
Dijalanan yang sepi dan gelap gulita. Callista bersama David masih menyusuri setiap aspal jalanan menuju rumah mereka. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Kak Call aku lelah. Apa kita bisa beristirahat sejenak?" ucap David dengan wajahnya yang sudah ngos ngosan.
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Kakak takut kita akan sampai dirumah larut malam" ujar Callista. Lalu keduanya menepi disebuah jalanan yang terdapat kursi panjang berwarna putih. Mereka duduk disana dengan kakinya yang berselunjur.
"Apa kita benar benar akan pulang ke rumah dengan jalan kaki?" ucap David. Wajah lelahnya menatap Callista.
"Kakak lupa membawa uang. Jika kita pesan taksi kita akan membayarnya dengan apa?" ujar Callista. David mengangguk lemas dan menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Tak lama tiba tiba sebuah mobil hitam menghampiri mereka. Mereka saling melempar pandang ketika melihat mobil itu berhenti didepannya.
"Kak Call siapa dia?" ujar David. Callista menggelengkan kepala tak tahu. Dan tatapan mereka menatap lurus kearah kaca mobil kemudinya.
"Nona aku akan mengantarmu. Ini sudah malam. Tidak baik jika kau pulang berjalan kaki dalam jalan yang sepi ini" ujar pria itu menurunkan kaca mobilnya.
Callista yang seperti mengenal orang itu seakan tidak asing lagi baginya. Tapi karena pria itu mengenakan topi dan kacamata hitam, membuat Callista kesulitan mengenalinya.
"Nona ayo masuk. Aku akan mengantarmu" ulang pria itu.
"Tidak. Kau pergi saja. Aku tidak mengenalmu!" seru Callista. Namun David mencekal tangannya, seperti memberi intruksi terima saja tawarannya.
"David" Callista balas menggenggam tangan David dan menggeleng menatap wajah David.
"Tapi kakiku sangat lelah Kak Call" ujar David kembali.
"Nona ayolah. Aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin mengantarkanmu" sela pria itu disela percakapan Callista dan David. Callista nampak berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan.
"Baiklah" ucap Callista. Lalu mereka berdua berjalan mendekati mobil itu dan duduk dikursi belakang. Mobil pun melaju memecah jalanan.
Tak lama mobil yang mereka tumpangi sampai dipekarangan rumah Callista. Callista keluar mobil yang disusul oleh David.
"Terimakasih banyak" ujar Callista membungkukkan badannya melihat pria didalam mobil. Pria itu mengangguk lalu kembali menyalakan mesin. Sementara Callista dan David sudah berjalan menuju pintu utama rumah mereka.
"Istirahatlah. Kau terlihat sangat lelah" ujar Callista ketika mereka memasuki ruang tamu. David mengangguk dan melenggang pergi menuju kamarnya. Sementara Callista duduk disofa ruang tamu. Tatapannya menatap kosong kearah langit langit ruangan.
_____________________________________________
Kembali dikediaman Erland. Fiona berada dalam kamarnya. Tubuhnya sudah terbaring diatas ranjang dengan posisi tubuh miring dan kedua tangan yang mengatup menopang kepalanya. Tatapannya lurus menatap kosong. Hingga tak sadar buliran itu kembali jatuh membasahi pipinya.
"Jika aku tak memaksa David untuk terus mengajariku, mungkin aku tidak akan lupa waktu dan pulang malam. Dan mungkin sekarang Kakak ipar masih ada disini bersama dengan David" lirih Fiona dengan suaranya yang serak.
__ADS_1
# Flashback on #
"David tolong ajari aku lagi. Aku ingin belajar piano sampai aku lihai" seru Fiona menatap memohon pada David.
"Tidak Fio, ini sudah petang. Dan sebentar lagi akan gelap. Kita harus pulang kerumah. Jika tidak Kakakmu akan marah" bujuk David.
"Sekali lagi saja. Jika aku sudah lihai aku berjanji akan pulang" ucap Fiona lagi memelas.
"Fio, bermain piano itu membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak singkat. Kau tidak mungkin lihai bermain piano jika hanya belajar sekali. Lain kali kita akan belajar lagi piano. Tapi untuk hari ini sudah cukup. Kita harus pulang" ucap David.
"Aku mohon, sekali lagi saja. Aku berjanji setelah itu akan pulang" rengek Fiona. David menatapnya sendu. Ia tidak tahu apa harus menuruti Fiona atau tidak.
"Baiklah. Tapi hanya satu kali. Setelah itu kita akan pulang" ujar David. Fiona tersenyum mengangguk. Lalu David kembali mengajarinya bermain piano.
# Flashback of #
_____________________________________________
Erland terduduk lemas diatas lantai. Dahinya sudah bercucuran keringat. Dan tangannya mengeluarkan darah, karena sejak tadi tangan itu terus memukul keras lantai. Hingga membuat tangan itu berlimpah darah yang berauran dilantai. Ponselnya sudah hancur terbanting. Dan kini ia tidak tahu bagaimana caranya menghubungi Egrad untuk tahu keadaan Callista.
