Obsession Love

Obsession Love
66


__ADS_3

Malam harinya. Erland mengusap wajahnya kasar. Garis tampan


diwajahnya sudah benar benar terlihat lelah dan nampak kusut. Pria itu beberapa


kali menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Erland melirik sekilas jam


tangan yang melingkari pergelangannya. Terlihat jarum jam menunjukan pukul 9


malam.


“Selarut ini dan aku masih ada disini. Pantas saja tenaga ku


sudah begitu terkuras. Benar benar melelahkan.” gumam Erland merentangkan otot


otot tangannya. Tak lama ia bangkit sembari meraih cepat jas yang


disandarkannya pada sandaran kursi. Dipakainya jas itu dengan cepat. Hingga


setelahnya ia melangkah keluar meninggalkan ruangan.


“Egrad!” panggil Erland berteriak. Pria yang dipanggilnya


menoleh cepat lalu menghampirinya patuh.


“Iya tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Egrad dengan kepala


yang menunduk.


“Aku akan pulang untuk beristirahat. Sementara kau tetap


disini dan selesaikan semua pekerjaannya. Malam ini kau lembur. Dan akan ku


berikan gajimu 3 kali lipat.” tutur Erland. Setelah Egrad mengangguk, tak lama


ia kembali melenggang.


Ditempat parkir kantor.


Erland hendak saja membuka handel pintu mobil. Setelah


perusahaannya kembali dirintis, Erland memang sudah membeli kembali mobil mahal


yang dibelinya dengan uang hasil jerih payahnya. Bahkan mobil yang dimilikinya


sekarang, jauh lebih mahal dan berkelas dari mobilnya dulu. Tidak heran jika


hal itu menambah rasa kagum dari kaum wanita terhadap dirinya , yang semakin


gila dan berambisi untuk dapat berada disampingnya.


“Er!” teriak El berlari sempoyongan. Bersamaan dengan Darius


yang juga membuntuti dari arah belakang El.


“Ada apa?” tanya Erland.


“Kau akan pulang sekarang?” kata El balik bertanya. Dan


langsung mendapatkan anggukan dari Erland.


“Kalau begitu aku akan ikut pulang.”


“Baiklah, ayo masuk!” ajak Erland. tangannya hampir saja


berhasil membuka gagang pintu mobil.


“Tunggu Er!” sergah El.


“Apa lagi?” kembali berbalik.


“Aku akan naik dimobil Darius. Kami akan mengikutimu dari


arah belakang.”


“Apa maksudmu El?.” bingung Erland berkerut dahi.


“Aku lupa megatakannya padamu. Kalau malm ini Darius akan


menginap ditempatmu. Tapi hanya sehari saja. Setelah itu dia akan pergi.”


“Tidak El! Tidak akan ku izinkan dia tinggal ditempat yang


sama denganku!” tolak Erland keras.


“Hanya malam ini saja, kumohon. Dia belum punya tempat


tinggal.” sedikit merengek.


“Dia seorang pria. Punya banyak uang. Dia bisa menyewa hotel


atau apart. Jadi tidak perlu kau mengkhawatirkannya!” tekan Erland. Dengan


cepat El menggeleng keras.


“Tidak Er. Ini sudah malam. Bagaimana bisa dia mencari hotel


dimalam hari seperti ini. Lagi pula dia tidak terlalu tau banyak tempat disini.


Kemungkinan dia bisa saja tersesat.” ujar El dengan kecemasan. Sementara Erland


kembali mengusap wajahnya lelah.


“El, kau tidak perlu se-khawatir ini. Biarkan saja dia pergi


dan mencari tempat untuk beristirahat. Karena aku tidak akan pernah mau dia


tinggal dalam satu atap yang sama denganku! Percaya padaku. Pria ini tidak akan


tersesat.” tegas Erland.


“Baiklah Er. Kau tidak mau mengizinkannya. Tapi mungkin


Callista mau. Aku akan mencoba menghubunginya dan meminta izinnya.” kata El.


