
Erland sudah bersiap dengan pakaian casualnya. Begitu pun El yang juga nampak anggung dengan dress sebatas lutut yang sederhana namun terkesan megah. Karena malamnya Erland sengaja meminta El agar kembali menginap. Sebab Erland tau bahwa El mungkin belum memiliki tempat tinggal di Indonesia. Paling hanya menyewa hotel atau apartemen. Semalam Erland juga hanya meminta El untuk membawa pakaiannya.
Sebab Erland sendiri akan mengajak El untuk keliling Indonesia setelah sekian lama menetap di Texas.
Fiona bersama David menghampiri keduannya. Dengan pakaian yang juga sudah terbalut rapi membungkus tubuh mereka.
“Kak Er kita berangkat sekarang?” Tanya Fiona.
“Kak Call belum gabung. Mungkin dia belum selesai bersiap.” papar David.
“Kau benar David. Kakak ipar belum datang.” tambah Fiona.
“Kakak memang belum memberitahunya jika kita akan pergi. Kakak lupa.” seru Erland. Yang langsung dibalas wajah bingung oleh Fiona.
“Itu artinya Kakak ipar belum tau? Bagaimana jika dia belum bangun?” tutur Fiona. David yang berada disampingnya hanya ikut mengangguk.
“Kalau begitu aku harus menyusul kakak ipar. Aku takut dia benar benar belum bangun.” lanjut Fiona lagi. Tak lama kakinya tergerak
menghampiri kamar Callista.
“Kau benar benar lupa atau-----“ selidik El setelah kepergian Fiona. Suaranya juga sedikit berbisik karena masih ada David disana.
“Aku benar benar lupa.” Jawab Erland. Namun El menampilkan wajah tak percaya. El sudah mengenal Erland cukup lama. Apapun ekspresi Erland, El mengetahuinya. Sekali pun pria itu sedang berbohong.
“Kenapa menatapku seperti itu? Sudah ku bilang aku benar benar lupa. Untuk apa aku sengaja tidak mengajaknya?” balas Erland lagi. Dan El membalas dengan menghembuskan nafas kasar. Tak lama Fiona kembali datang. Namun kedatangannya hanya seorang diri. Membuat ketiga orang yang berada disana kompak berkerut dahi.
“Fio, kenapa kau sendiri? Kemana kak Call?” tanya David mewakilkan. Yang langsung direspon anggukan oleh El.
“Itu dia masalahnya. Kakak ipar sulit terbangun dari tidurnya. Dia bilang punggungnya sangat sakit. Saat ku lihat punggungnya sangat lebam.” papar Fiona. El beserta David menampilkan kekhawatiran. Sementara Erland langsung berlari cepat menuju kamar Callista. Erland tau apa penyebab punggung Callista yang lebam. Pasti gara gara pukulan keras kemarin.
Dikamar Callista. Erland langsung menghmapiri gadis itu yang masih terbaring diatas ranjangnya. Menatap sendu wajah Callista yang tengah meringis menahan sakit dipunggungnya.
“Punggungmu sakit?” tanya Erland. Meski sudah tahu pertanyaannya itu akan mendapat balasan iya. Callista mengangguk mengiyakan. Dengan wajahnya yang masih menahan rintihan.
Erland semakin mendekat pada tubuh Callista. Tangannya membalikkan tubuh Callista hingga posisinya sekarang sedikit miring memunggungi Erland. Pria itu dengan sigap menyingkap dress tidur Callista. Bukan untuk apa apa, hanya sekedar ingin melihat lebam dipunggung Callista.
Erland menatap tak percaya. Punggung Callista benar benar lebam dan membiru. Erland sendiri tidak menyangka jika pukulan pria asing kemarin akan meninggalkan bekas yang mendalam. Dan sialnya hal itu terjadi pada Callista. Itu pun karena Callista yang berniat melindungi Erland dari serangan
pria asing itu.
“Aku merasa bersalah dengan lukamu ini.” lirih Erland. Tangannya menyentuh perlahan punggung Callista yang kala itu tengan memakai bra. Hingga ketika mengusapnya Erland berdecak kesal karena tak dapat
mengendalikan nafsunya ketika melihat Callista yang nampak menggiurkan dengan
punggung mulusnya.
