
Callista terduduk disofa. Tangannya memegangi cangkir teh dihadapannya. Masih panas dan mengebul. Callista sesekali meniup pelan untuk sekedar mendinginkan teh tersebut.
Erland berjalan menghampiri Callista. Mengambil duduk disamping gadis itu. Pakaiannya sudah berganti. Lebih santai dan kalem. Rambutnya juga sedikit basah dan berantakan. Mungkin baru saja selesai mandi.
Callista menoleh kearah samping. Nampak Erland sedang menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Dengan gerakan cepat Callista menyodorkan cangkir yang dipegangnya kearah wajah Erland yang sontak membuat pria itu menoleh.
"Ini untukmu" ujar Callista. Erland terdiam tak menjawab. Menunggu Callista melanjutkan ucapanya.
"Ini teh hangat. Mungkin tubuhmu akan sedikit lebih baik jika meminumnya" lanjut Callista. Erland tersenyum simpul lalu meraih pelan cangkir itu. Dengan sekali tegukan ia hampir menghabiskannya. Hanya tinggal setengah teh lagi yang tersisa.
"Uhuk" terbatuk. Erland menaruh cepat cangkir itu diatas meja. Batuknya masih terus berjalan tanpa henti. Callista mengernyit heran.
Mengapa hanya dengan meminum teh dia bisa terbatuk. Batin Callista. Dengan cepat menepuk nepuk punggung Erland untuk membantu menghentikan batuknya.
"Kau meracuniku!" seru Erland menatap intens Callista.
"Aku tidak memasukan apapun kedalamnya" tidak terima Callista.
"Aku tidak bilang kau memasukan sesuatu. Tehnya masih sangat panas" kesal Erland saat wanita dihadapannya menampilkan wajah polos tanpa berdosa.
"Hempt" Callista menahan tawa. Ia menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan. Lalu Erland menatap wajah gadis itu dengan tajam. Rahangnya seketika mengeras.
"Kau mengerjaiku?" tajam Erland.
"Aku hanya membalas perbuatanmu. Karena kau aku jadi merasakan rasa pahit obatnya. Jadi yasudah, aku bakar saja lidahmu dengan teh panas itu. Agar kedepannya kau tak akan berani lagi melakukan hal yang sama" diakhiri tawa yang sudah menggema. Erland semakin menatap Callista heran. Baru saja ia akan beranjak dari duduknya. Fiona dan David datang bersamaan dan mengambil duduk disofa sebrang.
"Kak Er, kau belum mengganti perban didahimu?" tanya Fiona. Menatap perban Erland yang sudah kotor dan sedikit berantakan.
"Kakak lupa. Kakak akan menggantinya nanti" balas Erland.
"Akan aku gantikan" cepat Callista menimbrung.
"Tidak perlu" sergah Erland tanpa menoleh.
"Kak Er, kakak ipar akan menggantikan perbanmu. Kenapa menolak. Perbannya harus segera diganti, atau lukamu tidak akan kering" ujar Fiona lagi.
"Adikmu benar. Ayo!" Callista bangkit dari duduknya mengulurkan tangan kearah Erland. Pria itu nampak menghembuskan nafas kasar sebelum akhirnya bangkit berdiri. Erland berjalan lebih dulu mendahului Callista. Bahkan tidak membalas uluran tangan Callista yang sudah terlentang dihadapannya. Dengan cepat Callista menyusul langkah Erland. Dengan mata yang terus mendelik kesal.
__ADS_1
Mereka sudah berada didalam kamar Callista. Erland duduk ditepi ranjang. Dan Callista mengambil kotak P3K didalam laci. Bersamaan dengan mengambil bungkusan obat yang berisi crim.
Callista duduk disamping Erland. Ia mulai membuka kotak P3K dan mengambil sesuatu yang ia butuhkan. Baru saja Callista akan membersihkan luka Erland dengan kapas dan alkohol, gadis itu sudah mengurungkannya. Menatap kesal wajah Erland yang tak mengahadap kearahnya. Pria itu malah fokus dengan ponselnya.
"Ada waktu untuk bermain ponsel. Sekarang aku akan mengobati luka mu dulu" tungkas Callista.
"Obati saja aku tidak menolaknya"
"Maksudku menatap kearah ku. Aku tidak bisa mengobatinga jika kau terlalu fokus pada ponselmu" seketika Erland mendongakkan tatapannya dari ponsel. Beralih menatap Callista disampingnya.
"Ayo cepat" pinta Erland. Callista menampilkan wajah malas. Lalu dengan gerakan lembut gadis itu mulai membuka perban Erland. Membersihkan luka yang masih basah. Callista juga melihat dahi Erland yang sedikit sobek. Mungkin karena benturan yang sangat keras dengan aspal. Selesai membersihkan, Callista mengaplikasikan crim yang diberikan dokter untuk mempercepat kering lukanya. Lalu mengganti perban didahi Erland dengan perban yang masih baru dan bersih.
