
“Iya ku akui. Karena itu sampai sekarang kau masih
mencintainya dan-----“
“Dan apa?” selidik Callista. Ia baru saja datang dengan
membawa sebuah nampan berisikan tiga cangkir teh.
“Kau disini? Sejak kapan?” tanya Erland menyela.
“Simpan dulu pertanyaan mu Er. Aku sedang bertanya padanya.
Ayo lanjutan ucapan mu. Kenapa harus berhenti? Apa karena ada aku disini? Apa
aku menggangu? Kalau begitu aku kan kem,bali pergi. Aku hanya ingin memberikan minum. Setelah
menaruh ini aku akan segera pergi.” Callista dengan cepat menata cangkir satu
persatu dihadapan masing masing mereka. Lalu kembali hendak pergi dengan
membawa nampannya.
“Tidak Callista. Kau bisa ikut duduk disini. Kau sama sekali
tidak mengganggu.” papar Darius.
“Tidak perlu. Akan akan pergi saja.” Tersenyum kaku.
“Callista! Ayo duduk!” titah Erland. Callista baru saja akan
menggelengkan kepala. Namun tertahan karena tangan Erland yang sudah lebih dulu
menarik tangannya. Kini gadis itu sudah terduduk tepat disamping Erland.
“Tadi Darius hanya salah bicara. Dia suka melantur. Kau bisa
melupakannya.” Ujar El tersenyum mentatap Darius dan Callista bergantian.
“Iya benar. Aku sedikit mengantuk. Karena itu bicara ku tak
jelas.” timpal Darius.
“Ini masih pagi. kau juga sudah tidur tadi malam, kan?
Pikiranmu juga pasti masih fresh. Jadi mana mungkin bicara mu melantur?” tutur
Callista. Ketiga orang yang ada disana diam mematung. Omongan Callista benar
benar mematahkan.
“Dengarkan aku! Lupakan itu semua. Itu sama sekali tidak
penting untuk mu.” seru Erland. Callista lalu menatapnya sarkastik.
“Ini penting Er. Aku harus tau apa maksud dari pembicaraan
Darius. Jika maksudnya adalah El yang mencintaimu, lalu untuk apa kau mendekati
ku? Untuk apa mempertahankan ku sejauh ini? Er, kau bisa pergi dan mencintai
El. Dia lebih dari segalanya. Dia juga kan sangat membantu mu.” tutur Callista.
Tatapannya dalam menikam. Namun Erland secepat mungkin membuang wajahnya kasar.
“Gila! Ini gila Callista!” geram Erland.
“Ini tidak gila. Memang apa salahnya jika kau mencintai El?
Kau jadi tidak perlu membuang waktu dan tenaga mu untuk mengejar ku.”
“Dengar! Masalahnya bukan itu. Kenapa kau tak mengerti?!”
mengusap wajah kasar. Dihadapannya El dan Darius saling melempar tatapan.
“Aku mengerti. Sangat mengerti. El mencintai mu dengan
tulus. Kau hanya perlu membalasnya. Dan semuanya clear. Aku bisa terbebas
karena kau sudah tak menginginkan ku lagi.” Callista menampilkan wajah biasa.
Meski hatinya sudah terkoyak nyeri. Mengatakan semua itu seakan tidak rela
untuk Callista. Rasanya sangat sulit.
“Callista! Tarik ucapan mu! Ini perintah!” Erland semakin
geram. Garis rahangnya juga sudah nampak jelas.
“Tidak akan aku Tarik ucapan ku Er. Aku akan tetap mendukung
mu membalas cinta tulus El. Jadi apa sussahnya untuk kau membalas
perasaanya-----“ Erland menarik paksa tangan Callista sebelum gadis itu selesai
dengan ucapannya. Membawa cepat tubuhnya kearah kamar. Erland membanting keras
tubuh Callista hingga tersungkur diatas ranjang. Gadis itu berusaha berdiri.
__ADS_1
Namun terjebak ketika Erland yang mengukungnya dalam pelukan keras.
“Lepaskan aku! Jangan bersikap seperti awal kau memaksa dan
melakukan kekerasan padaku!” menggoyangkan tubuhnya keras.
“DIAMLAH! Atau tubuhmu akan sakit karena ulah mu!”
“Aku tidak peduli! Lepaskan aku! Kenapa kau melakukan ini?
Seharusnya kau senang aku mendukung hubungan mu dengan El!”
“DIAM! Tutup mulutmu! Sekarang giliran aku yang bicara. Kau
harus tau jika aku dan El hanya sebatas teman bisnis. Pertama aku sama sekali
tidak menyukai El! Kedua-----“
“Apa?” tanya Callista.
“Aku hanya mencintaimu! Apa kau pikir aku akan senang ketika
kau yang berusaha membuat ku menjalin hubungan dengan El? Callista kau sudah
gila! Aku cukup lama memperjuangkan mu. Dan kau pikir aku akan melepaskan mu
begitu saja dan beralih pada El? Kau salah besar jika berpikir seperti itu!”
tangannya memegang bahu Callista kuat. Mengarahkan tatapan gadis itu agar
menatapnya.
“Tapi El mencintai mu, kan? Apa salahnya jika kau menerima
cintanya?”
“Callista, kalau memang seperti itu sekarang aku tanya
padamu, kenapa kau tidak mau membalas cintaku yang begitu mencintaimu? kenapa?
Karena menerima seseorang tidak semudah itu bukan? Dan sekarang kau ingin aku
membalas cinta El? Aku bahkan tidak mau mengenal wanita lain selain dirimu.