“Tidak El! Jangan lakukan itu!” sergah Erland. Dan tidak


mendapat respon dari El. Wanita dihadapannya masih berusaha menghubungi nomer


Callista.


“Baiklah. Kali ini ku izinkan. Tapi jika besok malam dia


kembali menginap, akan ku tendang dia jauh dari hadapanku!” seru Erland. Tak


lama ia kembali membuka handel pintu mobil dengan keras. Lalu melaju dengan


kecepatan diatas rata rata. Sementara El tersenyum senang setelah mendengar


persetujuan Erland.


“Ayo!” ajak El tersenyum. Kakinya melangkah memasuki mobil


Darius. Darius sendiri mengikuti langkah El dengan senyuman lebar.


***


Dikediaman rumah Callista.


Erland memarkirkan mobilnya kasar. Hingga bunyi rem nyaris


terdengar nyaring. Ban mobil yang bergesekan langsung dengan aspal itu


menghasilkan suara decitan yang dapat membuat gendang telinga seakan tertimpa


benda keras.

__ADS_1


Callista buru buru keluar menuju asal suara. Ia tau jika


suara itu adalah suara yang berasal dari mobil Erland. Bahkan dari suara mobil


yang keras itu Callista tau jika Erland pasti dalam keadaan suasana hati yang


buruk.


“Ada apa?” tanya Callista ketika Erland sudah berada


dihadapannya.


“Tidak ada! Sekarang kau ikut aku.” Erland menarik cepat


pergelangan tangan Callista.


“Tapi Er, aku sedang menyiapkan makan malam untukmu.


Masakannya bisa gosong.” Kata Callista disela langkah mereka.


“FIO!” teriak Erland menggema. Hingga tak lama Fiona muncul


dengan berlari tergesa gesa.


“Kau siapkan makan malam sekarang! El dan pria itu akan


menginap dan ikut makan malam disini.” titah Erland tegas. Hingga Fiona hanya


mengangguk patuh tanpa bantahan.


“Tugasmu sudah selesai. Sekarang kau ikut aku!” ujar Erland.


Kembali menarik Callista menuju kamar.


Setelah dikamar Callista. Erland menutup pintu dan


melepaskan cekalannya. Ia sendiri mengambil duduk ditepi ranjang dengan


memejamkan kedua matanya.


“Maksudmu pria itu, apa Darius?” tanya Callista memicingkan


mata. Erland kembali membuka matanya sarkastik. Menatap tajam kearah Callista.


“YA!” singkat Erland. Kembali memejamkan matanya.


“Dia akan menginap disini? Kenapa?” tanya Callista lagi. Erland


kembali membuka matanya. Kali ini disertai dengan hembusan nafas kasar.


“Itu tidak penting untukmu!” tajam Erland.


“Maafkan aku. Aku hanya bertanya.” Callista gelagapan.


Hingga pandangannya menatap kesembarang arah.


“Sekarang kemarilah!” pinta Erland. Callista menurut dan


mendekatinya.


“Duduk dibelakangku!” pintanya yang kedua. Callista kembali


menurut tanpa membantah.


“Aku sangat lelah hari ini. Tolong pijat pundakku.” Pintanya


yang ketiga. Kali ini Callista menolak halus.


“Er, aku tidak bisa melakukannya. Aku takut salah pijat dan


berakibat fatal. Bagaimana jika nanti ada kerusakan saraf otot karena


pijatanku. Pundakmu bisa sakit.” ujar Callista. Erland mehembuskan nafas.


“Callista, itu tidak akan terjadi. Kau pasti bisa


melakukannya. Hanya sebuah pijatan saja. Aku sangat lelah. Kumohon.” pinta


Erland lagi. Dengan sekali tarikan nafas Callista lalu mengiyakan permintaan


Erland.


Tangan Callista mulai meraba perlahan pundak tegap pria


dihadapannya. Hanya memberikan elusan lembut yang halus. Hingga kemudian Erland


menegurnya.


“Pijat Callista! Bukan hanya mengusapnya seperti itu!”


