
Callista menyuapkan makanan kemulutnya. Sedari tadi Erland terus menatapnya tanpa henti. Dan hal itu membuat Callista seakan tak percaya diri. Setiap apapun yang akan dilakukannya selalu gelagapan. Sementara Erland nampak puas melihat tingkah konyol Callista. Padahal Erland hanya menatapnya. Tapi Callista bertingkah seakan akan dia sedang berada diatas panggung, begitu gelagapan dan salah tingkah.
"kak Er" panggil Fiona. Erland terpaksa menoleh dan membiarkan Callista lolos dari tatapannya.
"Setelah makan malam berakhir aku ingin berbicara pada kalian berdua" ujar Fiona. Erland mengernyitkan dahinya dan Callista seketika ikut menatap Fiona.
"Hanya sebentar saja. Tidak akan sampai larut malam" ujar Fiona kembali. Lalu menoleh menatap David.
"Iya Kak Call. Hanya sebentar saja. Setelah itu kita akan pulang" tambah David saat Callista menatapnya tajam.
"Tapi soal apa Fio? Apa sangat penting sampai harus dibicarakan sekarang? Udaranya sudah mulai dingin dan semakin larut" seru Erland.
"Aku jamin hanya sebentar saja Kak Er" balas Fiona.
"Tapi Callista dan David harus pulang Fio. Jika terlalu larut malam kasian mereka" seru Erland kembali.
"Mereka bisa menginap disini sehari saja jika sudah larut malam dan tidak memungkinkan untuk pulang" ujar Fiona. Callista seketika menatapnya tak percaya. Lalu tatapannya beralih menatap Erland. Erland juga membalas tatapannya dan mengerti apa maksud dari tatapan Callista.
"Callista tidak akan menginap disini. Dia akan pulang kerumahnya" ujar Erland melirik wajah Callista yang tiba tiba mengangguk tenang.
"Tapi Kak Er, aku hanya ingin berbicara sebentar saja" ujar Fiona memohon.
"Kau bisa mengatakannya sekarang" seru Erland.
"Tapi kita sedang makan malam. Pasti akan terganggu"
"Tidak Fio, kau bisa mengatakannya sekarang. Kita bisa berbicara sambil makan" imbuh Callista menatap yakin Fiona. Fiona nampak berfikir sejenak dan melihat kearah David untuk meminta pendapatnya. David mengangguk setuju akan ucapan Callista. Lalu tak lama Fiona juga mengangguk.
"Baiklah. Aku akan berbicara sekarang. Jadi ini soal yang terjadi beberapa hari kemarin. Saat Kak Er menampar pipi Kakak ipar. Aku ingin menjelaskannya agar tidak ada yang salah paham. Jadi waktu itu aku yang meminta David agar_____"
__ADS_1
"Sudah hentikan Fio! Kejadian itu sudah berlalu. Kakak tidak mau mendengarnya lagi!" sergah Erland.
"Tapi Kak Er, aku hanya ingin memperbaiki hubungan Kak Er dan Kakak ipar agar tidak salah paham" ujar Fiona.
"Hubungan Kakak dan Callista tidak pernah baik, Fio. Setelah kejadian hari lalu mungkin hubungan kami hanya semakin memburuk" seru Erland. Ia menatap Callista yang juga menatapnya.
"Hubungan kami tidak sebaik yang kalian fikir! Benarkan Callista?" Erland menatap Callista dengan menaikan alisnya. Seketika itu juga Callista mendadak gugup. Gadis itu bingung apa yang harus dikatakannya. Tidak mungkin jika Callista jujur kepada David dan Fiona. Pasti setelah mereka tahu mereka akan bertanya pada Callista tentang mengapa dirinya yang masih mau bersama dengan Erland? Padahal Callista tidak mempunyai hubungan apapun dengan Erland. Dan tidak mungkin juga Callista mengatakan bahwa Erland telah mengikatnya dalam sebuah perjanjian.
"Euh tidak Fio. Hubungan kami baik baik saja sebelum kejadian itu. Tapi sekarang hubungan kami juga sudah kembali membaik. Karena Kakakmu sudah meminta maaf padaku" seru Callista berbohong. Ia mengukir senyum semaksimal mungkin.
"Apa Kakak ipar berbicara jujur?" ujar Fiona.
