
Malam harinya. Erland mengusap wajahnya kasar. Garis tampan
diwajahnya sudah benar benar terlihat lelah dan nampak kusut. Pria itu beberapa
kali menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Erland melirik sekilas jam
tangan yang melingkari pergelangannya. Terlihat jarum jam menunjukan pukul 9
malam.
“Selarut ini dan aku masih ada disini. Pantas saja tenaga ku
sudah begitu terkuras. Benar benar melelahkan.” gumam Erland merentangkan otot
otot tangannya. Tak lama ia bangkit sembari meraih cepat jas yang
disandarkannya pada sandaran kursi. Dipakainya jas itu dengan cepat. Hingga
setelahnya ia melangkah keluar meninggalkan ruangan.
“Egrad!” panggil Erland berteriak. Pria yang dipanggilnya
menoleh cepat lalu menghampirinya patuh.
“Iya tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Egrad dengan kepala
yang menunduk.
“Aku akan pulang untuk beristirahat. Sementara kau tetap
disini dan selesaikan semua pekerjaannya. Malam ini kau lembur. Dan akan ku
berikan gajimu 3 kali lipat.” tutur Erland. Setelah Egrad mengangguk, tak lama
ia kembali melenggang.
Ditempat parkir kantor.
Erland hendak saja membuka handel pintu mobil. Setelah
perusahaannya kembali dirintis, Erland memang sudah membeli kembali mobil mahal
yang dibelinya dengan uang hasil jerih payahnya. Bahkan mobil yang dimilikinya
sekarang, jauh lebih mahal dan berkelas dari mobilnya dulu. Tidak heran jika
hal itu menambah rasa kagum dari kaum wanita terhadap dirinya , yang semakin
gila dan berambisi untuk dapat berada disampingnya.
“Er!” teriak El berlari sempoyongan. Bersamaan dengan Darius
yang juga membuntuti dari arah belakang El.
“Ada apa?” tanya Erland.
“Kau akan pulang sekarang?” kata El balik bertanya. Dan
langsung mendapatkan anggukan dari Erland.
“Kalau begitu aku akan ikut pulang.”
“Baiklah, ayo masuk!” ajak Erland. tangannya hampir saja
berhasil membuka gagang pintu mobil.
“Tunggu Er!” sergah El.
“Apa lagi?” kembali berbalik.
“Aku akan naik dimobil Darius. Kami akan mengikutimu dari
arah belakang.”
“Apa maksudmu El?.” bingung Erland berkerut dahi.
“Aku lupa megatakannya padamu. Kalau malm ini Darius akan
menginap ditempatmu. Tapi hanya sehari saja. Setelah itu dia akan pergi.”
“Tidak El! Tidak akan ku izinkan dia tinggal ditempat yang
sama denganku!” tolak Erland keras.
“Hanya malam ini saja, kumohon. Dia belum punya tempat
tinggal.” sedikit merengek.
“Dia seorang pria. Punya banyak uang. Dia bisa menyewa hotel
atau apart. Jadi tidak perlu kau mengkhawatirkannya!” tekan Erland. Dengan
cepat El menggeleng keras.
“Tidak Er. Ini sudah malam. Bagaimana bisa dia mencari hotel
dimalam hari seperti ini. Lagi pula dia tidak terlalu tau banyak tempat disini.
Kemungkinan dia bisa saja tersesat.” ujar El dengan kecemasan. Sementara Erland
kembali mengusap wajahnya lelah.
“El, kau tidak perlu se-khawatir ini. Biarkan saja dia pergi
dan mencari tempat untuk beristirahat. Karena aku tidak akan pernah mau dia
tinggal dalam satu atap yang sama denganku! Percaya padaku. Pria ini tidak akan
tersesat.” tegas Erland.
“Baiklah Er. Kau tidak mau mengizinkannya. Tapi mungkin
Callista mau. Aku akan mencoba menghubunginya dan meminta izinnya.” kata El.
