
Callista berlari dengan nafas yang sudah ngos ngosan. Langkah Erland yang cepat dan besar sulit disusul Callista. Sedari tadi gadis itu terus berteriak meminta Erland agar berhenti. Namun pria itu hanya terus berjalan tanpa mau menghiraukan teriakan Callista.
Callista terdiam sejenak. Posisinya tertunduk dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya. Mengatur nafasnya pelan. Karena kini nafas gadis itu sudah tersengal sengal. Callista menatap tubuh Erland yang semakin lama semakin menjauh. Terlihat lampu terang bersinar didepannya. Callista sedikit menyipitkan matanya karena lampu itu terlalu silau. Gadis itu melihat sebuah mobil hitam yang sedang melaju cepat kearah Erland. Callista terpaku. Lidahnya kelu dan tenggorokannya tercekat. Melihat mobil dihadapannya siap menabrak Erland.
Mobil itu semakin lama semakin mendekat. Lajunya yang sangat cepat membuat jantung Callista seakan mau copot. Callista memaksakan kakinya tergerak dan berlari secepat mungkin kearah Erland. Namun ketika hendak mendorong tubuh Erland-----
Brukk. Mobil itu lebih dulu menabrak keras Erland hingga tubuh pria itu terpental membentur aspal jalanan. Callista berlari lebih cepat lagi. Mendekati Erland yang sudah terkapar dengan darah yang terus mengucur dipelipisnya.
Callista terduduk lesu dihadapan Erland. Menatap sendu dengan airmata yang sudah berauran. Gadis itu membawa kepala Erland dan memangkunya. Menyimpan kepala pria itu di pahanya. Tangannya memegang lembut wajah Erland yang sudah penuh dengan darah. Callista menangis sejadi jadinya. Kini airmata-nya telah jatuh mengenai wajah Erland dan menyatu dengan darah itu.
"Ma-afkan a-ku. Aku ter-lambat menyelamatkan-mu" Callista terbata. Tangannya masih terus memegang wajah Erland dan sesekali mengusapnya. Tidak peduli dengan darah yang sudah menempel ditangannya. Erland menepiskan senyum tipis. Menatap dalam wajah Callista yang basah.
"Tidak apa apa. Karena seharusnya kau tidak menyelamatkanku" pria itu masih tersenyum. Namun Callista tahu apa arti dari senyumannya.
"Apa yang kau katakan? Seharusnya kau tidak mengatakan hal itu" suara Callista yang terdengar sesenggukan. Airmata semakin deras membanjiri wajahnya. Lalu tiba tiba tangan Erland yang lemah mencoba terangkat mengusap wajah Callista. Menghapus airmata itu perlahan.
"Aku tidak suka melihat wanita menangis" Erland masih tersenyum. Namun terlihat dari wajahnya bahwa pria itu sedang menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.
"Aku tidak peduli! Kau sudah mengatakannya berulang kali" Callista kesal kenapa Erland malah memikirkan dirinya dan tak memperdulikan sakit ditubuhnya.
Seketika tangan Erland kembali jatuh keaspal. Tatapannya mulai meremang. Wajah Callista dihadapannya terlihat buram dimata Erland. Callista semakin panik dengan apa yang terjadi pada pria dihadapannya. Lalu tangannya menepuk nepuk pelan pipi Erland.
"Bertahanlah. Aku akan membawamu kerumahsakit. Kau akan selamat dan baik baik saja. Tidak akan terjadi apapun padamu. Atau Fio akan marah padaku dan menyalakanku. Ku mohon bertahanlah. Tolong jangan pejamkan matamu" Callista berteriak histeris dengan suaranya yang sesak. Tangannya menggoyang goyangkan tubuh Erland saat perlahan pria itu mulai memejamkan kedua matanya. Tangis Callista semakin pecah. Tidak tahu berapa juta buliran krystal itu sudah jatuh menimpa wajah Erland.