"Kau bisa mempercayaiku Fio. Aku menjamin bahwa yang ku katakan ini adalah yang paling benar" yakin Callista. Fiona menatap David sejenak.
"Aku percaya pada Kak Call. Dia tidak mungkin berbohong" ujar David. Lalu Fiona mengangguk. Dan Callista mengukir senyum sembari mengangguk.
"Kalau begitu aku percaya pada Kakak ipar. Jadi sekarang aku tidak perlu menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang tidak salah. Kalian sudah benar benar berbaikan, kan?" ucap Fiona. Callista mengangguk mengiyakan. Sementara Erland menatap mengintimidasi pada Callista. Dan Callista menghiraukan tatapan itu. Tak lama Fiona bangkit dari duduknya dan mengajak David.
Berbicara dengannya berdua? Aku tidak menginginkan hal itu Fio!. Gerutu Callista dalam hati. Ia hendak menghentikan langkah Fiona dan David, namun mereka sudah melenggang jauh.
Callista menatap sekilas pada Erland yang masih menatap dirinya dengan tatapan yang sulit dibaca. Keheningan melanda mereka. Dan membuat Callista benar benar gelagapan. Lalu untuk menetralisir rasa gugupnya, Callista berusaha menyuapkan kembali makanan kemulutnya. Namun tindakannya gagal karena Erland menggenggam tangan Callista dan menyimpan makanan itu kepiring Callista. Callista semakin merasa jantungnya mau copot.
"Apa yang kau katakan? Kenapa mengatakan kebohongan? Sejak kapan hubungan mu dan aku baik baik saja?!" seru Erland menatap tajam Callista.
"Memang apa salahnya?" polos Callista gelagapan.
"Jelas yang kau katakan itu salah! Kau sudah berbohong!" tekan Erland.
"Tapi aku berbohong untuk kebaikan. Karena tidak mungkin aku mengatakan pada mereka jika hubungan ku dan dirimu hanya sebatas surat perjanjian" balas Callista. Saat itu juga Erland merasa marah mendengar jawaban Callista.
__ADS_1
"Jadi kau masih menganggap hubungan ini hanya sebatas itu? Dan setelah perjanjiannya berakhir kau akan pergi begitu?!" ujar Erland.
"Memang apa lagi? Itu kenyataannya" singkat Callista.
"Callista, aku sudah ingin mengubah hubungan kita. Aku tidak mau kau bersamaku hanya karena surat perjanjian itu. Aku sudah tidak mau memaksamu. Aku ingin kau bersama ku karena kau memang menginginkannya" seru Erland. "Aku sudah memberi mu pertanyaan untuk memilih. Tapi sekarang kau masih belum menjawabnya. Apa diammu itu berarti kau memilih bersama pria itu?" lanjut Erland.
"Iya! Memang itu jawabanku. Aku hanya akan tetap bersama kekasihku daripada menerima dirimu!" tegas Callista. Erland menjauhkan diri dari Callista. Pria itu memundurkan kursinya kearah belakang. Tangannya sudah terkepal kuat. Jawaban Callista adalah kehancuran baginya. Dan sekarang itu benar benar terjadi. Callista lebih memilih kekasihnya ketimbang menerima Erland.
Erland bangkit dari duduknya. Lalu meraih vas bunga diatas meja makan. Erland membantingnya keras hingga bercak kaca berserakan dimana mana. Callista menyaksikan kemarahan Erland yang tak asing lagi baginya. Menurutnya Erland hanya akan marah ketika Callista menyangkut tentang Alvis.
Erland meraih tangan Callista dan menariknya keras. Lalu membanting tubuh itu keras hingga terpental di sisi tembok. Callista meringis kesakitan karena tindakkan keras Erland. Lalu air matanya beruraian menatap wajah Erland yang masih memanas.
"Padahal aku hanya memintamu menerima ku. Tapi rasanya itu sangat sulit untukmu!" seru Erland mendekati Callista. Rambutnya sudah acak acakkan karena Erland terua menjambaknya keras. Callista hanya terisak mendengar ucapan Erland. Mungkin Callista tidak bisa berbuat apapun kali ini. Melihat Erland yang berkobar api hanya akan membuatnya lebih dilukai. Erland mencengkam keras dagu Callista. Lalu dengan pelan Callista mencoba melepaskan cengkraman itu.