“Tidak El! Jangan lakukan itu!” sergah Erland. Dan tidak
mendapat respon dari El. Wanita dihadapannya masih berusaha menghubungi nomer
Callista.
“Baiklah. Kali ini ku izinkan. Tapi jika besok malam dia
kembali menginap, akan ku tendang dia jauh dari hadapanku!” seru Erland. Tak
lama ia kembali membuka handel pintu mobil dengan keras. Lalu melaju dengan
kecepatan diatas rata rata. Sementara El tersenyum senang setelah mendengar
persetujuan Erland.
“Ayo!” ajak El tersenyum. Kakinya melangkah memasuki mobil
Darius. Darius sendiri mengikuti langkah El dengan senyuman lebar.
***
Dikediaman rumah Callista.
Erland memarkirkan mobilnya kasar. Hingga bunyi rem nyaris
terdengar nyaring. Ban mobil yang bergesekan langsung dengan aspal itu
menghasilkan suara decitan yang dapat membuat gendang telinga seakan tertimpa
benda keras.
__ADS_1
Callista buru buru keluar menuju asal suara. Ia tau jika
suara itu adalah suara yang berasal dari mobil Erland. Bahkan dari suara mobil
yang keras itu Callista tau jika Erland pasti dalam keadaan suasana hati yang
buruk.
“Ada apa?” tanya Callista ketika Erland sudah berada
dihadapannya.
“Tidak ada! Sekarang kau ikut aku.” Erland menarik cepat
pergelangan tangan Callista.
“Tapi Er, aku sedang menyiapkan makan malam untukmu.
Masakannya bisa gosong.” Kata Callista disela langkah mereka.
“FIO!” teriak Erland menggema. Hingga tak lama Fiona muncul
dengan berlari tergesa gesa.
“Kau siapkan makan malam sekarang! El dan pria itu akan
menginap dan ikut makan malam disini.” titah Erland tegas. Hingga Fiona hanya
mengangguk patuh tanpa bantahan.
“Tugasmu sudah selesai. Sekarang kau ikut aku!” ujar Erland.
Kembali menarik Callista menuju kamar.
Setelah dikamar Callista. Erland menutup pintu dan
melepaskan cekalannya. Ia sendiri mengambil duduk ditepi ranjang dengan
memejamkan kedua matanya.
“Maksudmu pria itu, apa Darius?” tanya Callista memicingkan
mata. Erland kembali membuka matanya sarkastik. Menatap tajam kearah Callista.
“YA!” singkat Erland. Kembali memejamkan matanya.
“Dia akan menginap disini? Kenapa?” tanya Callista lagi. Erland
kembali membuka matanya. Kali ini disertai dengan hembusan nafas kasar.
“Itu tidak penting untukmu!” tajam Erland.
“Maafkan aku. Aku hanya bertanya.” Callista gelagapan.
Hingga pandangannya menatap kesembarang arah.
“Sekarang kemarilah!” pinta Erland. Callista menurut dan
mendekatinya.
“Duduk dibelakangku!” pintanya yang kedua. Callista kembali
menurut tanpa membantah.
“Aku sangat lelah hari ini. Tolong pijat pundakku.” Pintanya
yang ketiga. Kali ini Callista menolak halus.
“Er, aku tidak bisa melakukannya. Aku takut salah pijat dan
berakibat fatal. Bagaimana jika nanti ada kerusakan saraf otot karena
pijatanku. Pundakmu bisa sakit.” ujar Callista. Erland mehembuskan nafas.
“Callista, itu tidak akan terjadi. Kau pasti bisa
melakukannya. Hanya sebuah pijatan saja. Aku sangat lelah. Kumohon.” pinta
Erland lagi. Dengan sekali tarikan nafas Callista lalu mengiyakan permintaan
Erland.
Tangan Callista mulai meraba perlahan pundak tegap pria
dihadapannya. Hanya memberikan elusan lembut yang halus. Hingga kemudian Erland
menegurnya.
“Pijat Callista! Bukan hanya mengusapnya seperti itu!”