"Selesai" pekik Callista. Lalu sibuk memasukan kembali peralatan P3K kedalam kotaknya.
Erland berdiri dengan cepat. Pria itu mengganti pakaiannya saat itu juga. Bahkan memakai jas kantornya. Penampilannya seketika berubah formal dan resmi. Callista menatap heran dengan kening berkerut. Lalu semakin heran ketika Erland berlalu dari kamarnya dengan permisi. Callista buru buru menyimpan kembali kotak P3K ketempatnya semula. Lalu menyusul langkah Erland yang sudah menjauh.
Fiona dan David yang juga terkejut dengan kedatangan Erland yang tiba tiba ikut berkerut dahi. Keduanya juga lebih dibingungkan dengan Callista yang berada dibelakang Erlang dengan sedikit berlari kecil.
"Kak Er, kau mau kemana?" sergah Fiona. Erland masih terus berjalan tanpa menoleh. Malah justru Callista lah yang berhenti dan menatap kearah Fiona.
"Kakak ipar" panggil Fiona. Callista menoleh kilat. Lalu membaca raut wajah Fiona yang seperti bertanya ada apa?.
Callista menggelengkan kepala dan mengedikan bahu untuk menjawab pertanyaan Fiona.
"Aku tidak tau. Mungkin kakak mu memang ada urusan penting. Jika tidak, tidak mungkin dia pergi" tambah Callista untuk memperjelas.
"Masalahnya Kak Er belum pulih benar" cemas Fiona.
"Tapi ku lihat dia sudah seperi biasanya. Jadi kau tenang saja, Fio" lerai Callista. Fiona hanya terdiam sembari mengangguk kecil.
***
Disisi lain. Erland baru saja meninjakan kakinya kembali diperusahaan miliknya yang sudah berdebu. Setiap sisi jendela nampak kusam dan usang. Bahkan sarang laba laba bersarang disetiap penjuru. Erland memasuki bangunan tinggi nan luas itu. Ia melangkah pelan dengan tatapan yang mengelilingi sekitar area disana. Perusahaannya sudah lama tidak terawat. Itu membuat setiap tembok disana terlihat sangat kotor. Namun tanpa mempedulikan hal itu, Erland kembali melangkah menyusuri setiap lorong. Menuju ruangan direktur miliknya. Kembali pada tujuan awalnya mendatangi perusahaan.
Pria itu membuka handel pintu ruangan ditektur. Gagang handelnya sangat berdebu. Sampai Erland harus terbatuk ketika membukanya.
Erland berjalan berkeliling. Melihat keadaan ruangannya yang tak lagi sama seperti dulu. Kini ruangannya lebih kumuh. Pria itu mendekati kursi kebesarannya. Memutar kursi itu yang juga sudah berdebu. Erland membuka laci kerjanya. Ia ingat ada beberapa dokumen penting disana. Erland meraih semua berkas dalam laci dan menaruhnya diatas meja. Memilah satu demi satu setiap map yang tertera disana. Seketika pria itu ingat tentang berkas penting. Berkas yang berisi seluruh aset perusahaannya. Erland ingat, bahwa pria itu juga masih memiliki aset perusahaan. Yaitu surat tanah dan pemindahan hak perusahaan.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku kembali merintisnya" ujar Erland bermonolog.
Sekelibat ide lalu muncul dikepala Erland. Pria itu ingat dengan wanita cantik yang pernah mengejar cintanya dulu. Seorang wanita putri dari pemilik perusahaan ternama yang namanya sudah melejit diseluruh dunia. Bahkan perusahaan itu sudah dinobatkan sebagai perusahaan Go internasional No 1.
Erland mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya. Pria itu ingat jika ia pernah menyimpam nomer ponsel wanita itu. Lalu tanpa berpikir panjang Erland memutuskan untuk menghubunginya.
Nomer yang ditujunya tersambung. Wanita yang sempat singgah dimasalalunya berbicara disebrang telpon.
"Hallo! Ada yang bisa aku bantu?" ujar wanita itu. Erland terdiam sejenak tak menjawab. Mendengar kembali suara lembut wanita itu membuat Erland ingat kembali bahwa dulu ia telah memperlakukan wanita itu dengan kejam. Hanya karena wanita itu memaksa ingin menikah dengan Erland dan sampai melibatkan perusahaan Erland. Mengancam perusahaan Erland akan gulung tikar jika menolak lamaran gadis itu.