“Baiklah.” balas Callista. Tangannya kembali bergerak pada


pundak Erland. Memberikan pijatan kecil yang semakin lama semakin pas. Erland


sendiri sudah terpejam menikmati pijatan tangan Callista yang terasa sangat


puas. Ternyata gadis itu memiliki bakat untuk memijat dan menghilangkan rasa


lelahnya.


“Apa saja yang sudah kau lakukan hari ini?” tanya Callista


mencairkan suasana. Karena setelah Callista memijat Erland, pria itu malah


bungkam.


“Semuanya! Semua pekerjaan aku kerjakan. Karena itu sekarang


pundakku sangat sakit.” jawab Erland. Callista mengagguk kecil dibelakang tubuh


Erland.


“Dan kau? Apa yang kau lakukan hari ini? Aku melarang mu


untuk keluar rumah. Apa kau mematuhinya?” ujar Erland balik bertanya. Seketika


tubuh Callista sedikit menegang. Mengingat perintah Erland untuk tidak keluar rumah,


Callista sudah melanggarnya.


“Kenapa diam saja? Kau melanggar perintahku? Kau pergi


keluar rumah meski aku melarangmu?” tanya Erland lagi. Callista menghentikan


tangannya yang memijat pundak Erland.


“Maaf.” lirih Calista pelan. Sangat pelan hingga hampir tak


terdengar. Erland kemudian membalikan tubuhnya. Beralih menjadi menghadap tubuh


Callista. Ditatapnya lekat manik mata gadis itu. Sementara Callista sendiri


sudah menunduk dengan mata yang berkaca kaca. Takut jika respon Erland yang


akan mengamuk padanya.


“Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini. Tidak


perlu sampai mengeluarkan airmata.” kata Erland. jari telunjuknya mengangkat


dagu Callista agar menatapnya.


“Aku tau Fio yang memaksamu. Aku sempat menelpon David saat


nomer mu tak bisa dihubungi. David bilang kau pergi keluar bersama Fio. Dan Fio

__ADS_1


yang memaksamu. Benarkan?” Callista mengagguk kecil.


“Tapi kau tidak perlu memarahi Fio.” gumam Callista.


“Tidak akan. Untuk apa aku memarahinya. Aku tidak marah


dengan kepergianmu yang melanggar perintah dariku. Aku pikir aku terlalu egois


memintamu untuk tetap stay dirumah. Aku tidak berpikir kalau kau pasti bosan


tetap dirumah.” papar Erland lembut. Tangannya beralih mengelus pelan pipi


Callista. Hingga didetik kemudian Callista tersenyum mendengar ucapan Erland.


“Sekarang lanjutkan pijatannya.” Kata Erland lagi. Callista


mengangguk dengan cepat. Lalu tangannya kembali memegang pundak Erland.


“Tidak! Sekarang kau pijat tanganku.” Callista kembali


mengangguk. Tangannya menjauh dari pundak Erland dan beralih pada tangan pria


itu.


Callista sedang asik asiknya memijat Erland yang terpejam. Hingga


kemudian terhenti ketika matanya menangkap sebuah noda hitam ditengkuk Erland.


Terlihat jelas noda itu yang mengkilap. Callista menghentikan pijatannya.


Bermaksud ingin menghapus noda itu dari tengkuk Erland. Callista yakin jika


noda itu berasal dari tinta pena.


Tangan Callista beralih pada tengkuk Erland. Memegangnya


pelan dengan perasaan. Dengan usapan yang lumayan keras Callista menggosok gosok


noda tersebut berusaha menghilangkan. Namun kemudian malah membuat Erland


membuka kembali matanya. Pria itu menatap tindakan Callista yang bermain


ditengkuknya. Bahkan wajah gadis itu juga sangat dekat dengan wajahnya.


“Apa yang kau lakukan?” heran Erland menatap wajah Callista


yang serius meantap tengkuknya.


“Ada noda pena. Aku hanya mmebersihkannya.” jujur Callista.


Erland lalu meraih tangan Callista agar tidak menyentuh tengkuknya.