“Baiklah.” balas Callista. Tangannya kembali bergerak pada
pundak Erland. Memberikan pijatan kecil yang semakin lama semakin pas. Erland
sendiri sudah terpejam menikmati pijatan tangan Callista yang terasa sangat
puas. Ternyata gadis itu memiliki bakat untuk memijat dan menghilangkan rasa
lelahnya.
“Apa saja yang sudah kau lakukan hari ini?” tanya Callista
mencairkan suasana. Karena setelah Callista memijat Erland, pria itu malah
bungkam.
“Semuanya! Semua pekerjaan aku kerjakan. Karena itu sekarang
pundakku sangat sakit.” jawab Erland. Callista mengagguk kecil dibelakang tubuh
Erland.
“Dan kau? Apa yang kau lakukan hari ini? Aku melarang mu
untuk keluar rumah. Apa kau mematuhinya?” ujar Erland balik bertanya. Seketika
tubuh Callista sedikit menegang. Mengingat perintah Erland untuk tidak keluar rumah,
Callista sudah melanggarnya.
“Kenapa diam saja? Kau melanggar perintahku? Kau pergi
keluar rumah meski aku melarangmu?” tanya Erland lagi. Callista menghentikan
tangannya yang memijat pundak Erland.
“Maaf.” lirih Calista pelan. Sangat pelan hingga hampir tak
terdengar. Erland kemudian membalikan tubuhnya. Beralih menjadi menghadap tubuh
Callista. Ditatapnya lekat manik mata gadis itu. Sementara Callista sendiri
sudah menunduk dengan mata yang berkaca kaca. Takut jika respon Erland yang
akan mengamuk padanya.
“Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini. Tidak
perlu sampai mengeluarkan airmata.” kata Erland. jari telunjuknya mengangkat
dagu Callista agar menatapnya.
“Aku tau Fio yang memaksamu. Aku sempat menelpon David saat
nomer mu tak bisa dihubungi. David bilang kau pergi keluar bersama Fio. Dan Fio
__ADS_1
yang memaksamu. Benarkan?” Callista mengagguk kecil.
“Tapi kau tidak perlu memarahi Fio.” gumam Callista.
“Tidak akan. Untuk apa aku memarahinya. Aku tidak marah
dengan kepergianmu yang melanggar perintah dariku. Aku pikir aku terlalu egois
memintamu untuk tetap stay dirumah. Aku tidak berpikir kalau kau pasti bosan
tetap dirumah.” papar Erland lembut. Tangannya beralih mengelus pelan pipi
Callista. Hingga didetik kemudian Callista tersenyum mendengar ucapan Erland.
“Sekarang lanjutkan pijatannya.” Kata Erland lagi. Callista
mengangguk dengan cepat. Lalu tangannya kembali memegang pundak Erland.
“Tidak! Sekarang kau pijat tanganku.” Callista kembali
mengangguk. Tangannya menjauh dari pundak Erland dan beralih pada tangan pria
itu.
Callista sedang asik asiknya memijat Erland yang terpejam. Hingga
kemudian terhenti ketika matanya menangkap sebuah noda hitam ditengkuk Erland.
Terlihat jelas noda itu yang mengkilap. Callista menghentikan pijatannya.
Bermaksud ingin menghapus noda itu dari tengkuk Erland. Callista yakin jika
noda itu berasal dari tinta pena.
Tangan Callista beralih pada tengkuk Erland. Memegangnya
pelan dengan perasaan. Dengan usapan yang lumayan keras Callista menggosok gosok
noda tersebut berusaha menghilangkan. Namun kemudian malah membuat Erland
membuka kembali matanya. Pria itu menatap tindakan Callista yang bermain
ditengkuknya. Bahkan wajah gadis itu juga sangat dekat dengan wajahnya.
“Apa yang kau lakukan?” heran Erland menatap wajah Callista
yang serius meantap tengkuknya.
“Ada noda pena. Aku hanya mmebersihkannya.” jujur Callista.
Erland lalu meraih tangan Callista agar tidak menyentuh tengkuknya.