"Kau sudah berjanji tidak akan bersikap kasar dan memaksaku. Tapi kenapa sekarang kau ingin aku menerimamu? Dan sikap kasar mu barusan membuatku lebih yakin bahwa kau benar benar pria yang tidak berperasaan!" ujar Callista. Erland seakan tersentak dengan pernyataan gadis itu. Apa yang dikatakan Callista memang benar adanya. Waktu itu Erland sudah berjanji tidak akan bersikap kasar dan memaksa Callista lagi. Dan sekarang janji itu telah menyengsarakannya.
Arghhh. Erland melepaskan cengkramannya pada dagu Callista. Lalu menendang keras meja makan hingga hancur tak berbentuk. Pria itu menarik semua hiasan bunga dan melemparnya keras. Lalu tubuh kekarnya terduduk lemas diatas lantai. Dalam heningnya malam itu hanya terdengar isak tangis dan ketakutan Callista. Sementara Erland menenggelamkan wajahnya pada tangan yang bertumpu pada sebelah kaki. Ketakutan Callista berbanding sama dengan hancurnya harapan Erland. Dalam diamnya Erland berfikir bahwa dirinya tidak akan bisa membuat Callista menjadi miliknya, jika gadis itu terus saja memilih kekasihnya.
Malam semakin larut. Namun keduanya masih membisu tanpa bersuara. Callista menatap sejenak kearah Erland yang terlihat sangat kacau. Lalu menyeka airmatanya yang sudah berhenti. Callista memeluk erat tubuhnya dengan kedua tangan miliknya. Ia merasakan dingin yang begitu hebat. Sementara Callista hanya mengenakan dress selutut yang cukup terbuka.
Erland menatap Callista sekilas. Ia merasa hatinya terenyuh melihat Callista yang memeluk erat tubuhnya. Namun Erland berusaha agar tidak peduli akan hal itu. Hatinya saja sudah hancur karena Callista. Erland kembali memalingkan wajahnya menatap kosong. Namun tindakan Callista benar benar membuat Erland merasa terganggu. Sejak tadi gadis itu terus meniup niup tangannya berharap ada kehangatan yang dihasilkan. Namun sepertinya usahanya sia sia. Udara malam telah membuat tubuhnya semakin menggigil.
Erland bangkit berdiri dan mendekati posisi Callista. Callista menatap kedatangan Erland sejenak. Lalu Erland membuka kemejanya dan memberikannya pada Callista agar gadis itu memakainya. Callista sempat menolaknya dengan menggelengkan kepala. Namun Erland tetap bersikeras memakaikan kemejanya untuk menutupi pundak Callista. Dan membiarkan tubuhnya yang tanpa sehelai kain.
Callista menatap tindakan Erland. Ia juga melihat pengorbanan Erland yang rela kedinginan hanya untuk memberikan Callista kehangatan. Callista menjauhkan kemeja Erland yang menutupinya. Lalu Erland hendak memakaikannya kembali pada Callista. Namun Callista dengan cepat menepis pergerakan Erland. Callista memeluk Erland dengan begitu erat. Dan pria itu tersentak melihat tindakan Callista yang tiba tiba memeluknya.
"Kemeja itu tidak membuatku hangat. Aku yakin tubuhmu bisa menghangatkanku" ujar Callista menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Erland.
"Kau tidak perlu melakukan ini. Aku tahu kau melakukannya dengan terpaksa!" seru Erland. Tangannya berusaha menjauhkan Callista dari tubuhnya. Namun Callista tetap terus memeluk erat tubuh Erland tanpa mau melepasnya.
__ADS_1
"Aku tidak merasa terpaksa dengan tindakkan ku. Anggap saja ini perminta maafan ku untuk yang ku lakukan tadi" balas Callista. Erland hanya menampilkan wajah datar. Ia tidak senang dengan jawaban Callista. Karena kenyataannya tetap sama. Callista tetap memilih kekasihnya ketimbang menerima dirinya.
Dalam waktu yang cukup lama Callista masih memeluk tubuh Erland yang bertelanjang dada. Dan Erland membalas pelukannya dengan erat. Mereka saling terdiam dalam posisinya masing masing.