Obsession Love

Obsession Love
Empatpuluhtiga


__ADS_3

Mereka masih duduk bersama. Menunggu dokter yang menangani Erland keluar. Lalu saat sedang menunggu hampir setengah jam, tiba tiba suara pintu terbuka dan menampakkan dokter itu beserta dua orang suster. Callista berdiri cepat. Lalu menghampiri dokter itu dengan wajah yang cemas. Disusul oleh Alvis dibelakangnya.


"Bagaimana kondisinya?" ucap Callista penuh cemas. Tangannya terkepal kuat didepan.


"Pasien sudah kami tangani. Dan sekarang kondisinya sudah membaik. Tapi karena benturan di kepalanya cukup keras membuat pasien jatuh koma. Dan kami tidak bisa memastikan berapa lama komanya" Callista membuang nafas kasar. Lalu tangannya mengusap wajahnya cepat. Ada guratan frustrasi dimanik kedua mata Callista. Tentu saja. Bagaimana tidak, sebab Callista pasti akan disalahkan oleh Fiona. Setelah apa yang terjadi padanya dan Erland, Fiona sudah pasti menyalahkan Callista atas semua kejadian ini.


"Tenangkah. Aku ada disini" Alvis membelai pelan pundak Callista. Gadis itu menoleh sekilas. Wajahnya sudah nampak sayu.


"Dokter, tolong kau atasi saja semuanya. Berikan semua yang pasien butuhkan. Aku yang akan menanggung biayanya" ujar Alvis menoleh menatap dokter. Dokter itu nampak mengangguk mengiyakan. Tak lama dokter pun berlalu pergi diikuti sang suster.


"Kau ingin tau kenapa aku ada disini, kan? Sekarang aku akan mengatakannya. Ayo!" Alvis menggandeng tangan Callista dan membawanya menjauh dari ruangan Erland.


"Mau kemana?" tanya Callista disela langkah mereka.


"Ke cafe" singkat Alvis tanpa menoleh. Mereka terus berjalan hingga menuju parkiran. Lalu memasuki mobil dengan polet hitam mengkilap.


***


Mereka sampai disana. Dicafe terdekat yang dipilih Alvis. Keduanya duduk bersama saling berhadapan. Setelah memesan makanan dan minum, Alvis mulai memposisikan tubuh dan mimik wajahnya serius. Menatap wajah Callista lekat.


Alvis memudalkan semuanya. Semua yang terjadi padanya sampai saat ini. Dimulai dari dia yang disingkirkan oleh Erland. Sampai pada dirinya ada disebuah kota asing. Kota orang yang tidak ia ketahui. Dan kota itu adalah kota yang saat ini ia tempati, Bali. Alvis juga menjelaskan semua yang terjadi padanya saat berada dibali. Saat dia ditemukan oleh seseorang kaya raya pembisnis sukses. Saat itu Alvis dibantu bangkit oleh orang itu. Dia dipercayai untuk menjadi tangan kanan orang pembisnis itu. Lalu mulai menjalankan hidupnya perlahan. Jauh dari Callista dan David. Juga jauh dari kota asalnya. Alvis menjalani hari hari sendiri ditempat asing itu. Ia bekerja keras untuk membuat bisnis ( orang yang telah berbaik hati membantunya ) sukses dan mendapat keuntungan besar. Dan sampailah Alvis diposisi itu. Dimana dia Mengharumkan nama pembisnis itu dan menaikkan derajatnya. Lalu sebagai timbal baliknya, pembisnis itu memberi Alvis semua fasilitas. Mulai dari rumah mewah, mobil, uang, dan kekayaan lainnya. Saat itu pula hidup Alvis berubah. Keberuntungan seolah sedang memihaknya. Mendapatkan semua yang sebelumnya Alvis tidak punya. Namun dengan kicep mata pria itu mampu meraih semuanya. Akhirnya Alvis memutuskan untuk mencari Callista. Membawanya pergi dari cengkraman pria gila itu. Namun kemudian keberuntungan berpihak padanya lagi. Karena sebelum Alvis mencari Callista, ia sudah dipertemukan lebih dulu dengan gadis itu. Alvis bertemu Callista saat dirinya tak sengaja menabrak Erland karena pengaruh alkohol yang membuatnya sedikit kehilangan kesadaran.