“Tidak perlu. Aku akan membersihkannya nanti.” tolak Erland
halus. Karena jantungnya sudah sangat berdegup maraton mendapat tindakan
Callista ditengkuknya. Ditambah aliran darahnya yang seolah berdesir kuat.
“Kau akan kesulitan jika membersihkannya sendiri. Jadi aku
bantu.” keukeuh Callista. Kembali menyentuh tengkuk pria itu. Kali ini
tangannya sudah berusaha untuk menghapus tinta itu. Namun karena kesulitan,
Callista memutuskan untuk sedikit membasahi noda itu.
Sedikit noda tinta
jika terkena air pasti akan memudar. Pikir Callista.
“Er, bisa kau berikan air minum padaku?” suara Callista.
Tangannya sudah terlentang untuk mengambil segelas air yang akan disodorkan
Erland.
“Tidak ada air minum disini. Jika mau aku akan meminta Fio
untuk mengambilnya.” tawar Erland. Namun Callista menolak dengan cepat.
“Tidak perlu.” Kata Callista. Setelah mengatakan hal itu,
gadis itu semakin mendekatkan wajahnya pada tengkuk Erland. Bibirnya sengaja
dibuat menyentuh pada tengkuk Erland. Erland mendesis pelan. Merasakan benda
kenyal menyentuh area tengkuknya. Bukan hanya menyentuhnya. Bahkan Erland
merasakan ada tetesan air kental yang membasahi tengkuknya. Sejenak pria itu
memejamkan matanya. Membiarkan apapun yang akan dilakukan Callista. Ntah gadis
itu akan berbuat apa, Erland tidak tau. Yang pasti sekarang pria itu merasakan
sensasi yang sulit untuk dideskripsikan. Sangat memabukan dan memanas. Hingga
Erland merasa tubuhnya sudah terbakar. Merasakan sensasi dari tindakan
Callista, Erland merasakan sebuah kenikmatan yang bahkan lebih nikmat dari
apapun. Tubuhnya saja kini sudah menegang. Darahnya seakan membeku dalam
sepersekian detik. Hingga sekarang Erland merasa tubuhnya sudah mati kutu.
Tidak mampu bergerak barang hanya sesenti saja. Tindakan Callista sudah sangat
berhasil membangunkan jiwa penuh gairah panas dalam dirinya. Bahkan tidak
disangkal jika kini kejantannannya saja sudah sangat mengeras dan tegang.
Erland menarik wajah Callista pelan agar sedikit memberi
jarak. Tangan Callista yang juga masih berada ditengkuknya Erland jatuhnya
hingga terpental pelan. Kini tubuhnya yang berotot itu mendorong tubuh
Callista, yang kemudian Callista pun terjatuh pelan terbaring di ranjang.
Erland masih terus mendekati tubuh Callista hingga semakin lama semakin
menghimpitnya. Menindihnya dan mengukungnya tanpa memberi celah untuk bergerak.
“Ada apa Er?” tanya Callista dengan bingung. Namun bukannya
menjawab, Erland malah melayangkan sebuah kecupan kecil pada dahi Callista.
Hanya sebuah kecupan kecil. Namun didetik kemudian ia ******* rakus bibir ranum
Callista. Menyesapnya tanpa ampun. Hingga tanpa diperintah pun, Callista sendiri
sudah membuka mulutnya lebar untuk membiarkan Erland bermain didalam sana.
Sedari tadi pergerakan bibir Erland terus saja mendesak keras bibir Callista
hingga Callista sendiri merasakan sesak dan kehabisan nafas. Namun untuk
menormalkan nafasnya, Callista berpikir untuk membuka mulutnya dan menyerahkannya
pada Erland. Ciuman mereka berlangsung cukup lama. Tapi hanya mengambil jeda
untuk bernafas sekali saja. Setelah itu ciuman mereka kembali berlangsung lama.
Hingga lelah Erland karena pekerjaan tergantikan dengan rasa lelah karena
kenikmatan. Keringat Erland pun sudah banjir membasahi kening Callista.
__ADS_1