“Tidak perlu. Aku akan membersihkannya nanti.” tolak Erland


halus. Karena jantungnya sudah sangat berdegup maraton mendapat tindakan


Callista ditengkuknya. Ditambah aliran darahnya yang seolah berdesir kuat.


“Kau akan kesulitan jika membersihkannya sendiri. Jadi aku


bantu.” keukeuh Callista. Kembali menyentuh tengkuk pria itu. Kali ini


tangannya sudah berusaha untuk menghapus tinta itu. Namun karena kesulitan,


Callista memutuskan untuk sedikit membasahi noda itu.


Sedikit noda tinta


jika terkena air pasti akan memudar. Pikir Callista.


“Er, bisa kau berikan air minum padaku?” suara Callista.


Tangannya sudah terlentang untuk mengambil segelas air yang akan disodorkan


Erland.


“Tidak ada air minum disini. Jika mau aku akan meminta Fio


untuk mengambilnya.” tawar Erland. Namun Callista menolak dengan cepat.


“Tidak perlu.” Kata Callista. Setelah mengatakan hal itu,


gadis itu semakin mendekatkan wajahnya pada tengkuk Erland. Bibirnya sengaja


dibuat menyentuh pada tengkuk Erland. Erland mendesis pelan. Merasakan benda


kenyal menyentuh area tengkuknya. Bukan hanya menyentuhnya. Bahkan Erland


merasakan ada tetesan air kental yang membasahi tengkuknya. Sejenak pria itu


memejamkan matanya. Membiarkan apapun yang akan dilakukan Callista. Ntah gadis


itu akan berbuat apa, Erland tidak tau. Yang pasti sekarang pria itu merasakan


sensasi yang sulit untuk dideskripsikan. Sangat memabukan dan memanas. Hingga


Erland merasa tubuhnya sudah terbakar. Merasakan sensasi dari tindakan


Callista, Erland merasakan sebuah kenikmatan yang bahkan lebih nikmat dari


apapun. Tubuhnya saja kini sudah menegang. Darahnya seakan membeku dalam


sepersekian detik. Hingga sekarang Erland merasa tubuhnya sudah mati kutu.


Tidak mampu bergerak barang hanya sesenti saja. Tindakan Callista sudah sangat


berhasil membangunkan jiwa penuh gairah panas dalam dirinya. Bahkan tidak


disangkal jika kini kejantannannya saja sudah sangat mengeras dan tegang.


Erland menarik wajah Callista pelan agar sedikit memberi


jarak. Tangan Callista yang juga masih berada ditengkuknya Erland jatuhnya


hingga terpental pelan. Kini tubuhnya yang berotot itu mendorong tubuh


Callista, yang kemudian Callista pun terjatuh pelan terbaring di ranjang.


Erland masih terus mendekati tubuh Callista hingga semakin lama semakin


menghimpitnya. Menindihnya dan mengukungnya tanpa memberi celah untuk bergerak.


“Ada apa Er?” tanya Callista dengan bingung. Namun bukannya


menjawab, Erland malah melayangkan sebuah kecupan kecil pada dahi Callista.


Hanya sebuah kecupan kecil. Namun didetik kemudian ia ******* rakus bibir ranum


Callista. Menyesapnya tanpa ampun. Hingga tanpa diperintah pun, Callista sendiri


sudah membuka mulutnya lebar untuk membiarkan Erland bermain didalam sana.


Sedari tadi pergerakan bibir Erland terus saja mendesak keras bibir Callista


hingga Callista sendiri merasakan sesak dan kehabisan nafas. Namun untuk


menormalkan nafasnya, Callista berpikir untuk membuka mulutnya dan menyerahkannya


pada Erland. Ciuman mereka berlangsung cukup lama. Tapi hanya mengambil jeda


untuk bernafas sekali saja. Setelah itu ciuman mereka kembali berlangsung lama.


Hingga lelah Erland karena pekerjaan tergantikan dengan rasa lelah karena


kenikmatan. Keringat Erland pun sudah banjir membasahi kening Callista.

__ADS_1


__ADS_2