"Kau akan selamat. Aku akan membawamu kerumahsakit. Jadi bertahanlah" lirih Callista masih histeris. Lalu tatapannya menelusuri sekitar area disana. Hening dan sunyi. Tidak ada seorang pun yang lewat dijalanan itu. Callista semakin bingung apa yang akan dilakukannya. Lalu terlintas ide gila dikepalanya. Callista mencoba membawa tubuh Erland agar berdiri. Gadis itu berfikir untuk memapah Erland hingga rumahsakit. Padahal dia tidak tahu dimana letak rumahsakit terdekat. Karena mereka sedang berada di bali, bukan kota asalnya.
Callista sudah berhasil membuat Erland berdiri. Lalu membawa sebelah tangan pria itu dan menyimpannya kepundaknya. Memegang kuat pinggang Erland dan memapah perlahan tubuh itu sampai sedikit tergerak maju. Namun tak berlangsung lama. Karena Callista dengan tiba tiba menjatuhkan tubuh Erland yang lebih berat darinya.
Hap. Callista tertegun sejenak. Tadi ia menjatuhkan tubuh Erland. Tapi kenapa sekarang tubuh itu tidak membentur jalanan. Malah justru masih berdiri tegak.
__ADS_1
Callista menoleh menatap kearah Erland. Ternyata benar, tubuh Erland tidak jatuh karena seseorang menangkap tubuhnya dari belakang. Callista mendekat. Mengambil alih kembali tubuh Erland. Setelah mendapat kembali tubuh pria itu, Callista kembali membawanya pergi dengan berjalan perlahan. Namun sebelum langkahnya menjauh, Callista menyempatkan untuk menoleh kepada orang yang sudah membantunya. Orang itu adalah orang yang keluar dari mobil hitam yang telah manabrak Erland. Callista sedikit kesal dan marah. Jika ada waktu, Callista sangat ingin memaki hebat pria yang sudah melakukan semua ini pada Erland. Namun ternyata keaadannya tidak seperti itu. Alam tidak mendukung Callista untuk memarahi dan memaki pria itu. Membawa Erland kerumahsakit adalah hal yang paling penting sekarang.
"Terimakasih" ujar Callista terpaksa. Bagaimana pun laki laki yang telah menabrak Erland juga telah membantu Callista. Jika tadi laki laki itu tidak menangkap tubuh Erland, mungkin tubuh Erland sudah ambruk diaspal.
Laki laki dengan perawakan yang tinggi itu terdiam mematung. Wajahnya yang tertutupi masker dan kepala yang mengenakan topi. Serta balutan sweter yang membungkus tubuhnya. Melihat perawakannya Callista merasa tidak asing. Apalagi dengan cara berdiri laki laki itu yang terkesan familiar.
Callista kembali fokus pada Erland. Membawa tubuh Erland kembali berjalan. Tak memperdulikan laki laki itu yang kini mengikuti langkahnya. Laki laki itu berdiri disamping Erland.
"Biarkan aku membantumu" ujar laki laki itu meraih tangan Erland yang satunya dan hendak memapahnya. Namun suara Callista membuat laki laki itu terhenti sejenak.
"Jauhkan tanganmu darinya! Kau tidak perlu membantu! Karena semua ini terjadi karenamu! Andai saja kau tak mengebut dan mengurangi laju mobilmu, pasti kau tidak akan menabraknya!" Callista mengeraskan rahangnya. Menatap kesal sekaligus marah kearah laki laki itu. Laki laki itu hanya menunduk tak menjawab.
"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dan pertanggungjawabanku. Aku akan membantu membawanya kerumahsakit" ujar laki laki itu. Kembali fokus memapah tubuh Erland dan membawanya pada mobil miliknya.
Laki laki itu mendudukan tubuh Erland dikursi belakang. Lalu menatap kearah Callista yang melihat pergerakannya.
Kau tidak akan bersikap seperti ini saat tahu siapa aku. Batin laki laki itu.