Alvis masih terus berbicara. Dan Callista hanya mendengarnya dengan diam. Sesekali matanya membulat saat alvis menceritakan tentang kesulitannya menjalani hidup tanpa ditemani Callista disampingnya.


Lama mereka berbicara. Hingga seorang pelayan datang mendekat membawa pesanan mereka. Alvis berhenti berbicara karena memang semua yang harus ia ceritakan sudah sepenuhnya tersampaikan.

__ADS_1


Pelayan itu menyodorkan sebuah menu makanan dan minuman yang dipesan Alvis tadi. Alvis tersenyum sebagai tanda terimakasih. Dan pelayan itu melenggang pergi setelah menunduk. Alvis mendekatkan pesanan Callista kearahnya. Namun gadis itu nampak melamun tak menghiraukan Alvis.


"Heii. Makananmu sudah siap. Ayo makan" ujar Alvis mengibaskan tangannya didepan wajah Callista. Callista terperanjak. mengedipkan matanya berulang. Lalu tersenyum kaku.


"Makananmu sudah siap. Ayo makanlah" ulang Alvis. Callista mengangguk tanpa berbicara. Lalu tangannya mulai meraih sendok dan garpu itu. Alvis juga melakukan hal yang sama. Ia mulai menyuapkan makanan kemulutnya. Mengunyahnya perlahan. Lalu pandangannya menatap Callista yang kembali melamun. Bahkan gadis itu hanya mengaduk aduk makanan didepannya. Alvis meraih gelas lalu meminumnya. Ia berdehem keras menatap Callista. Gadis itu masih tetap sama. Tetap melamun tanpa menghiraukan Alvis. Lalu Alvis kembali berdehem. Namun respon Callista masih sama. Alvis jengah sendiri. Lalu memutuskan untuk menegur Callista. Pria itu menepuk pundak Callista cukup kuat. Hingga akhirnya mata gadis itu terjaga dan menatap tangan yang berada dipundaknya serta wajah Alvis secara bergantian.


"Kenapa hem?" ujar Alvis. Callista menggelengkan kepala lalu menunduk. Tangannya mulai mengambil makanan dan melahapnya lesu. Mengunyahnya perlahan tanpa selera. Alvis hanya memandangi tingkah Callista yang menurutnya aneh.


"Jika ada masalah kau bisa memberitahuku" tawar Alvis. Callista kembali menggeleng. Lalu pria itu menghembuskan nafasnya kasar.


"Kalau kau tidak mau mengatakannya lalu kenapa kau hanya diam saja? Jangan membuatku bingung" ujar Alvis lagi. Kali ini Callista menatapnya.


"Apa tujuanmu mencariku kembali?" Callista bertanya dengan nada lirih. Tatapannya juga sangat melemah. Kepalanya sedikit memiring kekanan.


"Itu karena aku benar benar mencintaimu" balas Alvis. Callista nampak membuang nafasnya.


"Karena aku ingin membawamu pergi dari pria itu. Aku tahu hidupmu sangat menderita dengannya" Callista menggeleng cepat menangkis ucapan Alvis.


"Kenyataannya tidak seperti itu. Bagaimana jika ku katakan kalau aku bahagia dengannya" Alvis membisu. Ucapan Callista seolah badai untuknya.


"Itu tidak mungkin! Aku masih ingat bagaimana kau membela ku daripada pria itu!" tekan Alvis. Callista mendelikan matanya.


"Kapan aku membelamu dihadapannya?" tanya Callista.


"Terakhir kali kita bertemu. Dirumahsakit. Saat pria itu menghantam tubuhku. Kau yang membelaku saat itu" Alvis mencoba memututar memori untuk mengingatkan Callista.