“Argh.” Rintih Callista ketika merasakan punggungnya terusap oleh Erland. Seketika pria itu menghentikan pergerakkannya. Kembali menutup punggung Callista dan membalikkan tubuhnya hingga kembali terbaring terlentang.
“Akan ku bawakan obat. Kau tunggu sebentar.” ujar Erland. Callista mengganguk sebagai jawaban. Dan pria itu sudah sibuk mencari kotak P3K dikamar Callista.
Erland kembali terduduk diranjang Callista. Membuka cepat kotak P3K. Lalu membantu Callista agar terduduk bersandar. Mengobati Callista dalam posisi terbaring lebih sulit menurutnya.
__ADS_1
“Aku tidak kuat jika harus duduk. Punggungku sakit sekali.” rintih Callista.
“Karena itu aku membantumu. Ayo cepat. Aku pastikan kau tidak akan merasakan sakit” ujar Erland. Callista mengangguk. Lalu pria itu membantu tubuh Callista untuk terduduk dengan cara memeluknya pelan.
“Bisakan? Sudah ku bilang tidak akan terasa sakit.” tutur Erland setelah berhasil membuat Callista duduk menghadapnya.
“Akan ku obati sekarang.” lanjut Erland. Tangannya memeluk Callista untuk dapat menjangkau punggung gadis itu. Menyingkap kembali dress Callista dengan tangannya yang lain mengolesi punggung Callista dengan alkohol. Gadis itu menjerit histeris. Awalnya terasa dingin. Namun kemudian terasa sangat perih saat Erland terus mengolesinya dengan alkohol.
“Sudah hentikan. Aku tidak kuat dengan rasa perihnya. Ini benar benar perih.” Lirih Callista. Matanya sudah berkaca kaca. Siap mengalirkan buliran krystal dipelupuk. matanya. Erland menatap lembut wajah Callista. Tangannya lalu menangkup wajah gadis itu. Menampilkan senyum hangat
kearah Callista.
“Jika tidak aku obati. Lukanya akan semakin parah. Bisa terjadi infeksi nanti.” Tutur Erland membuat Callista mengerti.
“Tapi kau tidak tahu bagaimana perih dan sakitnya.” lirih Callista lagi.
“Aku tau. Rasanya sangat perih dan sakit, bukan?” menatap dalam Callista. Gadis itu lalu mengangguk.
“Dan kalau kau ingin sembuh, aku harus mengobatinya.” bujuk Erland.
“Tidak. Aku tidak mau. Kau obati saja punggungmu. Tapi jangan punggungku.” Erland menghembuskan nafasnya jengah. Namun kembali ia membujuk Callista.
“Punggungku tidak sakit atau lebam. Untuk apa aku obati?” tanya Erland. Callista terdiam membisu.
“Begini saja. Aku akan mengobatimu dengan alkohol ini. Jika kau merasakan perih dan sakit, kau bisa menggigit pundakku. Anggap saja aku juga merasakan sakitnya.” tawar Erland. Callista sempat terdiam berpikir. Lalu
didetik kemudian gadis itu mengangguk setuju. Erland tersenyum melihat
lagi punggung itu dengan kapas yang sudah dituangkan alkohol. Dalam dekapannya
Callista meringis keras. Mendengar itu Erland buru buru menarik kepala Callista
mendekat pada pundaknya.
“Gigit saja sekuat yang kau mau.” Ujar Erland. Callista mengangguk. Namun tak kunjung menggigit pundak Erland. Sementara pria itu
kembali mengolesi punggung Callista. Dan ketika gerakannya dipunggung Callista
mulai bergerak cepat, Callista kembali merasa punggungnya seakan tergores. Gadis itu sudah menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang teramat. Namun rasa sakit dipunggungnya seolah terus bertambah. Hingga tanpa sadar Callista menarik
keras tengkuk Erland. Menggigit cepat tengkuk pria itu tanpa ampun. Hingga
ketika Erland selesai mengobati lukanya, Callista masih menggigit keras tengkuk
Erland. Matanya juga masih terpejam. Erland menggerang menahan gigitan Callista
ditengkuknya. Padahal tadi pria itu meminta Callista untuk menggigit pundaknya.