Jikalau memang diharuskan, itu hanya sebatas keperluan. Tidak lebih. Sama
seperti hubungan ku dan El sekarang. kita kenal hanya karena bisnis. Jika bukan
karena itu, aku lebih memilih hanya mengenalmu! Callista! Jika kau mengerti,
kau pasti tau bagaimana sulitnya menerima seseorang dalam hidup mu dengan
Callista mematung. Matanya masih menatap manik mata Erland. Namun kini
tatapannya kosong.
Andai kau tau Er, aku
juga merasa sulit. Ntah apa, kenapa, dan bagaimana. Yang jelas hati ku seakan
tak rela melepaskan mu bersama El. Tapi sekarang situasinya berbeda. Aku tidak
yakin kau benar benar tulus memiliki perasaan untuk ku atau hanya sandiwara.
Aku membutuhkan bukti mu Er. Batin Callista.
“Kalau begitu aku tidak akan memaksa mu menerima cinta El.
Tapi aku perlu bukti ketulusan cinta mu padaku. Aku ingin kau membuktikannya.”
ujar Callista.
“Aku sudah membuktikannya. Berulang kali. Bahkan ribuan
kali. Bahakan sampai sekarang kau masih bisa lihat pembuktianku. Aku yang kerap
merintis kembali perusahaan ku dari nol. Perusahaanaku yang sempat bangkrut.
Dan kau tau apa alsannya.”
“Tidak Er. Bukan itu maksud ku. Jika kau cerdas, kau pasti
mengerti apa maksudku.” pungkas Callista. Tak lama ia melepaskan tangan Erland
yang masih memegang bahunya. Gadis itu melenggang pergi tanpa berkata lagi.
Sementara Erland sendiri masih tetap pada posisinya. Bahkan pikirannya sudah
melayang berpikir keras apa maksud yang diucapankan Callista tadi.
***
Erland keluar dari kamar Callista setelah lama tidak
menemukan jawaban. Dan memutuskan untuk kembali keruang tengah. Masih terdapat
El dan Darius yang duduk disana.
__ADS_1
“Masalahmu sudah selesai? Bagaimana dengan Callista
sekarang?” tanya El.
“Masalahnya semakin rumit. Apa kita bisa melanjtkan ini
nanti?” tanya Erland.
“Tentu Er. Kau bisa beristirahat. Aku yang akan mengurus ini
semua hingga selesai.” Darius tersenyum. Lalu bangkit berdiri.
“Tapi-----“ ujar El meggantung.
“Tak masalah. Anggap ini sebagai tanda maaf ku. Aku sudah
menyebabkan kekacauan. Kupikir respon gadis itu tidak akan seperti ini. Kalau
begitu aku pamit pergi. El, kau jaga pola makan mu dengan baik. Aku akan
kembali besok.”
“Tentu saja. Terimakasih sudah bersedia. Aku doakan semoga
pekerjaan mu cepat usai.” Setelah mendengar balasan El, tak lama Darius
melenggang pergi. El sendiri beralih fokus pada Erland.
“Er, apa Callista sangat marah? Kalian bertengkar? Beri tau
aku. Aku kan membantu mu menjelaskannya pada Callista.”
“Tidak perlu.” singakat Erland.
“Apa masalahnya sudah selesai?”
“Tidak El. Seperti yang ku bilang masalahnya semakin rumit.
Callista mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ku mengerti.” Mengusap wajah
frustasi.
“Apa Er?” tanya El mengangkat alis tinggi.
“Aku harus membuktikan ketulusan cinta ku padanya. Padahal
semuanya sudah ku lakukan untuknya. Tapi dia bilang bukan tentang itu semua.
Apa kau mengerti apa maksudnya?”
“Apa mungkin sebuah lamaran Er? Maksud ku hampir semua
wanita selalu meminta bukti ketulusna dan keseriusan cinta pria dengan cara si
pria melamarnya. Menjadikannya menjadi istrinya. Barulah si wanita akan percaya
jika pria itu tulus dan serius. Apa mungkin maksud Callista juga seperti itu?”
Erland menggeleng lemah menanggapi ucapan El.
“Aku tidak tau. Tapi aku tidak yakin jika masudnya itu.
Callista sama sekali tidak mencintaku. Dan aku sudah tau itu.” Tersenyum tipis.
“Kau sudah lama dekat dengannya?” tanya El lagi.
“Sekitar satu tahunan.”
“Kalau begitu asumsi mu salah besar Er. Kau dekat selama
itu? Itu artinya Callista tidak menyukai mu saat dulu. Sekarang sudah beda
lain. Er, lambat laun wanita yang keras kepala juga kan luluh. Apa kau pikir
hati kerasnya tidak mungkin meleleh begitu? Kau sudah memperjuangkan segalanya
bukan? Lalu kenapa Callista tidak membalas perasaan mu? Er, aku yakin dia
memiliki perasaan juga padamu. Hanya saja kegengsiannya sangat tinggi. Karena
itu kau yang harus lebih dulu peka. Kau harus terus memanjakannya dengan
cintamu. Sampai dia membuang ego dan gengsinya lalu menyatakan perasaannya
padamu.” papar El.
“Kau benar. Itu mungkin saja. Aku lihat akhir akhir ini
sikapnya mulai berubah.”
“Tentu saja. Sikapnya akan lebih over protective ketika
mencintai seseorang. Karena itu kau harus cepat. Cepat mempersunting dia Er.”
Erland menoleh sekilas.
“Tidak semudah itu. Aku butuh proses dan waktu yang tepat.”
__ADS_1
El tersenyum mengangguk mendengar ucapan Erland.