__ADS_1


"Untuk terakhir kalinya aku membelamu. Karena setelah hari itu aku sudah lupa siapa dirimu? dan siapa kita? Apa hubungan kita? Aku sudah lupa semuanya" Callista berusaha tegar mengatakan semua hal itu. Saat ini ia sedang berbohong. Namun dengan sekuat mungkin Callista berusaha bersikap biasa saja agar pria dihadapannya percaya. Meski disudut mata gadis itu sudah tertumpuk berapa banyak genangan airmata.


Alvis menggeleng cepat. Berusaha menegarkan diri bahwa apa yang dikatakan Callista hanya sebuah kekeliruan.


"Aku tahu kau hanya berbohong. Atas alasan apa kau membohongiku?"


"Aku tidak sedang berbohong" tegas Callista. Alvis seakan melemah. Urat nadinya seakan putus. Mendengar Callista mengatakan hal itu seakan sebuah petir yang menyambar. Bagaimana bisa gadis yang dicintainya mengatakan hal seperti itu. Bahagia dengan orang yang sudah membuatnya menderita? Itu sangat mustahil.


"Katakan padaku apa alasanmu mengatakan hal ini? Kau sedang berbohong atau mengatakan yang sejujurnya?" Callista kicep dengan pertanyaan Alvis. Apa yang harus ia jawab? Kejujuran atau kebohongan? Jika jujur Callista tidak mungkin mengatakan pada Alvis jika Erland sudah menyelamatkan hidupnya. Membantu biaya pengobatannya dan semuanya. Dan Fiona meminta Callista untuk menerima perasaan Erland. Itu hal yang berat untuk Callista sendiri.


"Aku mengatakan hal yang jujur" dengat berat hati Callista mengatakannya. Namun kini airmata diwajahnya sudah jatuh berlinangan menyentuh pipinya.


"Aku harus pergi" dengan cepat Callista kembali berujar. Ia bangkit dari duduknya. Menghapus kikat airmata-nya lalu berlari menjauh. Sementara Alvis masih menatap kepergiannya. Pria itu mengehembuskan nafas perlahan. Matanya seketika terpejam. Lalu tangannya memijat pelipisnya pelan.


***


Disisi lain Callista sudah berada didalam taksi. Pandangannya kosong menatap kearah depan. Memikirkan kembali apa yang ia katakan tadi.


Apa keputusan ku benar dengan mengatakan hal itu? Aku hanya takut Fio marah dan kecewa padaku karena sekarang kakaknya sedang terbaring tak berdaya. Ouh tuhan, apa yang harus aku lakukan?. Batin Callista histeris. Hingga tak sadar taksi yang ia tumpangi telah sampai di depan gerbang rumahsakit dimana Erland koma akibat tabrakan.


Callista mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada supir taksi. Lalu kakinya melangkah menyusuri lorong rumahsakit. Callista berdiri didepan pintu dengan kaca bulat. Menatap lirih pria yang terkapar dengan kepalanya yang diperban. Lalu sepercik kejadian mengingatkan Callista. Kejadian dimana kepala Erland juga diperban karena terluka dan berdarah akibat Callista yang memukulnya dengan vas. Kejadian itu masih diingat Callista bahkan sampai saat ini. Dimana saat itu Erland berusaha memaksakan dirinya pada Callista.


Segelintir airmata kembali jatuh mengenai pipi gadis itu. Mengingat hal hina itu Callista merasa dadanya sesak. Setelah apa yang dilakukan Erland padanya apa masih sanggup jika Callista menerima Erland? Gadis itu bangung sendiri. Namun mengingat cerita Fiona tentang perjuangan Erland yang rela jatuh miskin karena dirinya, membuat Callista kembali meyakinkan keputusannya. Gadis itu akan mulai menerima Erland dan mencoba melupakan Alvis. Meski sekarang Alvis sudah ada disampingnya.


Callista melangkah menjauh dari pintu itu lalu mengambil duduk dikursi panjang. Ia mengatur nafasnya agar kembali normal.

__ADS_1


"Apa aku harus memberitahu Fio dan David? Tapi aku lupa membawa ponselku" ujar Callista bermonolog.


__ADS_2