Tapi gadis itu malah menggigit keras tengkuk Erland dengan sangat keras. Erland menjauhkan wajah Callista dari tengkuknya. Membuat wajah gadis itu sekarang menatap wajahnya.
“Maaf,” sendu Callista bersalah. Menatap Erland yang tengah mengusap usap tengkuknya sembari meringis.
__ADS_1
“Gigitanmu itu sangat kuat.” seru Erland. Yang justru membuat Callista semakin bersalah.
“Aku sudah meminta maaf. Maafkan aku.” Ulang Callista. Kemudian Erland beralih menatap wajah gadis itu.
“Hei, kenapa meminta maaf. Aku yang sudah menyuruhmu, kan” menangkup wajah Callista.
“Tapi aku menggigitnya sangat keras. Kau pasti sangat kesakitan.”
“Tidak. Aku tidak merasakan sakit sama sekali.” Jawabnya cepat. Mengukir senyuman manis kearah Callista.
“Kau berbohong.” sentak Callista dengan suaranya yang parau.
“Aku tidak berbohong.” Erland menggeleng. “Aku tidak merasakan sakitnya jika kau-----“ menggantung.
“Jika aku apa?” penasaran Callista.
“Kecuali jika kau mencium bekas gigitanmu tadi. Rasa sakitnya akan hilang.”
“Kau bercanda?”
“Tidak. Aku sedang serius sekarang. Ciumlah bekas gigitanmu tadi. Maka sakitnya akan hilang.” ujar Erland. Tanpa diduga, Callista lalu
menarik kasar kepala Erland. Mencium langsung bekas gigitannya tadi. Hanya
menciumnya singkat setelah itu melepaskannya kembali. Lalu menjauhkan wajahnya dari tengkuk Erland.
“Apa sudah hilang?” cengo Callista menatap Erland seperti orang bodoh. Sementara Erland Nampak terkekeh pelan melihat tindakan barusan Callista. Ini pertama kalinya gadis itu berani menciumnya. Itu pun setelah
menciumnya, Callista langsung menampilkan wajah malunya.
“Jangan tertawa. Aku bertanya padamu, sakitnya sudah hilang atau belum?” ulang Callista kesal. Erland menggeleng cepat.
“Belum.”
“Maksudmu?” bingung Callista. Sebab perkataan Erland tak sesuai wajah cerianya. Jika perkataannya mengatakan masih sakit, tapi wajahnya nampak tersenyum riang.
"Kecuali jika kau menambahkan lagi ciumanmu. Aku ingin hal
yang lebih.” Callista berkerut dahi mendengar ucapan Erland barusan. “Cium aku disini.” Erland menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk. Menepuk nepuk pelan bibir bawahnya. Sementara Callista sudah begitu heran. Gadis lalu langsung melayangkan cubitan kecil dipinggang Erland.
“Kau mengerjaiku?” geram Callista. Erland tertawa keras ketika mendapat serangan dari Callista. Tangannya lalu membalas tindakan
Callista dengan melayangkan kembali tangannya menggelitiki pinggang Callista.
Gadis itu menggeliat geli. Tawanya kemudian pecah menggema. Erland menggelitiki
Callista dengan posisinya yang memeluk Callista. Sejenak mereka tertawa bersama. Tidak peduli dengan suara tawanya yang akan terdengar hingga keluar kamar Callista.
“Sudah hentikan. Haha hempt-----“ tawa Callista tertahan.
Tawa mereka seakan asli tanpa tipuan. Hingga kebahagiaan tersirat diwajah keduanya. Semesta pun tau betapa serasinya mereka. Tawa mereka yang menyatu. Mengalun berirama seakan sebuah lagu yang nyaris terdengar indah dengan lirk yang menghangatkan jiwa.
__ADS_1
Mereka sudah cukup terluka dan menderita. Jika dulu Erland berjuang untuk mendapatkan Callista. Sekarang justru usahanya telah berada dipuncak keberhasilan. Namun ntah kapan alam akan memihak padanya. Mendatangkan kebahagiaan yang tanpa ujung. Membayar setiap perjuangan dan pengorbanannya dalam setiap peluh kecewa yang harus terbalas tawa.