Obsession Love

Obsession Love
Tigapuluhtujuh


__ADS_3

Mobil yang mereka tumpangi melesat dengan mulus diarea pekarangan rumah Callista. Dengan cepat Erland keluar dan membukakan pintu untuk Callista. Callista terpaksa keluar mobil dengan tangannya yang menggenggam uluran tangan Erland. Gadis itu merasa sedikit pening dikepalanya. Jadi memutuskan untuk menerima tawaran tangan Erland.


Mereka berempat berjalan memasuki pintu utama rumah Callista. Callista dan Erland yang berjalan beriringan. Sementara David dan Fiona yang membuntuti dari belakang.


"Aku akan membawamu ke kamarmu untuk istirahat" ujar Erland saat mereka sampai diruang tamu. Callista mengangguk kecil mengiyakan ucapan Erland. Lalu tak lama Erland memapah tubuh Callista sampai memasuki kamar. Pria itu membantu Callista merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi Callista yang setengah duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


"Kau butuh sesuatu?" seru Erland yang duduk ditepi ranjang Callista. Callista menggelengkan kepala membalas ucapan Erland.


"Kalau begitu apa kau mau makan. Kau belum makan sama sekali sejak sadar tadi" lanjut Erland.


"Aku akan makan nanti" singkat Callista.


"Tolong jangan membuatku khawatir lagi. Kau makanlah. Atau kondisimu akan kembali memburuk" Erland menampilkan wajah khwatirnya. Dan Callista hanya menatap wajahnya sekilas, lalu kembali melihat kesembarang arah.


"Aku akan makan. Tapi hanya beberapa suap saja. Setelah itu aku tidak akan makan lagi" ucap Callista. Erland tersenyum tipis. Lalu tak lama ia bangkit dari duduknya menuju keluar kamar.


"Aku akan membawakan dulu makanan untukmu" seru Erland saat membuka handel pintu.


Tak lama Erland sudah kembali kekamar Callista dengan nampan ditangannya. Pria itu membawakan hamburger dan coklat panas untuk Callista. Erland kembali duduk ditepi ranjang Callista.


"Aku akan menyuapimu" ujar Erland membawa piring hamburger dan menyimpan nampan diatas meja samping.


"Aku bisa makan sendiri" sergah Callista sebelum Erland memasukan potongan hamburger kedalam mulutnya.


"Biar aku yang menyuapimu" keukeuh Erland. Callista menghembuskan nafasnya pelan mendengar ucapan Erland.


Selalu seperti ini. Batin Callista. Lalu pasrah saat Erland menyodorkan potongan hamburger kemulutnya. Callista dengan cepat melahapnya. Disela kunyahannya, Erland menatap lekat wajah Callista yang masih pucat. Tak lama Erland kembali memasukkan potongan hamburger saat melihat kunyahan Callista sudah mulai melonggar. Callista kembali melahapnya. Terus seperti itu sampai pada suapan keempat.


"Aku sudah kenyang" ujar Callista menghentikan Erland yang hendak menyuapinya kembali dengan suapan kelima.


"Kau bahkan tidak menghabiskan sepotong pun" seru Erland melihat hamburger-nya yang masih tersisa banyak.


"Sudah kubilang tadi aku hanya akan makan beberapa suap saja. Aku sudah kenyang" Erland mengangguk mengiyakan ucapan Callista. Pria itu menyimpan kembali sisa hamburger pada nampan. Lalu meraih gelas coklat dan menyodorkannya pada Callista.


"Apa ini?" ucap Callista melihat kearah gelas yang disodorkan Erland.


"Ini coklat panas. Kau harus meminumnya"


"Aku tidak mau. Aku tidak suka dengan rasanya" tolak Callista menjauhkan gelas itu dari tubuhnya dengan gerakan pelan. Namun Erland kembali mendekatkannya.

__ADS_1


"Kau harus meminumnya. Agar tubuhmu sedikit rileks" seru Erland.


"Aku tidak mau! Aku tidak akan meminumnya!" bantah Callista lagi menjauhkan gelas itu. Namun kini dengan gerakan yang cukup keras. Hingga isi dalam gelas itu tumpah mengenai tangan Erland. Erland dengan cepat menyimpan gelas itu ketempatnya. Lalu memegangi tangannya yang terasa panas.


"Arghh" rintih Erland dengan suara yang tipis. Callista melihat itu. Seketika dirinya merasa bersalah. Callista lantas dengan cepat meraih tangan Erland dan memegangnya.


"Apa sangat panas?" ujar Callista menatap wajah Erland. Erland menggelengkan kepala cepat.


