
Dikamar Callista. Gadis itu duduk ditepi ranjang yang berhadapan langsung dengan cermin rias. Ia menatap sendu wajahnya sendiri dibalik pantulan cermin. Lalu sebuah ketukan pintu menyadarkannya. Callista bangkit dari duduknya dan membuka handel pintu. Menampakkan David yang berdiri disana.
"Ada apa?" ucap Callista.
"Kakaknya Fio akan kembali kerumahnya" jelas David.
"Baguslah"
"Hanya itu?"
"Lalu Kakak harus bagaimana?" seru Callista yang tak mengerti akan maksud ucapan David.
"Kakak Fio bilang dia ingin bertemu dengan Kak Call dulu sebelum pulang"
"Katakan saja padanya aku malas" ketus Callista. Lalu hendak berbalik badan.
"Kakaknya Fio ingin mengatakan hal yang penting pada Kak Call" ujar David kembali. Callista terdiam sejenak. Lalu menatap David.
"Mengatakan apa?" menaikan kedua alisnya.
"Mana aku tahu. Kak Call temui saja dulu Kakaknya Fio. Baru setelah itu Kak Call akan tahu apa yang akan dikatakannya" balas David, lalu tak lama ia melenggang pergi. Callista terdiam sejenak nampak berfikir.
Bagaimana jika dia membahas lagi pertanyaan yang tadi?. Pikir Callista. Namun ia cepat cepat membuang fikirannya itu. Callista memutuskan untuk bertemu dengan Erland dan mendengar apa yang akan dikatakannya.
Callista sudah berada diruang tamu. Ia melihat Erland yang berdiri didepan pintu utama. Callista menghampirinya dan menatap Erland. Lalu memalingkan wajahnya.
"Mau mengatakan apa?" ujar Callista. Tatapannya masih menatap kesembarang arah.
"Tatap dulu wajahku. Baru setelah itu aku akan mengatakannya!" ujar Erland.
"Tidak usah bertele tele! Kau bisa langsung mengatakan intinya" ujar Callista menampilkan wajah seketus mungkin.
"Tidak masalah jika kaj tidak mau menatapku. Aku akan pergi sekarang" Erland membuka handel pintu dan melangkah keluar. Sementara Callista melihat kepergiannya.
"Dia belum memberi tahuku apa yang akan dikatakannya" gumam Callista seorang diri. Lalu langkahnya ikut menyusul langkah Erland yang ingin memasuki mobilnya.
"Tunggu!" teriak Callista. Erland menoleh dan menatap kearah Callista yang sedikit ngos ngosan akibat berlari. Callista berjalan lagi mendekati Erland yang berdiri dipinggir mobil.
"Kau belum memberi tahuku apa yang akan kau katakan" seru Callista menatap Erland. Erland tersenyum senang saat Callista menatapnya.
"Aku hanya ingin mengatakan, kalau barang barangmu masih ada dirumahku. Kau bisa mengambilnya kapan pun kau mau" ujar Erland.
"Tentu saja. Aku akan mengambilnya. Itu hak ku!" Erland mengangguk mengiyakan ucapan Callista. Lalu tak lama dirinya memasuki mobil. Saat hendak menancapkan gas, Callista kembali menghentikan pergerakannya.
"Tunggu dulu! Apa hanya itu yang ingin kau katakan? Kufikir hal yang penting" seru Callista menatap wajah Erland dibalik kaca hitam. Erland menurunkan kaca mobilnya agar dapat dengan jelas melihat wajah Callista.
"Memang hanya itu yang ingin ku katakan. Aku tidak mau berbicara banyak padamu. Pertanyaan ku yang sebelumnya saja belum kau jawab. Jadi untuk apa aku berbicara lagi? Kau tetap tidak akan menggubrisnya bukan?" ujar Erland menepiskan senyum tipis. Lalu tak lama pria itu menancapkan gas dan berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumah Callista. Callista menatapnya tak percaya. Gadis itu merasa ada yang jangal pada sikap Erland.
Ini bukan dirinya. Dia seperti sedang berubah menjadi orang lain. Batin Callista masih menatap mobil yang melaju pergi semakin menjauh. Tak lama Callista kembali memasuki rumahnya.
__ADS_1
_____________________________________________
Disi lain. Erland mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal. Tatapannya fokus pada jalanan yang ramai khalayak berlalu lalang. Dalam hatinya pria itu sangat hancur. Erland belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya pada Callista. Erland tidak mungkin terus mencintai Callista dalam pemaksaan. Sebenarnya pria itu hanya ingin Callista melupakan kekasihnya dan beralih pelukan pada Erland. Namun rasanya begitu sulit membuat Callista mengerti. Gadis itu masih tidak mau membuka hatinya untuk Erland. Padahal Erland sudah memberikan apa yang diinginkan Callista. Bahkan pria itu juga akan memberikan segalanya pada Callista. Asal gadis itu mau menerimanya dan belajar mencintainya.
