Obsession Love

Obsession Love
Tigapuluhlima


__ADS_3

Erland nampak terduduk santai diatas sofa ruang utama. Tangannya bertumpu pada meja didepannya. Ia sedang membaca dokumen dan sertifikat rumahnya.


Sejak tadi pagi, pria itu meminta Fiona dan David agar menjaga dan menemani Callista untuk sementara, karena Erland harus mengurus penjualan rumah dan beberapa mobilnya.


"Sebenarnya berat untuk menjual rumah ini. Ini satu satunya peninggalan orangtuaku" gumam Erland menatap sendu kertas sertifikat atas nama orangtuanya.


"Aku berjanji akan mendapatkan kembali rumah ini. Aku akan menormalkan keadaannya" gumam Erland lagi. Lalu memasukan beberapa map kedalam tas jinjingnya.


_____________________________________________


Erland berjalan memasuki lorong rumahsakit. Ia mencari keberadaan Fiona yang ternyata tengah duduk dikursi panjang disebelah ruang inap Callista. Erland mendekati gadis itu, lalu duduk disebelahnya.


"Dimana David?" ujar Erland ketika melihat Fiona duduk seorang diri.


"Dia ada didalam menemani Kakak ipar" balas Fiona. Erland hanya mengangguk mengiyakan.


"Kakak sudah memproses penjualannya. Hanya saja_____"


"Hanya saja apa?" ujar Fiona menunggu kelanjutan ucapan Erland.

__ADS_1


"Tadinya Kakak akan menjual rumah dan semua mobil yang ada, kecuali satu mobil yang selalu Kakak pakai. Namun uang yang didapat masih tidak cukup" jelas Erland. Fiona terdiam sejenak nampak berfikir.


"Kalau begitu, bagaimana jika menjual mobil yang satunya lagi. Aku tidak masalah jika kita tidak memiliki mobil sekalipun" ujar Fiona.


"Tapi Kakak tidak bisa. Kakak masih butuh mobil itu untuk_____"


"Kakak bisa pakai mobil Kak Call jika Kakak mau" imbuh David yang tiba tiba muncul dibalik punggung Fiona. Sontak Fiona dan Erland menoleh bersamaan kearah David. Lalu David mengambil duduk disebelah Fiona yang masih kosong.


"Aku tidak bisa merepotkanmu" seru Erland menatap wajah David.


"Tapi aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Kakak sudah berbuat semuanya untuk Kak Call. Itu sudah lebih dari cukup. Aku dan Kak Call mungkin tidak akan bisa membalasnya" seru David. Erland menatap sekilas wajah adiknya menunggu respon apa dari Fiona.


"David benar Kak Er. Kita bisa meminjam mobil Kakak ipar untuk sementara waktu" ucap Fiona.


"Tapi bagaimana jika Kakak ipar tidak membolehkan kami tinggal dirumahnya?" seru Fiona.


"Kak Call tidak akan melakukan itu. Akan ku pastikan Kak Call membolehkan kalian tinggal bersama kami" Fiona hanya mengangguk mengiyakan ucapan David. Lalu beralih menatap Erland.


"Kakak akan mengikut saja. Jika kau bersedia untuk tinggal bersama David, Kakak setuju setuju saja" ucap Erland seolah paham maksud tatapan Fiona. Dan Fiona tersenyum mendengar ucapan Erland.

__ADS_1


_____________________________________________


Keesokan harinya. Erland mengemudikan mobil Callista bersama David dan Fiona. David yang duduk disamping kemudi, dan Fiona yang duduk dikursi penumpang. Mereka melajukan mobil menuju rumah Erland untuk mengemasi semua pakaian Erland dan Fiona.


Sementara dirumahsakit, Erland sudah meminta suster untuk menjaga Callista.


Pria itu memarkirkan mobil didepan pintu utama. David Dan Fiona ikut keluar bersamaan dengan Erland. Erland yang memasuki kamarnya dan David yang ikut masuk kedalam kamar Fiona.


Setelah memakan waktu kurang lebih 1jam, Erland sudah keluar dari kamarnya dengan satu koper ditangannya. Sementara Fiona membawa dua koper yang dibantu oleh David. Mereka kembali memasuki mobil, lalu melenggang pergi menuju rumah kediaman Callista.


_____________________________________________


Keesokannya lagi. Erland sudah stand by dirumahsakit. Sementara Fiona berada dirumah Callista bersama David. Erland melakukan hal yang serupa setiap harinya. Makan tidur, dan bermain ponsel. Semua itu dilakukannya dirumahsakit. Kerap Fiona dan David hanya datang ketika akan memberikan makan untuk Erland. Karena sudah beberapa hari pria itu mengirit uangnya. Erland tak lagi membeli makanan diluar. Ia hanya akan makan ketika Fiona membekalinya.


Hari hari terus berlalu. Kerap hari minggu bertemu diminggu lagi. Namun masih belum ada tanda tanda akan kesadaran Callista. Sementara Erland masih sabar menunggu hari dimana gadis yang dicintainya akan terbangun dan kembali menatapnya.


Hari lalu, Erland sudah benar benar kehilangan rumah, perusahaan, dan semua karyawannya. Bahkan sekertarisnya Egrad pun juga diberhentikan untuk bekerja. Karena Erland rasa, dia tidak akan mampu lagi untuk membayar jasanya. Pria itu sudah menghabiskan semua uang hasil penjualan rumah dan mobil untuk mengembalikan uang investasi yang senilai 2 triliun. Ditambah dengan membayar semua karyawannya yang berjumlah 48 orang. Belum lagi membayar tagihan rumahsakit Callista. Semua uang dan kekayaan yang dimilikinya benar benar hanyut tanpa sisa. Erland hanya memegang uang tabungan yang jumlahnya juga tidak banyak. Hanya cukup untuk makan selama satu bulan saja. Selebihnya Erland tidak tahu ia akan bisa makan atau tidak.


Semuanya telah Erland lakukan untuk Callista. Waktu, uang, rumah, bahkan seluruh hidupnya. Pria itu rela kehilangan segalanya hanya untuk memberikan yang terbaik untuk gadis yang sudah menempati tempat spesial dihatinya.

__ADS_1


Erland hanya berharap setelah ini terjadi, Callista akan terbangun dan tersenyum kearah Erland karena sudah memperjuangkan hidupnya. Meski nyatanya sekarang gadis itu tak menunjukkan tanda tanda bahwa dirinya akan terbangun.


Erland terlelap tanpa sadar disamping bangsal Callista. Posisinya terduduk diatas kursi dengan kedua tangan yang bertumpu pada bangsal, lalu menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangan.


__ADS_2