"Tidak" balas Erland.


"Tapi tanganmu langsung memerah" ujar Callista kembali melihat tangan Erland. Dengan cepat Callista meraih beberapa lembar tissue yang disimpan diatas meja rias. Lalu kembali duduk menghadap ke tubuh Erland. Callista dengan lihai mengelap lembut tangan Erland yang masih terdapat coklat. Setelah merasa tangan Erland sudah bersih, Callista dengan refleks mencium tangan Erland dengan sesekali **********. Erland menatap tindakkan gadis itu dengan berkerut dahi. Hal seperti ini baru Erland rasakan.


Callista Seketik tersadar apa yang dilakukannya sekarang. Ia buru buru mengangakat wajahnya dari tangan Erland. Callista menampilkan wajah yang gelagapan dihadapan Erland.


"Orang bilang jika tangan kita terkena air panas, kita harus segera memasukannya pada air dingin. Agar rasa panasnya cepat menghilang" ujar Callista memberi penjelasan.


"Tapi yang kau lalukan tidak sperti itu. Kau ******* tanganku, bukan memasukannya kedalam air" seru Erland mengingat apa yang Callista lakukan tadi. Callista terdiam sejenak mendengar ucapan Erland.


"Itu karena aku terlalu refleks dan ingat bahwa tidak ada air disini" alasan Callista.


"Tapi ada kamar mandi bukan? Kenapa kau lebih memilih ******* tanganku?" seru Erland lagi yang berhasil membuat Callista tak bisa berkutik. Gadis itu lalu memalingkan wajahnya dengan gelagapan. Tidak ada alasan lagi yang bisa Callista katakan.


"Terimakasih" seru Erland saat wajah mereka bertatapan dengan jarak yang minim. Callista terdiam tak membalas. Bahkan untuk berkedip saja Callista merasa sulit melakukannya. Seketika Erland beralih pandang kearah bibir Callista yang sedikit mengering. Mungkin karena selama koma bibir itu sudah tidak terolesi lipstik. Erland dengan cepat mencium lembut bibir kering Callista. Tangannya yang memegang dagu Callista mengintruksikan mulut Callista agar terbuka. Lalu mulut gadis itu mulai terbuka. Erland dengan lihat masuk kedalam mulut Callista. Mengabsen setiap inci dalam mulut itu. Sensasi seperti ini benar benar dirindukan Erland. Ciuman mereka berlangsung cukup lama. Namun tidak ada balasan apapun dari Callista. Gadis itu tidak menolak ataupun membalas ciuman Erland.


Erland melepaskan pagutannya dari mulut Callista. Karena merasa Callista sudah kehabisan nafas. Erland menatap dalam wajah Callista saat ciuman mereka berakhir.


"Ini tanda terimakasih ku atas apa yang kau lakukan tadi" Erland tersenyum hangat. Lalu jempolnya mengusap pelan bibir Callista yang basah karena air liur. Setelah dirasa selesai, Erland menjauhkan tubuhnya dari Callista. Pria itu meraih nampan dan hendak meninggalkan kamar Callista. Sementara Callista masih mematung pada posisinya.


"Apa kau mau aku membawakan minum untukmu?" ujar Erland menatap wajah Callista saat hendak keluar kamar. Callista dengan cepat menggeleng mengtidakan ucapan Erland. Tak lama tubuh Erland hilang dibalik pintu.


***


Malam harinya. Callista sudah membersihkan diri dikamar mandi. Lalu menjatuhkan tubuhnya pada ranjang miliknya. Sebelum hendak tertidur, Callista mendengar suara bising diluar kamarnya. Gadis itu lantas keluar kamar dengan pakaian piyama yang sudah dikenakannya. Callista melihat kearah ruang tamu yang terdapat Erland, Fiona, dan adiknya David.


"Aku mohon jangan pergi Kak Er. Ini sudah larut malam" ucap sendu Fiona tertuju pada Erland. Erland memegang lembut pundak adiknya lalu tersenyum. Sementara Callista terdiam mendengar perbicangan itu walau suaranya sangat samar samar.


"Kakak seorang lelaki, jadi kau tidak usah khawatir" balas Erland disela senyumnya.


"Tapi kau akan pergi kemana? Kenapa tidak disini saja?" lirih Fiona mulai menggenangkan airmata.

__ADS_1


"Fio, Callista belum tahu kalau kita tinggal dirumahnya. Kakak takut dia syok jika mengetahui hal ini. Jadi Kakak tidak akan tidur disini untuk malam ini. Kakak akan mencari tempat untuk tidur. Jadi kau tidak usah khawatir" jelas Erland.


"Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku juga harus pergi?"


"Kau tidak perlu kemana mana, Fio. Kau bisa tidur disini" ucap Erland.


"Tapi Kakak ipar pasti akan curiga kenapa aku tidur disini"


"Kau berikan saja alasan kalau kau ingin menginap. Kau sangat dekat dengan David. Jadi Callista tidak akan curiga, hemm?" seru Erland mengalihkan tatapannya pada David.


"Kau bisa menemani dan menjaganya, kan?" seru Erland yang langsung dibalas anggukan oleh David.


"Tidak Kak Er. Aku tidak mau disini jika Kak Er tidak ada" lirih Fiona dengan suara yang sudah serak. Airmata sudah jatuh mengenai pipinya. Dengan cepat Erland menghapus buliran bening itu. Lalu menangkup wajah Fiona.


"Kau percaya pada Kakak. Kakak akan baik baik saja. Kakak hanya akan pergi ketika malam hari saja. Selain itu Kakak akan terus berada disini. Kakak juga harus menjaga Callista bukan?" seru Erland kembali menatap yakin wajah adiknya yang masih berlinangan. Namun tak lama kemudian suara hentakan kaki terdengar. Erland dan yang lainnya menoleh kearah asal suara. Ketiganya melihat kearah Callista yang berjalan mendekat. Erland melepaskan tangannya yang menangkup wajah Fiona. Dan fokus pada kedatangan Callista. Callista menatap heran kearah ketiga orang dihadapannya. Lalu melihat kearah Fiona yang beruraian airmata.


"Kau kenapa Fio? Kau habis menangis? Karena apa?" ucap Callista. Fiona dengan terburu buru menghapus kilat airmata-nya dengan punggung tangan.


"Tidak Kakak ipar. Aku tidak apa apa" Fiona memaksakan mengukir senyum.


"Kalau kau tidak apa apa tidak mungkin kau menangis" ujar Callista. Namun sebelum Fiona menjawab lagi, Erland sudah mendahuluinya terlebih dulu.


"Fio baik baik saja. Sekarang kau pergi beristirahatlah. Kondisimu masih lemah" ujar Erland berjalan mendekat pada Callista. Lalu tangannya membalikan tubuh Callista hendak membawa gadis itu kekamarnya. Namun tangan Callista menghentikan Erland.


"Aku baik baik saja. Kondisiku sudah pulih" seru Callista. Lalu menjauhkan tangan Erland yang memegang tubuhnya.


"Kondisimu masih lemah. Ayo menurutlah, kembali kekamarmu!" seru Erland lagi. Kali ini ia menggendong paksa Callista dan membawanya menuju kamar.


Tidak menghiraukan tangan Callista yang terus memukul dada bidang milik Erland.


"Turunkan aku!" tekan Callista pada kalimatnya. Namun Erland sama sekali tidak menggubrisnya. Pria itu masih terus berjalan hingga sampailah mereka dikamar Callista. Erland menurunkan tubuh Callista pelan diatas ranjang. Callista hendak terbangun kembali. Namun Erland dengan cepat menghentikan pergerakannya. Erland meraih selimut tebal dan memakaikannya pada Callista. Menutupi tubuh Callista hingga sebatas dada. Lalu dirinya ikut terbaring disamping Callista.


"Apa apaan ini?! Pergilah! Kenapa malah berbaring seperti ini?!" amuk Callista kesal.


Bisa bisanya pria ini melakukan hal ini. Batin Callista.


"Jika aku pergi maka kau pasti akan kembali terbangun. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Jadi kuputuskan aku akan tidur bersamamu diranjang ini" santai Erland membalas. Dan matanya kini sudah terpejam. Sementara Callista merutuki pria disampingnya. Kesal dan marah bercampur aduk. Namun Callista sama sekali tidak mampu melakukan apapun. Apa yang dilakukan Callista hanya akan berujung nihil.


Gadis itu memutuskan membiarkan Erland terlelap disampingnya dengan guling yang Callista simpan ditengah tengah sebagai pembatas dirinya dan Erland. Lalu tak lama Callista memejamkam kedua matanya. Gadis itu mulai terlelap dalam tidurnya. Sementara Erland nampak menyunggingkan senyum dalam posisi matanya yang terpejam. Sebenarnya Erland belum benar benar terlelap. Pria itu hanya memejamkan matanya. Tapi nyawanya masih sepenuhnya sadar. Dan melihat tindakan Callista membuat dirinya tidak tahan untuk mengukir senyum.

__ADS_1


__ADS_2