***
Callista berjalan disamping Erland yang sedang dipapah oleh pria tadi. Berjalan cepat dengan perasaan yang penuh khawatir. Callista memanggil beberapa kali seorang suster. Lalu tak lama seorang suster datang dengan mendorong bangsal.
Pria itu menidurkan tubuh Erland perlahan. Lalu seorang suster membawanya pergi. Callista memegang tepi bangsal mengikuti arah laju suster. Airmata-nya berhasil jatuh kembali. Dadanya terasa sesak melihat darah yang terus mengalir dipelipis Erland.
"Maaf nona, tolong tunggu disini" ucap suster karena Callista hendak ikut masuk kedalam ruangan.
"Aku ingin masuk. Aku ingin melihatnya. Tolong" lirih Callista tercekat. Suaranya terdengar serak.
"Tuan tolong kendalikan nona ini. Kami harus segera menangani pasien" pria itu mengangguk sekilas. Lalu meraih paksa tubuh Callista dan membawanya menjauh. Menggiring tubuh itu agar duduk dikursi panjang yang ada disana.
__ADS_1
"Tenanglah" ujar pria itu.
"Kau mau aku tenang? Kau yang membuatnya seperti ini!"
"Aku tidak sengaja menabraknya. Kenapa kau jadi sehisteris ini?" Callista menoleh menatap tajam wajah pria disampingnya.
"Bukankah seharusnya kau senang? Dia yang sudah membuat hidupmu sengsara bukan? Kau ingin pergi darinya, jadi ini sebuah kesempatan" Callista menghapus airmata-nya cepat. Tatapannya berubah menjadi tatapan heran.
"Aku akan membawamu pergi. Soal kondisinya, aku yang akan menanggung biayanya" lanjutnya lagi.
"Siapa kau?" pria itu memalingkan wajahnya kearah samping.
"Kau tau semua tentang diriku dan hidupku. Apa kau orang yang kenal denganku?" ulang Callista. Tatapannya mengintimidasi.
"Aku memang mengenalmu" pria itu kembali menoleh menatap Callista. Lalu tangannya tearah membuka perlahan masker yang menutupi wajahnya. Terpampang jelas wajah itu dihadapan Callista. Wajahnya tak asing. Wajah yang sudah dikenalnya bertahun tahun lamanya.
Callista terdiam membisu. Wajah itu jelas dikenal Callista. Wajah yang sangat dirindukannya. Bagaimana bisa saat ini wajah itu ada dihadapannya. Dadanya terasa sesak kembali. Jantungnya yang memompa seakan tak lagi bekerja. Pergerakannya seakan terkunci. Tatapannya menatap tak percaya. Secepat angin gadis itu menubruk keras tubuh pria dihadapannya. Memeluknya erat. Menyalurkan segala rindu yang ada dibenaknya.
"Apa ini benar benar dirimu? Atau hanya khayalan ku saja" tangisnya tumpah didada pria itu yang ternyata adalah Alvis. Tangan Alvis terarah membalas pelukan Callista.
"Ini benar benar aku. Bukan khayalan mu" Callista semakin mengeratkan pelukannya. Selama beberapa saat posisi mereka masih seperti itu. Namun kemudian Alvis mendorong tubuh Callista dan memposisikannya agar menatapnya. Tanngannya menangkup wajah Callista lembut.
"Aku sangat merindukan mu. Apa kau juga seperti itu?" Callista mengangguk cepat mengiyakan. Alvis tersenyum melihat respon Callista. Lalu tangannya mengusap pelan pipi Callista yang basah dengan airmata.
"Kalau begitu sekarang kau sudah tidak perlu merindukan ku. Aku sudah ada disini" Callista tersenyumlah haru.
"Tapi bagaimana kau ada disini?" Callista meraih tangan Alvis yang menangkup wajahnya. Dan beralih menjadi Callista yang menggenggam tangan itu.
"Akan ku ceritakan. Tapi bukan disini. Setelah dokter mengatakan kondisinya. Kita akan pergi untuk berbicara" ujar Alvis. Callista mengangguk sejenak.
__ADS_1