Erland bangkit berdiri dan menuju kamarnya. Malam sudah semakin larut. Dan membuat suasana dirumah itu semakin mendingin.
_____________________________________________
Keesokan paginya. Callista terbangun dari tidurnya dan mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali. Tangannya mengucek ngucek matanya agar bisa melihat lebih jelas. Lalu sadar bahwa dirinya tak sengaja tertidur diatas sofa.
Semalam Callista terus menangis membayangkan semua yang terjadi dirumah Erland. Lalu tak sadar jika dirinya tiba tiba tertidur karena merasa sangat lelah.
Callista bangkit dari duduknya ingin menghampiri David. Namun kembali duduk ketika merasa pipinya seakan dibakar.
"Awww!" pekik Callista memegangi pipinya yang terkena tamparan Erland semalam. Lalu berlari cepat menuju kamar mandi. Ia berdiri didepan cermin dengan tatapan yang tak menduga. Matanya menatap sendu kearah pipinya yang memerah. Dan mungkin sedikit ada guratan memar.
"Sekeras itukah tamparannya?" lirih Callista. Lalu mengambil air dan membasuhkannya pada wajah.
"Kak Call!" teriak David dari arah ruang tamu. Callista mengelap wajahnya lalu menghampiri David.
"Ada apa?" seru Callista. Ia berjalan mendekati David.
"Tidak ada apa apa. Aku hanya memanggil Kak Call" ujar David. Callista mengangguk lalu hendak melenggang pergi.
"Tunggu Kak Call!" seru David. Callista menoleh dan menatapnya.
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Pipi Kak Call terlihat merah. Pasti karena tamparan yang semalam. Aku melihat jelas ketika Kakaknya Fio menamparmu dengan sangat keras. Pasti sangat sakit" ujar David dengan wajah yang khawatir.
"Tidak. Kakak baik baik saja" sergah Callista menggelengkan kepalanya cepat.
"Tapi itu terlihat memar. Aku akan mengobatinya"
"Sudah Kakak bilang tidak perlu! Kakak baik baik saja. Kau duduk saja dimeja makan! Kakak akan membuatkanmu sarapan" seru Callista dengan suaranya yang sedikit meninggi. Lalu melenggang pergi kearah dapur. Sementara David sudah duduk dimeja makan.
Ketika dimeja makan. David memainkan ponsel sembari menunggu Callista membawakan sarapan. Ya, David memang tidak meninggalkan ponselnya, karena ia membawa ponsel itu ketika pergi kerumah Kenzi. Dan ketika pulang kerumah Erland pun ponselnya masih ada disaku celananya.
David membuka logo panggilan dan mencari nama Fiona yang sudah dia simpan. Saat hendak pulang dari rumah Kenzi, ia dan Fiona sudah bertukar nomer ponsel. Jadi David memutuskan untuk menghubungi nomer Fiona sekedar menanyakan keadaan disana.
"Hallo Fio! Ini aku David" Ucap David ketika telpon sudah tersambung.
"Iya aku tahu. Ada apa menelpon?" seru Fiona.
"Aku hanya ingin menanyakan keadaan dirumahmu. Bagaimana dengan Kakakmu? Apa dia masih marah padamu? Apa dia menyakitimu?" ucap David dengan pertanyaan yang bertubi tubi.
"Tidak David. Kakak tidak menyakiti atau memarahiku. Malah dia menyiksa dan menyakiti dirinya sendiri" lirih Fiona.
"Benarkah? Disini juga Kak Call seperti itu. Dia memang tidak menyakiti dirinya, tapi memar dipipinya begitu merah. Aku yakin itu terasa sakit. Tapi Kak Call membantahnya. Dia bilang itu tidak terasa sakit. Padahal aku tahu betul bagaimana kerasnya tamparan itu mengenai pipi Kak Call" ujar David.
"Benarkah? Sampai memar? Ya ampun. Kak Er sudah melukai Kakak ipar. Aku merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya" lirih Fiona lagi.
"Tidak Fio, kau jangan berkata seperti itu. Ini semua terjadi bukan karena dirimu"
"David! Sarapannya sudah siap" teriak Callista yang berjalan mendekat kearah meja makan dengan nampan yang berisi dua piring nasi goreng dan sirup melon.
David yang mendengar teriakan Callista seketika terhentak. Ia lantas mematikan segera telpon yang tersambung dengan Fiona.
"Fio, aku akan menelponmu lagi nanti. Sekarang Kak Call datang" seru David sebelum sambungan telpon benar benar terputus. David menyimpan ponselnya disamping, lalu tersenyum menatap Callista.
"Kau habis menelpon siapa?" seru Callista sembari menghidangkan nasi goreng diatas meja, lalu duduk berhadapan dengan David.
"Aku hanya menelpon Kenzi Kak Call. Dia ingin aku pergi kerumahnya lagi untuk bermain" balas David dengan senyum gelagapan.
"Kalau begitu kau pergi saja. Temani Kenzi. Tapi sebelum itu kau harus sarapan dulu" ujar Callista.
"Baiklah" balas David. Lalu menyuapkan sesuap nasi pada mulutnya.
__ADS_1