaanmu.”


“Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu mengemis bantuan padanya! Dia sudah menyentuhmu Callista!” tangannya memegang dagu Callista. Mengunci tatapan gadis itu agar terus menatapnya.


“Dia tidak seperti itu. Aku yakin. Wajahnya tidak terlihat seperti pemain wanita. Kau percaya padaku. Aku akan membawanya padamu untuk membantumu. Dan aku tidak akan mengemis bantuan padanya” Memegang tangan Erland yang memegang dagunya. Lalu dengan perlahan menjauhkan tangan Erland. Callista mengukir senyum singkat. Sebelum akhirnya ia berlari cepat meninggalkan Erland. Erland sendiri terkejut dengan tindakan Callista yang tiba tiba berlari. Gadis itu seolah meluluhkan Erland untuk sesaat dan kabur darinya.


“CALLISTA!!! ARGH.” Teriak Erland menggema. Kakinya menendang keras meja yang ada disana. Bahkan membuat Fiona, David dan El menghampirinya. Teriakan keras Erland telah mengenai gendang telinga mereka. Seperti sebuah panggilan sampai mereka langsung menghampiri Erland.


***


Disisi lain. Callista sudah berada direstoran yang sama. Restoran yang memepertemukannya kembali dengan Darius. Matanya melengak lengok mencari keberadaan Darius. Namun sudah hampir setengah jam masih tidak ada tanda tanda keberadaan Darius. Hingga seorang waitres yang lewat dihadapannya terpaksa Callista hentikan.


“Dimana pemilik resto ini? Aku ingin menemuinya.” Seru Callista.


“Maaf nona. Pemilik resto ini sedang pergi berlibur ke Italy.”


“Apa maksudmu? Aku sudah bertemu dengan dia tadi.” bantah Callista.


“Maaf nona. Tapi saya mengatakan yang sebenarnya.”


“Maksudmu aku berbohong heuh?” kesal Callista.


“Tidak nona. Mungkin orang yang kau temui tadi hanya berbohong atau mengaku ngaku jika resto ini adalah miliknya.” Callista terdiam


sejenak mencerna. Berpikir ulang tentang apa yang dikatakan waitres itu.


Memang ada benarnya, sebab jika dipikir pikir tidak mungkin jika Darius memang memiliki resto di Indonesia. Ia sendiri baru pertama kali ke Negara ini. Karena ia orang yang menetap dan lahir di Texas. Bukan orang asli Indonesia. Masuk akal juga jika resto ini bukan miliknya dan ia hanya berbohong. Ditambah Darius sendiri sempat tersesat saat mencari alamat El. Itu artinya Darius belum mengenal seluk beluk Negara Indonesia. Dan resto ini benar benar bukan miliknya. Batin Callista. Sementara waitres tadi sudah berlalu meninggalkannya. Lalu tanpa menunggu lama lagi Callista berlalu dari tempat itu. Melanjutkan kembali niatnya mencari Darius.


***


Dibawah ini visualnya Darius Skinner yaa.

__ADS_1



__ADS_2