Obsession Love

Obsession Love
64


__ADS_3

“Iya ku akui. Karena itu sampai sekarang kau masih


mencintainya dan-----“


“Dan apa?” selidik Callista. Ia baru saja datang dengan


membawa sebuah nampan berisikan tiga cangkir teh.


“Kau disini? Sejak kapan?” tanya Erland menyela.


“Simpan dulu pertanyaan mu Er. Aku sedang bertanya padanya.


Ayo lanjutan ucapan mu. Kenapa harus berhenti? Apa karena ada aku disini? Apa


aku menggangu? Kalau begitu aku kan kem,bali pergi.  Aku hanya ingin memberikan minum. Setelah


menaruh ini aku akan segera pergi.” Callista dengan cepat menata cangkir satu


persatu dihadapan masing masing mereka. Lalu kembali hendak pergi dengan


membawa nampannya.


“Tidak Callista. Kau bisa ikut duduk disini. Kau sama sekali


tidak mengganggu.” papar Darius.


“Tidak perlu. Akan akan pergi saja.” Tersenyum kaku.


“Callista! Ayo duduk!” titah Erland. Callista baru saja akan


menggelengkan kepala. Namun tertahan karena tangan Erland yang sudah lebih dulu


menarik tangannya. Kini gadis itu sudah terduduk tepat disamping Erland.


“Tadi Darius hanya salah bicara. Dia suka melantur. Kau bisa


melupakannya.” Ujar El tersenyum mentatap Darius dan Callista bergantian.


“Iya benar. Aku sedikit mengantuk. Karena itu bicara ku tak


jelas.” timpal Darius.


“Ini masih pagi. kau juga sudah tidur tadi malam, kan?


Pikiranmu juga pasti masih fresh. Jadi mana mungkin bicara mu melantur?” tutur


Callista. Ketiga orang yang ada disana diam mematung. Omongan Callista benar


benar mematahkan.


“Dengarkan aku! Lupakan itu semua. Itu sama sekali tidak


penting untuk mu.” seru Erland. Callista lalu menatapnya sarkastik.


“Ini penting Er. Aku harus tau apa maksud dari pembicaraan


Darius. Jika maksudnya adalah El yang mencintaimu, lalu untuk apa kau mendekati


ku? Untuk apa mempertahankan ku sejauh ini? Er, kau bisa pergi dan mencintai


El. Dia lebih dari segalanya. Dia juga kan sangat membantu mu.” tutur Callista.


Tatapannya dalam menikam. Namun Erland secepat mungkin membuang wajahnya kasar.


“Gila! Ini gila Callista!” geram Erland.


“Ini tidak gila. Memang apa salahnya jika kau mencintai El?


Kau jadi tidak perlu membuang waktu dan tenaga mu untuk mengejar ku.”


“Dengar! Masalahnya bukan itu. Kenapa kau tak mengerti?!”


mengusap wajah kasar. Dihadapannya El dan Darius saling melempar tatapan.


“Aku mengerti. Sangat mengerti. El mencintai mu dengan


tulus. Kau hanya perlu membalasnya. Dan semuanya clear. Aku bisa terbebas


karena kau sudah tak menginginkan ku lagi.” Callista menampilkan wajah biasa.


Meski hatinya sudah terkoyak nyeri. Mengatakan semua itu seakan tidak rela


untuk Callista. Rasanya sangat sulit.


“Callista! Tarik ucapan mu! Ini perintah!” Erland semakin


geram. Garis rahangnya juga sudah nampak jelas.


“Tidak akan aku Tarik ucapan ku Er. Aku akan tetap mendukung


mu membalas cinta tulus El. Jadi apa sussahnya untuk kau membalas


perasaanya-----“ Erland menarik paksa tangan Callista sebelum gadis itu selesai


dengan ucapannya. Membawa cepat tubuhnya kearah kamar. Erland membanting keras


tubuh Callista hingga tersungkur diatas ranjang. Gadis itu berusaha berdiri.

__ADS_1


Namun terjebak ketika Erland yang mengukungnya dalam pelukan keras.


“Lepaskan aku! Jangan bersikap seperti awal kau memaksa dan


melakukan kekerasan padaku!” menggoyangkan tubuhnya keras.


“DIAMLAH! Atau tubuhmu akan sakit karena ulah mu!”


“Aku tidak peduli! Lepaskan aku! Kenapa kau melakukan ini?


Seharusnya kau senang aku mendukung hubungan mu dengan El!”


“DIAM! Tutup mulutmu! Sekarang giliran aku yang bicara. Kau


harus tau jika aku dan El hanya sebatas teman bisnis. Pertama aku sama sekali


tidak menyukai El! Kedua-----“


“Apa?” tanya Callista.


“Aku hanya mencintaimu! Apa kau pikir aku akan senang ketika


kau yang berusaha membuat ku menjalin hubungan dengan El? Callista kau sudah


gila! Aku cukup lama memperjuangkan mu. Dan kau pikir aku akan melepaskan mu


begitu saja dan beralih pada El? Kau salah besar jika berpikir seperti itu!”


tangannya memegang bahu Callista kuat. Mengarahkan tatapan gadis itu agar


menatapnya.


“Tapi El mencintai mu, kan? Apa salahnya jika kau menerima


cintanya?”


“Callista, kalau memang seperti itu sekarang aku tanya


padamu, kenapa kau tidak mau membalas cintaku yang begitu mencintaimu? kenapa?


Karena menerima seseorang tidak semudah itu bukan? Dan sekarang kau ingin aku


membalas cinta El? Aku bahkan tidak mau mengenal wanita lain selain dirimu.