Diammu itu adalah sebuah jawaban untukku. Kau telah memutuskan untuk tetap bersama pria itu dibanding menerima diriku. Diammu adalah sebuah jawaban yanh mematikan untukku. Batin Erland.
_____________________________________________
Sementara dikediaman Erland. Fiona tak henti hentinya melirik kearah pintu utama. Dia duduk disofa ruang tamu menunggu kedatangan Erland. Sejak semalam kemarin Kakaknya itu tidak pulang kerumah. Fiona sangat ingin menghubungi Kakaknya dan bertanya. Namun ia takut jika Kakaknya marah.
Gadis itu masih setia menunggu Erland. Sampai sebuah gebrakkan pintu yang cukup keras menganggetkannya. Fiona melirik kearah pintu utama. Ternyata Erland berada disana dengan wajah yang lesu, dan pakaian yang masih sama seperti saat Erland pergi kerumah Callista.
Fiona berdiri dari duduknya menatap Erland. Pria itu membanting pintu dengan keras. Sontak membuat Fiona mengerti bahwa Kakaknya pasti sedang dalam kekacauan. Dan ntah karena apa Kakaknya kacau. Fiona tidak mengetahui hal itu.
"Kak Er kau tidak apa apa?" ujar Fiona khawatir. Erland menatapnya sekilas lalu kembali melangkah menuju kamarnya.
"Kakak baik baik saja" seru Erland yang terus melangkah. Fiona hanya menatap punggung Erland yang semakin menjauh. Lalu memutuskan pergi kekamarnya sendiri.
Sekarang Fiona sudah berada didalam kamarnya ia duduk diatas ranjang dengan tangan yang memegang ponsel. Fiona mencari nama David dikontaknya. Seteleh ditemukan ia mengetik sebuah pesan untuk David.
Haii David. Aku ingin bertanya. Sebenarnya apa yang terjadi dirumahmu? Kenapa Kak Er pulang dengan keadaan begitu kacau? Seperti ada sesuatu yang mengganggu fikirannya. Terkirim....
Tak lama Fiona mendapatkan balasan dari David atas pertanyaannya. Ia mendengus kesal saat pesan dari David sama sekali tidak membantu.
Mana aku tahu Fio. Memang aku selalu ada disamping Kakakmu? Lagi pula Kakak mu itu selalu saja ingin dekat dengan Kak Call. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Isi pesan David.
"Lagi pula kenapa aku begitu bodoh harus bertanya pada David. Dia sangat polos dan kekanakkan. Hanya membuang waktu" kesal Fiona setelah membaca balasan dari David. Ia mendengus kasar mengingatkan sikap David yang polos dan seadanya.
_____________________________________________
"Kak Er akan pergi kekantor?" ujar Fiona setelah mereka duduk dimeja makan.
"Iya Fio. Perkerjaan Kakak sudah menumpuk banyak" balas Erland menyuapkan sarapan yang disiapkan oleh koki dirumah itu.
"Baiklah semoga hari Kak Er menyenangkan" Fiona mengukir senyum yang dibalas angguk oleh Erland.
"Kakak akan pergi sekarang. Kau jaga diri baik baik" seru Erland bangkit duduknya. Ia menatap tersenyum pada Fiona.
"Tapi sarapan Kak Er belum habis" sergah Fiona menatap piring Erland yang bisa dibilang masih utuh.
"Kakak akan melanjutkan sarapannya dikantor. Ini sudah siang. Kakak bisa terlambat" jelas Erland. Fiona mengangguk paham, lalu tersenyum.
"Hati hati Kak Er" teriak Fiona saat Erland sudah melangkah jauh. Erland hanya membalas dengan mengangkat sebelah tangannya. Sementara Fiona meraih ponselnya dan mengirim pesan pada David.
David aku ingin bertemu denganmu. Ada hal yang ingin aku bicarakan. Bisa kau kerumahku? Kita akan berbicara ditaman hiburan waktu itu. Terkirim....
_____________________________________________
Sementara dikediaman Callista. Callista nampak sedang menyisir rambutnya didepan cermin. Gadis itu sudah bersiap dengan rapi. Callista berencana akan pergi kerumah Erland untuk mengambil kembali barang barangnya. Sekarang ia sudah selesai berrias dan keluar kamar hendak pergi.
__ADS_1
"Kak Call tunggu! Kau mau kemana?" teriak David ketika Callista hendak membuka handel pintu utama. Callista menoleh menatap David yang berdiri menatapnya.
"Kakak akan pergi kerumah Fio untuk mengambil barang barang Kakak" balas Callista.