"Permisi! Ada yang bisa aku bantu?" ulang wanita itu.
"Ah iya, aku membutuhkan bantuanmu" balas Erland tergugup.
"Bisa kau sebutkan siapa dirimu dan darima asalmu?" tanya wanita itu.
"Aku-----" Erland menjeda perkataannya. Rasanya sangat sulit jika harus mengatakan tentang dirinya.
"Aku Erland Christopher. Pria yang kau kenal dulu. Apa kau masih ingat?" lanjut Erland. Kali ini wanita disebrang telpon itu yang tak menjawab. Erland hanya mendengar suara gemuruh disebrang telponnya.
"Hallo! Kau masih ada disana?" ucap Erland kembali.
"Iya ini aku. Maaf membuat mu menunggu. Jadi kau membutuhkan bantuan apa?" balas wanita itu lagi. Kini suaranya terrdengar sedikit serak.
"Aku akan mengatakannya. Tapi bisa kita bertemu dulu? Aku ingin mengatakannya secara langsung padamu"
"Sebenarnya aku sedang berada di Texas. Tapi tak masalah. Akan ku usahakan untuk bertemu denganmu"
"Baiklah terimakasih" seru Erland. Lalu menampilkan senyum diwajahnya. "Akan ku kirimkan alamat dimana kita akan bertemu" lanjut Erland. Dan hanya terdengar persetujuan dari wanita itu. Lalu tak lama telpon mereka kembali terputus.
Erland menatap kosong kearah depan. Hatinya berharap semoga semuanya akan berjalan lancar dan berhasil. Dengan bantuan wanita itu Erland yakin ia mampu merintis kembali perusahaannya dari nol.
***
Seputar wanita yang Erland hubungi tadi. Wanita itu adalah Elmira Bernard. Gadis berdarah amerika-indo yang sudah lama tinggal di indo bersama sang ayah. Ayahnya adalah seorang penguasa sukses. Bahkan hal itu juga terwarisi kepada putrinya Elmira. Seorang gadis cantik dengan tubuh tingginya yang proporsional. El yang saat itu masih berumur 20 tahun sudah sukses dengan kecerdasannya. Menjadi seorang wanita pengusaha yang sukses dibanyak bidang. Kala itu pula El dipertemukan dengan Erland untuk kerjasama bisnis mereka yang cukup besar. Namun karena El yang jatuhcinta pada Erland membuat kerjasama mereka hancur. El justru malah meminta sang ayah agar menikahkannya dengan Erland. Karena kala itu El mencintai Erland dengan sangat gila. Obsesinya pada Erland dulu jauh lebih besar dan berbahaya dibanding obsesi Erland pada Callista kini. Saat itu El memaksa Erland agar bersedia menikah dengannya. Namun karena hati Erland yang membeku dan tidak memiliki hasrat kepada wanita, saat itu Erland menolaknya dengan sadis tanpa belas kasihan. Erland memaki hebat El yang kala itu sengaja datang kerumahnya dan menemui kedua orangtuanya dengan membawa lamaran. Dan karena itu Erland sangat marah dan murka. Padahal ia sudah memperingati El untuk tidak berani beraninya melakukan hal itu. Tapi karena saat itu El yang bodoh dan masih polos dengan entengnya melakukan hal yang dilarang Erland. Tentu hal itu membuat Erland marah dan berubah menjadi membenci El.
Sebenarnya status El yang kala itu adalah putri dari seorang penguasa kaya raya dan ternama sama sekali tidak membuat Erland jatuh hati. Karena kecantikan dan keanggunan El pun sama sekali tak berpengaruh untuk Erland. Sekali tidak suka akan tetap tidak suka. Meski sampai kapan pun. Itulah prinsip Erland. Dan sayangnya El tidak mengerti ketika Erland menolak lamarannya secara halus. El masih bersikeras dengan usahanya untuk mendapatkan Erland. Hingga Erland naik pitam dan menghina serta memaki hebat El dengam kata kata pedasnya. Disitulah perasaan El mulai memudar. Harapannya seakan dipatahkan begitu saja oleh Erland. Ketika itu juga El mulai menjauh dari Erland dengan pergi ke Texas untuk sekedar membuang Erland dari isi kepalanya. Dan saat itu pula mereka tak lagi bertemu. Bahkan tidak ada satu kabar pun dari mereka. Dan semenjak kejadian itu Erland merasa bersalah dengan tindakannya. Kenapa ia bisa sekejam itu dulu pada El jika sekarang ia membutuhkan bantuan gadis itu untuk memajukan kembali perusahaannya. Dan anehnya El langsung menyetujui permintaan Erland yang membutuhkannya. Meski El sendiri masih ingat dengan bayangan masalalunya.
__ADS_1