Jikalau memang diharuskan, itu hanya sebatas keperluan. Tidak lebih. Sama


seperti hubungan ku dan El sekarang. kita kenal hanya karena bisnis. Jika bukan


karena itu, aku lebih memilih hanya mengenalmu! Callista! Jika kau mengerti,


kau pasti tau bagaimana sulitnya menerima seseorang dalam hidup mu dengan


Callista mematung. Matanya masih menatap manik mata Erland. Namun kini


tatapannya kosong.


Andai kau tau Er, aku


juga merasa sulit. Ntah apa, kenapa, dan bagaimana. Yang jelas hati ku seakan


tak rela melepaskan mu bersama El. Tapi sekarang situasinya berbeda. Aku tidak


yakin kau benar benar tulus memiliki perasaan untuk ku atau hanya sandiwara.


Aku membutuhkan bukti mu Er. Batin Callista.


“Kalau begitu aku tidak akan memaksa mu menerima cinta El.


Tapi aku perlu bukti ketulusan cinta mu padaku. Aku ingin kau membuktikannya.”


ujar Callista.


“Aku sudah membuktikannya. Berulang kali. Bahkan ribuan


kali. Bahakan sampai sekarang kau masih bisa lihat pembuktianku. Aku yang kerap


merintis kembali perusahaan ku dari nol. Perusahaanaku yang sempat bangkrut.


Dan kau tau apa alsannya.”


“Tidak Er. Bukan itu maksud ku. Jika kau cerdas, kau pasti


mengerti apa maksudku.” pungkas Callista. Tak lama ia melepaskan tangan Erland


yang masih memegang bahunya. Gadis itu melenggang pergi tanpa berkata lagi.


Sementara Erland sendiri masih tetap pada posisinya. Bahkan pikirannya sudah


melayang berpikir keras apa maksud yang diucapankan Callista tadi.


***


Erland keluar dari kamar Callista setelah lama tidak


menemukan jawaban. Dan memutuskan untuk kembali keruang tengah. Masih terdapat


El dan Darius yang duduk disana.

__ADS_1


“Masalahmu sudah selesai? Bagaimana dengan Callista


sekarang?” tanya El.


“Masalahnya semakin rumit. Apa kita bisa melanjtkan ini


nanti?” tanya Erland.


“Tentu Er. Kau bisa beristirahat. Aku yang akan mengurus ini


semua hingga selesai.” Darius tersenyum. Lalu bangkit berdiri.


“Tapi-----“ ujar El meggantung.


“Tak masalah. Anggap ini sebagai tanda maaf ku. Aku sudah


menyebabkan kekacauan. Kupikir respon gadis itu tidak akan seperti ini. Kalau


begitu aku pamit pergi. El, kau jaga pola makan mu dengan baik. Aku akan


kembali besok.”


“Tentu saja. Terimakasih sudah bersedia. Aku doakan semoga


pekerjaan mu cepat usai.” Setelah mendengar balasan El, tak lama Darius


melenggang pergi. El sendiri beralih fokus pada Erland.


“Er, apa Callista sangat marah? Kalian bertengkar? Beri tau


aku. Aku kan membantu mu menjelaskannya pada Callista.”


“Tidak perlu.” singakat Erland.


“Apa masalahnya sudah selesai?”


“Tidak El. Seperti yang ku bilang masalahnya semakin rumit.


Callista mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ku mengerti.” Mengusap wajah


frustasi.


“Apa Er?” tanya El mengangkat alis tinggi.


“Aku harus membuktikan ketulusan cinta ku padanya. Padahal


semuanya sudah ku lakukan untuknya. Tapi dia bilang bukan tentang itu semua.


Apa kau mengerti apa maksudnya?”


“Apa mungkin sebuah lamaran Er? Maksud ku hampir semua


wanita selalu meminta bukti ketulusna dan keseriusan cinta pria dengan cara si


pria melamarnya. Menjadikannya menjadi istrinya. Barulah si wanita akan percaya


jika pria itu tulus dan serius. Apa mungkin maksud Callista juga seperti itu?”


Erland menggeleng lemah menanggapi ucapan El.


“Aku tidak tau. Tapi aku tidak yakin jika masudnya itu.


Callista sama sekali tidak mencintaku. Dan aku sudah tau itu.” Tersenyum tipis.


“Kau sudah lama dekat dengannya?” tanya El lagi.


“Sekitar satu tahunan.”


“Kalau begitu asumsi mu salah besar Er. Kau dekat selama


itu? Itu artinya Callista tidak menyukai mu saat dulu. Sekarang sudah beda


lain. Er, lambat laun wanita yang keras kepala juga kan luluh. Apa kau pikir


hati kerasnya tidak mungkin meleleh begitu? Kau sudah memperjuangkan segalanya


bukan? Lalu kenapa Callista tidak membalas perasaan mu? Er, aku yakin dia


memiliki perasaan juga padamu. Hanya saja kegengsiannya sangat tinggi. Karena


itu kau yang harus lebih dulu peka. Kau harus terus memanjakannya dengan


cintamu. Sampai dia membuang ego dan gengsinya lalu menyatakan perasaannya


padamu.” papar El.


“Kau benar. Itu mungkin saja. Aku lihat akhir akhir ini


sikapnya mulai berubah.”


“Tentu saja. Sikapnya akan lebih over protective ketika


mencintai seseorang. Karena itu kau harus cepat. Cepat mempersunting dia Er.”


Erland menoleh sekilas.


“Tidak semudah itu. Aku butuh proses dan waktu yang tepat.”

__ADS_1


El tersenyum mengangguk mendengar ucapan Erland.


__ADS_2