"Kalau begitu aku akan ikut" ujar David mendekati Callista.
"Untuk apa? Kau diam saja dirumah. Kakak hanya mengambil barang barang Kakak. Setelah itu akan kembali kerumah"
"Sebenarnya Fio memintaku untuk menemuinya"
"Tidak. Kau tidak boleh bertemu dengannya lagi. Atau pria itu akan memarahimu lagi!" seru Callista.
"Hanya sebentar saja Kak Call. Dia hanya ingin berbicara padaku. Setelah itu aku akan segera kembali pulang. Aku mohon Kak Call" ujar David menampilkan wajah sendu. Callista terdiam sejenak nampak berfikir.
"Baiklah. Tapi kau berjanji kau akan segera pulang! Dan pastikan pria itu tidak tahu jika kau bertemu dengan Fio!" seru Callista dengan sedikit peringatan. David mengangguk cepat dan tersenyum.
"Aku dan Fio memang akan bertemu ditaman hiburan waktu itu. Jadi Kakaknya tidak akan tahu" seru David. Callista mengangguk mengiyakan. "Tapi kita akan kesana denga apa? Apa jalan kaki lagi?" lanjut David.
"Kita akan naik taksi. Kakak akan membayar taksinya saat sampai disana" seru Callista. Lalu tak lama mereka berjalan bersama menuju ketepi jalan menunggu taksi. Kemudian taksi pun berhenti dihadapan mereka. Callista masuk kedalam taksi tersebut yang disusul oleh David.
Setelah beberapa menit taksi yang mereka tumpangi sampai didepan gerbang yang menjulang tinggi. Callista keluar dari mobil bersama David.
"Kau tunggu disini saja ya? Akan lebih cepat jika Kakak mengambil barang barangnya sendiri" seru Callista. Dan David menyetujuinya. "Setelah Kakak mengambil mobil kita. Kau akan mengantarkan terlebih dulu Kakak kerumah dan setelah itu kau bisa pergi bersama Fio" lanjut Callista. Lalu David lagi lagi mengangguk.
"Pa, uangku ada didalam rumah ini. Bisa aku mengambilnya dulu? Setelah itu aku akan membayarmu" ujar Callista menundukkan kepalanya menatap supir taksi. Dan supir taksi itu mengiyakan ucapan Callista. Callista lalu berlari memasuki rumah Erland. Ia menekan bel dan tak lama Bi Imas membukanya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" ucap Bi Imas menunduk hormat.
"Aku ingin mengambil barang barang ku yang tertinggal" ujar Callista. Lalu tak lama Fiona muncul dan menghampirinya.
"Kakak ipar? Kau disini? Ada apa?" seru Fiona.
"Fio aku ingin mengambil barang barangku" ujar Callista. Fiona mengangguk paham. Lalu menemani Callista menuju kamarnya.
Setelah dalam kamar Fiona. Callista mengemas semua barang barangnya. Mulai dari ponsel, dompet, dan kunci mobil, serta beberapa baju miliknya.
"Fio aku sudah selesai. Aku tidak bisa berlama lama disini. Jadi aku akan segera pergi" seru Callista.
"Apa Kakak ipar tidak mau membawa baju yang diberikan Kak Er?" ujar Fiona lirih. Ia menatap baju pilihannya waktu itu tak ikut dimasukan pada tas Callista.
"Fio aku tidak bisa membawanya" lerai Callista memegang pundak Fiona sembari tersenyum.
"Tapi ku mohon bawalah. Dress ini pilihanku. Setidaknya Kakak ipar menghargai itu" lirih Fiona lagi.
"Baiklah. Aku akan membawanya. Tapi aku tidak berjanji akan memakainya" seru Callista memasukan dress yang dimaksud Fiona pada tas miliknya. Fiona tersenyum senang dan mengangguk. Lalu tak lama mereka melenggang pergi menuju pintu utama. Fiona menyaksikan langkah Callista yang hendak memasuki mobilnya dengan genangan airmata yang sudah menumpuk dikelopak matanya.
"Kakak ipar tunggu!" Callista berbalik menatap Fiona.
"Kakak ipar masih mau menemuiku, kan?" teriak Fiona lirih.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku akan datang padamu kapan pun kau memintanya" Callista tersenyum hangat kearah Fiona. Fiona yang senang mendengar jawaban Callista ikut tersenyum. Lalu Callista memasuki mobilnya dan melenggang pergi. Sebelum keluar dari gerbang, mobil Callista melewati Fiona. Dan melambaikan tangannya kearah Fiona.
Sekarang Callista sudah berada diluar gerbang. Ia mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya pada supir taksi tadi. Tak lama supir taksi itu melenggang pergi. Dan Callista meminta David untuk masuk. Mobil mereka pun melenggang pergi melewati jalanan yang mulai ramai.